Di Antara Lelah dan Muak: EP Singkap sebagai Arsip Emosi Pekerja Kota
Rizzky Dhea Aprilia
Di Antara Lelah dan Muak: EP Singkap sebagai Arsip Emosi Pekerja Kota
Rizzky Dhea Aprilia

Hidup di bawah bayang-bayang kapitalisme memang memuakkan. Diharuskan bekerja 8–9 jam dalam sehari, belum lagi ditambah ketika atasan menuntut kerja lembur. Beban kerja yang berlebih tersebut, tidak berbanding lurus dengan gaji yang diberikan, kadang tak sepadan. Selain itu, kompleksitas sistem kerja yang harus menuntut untuk pekerjaan selalu menghasilkan hal yang sempurna, logika kompetitif ini berimbas pada konflik horizontal antar pekerja. Tak ayal jika kita mengenal istilah ‘penjilat’ di kantor. Sistem kerja hari ini yang dipengaruhi oleh logika kapital tersebutlah yang berimplikasi tidak terbentuknya sistem kerja yang demokratis, hal ini menciptakan suatu ketimpangan relasi, bisa kita jumpai ketika atasan meminta suatu hal yang bisa dibilang tak manusiawi. Belum lagi lain-lainnya, diluar kontrol kita sebagai pekerja, tapi dituntut untuk menghadapi hal tersebut.
Berangkat dari kegelisahan yang perlahan menumpuk, dari meja kerja yang tak pernah benar-benar rapi hingga kepala yang terus dipenuhi tenggat waktu. Di Tengah situasi yang menjengahkan sebagai pekerja terkadang perlu suatu penyalur atas segala rasa muak, sejauh ini yang dirasa efektif yakni melamun ditemani sebuah musik. Apalagi musik-musik yang diproduksi untuk merespon hal yang serupa, pada akhirnya emosional kita divalidasi dalam sebuah lirik. Tulisan ini melihat EP Singkap bukan sekadar kumpulan lagu, melainkan semacam catatan harian yang tercecer, arsip emosi yang lahir dari tubuh-tubuh lelah di kota. Ia seperti potret buram yang justru terasa jujur: tentang manusia-manusia yang tetap berjalan, meski dalam hati menyimpan muak yang tak sempat diucapkan.
Semua rasa jengah sebagai pekerja di kota urban coba dirangkum oleh unit Post Punk asal Semarang, Peron melalui EP mereka yang diberi tajuk Singkap. EP ini dirilis pada tanggal 9 Januari 2026 lalu di bawah label Anoa Records. Aku masih ingat betul saat Faisal (salah satu personil Peron) mengatakan akan membuat proyek musik post punk. Aku sangat gembira saat pertama kali mendengar hal itu karena jujur di Kota Semarang, band dengan aliran musik post punk sangat jarang sekali bahkan aku bisa bilang untuk era kami, yang notabene Gen Z mungkin Peron adalah pelopor.
Dalam lanskap musik lokal yang terasa berulang, kehadiran Peron seperti bunyi yang datang dari lorong sempit: tidak terlalu bising, tapi cukup untuk membuat orang menoleh. EP Singkap kemudian berdiri sebagai ruang artikulasi, tempat di mana pengalaman personal yang sering dianggap remeh justru dirangkai menjadi narasi kolektif yang lebih luas, seolah berkata bahwa lelah ini bukan milik satu orang saja.
EP Singkap sendiri terdiri dari enam trek dan tiap trek berdurasi kurang lebih 2 hingga 4 menit. EP ini dibuka dengan nomor Stressed Out. Untuk nomor ini, Peron memilih menulis lirik dengan menggunakan Bahasa Inggris. Stressed Out sendiri sebenarnya sudah dirilis jauh sebelum EP Singkap, bisa dibilang sebagai single debut dari Peron. Dibuka dengan dialog pada bagian intro lagu. Lugas, penuh amarah dan tanpa kontrol. Mungkin itu yang bisa aku deskripsikan untuk trek ini.
Sebagai pintu masuk, Stressed Out terasa seperti ledakan yang tertahan terlalu lama, suara-suara yang biasanya dipendam di ruang kerja kini dilepaskan tanpa sensor. Ia tidak memberi waktu bagi pendengar untuk bersiap; sejak detik pertama, kita langsung diseret ke dalam pusaran emosi yang mentah, seolah-olah seseorang akhirnya berani berkata: “cukup”. Mungkin itu yang bisa aku deskripsikan untuk trek ini.
Selanjutnya, Ratapan Kamar 3x4. Petikan gitar yang kasar, bass yang repetitif, ketukan drum yang menggebu entah mengapa mengingatkanku kepada lagu-lagu dari Xmal Deutschland. Untuk nomor ini, aku seakan sedang berkaca. Hidup sendirian di perantauan, dompet pas-pasan sehingga tidak terpikir untuk hidup mewah, besok masih bisa makan atau sekadar membeli sebatang nikotin adalah bentuk kemewahan itu sendiri. Situasi semacam itulah, yang mereduksi hidup hanya sebatas bertahan. Hal yang paling kuingat dalam lagu ini adalah spoken word yang dilantangkan oleh Faisal sebagai penutup lagu.
Lirik ini ditulis setelah perut dihantam nikotin tak bercukai
dan compliment cafein bertubi-tubi, bray
Jika kalian percaya Tuhan!
Doakan disurga tak ada kemiskinan struktural
Sebab denting sutil dan wajan still not working
Sebab denting sutil dan wajan still not working
To make myself happy serupa anak kecil bermain tali
Anjing!
