← Back to list

Kenapa Codot Nggak Ngabisin Buah?

Kami berakhir tetap nggak tahu apa-apa.

WoMind · 2026-06-07 04:04 · 55 claps · 5.1 min read
#tulisan #menulis #refleksi
Open on Medium ↗

Pohon mangga milik Teh Lia

Pohon mangga milik Teh Lia

Kenapa Codot Nggak Ngabisin Buah?

Kami berakhir tetap nggak tahu apa-apa.

Playing: Where Gravity Is Dead — Laura Veirs

Malam Minggu bagi dua anak manusia yang diikat tali sapu bernama persahabatan adalah ritual repetitif. Agendanya klise, seklise komedi situasi era 90-an. Masker wajah yang mengering hingga membuat senyum menjadi mustahil, menonton film yang plotnya sudah ditebak sejak menit ketujuh, dan ditutup dengan deep talk di bawah kungkungan selimut dalam kamar gelap, membicarakan eksistensialisme atau mengapa mantan pacar si X menyerupai seblak ceker — pedas dan bikin sakit perut.

Namun, malam Minggu kali ini Yas harus menghadapi anomali, sebab aku menambahkan satu daftar kejutan di lembar manifesto kami: ngetem di balkon untuk mengintai codot.

Yas menatapku seolah aku baru saja menyarankan agar kami berinvestasi di perkebunan tanaman hias. Tapi ini benar-benar urusan serius. Soal rasa penasaran yang menggerogoti logika.

Sasarannya adalah pohon mangga milik Teh Lia, tetangga depan.

Pohon mangga itu lebat, tapi ada satu buah yang menggantung pasrah dengan kondisi krowak—terkoyak setengah bagian. Pelakunya? Pasti codot.

Sebagai manusia yang hidup di era modern, aku merasa tersinggung oleh metodologi makan si codot. Mengapa harus setengah? Mengapa tidak dihabiskan sekalian? Mengapa menyisakan separuh buah di dahan? Mungkinkah ia sengaja memamerkan bahwa "Aku, sang mamalia terbang, telah menyuntikkan air liurku di sini."

Serius. Ini benar-benar serius. Ini adalah intimidasi visual yang pasif-agresif.

Malamnya, kami resmi menjadi bagian dari arsitektur balkon. Memakai kardigan gelap sebagai seragam penyamaran demi mengelabui insting mamalia terbang itu, namun mengabaikan fakta mutlak bahwa dua wajah bermasker kami justru tampak seperti sepasang hantu lokal di gelap malam. Yas memegang gelas berisi kopi, sementara mataku picak menembus kegelapan malam, menyisir helai-helai daun mangga yang tak jauh dari dinding balkon.

"Lo tahu," Yas berbisik. "Kalau tetangga lihat kita, mereka nggak akan mengira kita sedang mengintai kalelawar. Mereka akan mengira kita sedang merencanakan pencurian jemuran."

"Pencuri jemuran nggak punya dedikasi artistik seperti ini, Yas," jawabku defensif. "Kita sedang melakukan studi perilaku fauna urban. Anggap saja kita sedang magang di National Geographic."

Entah apa yang lucu. Yas terpingkal hingga terjungkal.

Detik berganti menit. Angin malam berembus membawa aroma sate ayam dari pedagang keliling dan bau menyengat dari realitas bahwa codot yang kami tunggu tak kunjung datang. Mungkin mereka tahu sedang diintai. Mungkin mereka punya grup WhatsApp sesama codot dan satu dari mereka telah membagikan lokasi kami: Avoid pohon mangga di depan rumah nomor 4 dari Timur. Ada dua manusia kurang kerjaan sedang pamer masker bengkoang.

Pada akhirnya, tidak ada kepakan sayap hitam bahkan untuk sekadar iseng terbang. Yang ada hanyalah punggung yang mulai encok dan kesadaran bahwa mangga krowak itu akan tetap di sana besok pagi, tetap setengah, tetap menjadi monumen kemenangan si codot atas rasa penasaranku.

