← Back to list

CORAK PERGERAKAN ISLAM DI INDONESIA

MENGENAL PKS, PKB, HTI, SALAFY/WAHABI

Sirod Muhammad · 2023-10-29 00:31 · 0 claps · 6.8 min read
#pk #pkb #haroki #salay #wahabi
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🕊️ · Religion

CORAK PERGERAKAN ISLAM DI INDONESIA

MENGENAL PKS, PKB, HTI, SALAFY/WAHABI

Photo by mostafa meraji on Unsplash

Photo by mostafa meraji on Unsplash

Gus Muhaimin bangga banget nyebar video bird’s vew / drone kampanye AMIN di Depok kemarin, aku reply di X: “Gus, itu kader-kadermu dah 4 periode pemilu tersiksa karena dominasi kuat PKS di Depok yang membuat parpol lain tak berkutik, lihat saja warna kaos yang hadir, hampir semuanya oranye, mana sih kaos hijau PKB di situ” heheh…canda saya.

Terkadang, “komunikasi permukaan” pimpinan parpol seolah-olah kompak, hebat, padu, padahal di akar rumput terutama basis massa yang membangun struktur parpol kenyataannya bisa sama sekali berbeda.

Walikota dan wakil walikota Depok saat ini keduanya dari PKS. Dominasi PKS di Depok semakin kuat, maka tak heran paslon AMIN mendatangi Depok dan dengan mudah berhasil mengoranyekan tempat itu. Militansi kader PKS terbukti berkali-kali membuat kita takjub. Mengapa mereka bisa sekompak ini?

PKB bagaimanapun sangat berbeda watak dengan PKS, walau keduanya sama-sama parpol Islam. Watak yang saya maksud ini adalah karakter massa pembentuknya.

PKB dibangun dari landasan nahdiyah yang sifatnya kultural. Para pendirinya ingin mengulang sukses Partai NU di era Sukarno dulu. Di NU sendiri setelah lama ditekan oleh Orba, pola saluran politik warga nahdliyin cenderung tersebar di semua parpol yang ada, terutama parpol-parpol besar.

Di NU, kesadaran membuat gerakan seperti Ikhwanul Muslimin / Tarbiyah (cikal bakal PK / PKS) ini muncul sekitar tahun 2012-an karena ideolog-ideolog NU mulai melihat titik lemah organisasi besar ini. Dibuatlah program kader penggerak sebagai jawaban untuk mengimbangi deras laju “islam kota” ini yang mengambil banyak sekali anak-anak muda cerdas yang datang dari keluarga NU.

Dibanding haroki lain semacam Salafy Wahabi (afiliasinya ke Saudi) dan HTI (afiliasinya ke Hizbut At-Tahrir Yordania), di Indonesia pergerakan Ikhwan/Tarbiyah (afiliasinya Ikhwanul Muslimin Sayyid Qutb — Mesir) cerdas bergerak beradaptasi menyesuaikan dengan ideologi, hukum dan tata norma yang ada di Indonesia. Bila HTI cenderung ingin mengubah fondasi negara karena menganggapnya thoghut, ikhwan membangun Partai Keadilan dan benar-benar meyakini Pancasila sebagai ideologi partai dan tidak mempertentangkanya dengan Islam.

Gerakan pan Islamis ini sering disalahmengerti oleh kalangan nahdliyin, dan sering disamaratakan. Misalnya menyamakan PKS dengan HTI atau Salafy/Wahabi. Saya membuat tulisan ini agar gampang menjelaskannya berkali-kali.

Ikhwan/Tarbiyah/PK/PKS itu bukan wahabi, sama sekali berbeda. Banyak kawan-kawan saya di organisasi ini justru berasal kalangan nahdliyin.

Mereka masuk dalam kelompok ini karena merasa ghirah keislaman mereka meronta-ronta tidak tersalurkan oleh ormas-ormas yang ada.

