← Back to list

Setoples Nastar, Setumpuk Kado, dan Segenggam Kesadaran.

Ini ditulis ketika aku tengah memakan setoples nastar untuk natal dalam diam.

Ibrass · 2024-12-21 18:05 · 80 claps · 1.9 min read
#storytelling #kado #natal
Open on Medium ↗
Wiki topics: LIT · Literature & Writing

Setoples Nastar, Setumpuk Kado, dan Segenggam Kesadaran.

Ini ditulis ketika aku tengah memakan setoples nastar untuk natal dalam diam.

Yang aku suka dari menapaki usia lebih dari 25 adalah momen-momen di mana isi kepalaku membuka semua opini, pemikiran-pemikiran, dan kenangan tak masuk akal yang masih kuingat, macam kado natal. Satu atau dua kotak kado akan membuatku girang, dan di kado yang lain, yang aku tak tau pengirimnya siapa, akan mengeluarkan sarung tinju berpegas tepat pada wajah. Kejutan! Suara orang-orang imajinasi di sekelilingku berteriak ceria sedang aku bersungut-sungut menggosok hidung yang terasa nyeri dan gatal.

Kado-kado (tanpa pengirim) itu tidak hanya datang di hari natal tentu saja. Kadang akan muncul di hari dan momen tak terduga. Akan bisa kutemukan di bawah bantal, dalam bak mandi, di lemari es, atau bahkan di dalam beberapa biji nastar yang lakban toplesnya baru kubuka malam ini. Macam potongan puzzle yang harus kurangkai satu per satu untuk menjadi gambaran utuh, nastar-nastar berisi kado itu kukunyah dengan ritme sama di lima biji pertama kemudian melewatkan dua ritme di biji selanjutnya seiring gambaran kenyataan memukulku lagi-lagi tepat di wajah.

Kali ini aku terkekeh.

Apa kenyataan yang aku sadari? Oh ini tentang aku yang menginginkan tumpukan surat di penghujung tahun nanti. Pertanyaan-pertanyaan semacam dari mana keinginan itu datang beserta jawabannya semakin jelas seiring bertambahnya jumlah nastar yang aku telan. Aku jarang benar-benar menginginkan sesuatu dari seseorang maupun mengambil tindakan bodoh dengan mengutarakannya jika aku tidak tahu seberapa besar persentase itu akan disetujui. I am a calculating person. And if someone rejects me, I will consider my calculation as a ‘grave mistake’ and will never do it again.

Persentase untuk mendapatkan surat-surat yang kumau tidak pernah lebih rendah dari 90% jika itu kuutarakan pada Rabu dan Kanya. Kenyataan bahwa mereka yang paling lantang mengkritisi tindak-tandukku jika dipersilahkan sesungguhnya sudah cukup menjadi bukti bahwa penolakan tidak pernah mereka letakkan di atas meja hidangan tempat kami bersantap sebagai teman. Ini adalah salah satu kado favoritku sejak beberapa tahun silam yang kerap kulupakan.

Cup nastar yang berada di dasar toples sudah mengintip seiring rasa pahit tiba-tiba kucecap. Satu biji nastar yang terakhir kukunyah berisi kado yang tidak kuinginkan; tumpukan surat yang kunantikan sesungguhnya menutupi fakta bahwa aku jarang memvalidasi diri sendiri. Despite how prideful I can be I still seek validation from some people (Kanya and Rabu, in this case), and that sucks to some degree.

Sikap banggaku atas diri tidak kontradiktif dengan betapa gemarnya aku mengerdilkan perasaan sendiri. Aku hanya membutuhkannya ketika aku ingin, menakar jumlahnya dengan tepat, lalu mencampurnya ke dalam afirmasi di kepala. Semua itu dilakukan secara tidak sadar sampai lakban di toples nastar malam ini dibuka.

Hadiah natalku datang tiga hari lebih cepat dari jadwal Santa.


메타데이터
post_id
ec0c41b9d105
slug
setoples-nastar-setumpuk-kado-dan-segenggam-kesadaran-ec0c41b9d105
url
https://medium.com/@ibrass/setoples-nastar-setumpuk-kado-dan-segenggam-kesadaran-ec0c41b9d105
canonical_url
https://medium.com/@ibrass/setoples-nastar-setumpuk-kado-dan-segenggam-kesadaran-ec0c41b9d105
author_url
https://medium.com/@ibrass
status
ok
fetched_at
2026-06-26 21:52:29