← Back to list

Kalapuna

MIRA

mara · 2026-06-22 05:19 · 0 claps · 12.4 min read
#horor
Open on Medium ↗

Kalapuna

MIRA

Pria yang mengaku seorang youtuber itu bertanya kepadaku.

Aku menghela nafas. Merendahkan bahuku dan mengusahakannya untuk duduk lebih rileks. Pria di hadapanku mencondongkan tubuhnya seiring dengan lemasnya badanku. Matanya menatap tegas, tetapi dengan penuh perhatian, siap mendengarku.

“Kamu tidak akan percaya pada ceritaku.”

“Aku tidak pergi sejauh ini hanya untuk menjadi tidak percaya.”balas pria itu dengan nada serius.

“Baiklah. Bisa jadi ini tidak terlalu seram”

Aku menghirup nafas dalam. Bersiap untuk menceritakan kisahku. Sebagian dari kepalaku berusaha mengais ingatan yang terkubur lumayan lama.

Hari itu, hari dimana aku bertemu dia, untuk pertama kalinya.

Tidak banyak yang kuingat, tetapi sejauh yang tersisa dari memoriku, itu adalah hari Sabtu. Selesainya aku mengantar pesanan kue terakhir, sekitar pukul 15.00. Tentu saja hari belum gelap, namun matahari sudah perlahan berjalan turun dari singgasananya. Suamiku sedang dinas di luar kota.

Aku mengunci pintu rumah dan hendak mandi membasuh keringat bekas perjalananku dari mengantar kue-kue pesanan. Karena badan yang terasa kotor, aku mandi di kamar mandi belakang, dekat dengan taman belakang rumah. Aku menanggalkan pakaian dengan asal. Sembari menutup pintu kamar mandi yang terbuat dari kaca gelap, kaca tinted sebutannya. Tidak terbesit di pikiranku untuk menyalakan lampu karena berkas-berkas cahaya sore itu masih memaksa masuk melalui jendela pintu belakang dan ventilasi. Tanpa sengajaku, aku terkejut.

Aku melihat sekilas bayangan yang memantul di pintu kaca itu. Dua siluet. Yang ada di hadapanku adalah siluet bayanganku, persis di belakangku, tampak siluet lain yang aku sadar betul bukan milikku. Bentuknya jelas seperti seorang perempuan. Tingginya lebih dari tinggi tubuhku, barangkali aku hanya sampai setinggi dada bayangan itu. Tidak jelas bagaimana wajah ataupun tubuhnya, seluruhnya diselimuti oleh rambut hitam memanjang yang nampak tidak teratur.

Jantungku setengah berhenti berdegub. DUG!

Sontak wajahku menganga, sekujur tubuhku seperti mendapatkan efek kejut, terperangah hingga kaku. Lebih dari dua detik aku mengamati siluet di depanku. Dua detik terlama sepanjang aku hidup.

Begitu tanganku melemas, buru-buru kunyalakan lampu kamar mandi. Aku sontak menoleh, memberanikan diri meskipun jantungku masih berdetak lebih cepat dari biasanya. Tidak ada seorangpun di belakangku. Hanya kloset kamar mandi dengan tutup menganga. Aku menarik nafas panjang.

Aku tetap mandi dengan buru-buru. Hawa panas itu cukup mengalahkan rasa takutku. Selepas mandi dengan sekadarnya, aku menyalakan semua lampu di dalam rumah. Aku membiarkan rumah terang benderang meski hari belum sempurnanya dalam gelap.

Pria itu mengangguk dan tetap menatapku dengan seksama.