NU sibuk dengan model pemberdayaan di pesantren-pensantren dengan pola pembinaan di tingkat mahasiswanya juga cenderung meniru pesantren-pesantren tsb dengan sosok Kyai yang tidak ada di sana, artinya kultur desa ini dibawa ke kota tapi penggeraknya gak ada. Sementara usia remaja sudah menginjak masa dewasa tantangan dan kebutuhan alami mereka sudah berbeda.

Muhammadyah juga sama, walau lebih menunjukkan “islam kota” kaum Muhammadyah fokus ke pendidikan, kesehatan dan sosial yang teroganisasi dengan struktur yang sudah rapi. Tidak menangani ghirah keislaman yang menggebu-gebu pada anak-anak muda ini.

Persatuan Islam (Persis) terlalu tersentral di Bandung dan datang sebagai pembaharu, tidak begitu dikenal di kalangan anak mahasiswa di Bogor, saya sendiri secara fiqh cenderung ikuti persis awalnya karena kelompok ini mirip Salay/Wahaby yang anti mazhab dan lebih local taste karena lebih lama masuk ke Indonesia.

Salafy lebih populer dan cepat berkembang dibanding Persis menurut saya karena mereka memanfaatkan internet dan media sosial serta menguasai masjid-masjid terutama di perkotaan dan dijadikan basis pengajian. Kajian-kajian Salafy yang ditata modern, sesuai kebutuhan, rapi, wangi dengan karpet yang nyaman menjadikan kelompok ini cepat diterima ummat.

Berbeda dengan kalangan Nahdliyin yang walaupun di kota, ada saja masjid dan pesantren mereka sangat jorok di kamar mandi-nya, dan karena ajaran 2 qullah mereka masih saja mencelupkan tangan dan bahkan kaki dalam bak untuk berwudhu yang membuat saya bergidik menghindari pesantren ini di Depok dan memilih pesantren orang-orang Tarbiyah keesokan harinya karena lebih bersih dan “beradab”. Anak sulung saya juga awalnya ingin dipesantrenkan yang setingkat SMP di pesantren NU terbesar di Depok, sayang kejadian berulang saya temukan lagi, ogah deh.

Mahasiswa-mahasiswa yang masih belia, kritis dan memiliki “semangat merobah dunia” di umur-umur segitu ini tertarik dengan tawaran pemahaman haroki karena menawarkan komunitas yang doktrinnya tertata sistemik. Mereka diajari menulis kritik, sampai cara berdemonstrasi yang baik. Kader-kadernya terbiasa dengan buku-buku Islam dan dibuat ekosistem ngaji yang kalau kita tarik strukturnya, sulit mendeteksi pola komando mereka ke atas kecuali kita masuk di dalamnya.

Cak Nun pernah berseloroh, “Sing pinter-pinter iku masuk HTI karo PKS, yang bodoh-bodoh itu paling jadi banser karo FPI..”

Candaan kasar, kocak tapi sebenarnya menjelaskan banyak hal. Karena untuk memahami sistem Islam yang mengatur ummat dan kenegaraan membutuhkan muslim-muslim intelek, tidak bisa mengharapkan sembarang orang dengan kecerdasan di bawah rata-rata.

Hal ini menjelaskan mengapa di kalangan Nahdliyin punya stratifikasi sosial seperti sebutan Gus untuk anak lelaki Kyai dan Cak untuk sebutan “kakak” yang dianggap punya kemampuan intelektual (scholar). Sebutan penghormatan ini mungkin diperlukan karena semua muslim dengan berbagai tingkatan diwadahi oleh NU, kalau kata Gus Baha “Siapa tahu barokah Allah datang dari orang-orang bodoh ini”.

