Caraku Menyebutmu
Seni adalah bahasa: barangkali kau adalah maknanya.
Caraku Menyebutmu
Aku gemar mengaduk tinta, ada rindu yang hanya larut ketika dicampur dengan kata-kata. Puisi adalah cangkir tempat hati menyeduh dirinya sendiri. Sebab hanya di sana perasaan berani menyebut namanya sendiri.
Aku masih belajar berdamai dengan warna, jemariku belum cukup lihai membujuk matahari singgah di atas kanvas. Namun, bukankah langit pun tak selalu sempurna? Kadang ia retak oleh hujan, tetapi tetap disebut indah.
Aku mencuri waktu melalui lensa, Bukan karena takut lupa, melainkan karena beberapa detik terlalu berharga jika hanya dibiarkan lewat. Sebuah foto, bagiku, adalah jam yang memilih berhenti berdetak, yang tercecer di sudut-sudut sore.
Aku membiarkan lagu-lagu menjadi sungai yang mengalir di dalam dada. Ada nada yang membawa pulang tawa, ada pula yang diam-diam menumbuhkan rindu. Barangkali, musik memang diciptakan untuk mengucapkan hal-hal yang tak sanggup diucapkan manusia.
Jika takdir mempertemukan kita, izinkan aku tak sekadar mengenangmu. Biarkan kau menjadi musim yang tak pernah selesai kutulis, langit yang tak pernah habis kupandangi, dan metafora yang selalu kutemukan arti barunya setiap kali kubaca kembali.
Maka jika suatu hari semesta menuliskan namamu di antara ceritaku, kau ingin kuabadikan sebagai senja yang selalu kutunggu kepulangannya, atau sebagai rumah, yang tak pernah ingin kutinggalkan?
메타데이터
- post_id
- ebb764f65ffb
- slug
- caraku-menyebutmu-ebb764f65ffb
- url
- https://medium.com/@alfiaulia1010/caraku-menyebutmu-ebb764f65ffb
- canonical_url
- https://medium.com/@alfiaulia1010/caraku-menyebutmu-ebb764f65ffb
- author_url
- https://medium.com/@alfiaulia1010
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-07 01:49:13