Barangkali ceritaku belum memuaskan sesuatu yang ada di dalam dirinya, meski aku belum menceritakan seluruhnya. Barangkali ekspektasinya terlalu tinggi, surel yang kutulis seperti kisah horor picisan yang ‘menjual’. Pria itu usianya hampir menyentuh kepala 4, badannya bugar, ototnya terlatih namun hasrat makannya terlihat dari tubuhnya yang condong ke arah gemuk. Kulitnya putih tetapi kecoklatan karena sering terpapar matahari dan hidungnya mancung seperti orang Eropa. Matanya meskipun terlihat berkantung, bola matanya selayak biji buah hazel, warnanya coklat gelap tetapi ketika terkena sinar nampak bercahaya. Rambutnya nyaris botak, ia selalu menutupinya dengan topi, dengan logo dan warna yang berbeda-beda tiap penampilannya. Pria itu memperkenalkan dirinya sebagai Sammy. Aku mengetahuinya dari sebuah akun di kanal YouTube. Subscribersnya menyentuh angka 1 juta, dan dia sudah memperkenalkan dirinya sebagai seorang full-time youtuber bergenre horor. Pekerjaan itu nampak settle, dia berhasil membangun sebuah studio di Jakarta Pusat dan memiliki beberapa tim yang membantu proses video-makingnya.

Aku jarang menyukai kisah seram. Tapi sekali dua kali videonya trending dan muncul di beranda YouTube milikku. Entah apa yang merasukiku kala itu, aku menulis kisah ini ke dalam beberapa bait surel, kisahku dengan dia, yang lantas aku kirim pada email tim akun Youtube Pria itu. Tanpa harapan bahwa kisah ini akan dibaca, atau bahkan disiarkan, murni kekuatan yang entah dari mana asalnya.

Hingga pada hari itulah, kami bertemu. Aku dan Pria YouTuber itu. Di sebuah kedai kopi daerah rumahku karena aku menolak menemuinya di studio mereka di Jakarta. Pria itu mengusahakan datang meskipun harus menempuh perjalanan lebih dari 16 jam. Ia datang bersama dua orang pria lain yang usianya jauh lebih muda, barangkali sekitar usia 20-an. Dua orang itu adalah timnya, bertugas sebagai videographer dan personal assistant.

“Lalu, bagaimana kelanjutannya? Ini baru pertemuan pertama ya?”tanyanya, dengan wajah yang serius. Wajah itu familiar aku lihat di video-videonya ketika sedang mewawancarai narasumbernya. Aku selalu mengira itu mimik wajah settingan.

“Ya. Betul… Aku rasa aku melakukan kesalahan. Ceritaku tidak terlalu menarik, kok. Sebetulnya hampir sama dengan cerita horor biasa. Klise, kalau dibuat video mungkin kurang menguntungkan.”jawabku tergesa, sembari memasukkan ponselku ke dalam tas.

Wajah pria itu terperangah. Aku bisa membaca ekspresi kesal pada mukanya.

“Ini sebuah kesalahan. Saya seharusnya tidak perlu cerita. Mohon maaf sudah menyita waktu kalian, saya izin pamit.”ucapku, sejujurnya penuh dengan rasa bersalah. Ketika aku bersiap berdiri, dia sigap menarik tanganku. Sementara itu, dua orang timnya yang duduk di meja seberangku ikut menoleh dengan wajah panik.

“Saya datang jauh dari Jakarta memang betul-betul karena ingin dengar cerita Anda. Saya berani bayar, Anda yang menolak. Tanpa saya bayar Anda sekalipun, saya sudah keluar banyak uang untuk bisa datang ke sini!”ujarnya dengan menahan supaya tidak terkesan marah. Bahasanya terdengar kaku dan pahit di telingaku.

Jantungku berdebar, “Memang apa yang membuat Mas-Mas ini mau dengar cerita saya?”

Pria itu menarik nafas dalam-dalam, “Saya dulunya tinggal di daerah rumah Mbak.”

Aku menoleh, menatap wajah pria itu lekat-lekat. Badanku terduduk lagi. Apakah kebetulan?

“Cerita Mbak menarik, karena saya kira pernah mendengarnya.”sambungnya, perlahan melepaskan genggaman tangannya setelah aku memberi isyarat dengan satu kibasan tangan. Aku terduduk lagi. Dua lelaki yang duduk di meja seberang kami ikut melemaskan sepasang pundak mereka.

