Ketika Negara H-A-D-I-R
Refleksi dari Dua Puluh Menit di Bawah Cahaya
Ketika Negara H-A-D-I-R
Refleksi dari Dua Puluh Menit di Bawah Cahaya

Digital Illustration by ChatGPT
Beberapa waktu lalu saya menjalani operasi katarak (baca di sini).
Saya masih ingat suasana ruang operasi yang terang.
Saya berbaring sambil menatap cahaya besar di atas kepala.
Tidak ada rasa sakit yang berarti, tetapi ada perasaan pasrah yang sulit dijelaskan.
Dalam kondisi seperti itu, saya menyadari betapa berharganya penglihatan dan betapa terbatasnya kemampuan kita mengendalikan hidup.
Dokter dan perawat bekerja dengan tenang. Tidak banyak bicara. Hanya sesekali terdengar instruksi singkat yang menenangkan.
"Tenang ya, Pak."
Sekitar dua puluh menit kemudian, semuanya selesai.
Namun yang tertinggal dalam ingatan saya bukan hanya keberhasilan operasinya. Ada sesuatu yang lain yang ikut membuka mata saya.
Di ruang tunggu dan ruang perawatan, saya melihat begitu banyak pasien yang menggunakan BPJS Kesehatan.
Sebagian mungkin tidak akan mampu menanggung biaya pengobatan dan operasi dengan dana sendiri. Namun mereka tetap memperoleh kesempatan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak.
Di situlah saya mulai merenung.
Sebagai orang yang cukup berpikir kritis terhadap pemerintah, saya sering merasa frustrasi melihat berbagai kasus korupsi yang seolah tidak pernah habis.
Bahkan ada yang mengatakan bahwa korupsi sudah menjadi penyakit bangsa yang berurat dan berakar.
Terus terang, saya jadi sering memiliki pandangan yang tidak selalu positif terhadap pemerintah.
Tetapi pengalaman ini memaksa saya melihat sesuatu dari sudut yang berbeda.
Saya teringat percakapan dengan sahabat saya, seorang dokter di Bogor yang memiliki beberapa poliklinik. Dalam sebuah diskusi, beliau bercerita bagaimana pemerintah menggunakan kewenangannya untuk memastikan pelayanan kesehatan tidak hanya dinikmati oleh mereka yang mampu membayar.
Rumah sakit pemerintah dan swasta, dokter, klinik, dan berbagai fasilitas kesehatan diajak menjadi bagian dari satu sistem yang lebih besar.
Sebagai seorang mantan auditor yang cukup lama bergelut dengan tata kelola dan manajemen sistem, saya memahami bahwa membangun sistem seperti ini bukan pekerjaan sederhana.
Sistem yang melibatkan ratusan juta peserta, ribuan fasilitas kesehatan, jutaan transaksi pelayanan, dan berbagai mekanisme pengendalian tentu memiliki kompleksitas yang luar biasa.
Tentu sistem ini belum sempurna.
Masih ada keluhan. Masih ada kekurangan. Masih ada hal-hal yang perlu diperbaiki.
Tetapi saya tidak bisa menutup mata terhadap satu kenyataan:
Ada begitu banyak masyarakat yang tertolong karena sistem ini.
Di tengah refleksi itu, saya teringat sebuah kata sederhana: HADIR.
H – Hentikan Autopilot
Kadang-kadang kita terlalu terbiasa melihat sisi negatif sehingga tanpa sadar masuk ke mode autopilot.
Setiap kali mendengar kata pemerintah, yang muncul di benak kita adalah korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, atau berbagai berita yang mengecewakan.
Semua itu memang ada.
Namun sesekali kita perlu berhenti sejenak. Berhenti agar dapat melihat kenyataan secara lebih utuh.
A – Arahkan Perhatian
Apa yang kita perhatikan akan mempengaruhi cara kita memandang dunia.
Selama ini perhatian saya sering tertuju pada berbagai kekurangan.
Tetapi pengalaman operasi katarak mengarahkan perhatian saya pada sesuatu yang lain:
Kemampuan negara untuk menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat dalam skala yang sangat besar.
