Dibunuh Sepi Ruang Tunggu
Sebuah tempat ramai yang sepi
Dibunuh Sepi Ruang Tunggu
Sebuah tempat ramai yang sepi
Photo by Edwin Chen on Unsplash
I am a patient boy I wait, I wait, I wait, I wait My time, water down a drain (Kutipan lirik lagu Waiting Room karya Fugazi)
Pelan-pelan ketika berada di suatu ruang tunggu, kepala tersusupi ingatan akan sebuah lagu dari band favorit, Fugazi. Entah mengapa lamat-lamat teringat akan Waiting Room, dan akhirnya kembali memutar lagu tersebut. Tapi tulisan ini tidak akan mengulas akan lagu tersebut, melainkan akan membahas perihal ruang tunggu ini.
Ruang tunggu adalah sebuah tempat yang memiliki emosi yang kompleks. Seketika melihat ruang tunggu yang ramai, rasa jengkel datang. Namun, di sisi lain ada perasaan lega, setidaknya banyak orang yang memiliki nasib serupa di tempat tersebut. Semuanya melebur menjadi satu kesatuan dalam sebuah aktivitas bernama menunggu.
Di ruang tunggu, waktu terasa bergerak dua kali lebih lambat. Kita bisa melihat banyak orang menguap di tempat tersebut. Ruang tunggu juga terkadang memberikan rasa cemas dan kantuk secara bersamaan. Terkadang, ruang tunggu juga dapat membuat relasi baru dengan orang yang baru saja dikenal, karena orang yang ada di ruang tunggu sama-sama dibunuh sepi dan bosan.
Tanpa disadari, banyak adegan di film yang menggunakan set ruang tunggu. Dan tanpa disadari pula, ruang tunggu adalah tempat ramai yang sepi. Kemudian, bermodalkan kesepian tersebut akan tercipta sebuah skema pertarungan batin di kepala seorang individu. Atau, modal kesepian dan kebosanan tersebut dapat memunculkan potensi akan ide-ide paling liar, paling seksi, dan paling tidak masuk akal yang pernah dipikirkan individu tersebut.
Namun, sekarang teknologi kian merangsek. Ruang tunggu tidak menjadi momok kebosanan seperti dulu lagi. Kebosanan ruang tunggu berhasil direduksi oleh adanya teknologi bernama media sosial. Adanya penemuan media sosial pada gawai, sangat mempermudah akses hiburan, sekalipun di ruang tunggu yang membosankan. Dan ruang tunggu menjadi tidak begitu sepi bagi individu — dalam hal ini bagi seorang individu yang memiliki gawai. Orang-orang semakin terdistraksi sebuah pelarian kecil di gawainya masing-masing. Tak ada obrolan kecil antara ibu-ibu yang membahas tentang salah satu busana orang yang lewat atau bapak-bapak yang meracau tentang kondisi negara hari ini.
Ekspresi yang tercipta pada individu di ruang tunggu adalah ekspresi yang jujur. Bercinta dengan ruang tunggu dengan alat bantu kesepian dan kebosanan adalah sebuah hal yang sering kita alami. Karena kesepian dan kebosanan akan ada pada setiap manusia, ia adalah pasangan yang setia serupa bayangan pada diri manusia. Tidak ada manusia satupun di muka bumi ini yang tidak merasakan kesepian atau kebosanan.
Ruang tunggu tanpa disadari dapat menjadi sebuah perasaan kolektif yang dinamis. Pada tempat tertentu, ruang tunggu terasa lebih membahagiakan. Namun, di suatu tempat tertentu pula, ruang tunggu terasa lebih mendebarkan, serupa Izrail yang sudah bertengger di pundak individu tersebut.
Saat di ruang tunggu, terkadang manusia diberikan pilihan beradaptasi. Adaptasi tersebut dapat berbentuk pemaksaan diri untuk mengobrol dengan orang lain agar tidak kesepian dan bosan, atau adaptasinya berbentuk sebuah penguatan diri untuk menerima kebosanan dan kesepian tersebut.
Pada akhirnya, menunggu di ruang tunggu adalah sebuah kepastian hidup. Semua orang pasti akan mengalaminya. Dan yang pasti, ruang tunggu hanya singgah sejenak, sebelum melakukan perjalanan sebenarnya di luar sana.
메타데이터
- post_id
- ed18bc7c5f24
- slug
- dibunuh-sepi-ruang-tunggu-ed18bc7c5f24
- url
- https://medium.com/@ridhoismail/dibunuh-sepi-ruang-tunggu-ed18bc7c5f24
- canonical_url
- https://medium.com/@ridhoismail/dibunuh-sepi-ruang-tunggu-ed18bc7c5f24
- author_url
- https://medium.com/@ridhoismail
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-20 07:40:56