Yang Lahir Dari Rahim Cinta
Genuinely asking, are we gonna win this? Re-forming our system, once again, for a better future.
Yang Lahir Dari Rahim Cinta
Genuinely asking, are we gonna win this? Re-forming our system, once again, for a better future.
Apakah kau tak lelah melihat kondisi negara kita tercinta ini di sepanjang tahun 2025? Menyadari bahwa setidaknya, ada satu orang yang mati setiap harinya karena ketidakbecusan dan ketidakpedulian para bangsawan kepada rakyatnya. Karena jujur, aku iya. Dan kalau dari yang aku lihat, matamu juga mencerminkan rasa yang sama.
Rasa cinta itu masih ada. Bahkan, besar sekali bentuknya. Hanya saja, keringat penuh ketidakberdayaan menutupi seluruh tubuhnya. Nafasnya kembang-kempis, menunjukkan seberapa kuat dia mencoba. Tapi sayang, mimpinya tak kunjung datang. Meninggalkannya sendiri di tengah lautan keputusasaan.
Kenalin, aku Amir.
Banyak sekali peristiwa yang terjadi di Indonesia selama tahun 2025 ini berjalan. Mulai dari banyaknya kisah artis yang seakan-akan diberi karpet merah untuk selalu cepat lolos dari meja redaksi. Kelakuan buruk berbagai macam oknum polisi. Statement ngawur dan nirempati dari para pejabat di televisi. Pengungkapan sejumlah kasus tindak pidana korupsi. Sampai aksi-aksi yang sempati terjadi — membuat ribuan orang diciduk, ratusan ditahan, dan puluhan lainnya mati di atas nama demokrasi.
Lantas, apa hasil dari semua ini? Apakah tuntutan rakyat dipenuhi? Apakah kualitas hidup di negara yang kaya ini meningkat cukup tinggi? Sayangnya, TIDAK SAMA SEKALI. Mereka, gerombolan bangsawan di atas sana, mendadak buta dan tuli. Fokus mengisi perut mereka sendiri. Sampai kenyang. Sampai tak mampu lagi ‘menguntal’ sebutir nasi.
Dari semua ini, muncul sebuah pertanyaan di benak ku; apa mereka tak punya anak yang kelak akan hidup di negeri yang sama dengan kita?. Tapi rasanya, itu adalah pertanyaan yang kita semua tahu apa jawabannya. Nanti, setelah kepergian para leluhurnya yang korup itu, keturunan mereka akan muncul kembali dengan sebuah legasi; mengeruk semuanya demi diri mereka sendiri. Sekali lagi.
Kalau boleh jujur, apa yang terjadi di negara ini, sampai detik ini, sungguh tak bisa aku prediksi. Aku memang sudah menduga bahwa setelah kalender 2025 ini menyentuh dinding ruang tamu, Indonesia akan jadi sedikit lebih ‘sunyi’. Tapi, yang di luar bayanganku adalah cara mereka yang tak manusiawi. Mereka sanggup menutup mata dan telinga, menodongkan moncong ‘besi’ nya ke arah siapapun yang menyuarakan isi hati. Sambil sesekali TAMPIL melempar satu kantong penuh gandum agar tetap disukai.
Kenapa ini bisa terjadi? Kenapa hal seburuk dan sejelas ini bisa langgeng di era reformasi?
Sekarang, coba jawab pertanyaan ini. Apakah kita sudah cukup berani berbicara tentang hal-hal yang benar? Apakah kita sudah mampu mengakui kesalahan yang ada di sekitar kita, termasuk kesalahan diri sendiri? Tak perlu muluk-muluk di muka umum, cukup di dalam kepala kita masing-masing saja dulu.
Aku percaya bahwa Tuhan menciptakan setiap manusia di muka bumi sepaket dengan otak dan nurani. Makanya, secara default, seharusnya kita bisa membedakan mana hal yang benar dan mana yang salah. Kecondongan kita atas kebenaran pun harusnya juga mengikuti. Hanya saja, masalahnya adalah banyak dari kita yang terlalu enggan untuk menyadari dan melakukannya. Entah karena malas atau takut terhadap sesuatu yang belum pasti akan terjadi.
Kau tahu? Entah kebetulan atau sebuah kesengajaan, kita terlalu sibuk berkutat di kemungkinan-kemungkinan terburuk yang terus menghantui. Ilusi itu tumbuh dan mengakar semakin kuat setiap harinya. Para penghuni istana itu merawatnya dengan pupuk ketakutan, menanamkan nya kepada rakyat biasa sejak jauh-jauh hari sebelum lahirnya reformasi. Sampai akhirnya, banyak dari kamu, kalian, dan kita, yang memilih diam ketika melihat ketidakadilan. Bahkan, tak berani untuk bernapas sampai ‘mereka’ lewat dan menghilang dari jarak pandang.