D – Dengarkan dengan Hati
Kita perlu mendengar kritik. Kita perlu mendengar keluhan.
Tetapi kita juga perlu mendengar kisah-kisah mereka yang terbantu.
Mereka yang dapat berobat. Mereka yang dapat menjalani operasi. Mereka yang mendapatkan kesempatan hidup yang lebih baik karena adanya sistem yang melindungi mereka.
Sering kali kisah-kisah seperti ini tidak menjadi berita utama, padahal dampaknya dirasakan oleh jutaan orang.
I – Ikut Terlibat Sepenuhnya
Saya belajar bahwa negara tidak hadir hanya melalui undang-undang atau peraturan.
Negara “hadir” melalui manusia-manusia yang menjalankan amanahnya.
Melalui dokter yang melakukan operasi. Melalui perawat yang mendampingi pasien. Melalui petugas administrasi yang melayani dengan sabar. Melalui para profesional yang bekerja setiap hari agar sistem tetap berjalan.
“Kehadiran” sejati bukan hanya soal kebijakan. “Kehadiran” adalah soal keterlibatan.
R – Resapi dan Syukuri
Dua puluh menit di bawah cahaya ruang operasi membuat saya melihat lebih jelas.
Bukan hanya secara fisik.
Tetapi juga cara pandang saya terhadap peran negara.
Saya masih percaya bahwa korupsi adalah masalah besar yang harus terus diperangi.
Saya masih percaya bahwa penyalahgunaan kekuasaan harus terus dikoreksi.
Tetapi saya juga belajar bahwa tidak adil jika kita hanya melihat kegagalannya dan menutup mata terhadap keberhasilannya.
BPJS menunjukkan bahwa ketika kewenangan, sistem, dan amanah bergerak ke arah yang sama, negara dapat menghadirkan kebaikan yang nyata bagi rakyatnya.
Dan dari situlah muncul sebuah pertanyaan yang terus menggelitik pikiran saya.
Jika negara mampu “menghadirkan” sistem seperti ini di bidang kesehatan, bagaimana jika semangat yang sama “dihadirkan” secara lebih kuat di bidang PENDIDIKAN?
Bagaimana jika setiap anak Indonesia memperoleh akses pendidikan yang benar-benar berkualitas?
Bagaimana jika literasi keuangan, kesehatan, karakter, dan keterampilan hidup menjadi bagian dari perjalanan mereka sejak dini?
Bagaimana jika kedaulatan yang dimiliki negara lebih banyak digunakan untuk membangun kesejahteraan bersama daripada melayani kepentingan golongan atau kepentingan pribadi?
Sebagai bangsa, saya yakin kita memiliki kemampuan untuk melakukannya (saya tulis dalam huruf kecil, untuk menyatakan sikap skeptis saya yang sebenarnya).
BPJS telah menunjukkan bahwa ketika negara memilih untuk HADIR, dampaknya dapat dirasakan hingga ke ruang operasi tempat seorang pasien berbaring di bawah cahaya selama dua puluh menit.
Mungkin tantangan terbesar kita bukan soal kemampuan.
Mungkin tantangan terbesar kita adalah “pilihan”.
Pilihan tentang untuk siapa kekuasaan digunakan. Pilihan tentang untuk siapa kewenangan dijalankan.
Pilihan untuk melepaskan “Berhala-berhala” kita.
Dan pilihan tentang apakah negara akan sekadar ada, atau benar-benar “HADIR” bagi rakyatnya.
Seri Refleksi Organisasi: Kepemimpinan, Budaya, dan Amanah
메타데이터
- post_id
- ecf2dfc82e44
- slug
- ketika-negara-h-a-d-i-r-ecf2dfc82e44
- url
- https://medium.com/ruang-kontemplasi/ketika-negara-h-a-d-i-r-ecf2dfc82e44
- canonical_url
- https://medium.com/ruang-kontemplasi/ketika-negara-h-a-d-i-r-ecf2dfc82e44
- author_url
- https://medium.com/@habillokadjaja56
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-14 05:39:23