← Back to list

Bukan Sembarang Pemustaka

Aku takut dengan pemustaka-ku yang satu ini. Dia terus menanyakan dimana buku dengan judul seri yang dia pegang kepadaku. Sementara aku…

Els | Librarian · 2026-06-08 23:34 · 0 claps · 5.2 min read
#libraries #perpustakaan #memoar #literacy
Open on Medium ↗

Bukan Sembarang Pemustaka

Photo by Jamie Taylor on Unsplash

Photo by Jamie Taylor on Unsplash

Aku takut dengan pemustaka-ku yang satu ini. Dia terus menanyakan dimana buku dengan judul seri yang dia pegang kepadaku. Sementara aku tahu, buku seri itu memang belum lengkap. Kalau kau jawab buku ini judulnya hanya ada seperti yang ada di katalog, apakah tidak apa-apa?

Namanya Bu Amanda, setiap kali dia datang ke perpustakaan aku selalu dibuat was-was dengan pertanyaan kritisnya tentang koleksi di perpustakaan. Letaknya lah atau ada judul yang lain nggak daripada yang lain.

“Coba mbak, kan kemarin aku udah pinjem yang judulnya Aku ingin tahu tentang Laut sama Aku ingin tahu tentang gunung. Nahh aku sudah pernah pinjam yang judulnya Aku ingin tahu tentang langit. Terus di cover belakang ini masih ada dua judul yang lain, aku cari ketemunya cuman yang Aku ingin tahu tentang hutan. Yang judulnya Aku ingin tahu tentang gurun aku cari nggak ketemu mbak. Bukunya ada nggak ya atau memang koleksinya cuman empat ini aja?”

Tanganku bergetar tipis sambil perlahan aku menggeser tubuhku dari yang tegak lurus menghadapnya sedikit ke arah komputer,

“Oh iya Bu, boleh dibacakan buku yang dicari apa, coba saya cek di katalog ya”

Aku ketikan nama seri alam untuk anak, mesin otomasi perpustakaan berputar sebentar kemudian muncullah. Dan benar ada empat judul seperti yang disebutkan Bu Manda ini tadi. Aku katakan kepadanya, bahwa kami benar baru memiliki empat dari lima seri yang sudah disebutkan Bu Manda tadi,

“Ohh ya sudah, jadi emang nggak ada ya Mbak, bukan sedang dipinjam atau kemana gitu bukunya?”

Aku jawab dengan senyum ramah dan suara yang tenang, walau aslinya aku sudah deg-degan parah saat itu,

“Nggih, mohon maaf nggih ternyata koleksi di seri itu baru ada empat di kami”

Akhirnya Bu Manda meminjam satu yang judulnya Aku ingin tahu tentang hutan dan buku anak yang lain. Proses sirkulasi di perpustakaan kami saat itu masih dilakukan dengan dua sistem, yaitu menggunakan otomasi perpustakaan dan manual. Dimana aku perlu menuliskan di kartu buku, kartu pinjam dan kartu peminjaman yang menempel di halaman belakang buku. Sungguh ribet dan perlu bekerja dua kali. Untung sejauh ini belum ada pemustaka yang protes dengan sistem yang ‘agak’ lama ini. Bukankah sekarang, berbagai pelayanan dituntut untuk serba cepat?

Hari-hari bertugas di bagian sirkulasi aku temui pemustaka (pengguna perpustakaan) yang berbeda-beda, Bu Manda tetap menjadi pengunjung setia yang datang dua minggu sekali. Putranya yang belum berusia tiga tahun selalu dia ajak datang ke perpustakaan. Aku sekarang hafal, beliau ini seringnya meminjam buku anak-anak. Ahh pastu untuk dibacakan kepada anaknya, pikirku.

Saat aku perhatikan nomor anggota dari Bu Manda ini, ohh cukup menarik. Dia adalah pengunjung lama. Karena kombinasi angkanya hanya berjumlah empat. Itu kombinasi angka untuk pengunjung yang sudah lama terdaftar menjadi anggota perpustakaan, bebeda dengan yang sekarang jumlah angkanya sembilan angka. Wahh, pengunjung lama nih, pasti sudah tau seluk beluk perpus ini daripada aku yang baru di sini.

Karena aku mendapat tugas publikasi kegiatan di sosial media Instagram, aku mendapatkan akses untuk login ke akun Instagram milik perpustakaanku. Suatu hari, aku melihat ada yang mention kami di Instagram melalui story, aku lihat siapa yang menyebut kami. Ohh pemustaka, setelah aku klik akunnya, ohh aku ingat. Ternyata ini Bu Manda. Dia baru saja datang ke perpustakaan, dan menyebut kita. Wahh menarik sekali. Ditambah setelah aku lihat-lihat, dia juga ternyata memang suka me review buku-buku anak. Luar biasa sekali pemustaka yang satu ini. Nggak main-main emang.

Di kunjungannya berikutnya, ketika aku melayani dia yang meminjam buku anak-anak lagi untuk kesekian kalinya aku bertanya

“Bu Manda konten kreator buku anak yaa?”

Dengan senyum ramah sambil menyerahkan buku yang akan dia pinjam, dia mengiyakan pertanyaanku kemudian bertanya dari mana aku tahu. Aku jawab saja aku tahu dari Instagram. Aku mulai merasa, ahh sepertinya Bu Manda tidak semenakutkan dulu dehh, dia baik kok. Menyenangkan juga, tapi memang sisi kritisnya sebagai pemustaka tidak bisa dipungkiri. Hingga suatu hari di bulan April ketika kegiatan komunitas, aku dibuat kaget dengan kehadirannya di sana.

