← Back to list

Swargi Langgeng, Pak Totok

3 November 2024, Hj. Totok SR., pimpinan Orkes Melayu Adella wafat. Sebagai seseorang yang bekerjasama dan, akhirnya, mengenal personal…

KMPL · 2024-12-05 07:22 · 20 claps · 2.0 min read
#om-adella #dangdut #koplo
Open on Medium ↗

Swargi Langgeng, Pak Totok

Difoto oleh Aldike Anggara

Difoto oleh Aldike Anggara

3 November 2024, Hj. Totok SR., pimpinan Orkes Melayu Adella wafat. Sebagai seseorang yang bekerjasama dan, akhirnya, mengenal personal beliau, saya menulis beberapa hal berikut.

Kopi dan cerita. Pak Totok selalu menyambut saya dengan keduanya. Secangkir kopi selalu siap di meja untuk saya. Untuk kami — jika datangnya rombongan. Dan jika sudah habis — atau bahkan menipis — cangkir itu akan berganti cangkir lain. Kopi yang lain lagi. Sampai saya curiga, apa ada kebun kopi di balik pendopo Adella itu?

Bertamu ke markas Adella tak pernah terasa seperti kunjungan kerja. Malahan, saya adalah seorang penggemar yang kebetulan punya akses personal kepada Pak Totok dan Bunda Henny. Saya mencintai musik mereka sebagaimana saya mencintai cerita-cerita di baliknya. Kisah-kisah yang terkadang absurd, tapi nyata. Riil. Lengkap dengan dokumentasinya.

Pak Totok suka bercerita. Saya suka bertanya. Dan lebih dari itu, saya suka mendengarkan. Sering kali, saya ingin menutup laptop, melupakan pekerjaan, dan hanya duduk di sana, berjam-jam, mendengarkan beliau berbicara. Tentang Adella, tentang konser yang harus berakhir prematur, tentang tingkah polah orang-orang di sekitar, tentang kemacetan 10 kilometer karena penggemar yang membeludak. Atau tentang bagaimana beliau pernah diusir oleh satpam yang mengira beliau adalah fans histeris. Tentang instingnya dalam memilih lagu dan penyanyi. Tentang masa-masa silam dan rupa-rupanya, hingga tentang hal-hal yang sedang beliau usahakan dan juga korbankan.

Apapun.

Saya: “Mboten teng backstage, Pak?” Pak Totok: “Ora. Tak nang kene ae ambe arek-arek.”

Cerita-cerita itu perlahan memberangus keberjarakan saya dengan Adella. Selama ini, saya menyaksikan bagaimana musik mereka menyusup pada ruang-ruang sekitar. Ia mengalun pada spiker-spiker sekitar, di-stel di berbagai tongkrongan, dan didendangkan oleh ratusan manusia yang saya temui di mana saja. Musik Adella selalu ada dan menjadi bagian dari keseharian saya. Dan kini saya, satu dari jutaan manusia yang menggemari mereka, diberi kesempatan untuk mengenal dan berkawan baik dengan manusia-manusia di baliknya.

Termasuk, pak Totok.

Dari beliau, saya belajar banyak. Dan kepada beliau, saya berhutang jauh lebih banyak. Saya belajar rendah hati. Saya belajar prinsip “yoweslah” juga dari beliau. Saya belajar percaya pada intuisi sendiri itu gakpapa pun juga karena beliau. Bahkan, saya lebih belajar untuk cuek dan tidak silau dengan apa-siapapun juga dari beliau. Kelewat banyak, dan saya yakin beliau hanya akan cengengesan-setengah-tak-percaya kalau saya bilang itu semua.

Pak Totok: “Aku tuh gak pernah masuk backstage mas. Jarang banget. Pernah beberapa kali iseng masuk (backstage), terus diusir sama security. Dikira fans.”

Saya: “LHA TEROS? Kan njenengan pimpinan’e?

Pak Totok: “Yowes, balik. Jagongan di mobil.”

Kemarin, Pak Totok berpulang. Kabar lelayu itu bikin saya lemas dan hampa. Mengetik ini semua, saya tidak bisa tidak meneteskan air mata dan seketika, otak saya memutar kembali percakapan-percakapan kami berdua.

Ya, kemarin, saya kehilangan seorang teladan.

  • Randy Levin Virgiawan, fans Adella.

메타데이터
post_id
ee0d672d4fe3
slug
swargi-langgeng-pak-totok-ee0d672d4fe3
url
https://medium.com/@randykempel/swargi-langgeng-pak-totok-ee0d672d4fe3
canonical_url
https://medium.com/@randykempel/swargi-langgeng-pak-totok-ee0d672d4fe3
author_url
https://medium.com/@randykempel
status
ok
fetched_at
2026-07-21 20:25:59