“Baiklah…”

Aku mengais ingatan-ingatanku lagi. Menata kalimat di atas pikiranku. Sejujurnya, memori itu masih lekat di kepala karena cukup ngeri jika diingat.

Pertemuan kedua-ku dengan dia.

Sedikit aku ceritakan tentang rumah itu, rumah yang kami beli di usia pernikahan ke-3 tahun. Kami memutuskan untuk merantau dari Surabaya. Suamiku membangun usahanya sendiri sebagai seorang ahli komputer, beberapa proyeknya mengharuskan ia berkelana dan karena aku bekerja sebagai seorang freelancer, terkadang aku bebas mengikuti kemanapun dia pergi. Karena bisnisnya yang semakin berkembang, kami merasa butuh ruang dari hiruk pikuk kota, maka kami mencari sebuah rumah di kota yang lebih kecil. Yang dikelilingi pantai. Seperti kota impian masa kecil.

Rumah itu berada di tengah komplek perumahan lama. Tidak banyak rumah yang berdiri, mungkin tidak lebih dari 50 rumah totalnya. Hampir semuanya kosong, paling tidak, penghuninya hanya datang di malam hari. Berbeda jauh dengan lingkungan sekitarnya yang masih saling tegur sapa, perumahan itu mirip perumahan mati, sebagian yang tinggal dan sering berjalan mondar-mandir di pagi hari adalah lansia.

Meskipun sepi, rumah-rumah yang ada di sana berukuran besar, dengan gaya bangunan awal tahun 2000-an. Lingkungannya terdesain apik tapi tidak terawat. Banyak taman-taman, meski sebagian besar sudah ditumbuhi semak setinggi paha orang dewasa. Lokasinya cukup jauh dari pantai, namun cukup dekat dengan bibir pusat kota itu.

Tidak ada yang ngeri begitu kami mengetahui harganya. Harga yang sama untuk rumah kecil dengan dua kamar tidur di Surabaya. Kami memutuskan untuk membeli rumah itu dengan segera.

Rumah itu punya 4 kamar tidur, aku dan suamiku meninggali satu kamar yang paling besar menghadap ke taman belakang. Kami memilih ruangan itu karena ukurannya paling lebar. Pada salah satu sisi dinding yang menghadap ke taman belakang, terdapat jendela kaca yang lebar. Dari jendela itu terlihat pemandangan hamparan bukit dan semak-semak, serta sebuah pohon tinggi yang besar dari kejauhan. Konon katanya, pohon itu berhantu sehingga tidak ada seorangpun yang berani menebangnya, bahkan mengambil ranting-ranting kecil dari badan pohon itu.

Hari itu aku masih ingat, suamiku sedang di rumah. Kami biasa berduaan di ruang tengah sambil menikmati kopi hangat dan nonton film. Namun hari itu kepalaku terasa sakit sekali. Sementara suamiku mendapat telfon dari kliennya. Aku beranjak masuk ke kamar tidur kami setelah mendapatkan kecupan tipis di kening dari suamiku. Dia mengangkat telfon di ruang tengah karena tidak ingin menggangguku.

Aku masuk ke kamar dengan kondisi kepala yang masih sakit. Di kondisi seperti itu, posisi paling baik adalah tidur dalam keadaan gelap gulita. aku menggelapkan kamar, tidak menyalakan satu pun listrik. Cahaya yang masuk hanya mengintip tipis-tipis dari jendela kamar yang diselimuti kelambu.

Saat aku berbaring, betapa terkejutnya aku, aku melihat sebuah siluet yang jelas, dibentuk oleh bantuan cahaya yang mengintip dari luar jendela itu. Bayangan itu berdiri tepat di ujung tempat tidurku. Bayangan itu berwujud seperti seorang wanita. Wanita yang sama, yang kulihat tempo hari di kamar mandi.

