← Back to list

Hati-Hati di Jalan Saja Tak Cukup

“Sejarah berulang, pertama sebagai tragedi dan yang kedua kali sebagai sebuah peristiwa yang absurd.” — Karl Marx

Pran · 2022-05-18 07:42 · 0 claps · 4.6 min read
#tutur
Open on Medium ↗
Wiki topics: RAG · RAG & Retrieval ML · Machine Learning

Hati-Hati di Jalan Saja Tak Cukup

Semarang yang terik. Diambil pada Jum’at 6 Mei 2022.

Semarang yang terik. Diambil pada Jum’at 6 Mei 2022.

“Sejarah berulang, pertama sebagai tragedi dan yang kedua kali sebagai sebuah peristiwa yang absurd.” — Karl Marx

Berada pada perasaan sedih lalu seketika berubah menjadi sumpringah adalah takdir yang menyenangkan. Jatah keberuntungan selama batas hidup seakan-akan dihabiskan dalam momen itu. Lantas, pernakah Kamu berada dalam perasaan sebaliknya?

Saat kecil, kedatangan hujan di siang hingga sore hari sangat dinantikan. Tak lain dan tak bukan karena akan dimanfaatkan untuk bermain bola sembari bermain hujan. Jika bermain bola di hari Jum’at hukumnya wajib (saat libur TPQ), maka di hari apa saja selagi hujan datang otomatis menjadi wajib juga. Tidak ada di firman dan hadits, tapi jadi semacam ketentuan tak tertulis antara saya dan kawan-kawan.

Namun ada satu hari, saat hujan datang di siang hari, kami tidak menikmatinya dengan bermain bola, tapi bermain sepeda. Bukan tanpa sebab, salah satu ruas jalan di dusun kami yang menghubungkan ke dusun sebelah telah rampung diaspal setelah beberapa tahun hanya berisi kerakal (pecahan batu kecil).

Saya membonceng kakak saya. Sepeda kami gowes menuju ke utara, ke selatan, ke barat, dan tak lupa ke timur, tempat ruas jalan dengan aspal baru tadi. Sesekali sepeda dibalik saat menjumpai genangan, dikayuh agar timbul cipratan akibat ban belakang membelah air.

Hingga suatu waktu, saat kami berada di ujung ruas jalan yang baru diaspal tadi, kilat petir datang. Dengan tergesa-gesa kami memutar balik sepeda untuk segera kembali masuk dusun. Sudah barang tentu, yang berboncengan menjadi urutan paling akhir.

Berada sekitar 500 meter dari dusun, dengan aspal baru, ditambah jalan menurun dengan elevasi sekitar 15 derajat, sepeda otomatis melaju dengan kencang.

Bak cinta diputus tanpa sebab: Secara tiba-tiba dan tanpa terjelaskan. Mobil pick up tua pembawa gabah yang terparkir menjorok ke kiri tetiba membuka pintu sepersekian detik sebelum kami tuntas melewati mobil sialan tersebut.

Pintu pick up yang sudah karatan tersebut saya dan kakak hantam tanpa ampun. Tentu kami yang kalah. Saya terlempar sejauh sekitar 3 meter, kakak saya lebih jauh lagi. Sepeda yang dibeli dari hasil mengumpulkan sumbangan sunat kakak itu terlempar ke sawah di kanan jalan.

Kepala bocor, lutut lecet, siku robek. Pak Sopir yang tetiba membuka pintu tadi membopong saya ke rumah. Sampai rumah, setelah ganti baju, saya dan kakak segera dibawa ke klinik.

Saya ingat baik-baik kejadian itu. Setiap ada mobil terparkir di tepi jalan, perasaan hati-hati yang lebih mirip was-was acapkali menyelimuti.

Suatu waktu saya pernah memaki pengendara mobil yang tetiba membuka pintu saat parkir di ruas jalan sekitar Condong Catur. Tidak sampai menabrak, tapi was-was dan keringat dingin setelahnya.

Kejadian tadi umurnya mungkin sudah 15 tahun. Di antara 15 tahun tersebut saya sudah jatuh dari sepeda dan sepeda motor beberapa kali atau mungkin berkali-kali. Kalo naik sepeda, yang terbaru adalah jatuh di belakang Kantor Kebun Belimbing, Karanganyar, sekitar dua tahun lalu. Fixie yang saya naiki gagal *skid* di jalan menurun.

Kalo naik sepeda motor, awal tahun lalu terpeleset di perempatan dusun sebelah karena turun dari jalan aspal dan gagal kembali naik ke aspal setelah menyalip mobil, akibat terburu-buru karena hujan.

Dua pekan lalu, atau tepatnya pada Jum’at 6 Mei 2022, setelah 15 tahun saya kembali mengalami kecelakaan dengan proses yang sama.

Kronologinya begini. Saya ke Semarang menaiki Scoopy Merah Maroon atau yang biasah saya sapa Semaon untuk mengantarkan laptop. Saya terinspirasi membuat nama panggilan motor setelah salah seorang kawan memberi nama motornya Keke. Absurd memang, tidak masalah.

Urusan kelar tidak sampai 10 menit. Karena bokong sudah terlalu panas untuk langsung balik ke Pekalongan, saya mampir ke kediaman kakak — yang 15 tahun lalu jatuh bareng — di daerah Gemah. Tidak sampai 3 menit dari tempat saya mengantarkan laptop.

