← Back to list

Bekerja dari Yogya

Pada awal bulan sepuluh, tiba-tiba saja aku berkeinginan untuk lepas sejenak dari hiruk pikuk Jakarta. Satu kota terlintas di pikiranku…

Nindita U in Aksaranara · 2025-11-04 00:17 · 0 claps · 3.6 min read
#yogya #yogyakarta #wfy #jogja
Open on Medium ↗

Bekerja dari Yogya

Sumber: Dokumentasi pribadi

Sumber: Dokumentasi pribadi

Pada awal bulan sepuluh, tiba-tiba saja aku berkeinginan untuk lepas sejenak dari hiruk pikuk Jakarta. Satu kota terlintas di pikiranku. Tanpa berlama-lama, kutinggalkan sejenak tab Narakita dan bergerak membuka tab situs web tiket perjalanan. Tidak lupa, aku membuka Google Calendar untuk memeriksa jadwal pekan depan.

Hm, tidak ada griyaan luring. Seharusnya aman.

Setelah mengecek harga tiket, aku beralih menghubungi temanku yang tinggal di kota tersebut untuk menanyakan kesediaannya menerima kunjunganku. Aura — namanya, bersedia.

Oke. Sisanya adalah izin orang tua, serta kepastian bahwa tidak ada jadwal luring di pekan depan dari Spesialis Operasi.

Besoknya, keduanya kudapatkan. Hore.

Tiket kupesan dengan segera, lalu mengabari Aura kalau aku jadi ke sana dan akan merepotkannya selama beberapa hari.

Aku berangkat dari Stasiun Pasar Senen pada 16 Oktober, pukul 11.10. Seharusnya pada pukul 10, ada rapat Safari Bahasa. Namun setelah kuperiksa lagi, nafas lega kuembuskan karena ternyata rapatnya diundur. Tetap ada jadwal rapat untuk pembahasan Narakita di hari itu, tetapi bukan masalah karena aku sudah berada dalam kereta.

Sumber: Dokumentasi pribadi

Sumber: Dokumentasi pribadi

Rapat pembahasan Narakita adalah rapat perdana yang kuikuti di kereta. Kereta yang agak berguncang membuatku merasa pusing menatap layar laptop yang sedang menampilkan situs keren tersebut. Usai rapat, aku bergegas menuju gerbong restorasi untuk menyegarkan pikiran dan membeli sesuatu, berharap pusing yang kurasakan sedikit berkurang.

Langit sudah gelap saat kereta Gaya Baru Malam Selatan berhenti di Stasiun Lempuyangan. Aura datang menjemput, lalu kami pergi makan malam.

Aku sedang menyantap sate merah sembari berbincang ketika Teh Ica menghubungiku untuk menggantikannya menjadi moderator BDR pada hari Jumat. Karena sudah berniat mengikuti BDR di tempat yang nyaman, aku menyanggupi.

Besoknya, aku bersiap pergi ke salah satu kafe berdasarkan rekomendasi Aura. Croissant kayu manis dan kopi susu reguler menjadi dua menu pilihan untuk menemaniku membuka Kesumba.

Sumber: Dokumentasi pribadi

Sumber: Dokumentasi pribadi

Toko Kopi Sedaya — kafe tempatku berada, saat itu tidak terlalu padat, tetapi suasananya cukup ramai. Setelah BDR bertema swasunting itu selesai, aku beranjak ke Pakuwon Mall untuk menonton film Rangga & Cinta.

Film berakhir pukul 14.15. Ada jadwal rapat Safari Bahasa pukul 15.00.

Karena hanya mengisi perut dengan kue dan kopi, kepalaku agak terasa berat. Akhirnya aku melipir ke salah satu restoran cepat saji untuk membeli nasi. Untungnya, aku selesai makan sebelum pukul 15.00.

Hari Sabtu tanggal 18 Oktober, aku ada jadwal memoderatori kelas daring yang diampu oleh Kang Asep. Sebelum kelas dimulai, aku diajak Aura mencari sarapan dan membeli kopi. Kebetulan, di hari dan waktu yang sama, Aura juga sudah memiliki jadwal lain. Jadi aku hanya sendiri di tempatnya.

Saat mengatakan kalau aku ingin menginap di tempatnya, Aura memberitahu kalau kosnya sedang ada renovasi. Namun selama dua hari menginap, suara bising yang ditimbulkan dari pekerjaan renovasi tersebut tidak terlalu mengganggu. Jadi kupikir, tidak akan ada masalah yang berarti saat kelas daring tersebut berjalan.

Rupanya, aku salah.

Suara mesin las yang sebelumnya tidak pernah mampir ke telingaku, kini berdenging dengan keras. Aku sangat khawatir suaraku akan kalah dengan mesin tersebut. Yang bisa kulakukan saat itu adalah berdoa supaya bapak-bapak tukang tidak mengelas saat giliranku berbicara. Nyatanya, sampai pukul 9 tiba pun, suara las tidak ada tanda-tanda mau berhenti.

Kelas dimulai.

Suara las masih terdengar jelas, tetapi aku harus tetap lanjut. Akhirnya aku memulai kelas dan meminta maaf apabila pengajar dan peserta mendengar suara-suara bising di latar. Untungnya, Kang Asep selaku pengajar mengatakan kalau suaraku jelas dan tidak ada suara lain yang menghiasi. Alhamdulillah.

Sumber: Dokumentasi pribadi

Sumber: Dokumentasi pribadi

Kelas berjalan lancar. Para peserta yang hadir sangatlah antusias, yang menyebabkan kelas selesai lewat 30 menit dari waktu yang ditentukan. Kalau boleh jujur, kelas yang selesai dari waktu seharusnya membuatku lelah. Namun, untungnya berjalan lancar.

Aku masih terduduk di depan laptop, sedang bersiap ingin rehat saat satu pesan masuk ke ponselku. Pesan itu berisi informasi keterlambatan waktu penerbanganku untuk kembali ke Jakarta. Selisih waktunya cukup jauh. Keberangkatan asli adalah pukul 15.10.

Karena masih lelah, aku mengetikkan satu kata:

Tentu tidak kukirim, karena tidak berguna dan tidak ada dampaknya. Namun, aku ingin saja melampiaskan.

Kenapa ini jadi masalah? Karena aku sudah membeli tiket kereta bandara pada pukul 12.00. Tetapi ya sudah, apa boleh buat?

Enggan berlarut-larut dalam kepusingan, aku menyalakan lagu dan merebahkan diri di lantai.

Hari Minggu, aku tetap berangkat ke bandara dari Stasiun Tugu pukul 12.00 dan tiba 39 menit kemudian. Waktu yang kupunya untuk mencapai pukul 18.30 masih banyak. Bahkan, konter check-in untuk penerbanganku belum dibuka.

Lantas, apa yang kulakukan untuk membunuh waktu?

Aku menulis swalatih ini.

— Yogyakarta International Airport, 19 Oktober 2025.

Penulis: Nindita Utami Dewanti

Penyunting: Dita Sabariah


메타데이터
post_id
ed53e2bb6d79
slug
bekerja-dari-yogya-ed53e2bb6d79
url
https://medium.com/aksaranara/bekerja-dari-yogya-ed53e2bb6d79
canonical_url
https://medium.com/aksaranara/bekerja-dari-yogya-ed53e2bb6d79
author_url
https://medium.com/@ninditadwn
status
ok
fetched_at
2026-07-15 19:38:20