Aku meralat ingatanku, tingginya lebih dari 3 meter! Ujung kepalanya menunduk, terlalu tinggi hingga melebihi langit-langit kamar. Sehingga ia harus melipat leher, rambutnya menjuntai-juntai dari ujung kepalanya sampai menyentuh lantai. Wajahnya tidak kelihatan jelas, namun aku bisa sedikit melihat matanya yang kemerahan, terbelalak, melirik aku dengan tajam. Sementara hindungnya tinggi, menyelinap keluar di antara untaian rambut kasutnya. Mulutnya tidak berekspresi, tidak tersenyum, tapi bibirnya sangat lebar, seakan merobek pipi kanan-kirinya. Dia melirikku. Ngeri.

Suasana kamar mendadak berubah jadi seram. Aku bisa merasakan hawa yang pekat dan panas di badanku. Aroma yang tidak kukenali mulai tercium, seperti bau air bercampur sesuatu yang kotor.

Wanita itu mengangkat tangannya yang panjang. Dari situ aku baru bisa melihat bahwa dia menggunakan baju berbahan kain, dengan renda di ujungnya, warnanya tidak terlihat karena hanya berupa bayangan samar. Dia menunjuk ke arah jendela. Kukunya panjang dan tajam. Tangannya lebar untuk ukuran seorang wanita. Mungkin wanita setengah hantu. Atau memang sepenuhnya hantu.

Ketika wanita itu mengangkat telunjuknya, ia membuka mulutnya yang lebar. Bibirnya terbuka hanya setengah, lalu aku mendengar suara yang muncul dari tenggorokan wanita itu. Dia menghembuskan nafas, hampir terasa seperti wanita itu sedang dicekik, tidak ada kata, hanya suara “ AaaAaaKhsKhhs…..”

Aku tidak punya tenaga untuk berlari, aku hanya mampu berteriak. Kami bertatapan untuk beberapa detik sampai suamiku menghampiri. Suamiku datang dan langsung menyalakan lampu.

Aku ketakutan, mataku terpejam cepat seiring dengan nyalanya lampu kamar. Aku menunjuk-nunjuk ke arah wanita itu berdiri. Tentu saja suamiku tidak melihat apapun. Wanita itu menghilang entah kemana, seakan lenyap dimakan cahaya. Malam itu berlalu dengan lambat. Suamiku memelukku sepanjang malam, membiarkan lampu menyala saat aku tertidur dengan tidak tenang.

Selanjutnya, gangguan-gangguan mulai muncul secara acak. Terkadang, aku mendengar suara-suara dentuman di dinding-dinding rumah, terutama pada bagian belakang rumah. Ketika hari menjelang sore, suara yang sering aku dengar adalah derit-derit kursi dari ruang makan, atau lantai dua yang tidak kami gunakan. Lambat laun, gangguan itu menjadi sesuatu yang lumrah terjadi. Seakan kami sudah ‘berteman’ dengan hal-hal itu. Kami tidak menganggapnya seram, hanya sesekali merinding bila gelap mulai datang dan suara-suara itu masih bermunculan.

Tapi wanita itu tidak pernah menampakkan dirinya lagi. Lebih dari sekelebat lewat bayangan, yang ketika aku menoleh biasnya sudah hilang dimakan cahaya, atau dari ekor mata. Suamiku sama sekali tidak pernah melihatnya, hanya sebatas dengar suara-suara.

Hari berjalan seperti biasa sampai pada suatu malam, aku bisa merasakan jika sudah dekat waktuku untuk datang bulan. Perutku kram dan semua badanku terasa berat. Aku mengistirahatkan badan dengan menonton video di YouTube sambil selonjor di sofa ruang tengah. Suamiku sedang menyiapkan makan malam.

Video-video horor muncul di berandaku. Podcast horor. Salah satunya berasal dari akun Sammy.

“Sayang, lagi suka nonton video horor? Tumben?”tanyaku di sela-sela suara pisau yang beradu dengan talenan kayu, menanyai suamiku yang sedang memotong-motong bawang putih.

“Engga kok, kenapa?”ia meletakkan pisaunya.