Selanjutnya, nomor ketiga dalam EP ini diberi tajuk Memoar Berbicara di Kepala. Untuk nomor ini, ritme instrumen-nya lebih pelan dibanding nomor lainnya di EP Singkap. Selain itu, dalam lagu Memoar Berbicara di Kepala pendengar diajak dalam nuansa mengawang dengan efek gitar yang lebih fuzzy. Dalam nomor ini, Peron memilih menggunakan teknik spoken word untuk menggambarkan realitas kaum pekerja pada jam pulang kantor.
Aku berjalan selepas petang
Orang-orang berdesakan di Peron enam
Menunggu gerbong, menunggu jumpa ranjang tuk rebahan
Atau sekedar mabuk di perempatan bersama kawan
Lagu ini seperti berjalan pelan di antara kerumunan pekerja urban yang sedang duduk dengan tatapan kosong di sebuah peron, setiap orang membawa pikirannya masing-masing. Ada kelelahan yang tidak selalu terlihat, tetapi terasa menggantung di udara. Ritmenya yang lebih tenang memberi ruang bagi suara-suara di kepala untuk muncul, menciptakan momen reflektif yang sunyi di tengah hiruk-pikuk kota.
Lanjut, disusul dengan nomor Penggalan Kontrol 2007. Untuk nomor ini, Peron menggandeng Ajie Gergaji (The Milo) untuk mengisi beberapa bagian gitar. Peron mencoba menggambarkan kisah romansa dua insan yang memiliki impian dan harapan walaupun kehidupan mereka berada dibawah bayang-bayang garis kemiskinan. Satu yang membuatku penasaran dengan trek ini adalah pemilihan tahun 2007, sebuah detail yang membuka interpretasi labih lanjut. Mengapa Peron memilih tahun 2007 sebagai judulnya? Ada apa dengan tahun 2007? Mungkin aku akan menanyakan hal ini secara langsung jika bertemu dengan personil Peron.
Beranjak ke nomor berikutnya, Montase. Oh, trek Montase sebetulnya sudah dirilis sebelum EP Singkap. Berbarengan dengan trek Stressed Out sebagai single debut dari Peron. Dari segi lirik, Peron menggunakan percampuran tiga bahasa sekaligus, Bahasa Indonesia, Bahasa Jawa dan Bahasa Inggris. Perpaduan bahasa inilah yang mencoba menggambarkan kondisi urban, yang datang dari berbagai latar belakang. Ada identitas yang cair, ada realitas yang berlapis, meski berangkat dari keberagaman tapi merasakan hal yang serupa sebagai pekerja di kota urban. Peron berhasil menangkapnya tanpa kehilangan arah, justru dari keberagaman itu, muncul kesan bahwa pengalaman urban memang tidak pernah tunggal. Ajaibnya walaupun menggunakan percampuran tiga bahasa, tetapi terasa pas dan tidak terkesan cheezy.
Tibalah di nomor terakhir sekaligus penutup dari EP Singkap. Nomor yang diberi tajuk Pesta (Belum) Berakhir. Trek dibuka dengan petikan bass yang kasar, disusul gitar dan ketukan drum. Dari segi instrumen, trek ini mengingatkanku dengan lagu-lagu dari band post punk macam Protomartyr dan Joy Division. Sedangkan dari segi lirik, Peron mengajak kita untuk memberi jeda di tengah-tengah setumpuk pekerjaan yang merong-rong untuk segera diselesaikan. Bertemu teman, berbagi kabar, dan bersenang-senang. Pokoknya melakukan apapun agar tetap waras.
Lupakan revisi lupakan garis mati
Luapkan semua beban kantor yang menghantui
Peluklah kawan dengan CIU yang berputar
Goyangkan badan ikuti beat yang kan menghentak!
Di antara tawa dan alkohol, ada kesadaran samar bahwa esok pagi rutinitas yang sama akan kembali menunggu. Justru di situlah maknanya: bersenang-senang bukan sebagai pelarian total, tetapi sebagai bentuk bertahan.
Lewat EP Singkap, Peron seakan memotret realitas kehidupan kaum pekerja. Melalui irik-lirik yang lugas, vulgar dan apa adanya tanpa memberikan optimisme serta harapan palsu. Alih-alih memberi harapan yang muluk, EP ini memilih untuk jujur bahwa tidak semua hal akan membaik, bahwa lelah tidak selalu menemukan ujungnya. Namun justru dari kejujuran itu, muncul semacam solidaritas diam-diam: perasaan bahwa kita tidak sendirian dalam kelelahan ini, bahwa ada orang lain yang merasakan hal serupa dan meneriakkannya melalui musik. Melalui EP Singkap, Peron juga memberi sesuatu yang segar dan berbeda dalam kancah musik di Kota Semarang dimana menurutku masih terkesan serupa dan itu-itu saja.
메타데이터
- post_id
- edddea271805
- slug
- di-antara-lelah-dan-muak-ep-singkap-sebagai-arsip-emosi-pekerja-kota-edddea271805
- url
- https://medium.com/@comunealternativemedia/di-antara-lelah-dan-muak-ep-singkap-sebagai-arsip-emosi-pekerja-kota-edddea271805
- canonical_url
- https://medium.com/@comunealternativemedia/di-antara-lelah-dan-muak-ep-singkap-sebagai-arsip-emosi-pekerja-kota-edddea271805
- author_url
- https://medium.com/@comunealternativemedia
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-16 04:26:08