Satuan Jarak, Petunjuk Rahmat
Kalau di kehidupan sehari-hari kita mengenal kilometer sebagai satuan jarak yang umum kita gunakan saat melangkah di muka bumi, berbeda…
Satuan Jarak, Petunjuk Rahmat

Photo by Dyu — Ha on Unsplash
Kalau di kehidupan sehari-hari kita mengenal kilometer sebagai satuan jarak yang umum kita gunakan saat melangkah di muka bumi, berbeda lagi dengan satuan jarak yang digunakan untuk menghitung jarak di antariksa. Bayangkan, bila jarak antara bumi ke matahari diukur dengan satuan kilometer pasti akan sangat banyak digit angka yang tersusun. Maka dari itu, digunakan satuan berupa “tahun cahaya” satuan ini bukan merupakan satuan waktu, melainkan satuan jarak. Tahun Cahaya sendiri merupakan jarak yang ditempuh oleh berkas cahaya selama satu tahun. Maka, seberapa cepat cahaya ini? Cahaya dapat menempuh jarak sekitar 300.000 km/detik di mana pada kecepatan ini bumi dapat dikelilingi hanya membutuhkan waktu sekitar satu detik saja. Begitupun jarak bintang terdekat dengan matahari kita, yaitu proxima centauri berkisar 4,22 tahun cahaya di mana (1 tahun cahaya setara dengan 9,44 triliun kilometer) bisa dibilang sinar bintang yang bisa dilihat dari bumi saat ini merupakan sinar dari keadaan bintang pada 4 tahun yang lalu.
Lalu apa cahaya? Bila ditarik lagi pengertian cahaya merupakan suatu bentuk radiasi elektromagnetik di mana radiasi elektromagnetik ini berbentuk gelombang yang juga melingkupi cahaya tidak tampak (invisible light). Di mana dengan keberadaan cahaya ini juga dapat menjadi sebuah alat untuk mengenali alam semesta yang observable karena seperti yang dijelaskan pada surat Az-zariyat ayat 47 “Dan langit Kami bangun dengan kekuasaan (Kami), dan Kami benar-benar meluaskannya” dan demikian itu keterbatasan manusia dalam mengeksplorasi diameter alam semesta bergantung terhadap keberadaan kecepatan cahaya yang dapat dikenali oleh manusia.
Selain itu, di Al-qur’an sendiri terdapat lafaz nur (cahaya) disebutkan sebanyak 43 kali yang merujuk ke berbagai makna indah, Allah bahkan menggunakan perumpamaan cahaya untuk memisalkan Dzat-Nya yang Agung yang pastinya sangat berbeda dengan cahaya yang kita pahami saat ini. Selain itu, cahaya “An-nur” juga digunakan dalam salah satu surat di dalam Al-Qur’an. Begitupun, pada surat yang lain cahaya memiliki makna petunjuk akan kebenaran, seperti pada surat Al-Baqarah ayat 257 “..Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya adalah setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan..”. serta di hari akhir nanti wajah orang-orang beriman bercahaya yang dikenal dengan adanya bekas sujud pada wajah mereka “..kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud…” (QS. al-Fath: 29). Itulah cahaya yang lekat dengan kehidupan dan juga sebagai “petunjuk” akan rahmat dan kebesaran-Nya akan penciptaan semesta.
tulisan ini sebetulnya ku buat tahun lalu sebagai tugas artikel dari organisasi ku FRESH, tapi sepertinya sudah hilang link dari artikelnya jadi ku post di sini saja :D
Referensi
Purwanto. Agus 2008. Ayat-Ayat Semesta:Sisi-Sisi Al-Qur‟an yang Terlupakan. Bandung:PT. Mizan Pustaka
https://www.infoastronomy.org/2021/10/mengenal-proxima-centauri-bintang.html
https://tafsirweb.com/1023-surat-al-baqarah-ayat-257.html
https://tafsiralquran.id/tafsir-surat-an-nur-ayat-35-allah-sang-maha-cahaya/
메타데이터
- post_id
- ee212735f82c
- slug
- satuan-jarak-petunjuk-rahmat-ee212735f82c
- url
- https://medium.com/@anindasalma/satuan-jarak-petunjuk-rahmat-ee212735f82c
- canonical_url
- https://medium.com/@anindasalma/satuan-jarak-petunjuk-rahmat-ee212735f82c
- author_url
- https://medium.com/@anindasalma
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-22 08:55:38