“Nggak papa. Mungkin video yang lagi tren sekarang video horor. Lagi banyak banget di YouTube”

Suamiku kembali memotong-motong bawang di dapur. Aku masih menatap layar laptopku. Aku mengklik salah satu rekomendasi video itu. Setelah jeda iklan, suara seorang pria diiringi backsound seram muncul dengan keras.

“Kembali lagi di channel Gala Mistis…! Hari ini kita akan mendengar kisah seram dari salah satu viewer kita… Cerita seram di Jembatan Cangar…!!”

“Sayang, apa itu?”tanya suamiku, tanpa kusadari, dia sudah berdiri di sampingku. Tangannya masih memegang pisau.

Sontak aku terkejut. Reflek aku mematikan video itu.

“Jangan nonton horor dong, kedengeran sampai dapur. Aku takut. Hahaha”ujar suamiku, lalu dia kembali ke dapur untuk melanjutkan masakannya.

Aku terdiam. Entah ada dorongan dari mana, aku menelusuri channel YouTube Sammy. Rasanya seperti aku mengenal dia. Tapi tidak. Jelas tidak mungkin.

Aku menemukan alamat emailnya, dari sana, aku seperti tersengat listrik dan membuka emailku. Tanpa pikir panjang, aku menuliskan semuanya. Semua yang aku alami, semua yang aku lihat, semua yang aku rasakan, semua tentang dia. Aku menceritakan pada Sammy dengan detail.

RONA

Sekarang, saatnya Aku menceritakan kisahku.

Aku akhirnya punya kesempatan untuk berbicara lagi dengan dia. Meskipun hanya melalui tulisan. Tapi itu sudah cukup. Aku perlu dia tahu bahwa aku masih menunggunya, selama ini. Mungkin sekarang usianya sudah semakin tua, meskipun aku tetap berada di titik yang sama. Akan kupastikan, jika Samuel melihatku, dia tidak akan lupa. Karena wajahku masih sama, aku masih gadis cantik yang dicintainya. Kulitku masih berwarna sawo matang, rambutku masih panjang, dan mataku masih berwarna coklat gelap, sama seperti yang dia sukai. Aku tidak pernah kemana-mana. Aku memanjangkan rambutku, membiarkan semua emosi dan perasaanku memenuhi tubuhku, mengisinya hingga penuh, hingga aku hampir melupakan siapa aku, apa yang terjadi padaku, dan …

Yang aku ingat, Samuel akan kembali. Dia harus kembali. Karena dia sudah berjanji. Dan hari itu, dia mengajakku ke sebuah danau. Danau di dekat tempat ia tinggal. Ia mengatakan bahwa kami tidak bisa bersama saat ini, bahwa ia harus pergi sebentar, barangkali satu atau dua minggu. Sebagai gantinya dia membawakan aku setangkai bunga, dan aku akan menerima lebih banyak lagi bunga ketika ia kembali. Ia berjanji untuk membawakan aku seikat bunga, bunga yang tidak pernah aku lihat di daerah ini.

Aku selalu duduk di tempat yang sama. Samuel pasti tahu aku di mana. Aku duduk di antara dua batu yang saling bertumpukan, berseberangan dengan rumahnya, sehingga aku bisa melihat berandanya dari kejauhan. Di tengah danau itu tumbuh pohon yang besar, entah apa jenisnya, meskipun terlihat janggal, tapi ia tetap berdiri kokoh di sana, membingkai fasad rumahmu, menyembunyikan aku yang mengamati dari kejauhan. Ketika duduk di batu itu, air danau yang dingin menyelimuti kakiku sampai ke betis, dan rok-ku akan basah meskipun sudah dijinjing. Tapi aku tidak pernah mempermasalahkannya, aku tetap menunggu, bahkan hingga danau itu kering. Pohon itu masih di sana. Yang kudengar, orang-orang mengatakan bahwa pohon itu angker. Bahwa seorang perempuan berambut panjang menunggui pohon itu. Sehingga alih-alih menebangnya, mereka memberikan aji-ajian, mengorbankan beberapa ekor ayam putih dan meratakan darahnya di batang pohon itu. Seakan menjadi permohonan maaf karena mereka telah menguras habis seisi danau di bawahnya. Menggantinya dengan urugan tanah yang kering. Lalu membangun rumah-rumah mengelilingi pohon itu, rumah yang ukurannya lebih tinggi daripada rumahmu dulu, Samuel.