Kami memutuskan kembali ke dalam kamar, menggulung diri dalam selimut, dan melanjutkan agenda deep talk.

"Bo, gue penasaran deh, codot tuh kalau tidur terbalik pernah sakit kepala, gak sih?"

"Secara logika sirkulasi darah manusia, kalau kita yang gelantungan terbalik begitu lima menit aja, muka kita bakal merah padam, pembuluh darah di mata rasanya mau pecah, dan besok paginya kita mungkin udah diangkut pake ambulans. Tapi kalau codot... Embuhlah, Yas. Nggak tahu!"

Yas menoleh, menatapku dengan tatapan menghakimi yang biasa dia pakai kalau aku mendadak gagal menjawab.

"Kok nggak tahu? Perasaan tadi sore gaya lu udah kayak asisten Charles Darwin," cibir Yas.

"Ya kan gue belum pernah wawancara langsung sama codotnya, Yas! Tapi kalau boleh pakai ilmu cocoklogi," aku memosisikan bantal agar lebih tinggi, "gue punya dua teori.”

"Pertama, jangan-jangan posisi otak codot tuh sebenarnya bukan di kepala, tapi di pantat. Kedua, lo lihat sendiri kan mangga tetangga depan hancurnya kayak gimana? Codot itu sebenarnya pusing, Yas. Mereka itu pening setengah mati tiap bangun tidur. Makanya pelarian mereka adalah vandalisme buah. Mereka makan mangga tetangga secara brutal dan acak-acakan itu bukan karena lapar, tapi karena lagi migrain dan butuh asupan gula buat ngeredain kliyengan di kepala mereka."

Yas membalikkan badannya menghadapku, menyipitkan mata, lalu melempar teori yang jauh lebih radikal versinya.

"Kita salah mikir dari awal deh kayanya Bo" kata Yas dengan nada dingin ala detektif film noir. "Codot itu nggak pernah pusing tidur kebalik, karena bagi mereka, bumi ini yang sebenernya kebalik."

"Pikirin deh pakai logika mutlak," Lanjut Yas sambil membenarkan letak selimutnya. "Kita manusia ngerasa posisi berdiri kita ini yang paling bener karena kita emang egois. Gimana kalau sebenernya codot itu adalah makhluk yang paling waras di planet ini? Mereka tahu kalau gravitasi bumi ini sebenernya narik ke atas, bukan ke bawah. Makanya mereka gelantungan buat nahan diri biar nggak jatuh ke luar angkasa."

"Wah, Yas. Lu ternyata lebih gadungan dari gue."

"Udah gue bilangin, pikirin pakai logika mutlak, Bo!!"

Aku diam. Sialnya, semakin kupikir, semakin sulit mencari celah pada teori itu. Memang tidak masuk akal. Tapi bukannya semua teori besar pada awalnya juga terdengar tidak masuk akal? Orang yang pertama kali bilang bumi bulat pasti juga diketawain. Bedanya, mereka mungkin tidak menyampaikan teorinya sambil meringkuk di bawah selimut dan makan keripik kentang kemasan.

Aku menatap langit-langit kamar.

"Kenapa diem? Mikir apaan, lu?" tanya Yas.

"Kalau teori lu bener, berarti codot itu astronaut."

"Kenapa astronaut?"

"Ya karena mereka hidup sambil terus-menerus melawan gravitasi."

“Gue kan nggak bilang mereka melawan gravitasi.”

“Tapi kan itu tetap definisi astronaut juga—makhluk yang hidup di kondisi gravitasi nggak normal — menurut manusia.”

“Tapi kan astronaut itu manusia yang dikirim ke luar.”

“Berarti kita yang salah label. Mereka astronaut asli, kita cuma makhluk yang kebalik.”

