← Back to list

Bias Gender dalam Cerita The Little Mermaid dan Little Tiny or Thumbelina Karya Hans Christian…

Gender merupakan hubungan sosial antara laki-laki dan perempuan yang dibentuk oleh masyarakat melalui peran, perilaku, serta kedudukan…

Tengku Abdillah Ayyub · 2026-05-24 11:09 · 0 claps · 3.6 min read
#sastra #dongeng #gender #hans-christian-andersen
Open on Medium ↗
Wiki topics: SAF · Safety & Alignment 🕊️ · Religion

Bias Gender dalam Cerita The Little Mermaid dan Little Tiny or Thumbelina Karya Hans Christian Andersen

Ilustrasi Sampul The Fairy Tales of Hans Christian Andersen @roomonecards (Sumber: Instagram)

Ilustrasi Sampul The Fairy Tales of Hans Christian Andersen @roomonecards (Sumber: Instagram)

Gender merupakan hubungan sosial antara laki-laki dan perempuan yang dibentuk oleh masyarakat melalui peran, perilaku, serta kedudukan tertentu. Konsep gender tidak hanya berkaitan dengan perbedaan biologis, tetapi juga menciptakan pembagian peran dan kekuasaan dalam kehidupan sosial. Dalam praktiknya, sering kali ditemukan penempatan laki-laki dan perempuan pada posisi yang berbeda sehingga melahirkan berbagai bentuk ketidaksetaraan.

Ketidaksetaraan tersebut kemudian memunculkan bias gender, yakni ketimpangan relasi antara laki-laki dan perempuan yang terbentuk melalui konstruksi sosial masyarakat. Menurut Simone de Beauvoir (1908–1986) dalam bukunya The Second Sex menegaskan bahwa perempuan tidak dilahirkan begitu saja, melainkan melalui konstruksi sosial yang membentuk serta membatasi kebebasan dan identitas mereka (Kurniawan, 2025).

Ilustrasi The Little Mermaid @zoweyart (Sumber: Instagram)

Ilustrasi The Little Mermaid @zoweyart (Sumber: Instagram)

Sejalan dengan hal itu, fenomena tersebut tampak jelas dalam dongeng The Little Mermaid. Di mana cerita ini tidak hanya menghadirkan kisah cinta tragis, tetapi juga memperlihatkan bagaimana perempuan harus mengorbankan identitas, tubuh, bahkan kehidupannya demi memperoleh cinta.

Tokoh utama putri duyung digambarkan rela meninggalkan kehidupannya di laut demi seorang pangeran manusia. Pengorbanannya tidak bersifat sederhana karena ia harus memotong lidahnya kepada penyihir demi memperoleh ramuan yang bisa mengubah ekornya menjadi kaki manusia. Dalam kutipan berikut, tampak bagaimana tokoh mempertaruhkan seluruh hidupnya.

“Put out your little tongue that I may cut it off as my payment; then you shall have the powerful draught.” ‘Julurkan lidahmu agar dapat kupotong sebagai bayarannya; setelah itu kau akan mendapatkan ramuan sakti itu.’

Kehilangan lidah bukan sekadar perubahan fisik, melainkan simbol hilangnya kebebasan perempuan untuk berbicara. Akibat lidahnya dipotong, putri duyung kehilangan suaranya sehingga ia tidak mampu mengungkapkan bahwa dirinyalah yang menyelamatkan sang pangeran.

Bias gender juga terlihat dari penderitaan fisik yang dialami tokoh perempuan demi memenuhi standar cinta laki-laki. Setiap langkah putri duyung terasa seperti berjalan di atas pisau tajam.

“Every step she took was as if she were treading upon sharp knives.” ‘Setiap langkah yang ia ambil terasa seperti menginjak pisau-pisau tajam.’

Penderitaan tersebut menunjukkan bahwa perempuan harus menahan rasa sakit demi diterima oleh laki-laki. Tubuh perempuan menjadi ruang pengorbanan yang dianggap wajar, sedangkan laki-laki tidak pernah diminta menanggung penderitaan yang serupa. Adapun di akhir cerita memperlihatkan bentuk ketidakadilan emosional terhadap perempuan.

Di mana putri duyung gagal memperoleh cinta pangeran karena sang pangeran menikahi perempuan lain. Nasib hidup dan matinya sepenuhnya ditentukan oleh pilihan laki-laki. Kondisi ini menunjukkan relasi kuasa yang timpang karena perempuan tidak memiliki kendali penuh atas kehidupannya sendiri.