Sampai sana, lurusin punungg beberapa menit, lanjut Salat Jum’at, lalu cari makan siang.

“Baru nemu bakso ada timunnya. Cukup memberi rasa di tengah hujaman suhu panas Semarang yang ngga ketulungan.” Tulis akun Twitter @prannn___ pada 6 Mei 2022.

“Baru nemu bakso ada timunnya. Cukup memberi rasa di tengah hujaman suhu panas Semarang yang ngga ketulungan.” Tulis akun Twitter @prannn___ pada 6 Mei 2022.

Setelahnya, saya bersiap-siap kembali ke Pekalongan. Sepatu dan hoodie saya kenakan. Earphone saya tancap di kuping. Saya memiliki kebiasaan jika perjalanan lebih dari satu jam dan itu sendiri, saya akan memutar musik keras-keras. Ada *playlist* dengan isi kumulatif lagu-lagunya berdurasi lebih dari 5 jam. Bukan tanpa sebab, durasinya saya sesuaikan dengan perkiraan perjalanan Pekalongan-Yogyakarta.

Waktu menunjukan pukul 13.35 WIB, Semaon saya kendarai pelan. Semarang macet dan sangat terik siang itu. Melewati Simpang Lima menuju arah Tugu Muda, macet semakin mengular. Suara peluit petugas DISHUB dan klakson turut memanaskan keadaan.

Saya yang menggunakan sepeda motor, tentu lebih mudah mencari celah di antara berbagai macam antrian kendaraan. Hingga pada akhirnya ada satu mobil terserempet bus BRT Trans Semarang. Saya tak melihat, tapi begitulah pengakuan si empunya mobil.

Bisa saya pahami, terserempet apalagi dalam suasana macet akan lebih mudah meletupkan emosi. Yang tak bisa saya pahami, penumpang di sisi kiri tetiba membuka pintu dengan maksud akan mengejar bus.

Alamakkk, mulut saya yang sedang menirukan suara Robby Navicula saat playlist berada di lagu Mafia Hukum sontak berganti umpatan. Perasaan bungah karena pada akhirnya Semaon menemukan celah setelah terjebak macet sirna seketika. Kami dihadang pintu mobil. “Bwajingannnn…” Gumamku pelan.

Umpatan tetiba berganti gelak tawa — tentu dalam hati — sepersekian detik sebelum menabrak pintu. Atau tepatnya saat saya menyadari rem tidak mampu menghentikan Semaon, dan tidak mungkin pula menghindar ke sisi kiri karena ada mobil lain. “Urusannya bakal panjang,” pikirku waktu itu.

Tersungkur di panasnya aspal Semarang. Motor saya bawa ke tepi. Helm dan earphone saya lepas. Pengendara mobil sialan menghampiri dan minta maaf. Pengguna jalan lain menyarankan minta ganti rugi. Keduanya saya jawab “Aman Pak/Bu”.

Setelah cek kondisi badan dan mendapati tidak ada luka serius. Perjalanan saya lanjutkan dengan keadaan setang Semaon condong miring ke kanan.

Berhenti sejenak di perbatasan Semarang-Kendal. Mengisi bensin, kembali cek kondisi badan kali ini dengan sepeda motornya, lalu kembali memasang earphone. Playlist berlanjut di lagu Orang-Orang di Kerumunan milik FSTVLT.

Saya menghabiskan sisa perjalanan dengan kepala dipenuhi ingatan ke kejadian 15 tahun lalu. Kembali mengingat bahwa umpatan berganti gelak tawa karena ingatan kejadian naik sepeda bersama kakak sempat muncul sebelum tersungkur. Absurd rasanya.

Setelahnya baru menyadari bahwa hati-hati di jalan yang tentu berlaku untuk diri sendiri saja tidak cukup. Ingat kejadian sebuah truk gagal berhenti di lampu merah awal tahun lalu? Seperti itu kira-kira mayoritas pengguna jalan di Indonesia. Lalai terhadap kenyamanan dan keselamatan orang lain.

Sorry ya kalo Kamu ngira tulisan ini bakal mengulas soal lagunya Tulus. Atau bercerita tentang kejadian yang relatable antara yang pernah saya alami dengan lagu tersebut.

Hati-Hati di Jalan yang ini lebih esensial, Lurd. Meskipun secara emosional kesedihan dan kemarahan kejadian yang saya alami soal kecelakaan bisa disejajarkan dengan isi lagu tersebut: Sama-sama tidak bisa menghindar dan sama-sama terjadi bukan atas keinginan kita.

Kukira takkan ada kendala Kukira ini ‘kan mudah Kau-aku jadi kita Kukira kita akan bersama

Hehehe, sabarrr…

Pekalongan, 18 Mei 2022


메타데이터
post_id
ebdbc547541b
slug
hati-hati-di-jalan-saja-tak-cukup-ebdbc547541b
url
https://medium.com/@prannn___/hati-hati-di-jalan-saja-tak-cukup-ebdbc547541b
canonical_url
https://medium.com/@prannn___/hati-hati-di-jalan-saja-tak-cukup-ebdbc547541b
author_url
https://medium.com/@prannn___
status
ok
fetched_at
2026-07-27 02:54:48