Aku tahu, banyak orang yang masih peduli pada negara yang kita cintai ini. Sayangnya, seperti yang kukatakan sebelumnya, tak banyak yang berani menunjukkan diri. Beberapa orang menyebut kita lari dan bersembunyi, sementara yang lainnya menduga kita itu apatis bahkan tak punya hati. Padahal, kita hanya terlalu sibuk memenuhi kebutuhan primer kita sendiri; sandang, pangan, papan, dan rasa aman serta nyaman untuk sekadar hidup selama sehari. Sesuatu yang seharusnya menjadi kewajiban ‘perkumpulan’ ini. Tapi naasnya, harus kita kejar setengah mati. Setiap hari.
Selain itu, nyatanya, kita juga dibodohi oleh mereka yang katanya pintar dan berkuasa. Kita dipaksa menjadi penonton dari nasib kita sendiri. Seolah-olah, hidup kita hanya punya satu tujuan; untuk memberi dan berkontribusi. Menuntut hak? Kata mereka, kita tak berhak. Tunggu nanti, saat sudah sampai di surga. Jika ada, dan jika masuk sana.
Tapi, tenang. Yang lahir dari rahim cinta bukan hanya kecewa dan keputusasaan. Harapan dan perubahan, mereka juga peranakan dari cinta. Dan asal kau tahu saja, keempatnya wajib ada. Mereka selalu bersinggungan dan saling melengkapi. Oleh karenanya, ayo, sekarang kita mulai tumbuh dan kembangkan juga kedua anak ini; si harapan dan perubahan.
Heiii… Tenangkan dirimu dulu, ok? Menurutku, kau salah kalau berpikiran bahwa harapan dan perubahan belum lahir. Karena sejatinya, mereka berempat turun bersama-sama. Buktinya, coba buka media sosialmu. Di sana, banyak individu-individu yang berusaha untuk menggapaimu, entah lewat tulisan, gambar, atau video. Mereka, yang telah terbangun, mengukuhkan hatinya untuk bersuara dengan harapan bisa menumbuhkan api perlawanan. Meski api itu cukup kecil dan hanya bisa ‘menerangi’ satu-dua orang semata.
Kalau kau masih ragu, biar aku beritahu jika kini telah bermunculan perkumpulan kecil-kecilan di daerah-daerah yang katanya terbelakang dan minim literasi. Perkumpulan ini berusaha menyadarkan mereka yang masih telungkup diselimuti rasa takut. Juga membangunkan mereka yang masih tertidur, terlena oleh mimpi-mimpi indah mereka yang semu. Dan nyatanya, Pati yang telah menjadi bukti dari bangkitnya nyala api perjuangan.
Lantas, apa yang harus kita lawan? Tentu saja kebodohan yang disengaja dan dipelihara oleh para bangsawan di atas sana. Butuh bukti? Faktanya, tak banyak dari kita yang tahu jika seorang warga negara bisa menuntut pemerintahnya jika merasa dirugikan. Sebuah hal yang seharusnya disosialisasikan tapi mereka kubur dalam-dalam agar mereka bisa merasa aman menjalankan usaha haramnya itu. Belum lagi tentang kontrol informasi dan penghapusan beberapa peristiwa penting dalam sejarah, yang menjadikan kita salah kaprah mengira si A pahlawan dan si B penjahatnya.
Kalau nanti kebodohan itu sudah berhasil kita musnahkan, keadilan pasti akan menyertai. Bersama dengan kemakmuran, ketenangan, dan juga keamanan serta kenyamanan dalam menjalani hidup di bumi Indonesia.
Kalau kau ingin berkontribusi dalam proses tumbuh-kembang si perubahan, kau bisa mulai bersuara. Di manapun, kapanpun. Sama sepertiku. Atau, kalau keberanian itu belum genap adanya, kau bisa memberikan hangatnya api kesadaranmu atas perlawanan ini dengan cara berinteraksi dengan mereka yang sudah menyuarakan hati dan pikirannya di media sosial. Tak perlu interaksi langsung seperti membuka percakapan dan sebagainya. Cukup mulai dari mengapresiasi suara mereka, menunjukkan bahwa kamu ada dan suara mereka telah sampai kepadamu.
Dan jika kau telah bersuara, sekecil apapun itu, terima kasih. Terima kasih telah mengabaikan ketakutanmu untuk sesuatu yang kamu tau itu benar. Tetap semangat untuk aku, kamu, dan kita semua yang ada di sini, yang terus menyalakan api perjuangan untuk perubahan.

So, are we gonna win this? For me, personally, as long as we keep getting new friends on this journey for at least one per day, we have won already. And about reforming the system, maybe not today, maybe not tomorrow. But one day. I promise.
Sekian dariku, ciao.
메타데이터
- post_id
- edbb88d6f8eb
- slug
- yang-lahir-dari-rahim-cinta-edbb88d6f8eb
- url
- https://medium.com/@amimir./yang-lahir-dari-rahim-cinta-edbb88d6f8eb
- canonical_url
- https://medium.com/@amimir./yang-lahir-dari-rahim-cinta-edbb88d6f8eb
- author_url
- https://medium.com/@amimir.
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-15 17:50:21