Lucunya filosofi ini diterapkan pula di jurusan saya kuliah Teknologi Industri Pertanian (sekarang Teknik Industri) IPB dengan menerima mahasiswa sebanyak 130-an orang dengan ragam kemampuan akademis. Berbeda dengan Teknik Pangan yang rata-rata mahasiswa yang masuk dipastikan cerdas akademis di atas rata-rata passing grade yang ada. Sementara di jurusan saya dibuat heterogen. Akan ditemukan anak paling bodoh dan sekaligus paling pintar di sini. Hal ini pernah diceritakan dosen-dosen kami, kini saya memahami alasan di balik itu.

Ciri khas Ikhwan ini militan, karena namanya juga pergerakan/haroki, musti terkomando oleh struktur/hierarkhi. Mereka musti nunut dan patuh pada garis pergerakan dengan kontrol “halaqoh” atau lingkaran kecil-lingkaran kecil, sel-sel pembentuk ekosistem tadi. Untuk menjaga kesolidan pergerakan mereka punya adab tidak boleh diskusi telanjang di ruang publik misalnya, hal yang sama dilakukan oleh HTI.

Setiap sel selalu ada guru yang menjadi kepanjangan tangan organisasi disebut Murobbi. Para Murobbi ini sebenarnya adalah kader senior yang didesain atau dibentuk lebih terlihat bertakwa (religius) dan berfungsi sebagai penjaga gerak kader agar tetap sinkron dengan ekosistem yg dibangun. Salah satu alasan saya enggan masuk di sini karena saya perhatikan banyak juga murobbi-murobbi ini gak faham fiqh, absurd dalam berargumen dan kadang nalarnya dipaksakan sehingga banyak pembenaran.

Sementara gerakan salafy/wahaby lebih kepada konsep hidup sederhana (bahkan terlalu menyederhanakan) Islam berbasis teks/tekstual dengan memisahkan Islam dengan akar budaya tempat dia berada. Dalam wahabiisme, budaya musti tunduk secara brutal kepada konsep ajaran Islam yang ada. Dan mereka percaya sumber kerusakan agama itu ya karena kebiasaan, adat istiadat, tradisi dan perilaku manusia yang akhirnya mengalahkan ajaran luhur islam. Mereka termasuk kalangan puritan, para peminat perbandingan agama menyebutnya demikian.

Dalam urusan politik/siyasah, Wahabi/Salafy di Indonesia sama persis dengan asal mulanya di Arab Saudi sana. Gerakan ini memang dibentuk Bani Saud untuk membungkam kritik terhadap pemerintah, maka tafsir “amar ma’ruf nahyi munkar” dalam salafy wahabi hilang sama sekali, mereka larut dalam membangun diri, keluarga dan jam’iyah dan sebisa mungkin memisahkan diri dari sistem yang mereka sebut sebagai subhat. Ajaran wahaby justru tidak boleh sama sekali menentang, mengkritik apalagi berdemonstrasi pada pemerintah. Bagi mereka, Islam saat ini ada pada masa periode Makkah, jangankan kenegaraan aqidah dan tauhid ummat secara keseluruhan saja belum beres.

Dalam beberapa kasus memang kenyataannya benar kok, banyak dari kita yang gak bagus mengelola diri dan keluarga, lalu sok-sokan ingin membangun ummat, sangat tidak sesuai dengan konsep Islam yang saya fahami. Maka awalnya inilah yang paling cocok dan faktual dengan diri saya. Sampai saat ini saya masih sesekali menyimak guru-guru Salafy, karena mereka fokus sehingga kajian-kajiannya menghibur hati dan jiwa dari lelahnya mengejar dunia.

HTI beda lagi. Jika Ikhwan / Tarbiyah (cikal bakal PK dan PKS) beradaptasi dengan sistem yang ada: Pancasila, HTI jelas berkeinginan merubah sistem negara dengan konsepsi Islam yang mereka anggap lebih punya aturan sampai detil mengatur hajat hidup orang banyak secara tertata.