“Haha kedongokan yang indah, ya Bo? Tapi astronot mah bajunya tebal dan putih.”

“Codot versi yang lebih gotik kali…”

“Kalau mereka memang makhluk yang ‘di posisi lain’… mereka ngapain ke sini?”

"Observasi dan sabotase?"

"Sabotase apa?"

"Sabotase psikologis manusia mungkin?"

Yas tertawa. "Gimana ceritanya?"

"Coba lu pikir, Yas. Mereka nggak pernah ngabisin buah. Nggak pernah. Selalu disisain setengah. Kenapa?"

"Kenapa?"

“Kalau itu disengaja… berarti itu pola. Kalau ada pola, berarti ada tujuan. Kalau ada tujuan, berarti ada yang diuji. Kayanya itu pesan deh . Kami bisa menghabiskan ini. Tapi kami memilih untuk tidak.”

Yas memiringkan kepala. “Makin dipikirin makin ganggu, sih Bo. Kayak lu datang ke warung bakso, menghabiskan kuahnya, gigit satu bakso, terus pergi.”

Setelah mengucapkannya, Yas menggeleng kuat-kuat. "Nggak Bo. Gue rasa bukan. Pede banget sih kita kalau misi codot itu manusia-sentris.”

"Terus?"

"Gue rasa codot itu sebenarnya penyayang. Penyayang buah.”

“Hihhh apalagi sih ini?? Penyayang apanya, makan nggak dihabisin begitu!”

“Lu perhatiin, nggak? Buah yang menggantung dan codot yang hidupnya gelantungan terus. Codot tahu rasanya jadi benda yang ditahan cuma sama satu titik."

Aku mulai menyesal bertanya. "Jadi?"

"Jadi mereka kasihan sama mangga."

Yas menunjuk ke arah jendela, ke pohon mangga yang samar terlihat dalam gelap.

"Kalau gravitasi codot kebalik, berarti bagian yang mereka makan itu bukan bawah. Bagi mereka itu atas."

Aku diam. Yas melanjutkan dengan keyakinan orang yang sudah terlalu jauh untuk mundur.

"Supaya bebannya berkurang. Bagian dekat tangkai sengaja disisain.

Kupandangi langit-langit. Di suatu tempat di dunia ini ada ilmuwan yang menghabiskan hidupnya meneliti kelelawar. Dan di tempat lain ada Yas yang baru saja menciptakan cabang zoologi baru dari nol.

Sejak tadi, kami hanya menghasilkan teori-teori tak penting yang seperti Alb bilang, tidak ada manfaatnya bagi peradaban. Bahkan tak satu pun teori itu menjawab satu masalah utama kami malam tadi. Kami tetap tidak berhasil melihat seekor codot pun.

"Kita gagal lihat codot malam ini kan, Yas?

"Iya."

“Gimana kalau tadi sebenarnya codotnya berhasil lihat kita? Bayangin kalau tadi ada dua codot lagi nongkrong di pohon mangga dan mereka ngintipin kita di balkon."

Yas mulai tertawa sebelum aku selesai bicara.

"’Bro, lihat tuh,' kata codot pertama. ‘Ada dua manusia pakai masker. Udah dua jam nggak ngapa-ngapain.’"

Yas langsung menyambung. "’Manusia memang seaneh dan segabut itu, ya.’ jawab codot kedua.”

"’Iya. Untung kita cuma codot.’"

Pagi ini, beberapa mangga krowak tergeletak di jalan muka rumah.


메타데이터
post_id
ec0b0fafce2e
slug
kenapa-codot-nggak-ngabisin-buah-ec0b0fafce2e
url
https://medium.com/@womind/kenapa-codot-nggak-ngabisin-buah-ec0b0fafce2e
canonical_url
https://medium.com/@womind/kenapa-codot-nggak-ngabisin-buah-ec0b0fafce2e
author_url
https://medium.com/@womind
status
ok
fetched_at
2026-06-27 23:56:40