Ketika aku datang dan Mbak Putri melambaikan tangan kepadaku, aku mendekat kepada dua orang perempuan yang sudah duduk di taman alun-alun pagi itu. Saat aku sudah sampai di depan mereka berdua, bersalaman sambil menanyakan kabar. Aku bertanya lagi kepada Bu Manda

“Bu Manda yang sering datang ke perpustakaan kan yaa?”

Dia tersenyum,

“Iyaa mbak, ini saya sudah beberapa minggu belum ke perpus lagi. Anak lagi asik baca buku di rumah”

Pertemuan kami pagi hari itu untuk mendiskusikan kegiatan yang akan diikuti oleh anak-anak di bulan Juni nanti. Kegiatan literasi anak yang aku sendiri belum pernah tau seperti apa gambarannya. Obrolan ibu-ibu ini lancar sekali mengalir membahas psikologi anak, rentan usia anak dan permaian apa yang cocok untuk mereka

“Kalau anak usia satu sampai tiga tahun itu nggak bisa kegiatannya disamakan dengan yang usianya mulai empat tahun ke atas, anak tiga tahun temannya ya yang usia satu sama dua tahun itu”

Aku mengangguk-angguk mendengar penjelasan Mbak Yunda, beliau adalah psikolog dan fokusnya adalah psikolog anak. Tanganku tidak bisa diam untuk mencabuti rumput-rumput yang terlihat menggoda itu. Matahari sudah mulai naik, langit sedang cerah-cerahnya tapi rasanya aku ingin segera pulang saja. Kepalaku berhenti memikirkan games apa yang cocok untuk anak-anak itu. Hingga aku sadar dan ngantukku hilang ketika Mbak Putri mengatakan,

“Ela jadi sekretaris kegiatan yaa?”

Aku menyadari aku tidak akan mengerti jika diberi tugas memikirkan konsep, jadi aku mengiyakan tanpa mikir panjang.

Semenjak hari itu, di sela sela pekerjaanku di perpustakaan aku terus mendapatkan pesan untuk update tugasku. Seperti memastikan surat sudah terkirim ke sponsor dan mendapat feedback. Kemudian admisnitrasi, pendaftaran dan juga menghubungi calon peserta kegiatan ini.

Disini aku sadar dia yang terus mengajak aku untuk update dan memberi gambaran serta saran. Seperti form pendaftaran nanti dibuat seperti apa, isiannya apa saja, kemudian untuk selalu follow up jumlah peserta untuk update setiap hari ketika sudah seminggu menjelang acara.

Ketika galdi kegiatan, aku dibuat kagum dengan cara Mbak Manda read aload. Dia bisa mengubah suaranya, walau memang tidak banyak suaranya yang diubah tapi tetap saja itu bagus. Dan benar saja ketika hari H, anak-anak antusias mendengarkan Mbak Manda bercerita.

Di hari h kegiatan, Mbak Manda mengatakan kepadaku, dia dulu bekerja di perpustakaan kampus. Satu kalimat yang berhasil membuat aku menghentikan seluruh kegiatanku menata daftar hadir pagi itu. Dia bercerita sudah tujuh tahun bekerja di perpustakaan kampus dan memilih resign karena keluarga

“Memang udah pilihan aku, jujur aku masih suka kerja di perpus tuh. Yaa, kamu akan menghadapi pilihan itu kelak nanti. Pilihan hidup”

Dia katakan bahwa dia lulusan S1 Perpustakaan Unair. Yang dulu menjadi kampus impianku, ahh melihat Mbak Manda seperti melihat mimpi-mimpiku. Bekerja di perpustakaan kampus adalah impianku sejak masih duduk di bangku kuliah. Aku selalu senang melihat mahasiswa lalu lalang di perpustakaan, wajah mereka yang pusing mencari referensi untuk penelitian atau mereka yang sekedar duduk-duduk menunggu pergantian jam kuliah. Aku selalu ingin bekerja di lingkungan yang hidup sekali seperti itu.

Aku katakan kepada Mbak Manda,

“Saya juga ingin tetap hidup mbak. Saya tidak mau stuck di sini terus, saya meu tetap menjaga ilmu perpustakaan saya ini tetap lestari”

Katanya bisa, dengan aku terus mengembangkan akun buku-ku itu dan mencoba lebih eksplor. Bahwa dengan aku mengikuti komunitas menulis seperti ini pun juga termasuk berjejaring. Ahh, benarkah? Seharusnya kata itu menenangkan hatiku yang selalu gundah jika mengingat kecintaanku pada perpustakaan ini.

“Kembangkan akun bukumu Ela. Kamu bisa dapat banyak hal dari sana”

Mendengar itu, aku jadi teringat kata Mbak Latifa, temanku yang juga seorang pegiat literasi yang fokusnya di buku-buku pengembangan diri dan buku non fiksi.

Acara hari itu selesai dengan baik. Tidak ada kendala yang begitu besar sehingga menghambat acara. Dan yaa, pandanganku kepada Mbak Manda dulu bahwa dia adalah pemustaka yang agak menakutkan luntur sudah hari itu. Ternyata kita dari bidang keilmuwan yang sama

“Apakah setelah ini aku boleh tanya-tanya tentang perpus dan literasi ke Mbak Manda?”

“Tentuu, boleh aja Ela. Tanyakan aja kamu mau tanya apa, nanti kita sharing”


메타데이터
post_id
ed1e287956ff
slug
bukan-sembarang-pemustaka-ed1e287956ff
url
https://medium.com/@itselmeybook/bukan-sembarang-pemustaka-ed1e287956ff
canonical_url
https://medium.com/@itselmeybook/bukan-sembarang-pemustaka-ed1e287956ff
author_url
https://medium.com/@itselmeybook
status
ok
fetched_at
2026-07-11 18:50:18