Berbeda yang kita fahami di pesantren, mereka menyebut tata hukum ini dengan Ahkamul Khomzah (5 hukum). Padahal dalam pemahaman Ushul Fiqh ajaran Imam Sya’fii pengelompokan hukum itu pada dasarnya hanya 2 awalnya: pertama soal ibadah yg musti ada panduannya, dan kedua masalah mu’amalah yang dibebaskan kepada manusia kecuali ada ayat/dalil yang melarang. Hampir 2 jam saya debat dengan adik kelas saya asal pesantren yang sama di Purwakarta karena semangat beliau begitu tinggi agar saya ikut HTI.

Dalam diskusi dan debat terbuka sejak mahasiswa, saya selalu bisa berargumen membantah semua ajaran HTI karena saya belajar sirah nabawiyah, belajar sedikit soal dasar hukum dan dibekali dengan buku-buku Islam yang saya lahap sedari SMA. Keluarga kami yang sederhana tidak mampu membelikan saya buku-buku itu, tapi saya siasati denga cara jualan buku-buku Islam. Basis salafy di Purwakarta ada di Pasar Rebo, saya bergumul akrab dengan mereka mengambil buku secara rutin yang saya jual dengan cara konsesi. Sambil jualan saya selalu baca buku-buku itu, dan saya hanya menjual buku yang belum saya baca dan saya tertarik membacanya.

Di era 95-an itu penerbit Gema Insani Press Depok yang paling banyak buku-bukunya saya baca dan jual ke teman-teman dan guru-guru saya di SMA. Sebagian lagi Pustaka Al-Kautsar dan buku-buku fiqh aliran salafy wahabi lainnya.

Dipengaruhi oleh teman-teman pergerakan dengan berbeda aliran sudah biasa bagi saya sejak usia belia, mungkin karena saya membuka diri dan cenderung iseng jika berdiskusi karena hampir semua pergerakan ini saya pelajari. Ketika ada kesempatan pengkaderan Partai Keadilan (nama PKS sebelumnya) saya tidak tertarik ikut, karena ajaran yang saya fahami dalam Islam pada waktu itu terutama dari Aa Gym (guru kami juga di Purwakarta yg sesekali datang dari Geger Kalong) untuk fokus membangun diri dulu dan keluarga sebelum mengelola ummat, apalagi kekuasaan. Saya merasa maqom saya belum layak untuk masuk dan terlibat dalam kelompok ini.

“Ah paling-paling saya akan jadi alat dalam piramida partai” begitu judgment saya pada waktu itu.

Belum punya penghasilan, belum menikah, tak layak rasanya masuk dalam ekosistem seperti PK yang jelas targetnya adalah berkuasa, ambisi dari semua partai politik di manapun.

Bergabungnya PKS dan PKB dalam sebuah koalisi ini tidak saya pandang sebagai sebuah sesuatu yang alami atau natural, melainkan dipaksa oleh sistem. Takdir mempertemukan mereka untuk berkompromi, berdialog dan saling bertukar kultur yang ada.

Saya perhatikan PKB kini diperkuat oleh guru-guru dan ideolog terbaik dari kalangan Nahdliyin, sehingga saya yakin, barokah Nahdliyah juga akan dirasakan PKS, sementara PKS pun dapat “mengajarkan” kepada PKB bagaimana mengelola kader agar bisa semilitan itu dan sukses menguasai kota Depok sekian lama.

Bagaimana dengan PSI, yang wajah Kaesang Pangarep terpampang jelas di Jl. Margonda? Ya untuk lucu-lucuan boleh lah hehehe..


메타데이터
post_id
ede97f2eddca
slug
corak-pergerakan-islam-di-indonesia-ede97f2eddca
url
https://medium.com/@msirod/corak-pergerakan-islam-di-indonesia-ede97f2eddca
canonical_url
https://medium.com/@msirod/corak-pergerakan-islam-di-indonesia-ede97f2eddca
author_url
https://medium.com/@msirod
status
ok
fetched_at
2026-06-28 14:26:31