Namun, di akhir cerita ini menghadirkan sisi yang lebih kompleks. Ketika saudara-saudaranya memberikan pisau agar ia membunuh pangeran, justru putri duyung memilih mengorbankan dirinya. Ia tidak membalas rasa sakit tersebut, melainkan memperoleh kesempatan mendapatkan jiwa abadi melalui perbuatan baik.

Ilustrasi Thumbelina @zoweyart (Sumber: Instagram)

Ilustrasi Thumbelina @zoweyart (Sumber: Instagram)

Dongeng Thumbelina atau Little Tiny memiliki pola bias gender yang sangat mirip dengan cerita di atas. Jika The Little Mermaid memperlihatkan perempuan yang mengorbankan tubuhnya demi cinta, maka Thumbelina menampilkan perempuan sebagai sosok kecil, lemah, dan terus-menerus dijadikan objek pilihan serta pernikahan oleh laki-laki.

Sejak awal cerita, Thumbelina digambarkan sebagai perempuan ideal, seperti kecil, cantik, lembut, dan penurut. Narasi secara terus-menerus menekankan kecantikannya sebagai nilai utama dirinya. Hal ini terlihat dalam kutipan berikut ini.

“What a pretty little wife this would make for my son.” ‘Betapa cantiknya gadis kecil ini untuk dijadikan istri anakku.’

Kutipan tersebut menunjukkan bahwa keberadaan Thumbelina langsung diposisikan sebagai calon istri, bukan sebagai individu yang memiliki kehendak sendiri. Perempuan dipandang berdasarkan daya tarik fisik dan kelayakannya untuk dinikahi. Dalam perspektif gender, hal ini memperlihatkan objektifikasi perempuan. Di mana perempuan ditentukan hidupnya oleh pihak lain.

Sepanjang cerita, ia terus dipindahkan, dipilih, dan ditentukan hidupnya oleh pihak lain, seperti kodok ingin menikahkannya dengan anaknya, tikus ladang menjodohkannya dengan tikus tanah, hingga keputusan hidupnya hampir seluruhnya berada di tangan orang lain.

“You are going to be married, Tiny.” ‘Kamu akan segera menikah, Tiny.’

Kutipan tersebut memperlihatkan bahwa pernikahan diputuskan tanpa mempertimbangkan keinginan Thumbelina. Ia hanya diberi tahu mengenai masa depannya, bukan diminta pendapatnya. Lebih jauh lagi, pesan dalam cerita ini memperlihatkan bahwa kebahagiaan perempuan seolah hanya dapat dicapai melalui pernikahan. Meskipun di akhir cerita, Thumbelina baru dianggap benar-benar bahagia ketika menikah dengan pangeran bunga.

“He took the gold crown from his head, and placed it on hers, and asked her name, and if she would be his wife.” ‘Ia mengambil mahkota emas dari kepalanya, meletakkannya di kepala Tiny, lalu bertanya apakah ia mau menjadi istrinya.’

Dengan kedua cerita tersebut menunjukkan bahwa perempuan ideal adalah perempuan yang cantik, lembut, rela berkorban. Dalam konteks sastra anak, representasi seperti ini dapat memengaruhi cara anak memahami peran gender sejak dini. Oleh karena itu, karya sastra tidak hanya dibaca sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media untuk mengkritisi konstruksi sosial yang berkembang.

Referensi:

Andersen, H. C. (2008). Fairy Tales of Hans Christian Andersen. Project Gutenberg.

Kurniawan, M. (2025). Silahkan Memilih. BINUS University — Character Building. Diambil dari https://binus.ac.id/character-building/2025/08/silahkan-memilih/


메타데이터
post_id
ec8d385ca25d
slug
bias-gender-dalam-cerita-the-little-mermaid-dan-little-tiny-or-thumbelina-karya-hans-christian-ec8d385ca25d
url
https://medium.com/@tengkuayyub14/bias-gender-dalam-cerita-the-little-mermaid-dan-little-tiny-or-thumbelina-karya-hans-christian-ec8d385ca25d
canonical_url
https://medium.com/@tengkuayyub14/bias-gender-dalam-cerita-the-little-mermaid-dan-little-tiny-or-thumbelina-karya-hans-christian-ec8d385ca25d
author_url
https://medium.com/@tengkuayyub14
status
ok
fetched_at
2026-06-09 15:37:30