Aku merindukan Samuel-ku. Yang rambutnya tipis dan ikal, berwarna coklat terang, dengan mata keemasan ketika diterpa cahaya. Samuelku kulitnya putih berseri-seri, kontras denganku, sehingaa kami seperti sepasang perunggu dan gading. Samuel-ku yang tinggal di rumah seberang pohon yang katanya angker itu. Aku masih duduk di atas batu, mengamati rumahnya dari jauh. Sayangnya aku tidak pernah punya keberanian untuk mendekat dan masuk ke rumahnya. Aku khawatir tentang wajah ibunya yang getir saat menatap aku.

Dia selalu menceritakan tentang orang tuanya, mereka tidak setuju dengan hubungan kita. Katanya aku tidak berkulit seputih mereka, dan Samuel-ku. Tapi aku mencintainya, barangkali lebih cinta daripada kedua orang tuanya. Karena jika mereka mencintainya, seharusnya ia rela melihat Samuel mencintai perempuan pilihannya; aku. Aku meminta Samuel untuk tidak pergi. Sebaiknya kita pergi ke arah yang lain, berdua, sambil bergandengan tangan. Mungkin kita akan selamat, mungkin kita tidak akan berpisah seperti ini. Mungkin Pamanmu tidak akan memukulku. Mungkin aku tidak akan mati. Setidaknya tidak di danau ini…

MIRA

Aku membuka mata. Aku mendudukkan diriku, bangkit dari posisi terbaring. Suamiku duduk di ujung kakiku, dia segera meraih tubuhku dengan wajah panik bercampur bahagia. “Haaah… Sayang! Syukurlah!”

“Tadi kamu…”suamiku berkata setengah berbisik. Aku masih linglung dan bingung. Setelahnya, ia menyodorkan segelas air mineral untuk kuminum.

“Kesurupan.”sambung Sammy, dari ujung kursi yang lain.

Aku mengedarkan pandanganku, ternyata aku sudah di rumah. Aku dibaringkan di sofa ruang tengah. Pada kursi-kursi di hadapanku, aku melihat Sammy, masih bersama dua orang timnya. Mereka menatapku dengan wajah lega, hanya Sammy melihatku lekat-lekat, aku tidak bisa menggambarkan emosi apa yang ditunjukkan oleh air mukanya.

“Kamu… entah, seperti kesurupan, lalu pingsan, untungnya suamimu menelefon dan langsung menjemput kita.”jelas salah seorang kru, yang nantinya aku mengetahui namanya adalah Jose.

Aku masih kebingungan. Hatiku merasa kosong, dan aku melihat Sammy dengan perasaan yang berbeda. Sammy menangkap tatapanku yang berbeda terhadapnya.

Sammy… Samuel? Apakah dia, yang ada di ingatan wanita itu? Wanita yang jiwanya sering mendadak masuk ke dalam pikiranku? Menampakkan dirinya yang seram di hadapanku?

Sammy berjalan mendekat dan merendahkan tubuhnya dengan duduk bersimbah di bawah kakiku. Dia seperti memahami prasangka yang tersirat dari tatapanku. Sammy memberi isyarat pada suamiku, lalu meraih tanganku. “Aku bukan Samuel, tapi terima kasih sudah bercerita.”

Aku masih dengan tatapan yang kebingungan. Perasaanku campur aduk. Tidak tenang. Aku berjalan pelan dengan kepala yang berat, suamiku dan Sammy mengekor di belakang. Kami berjalan beriringan ke taman belakang, setelah aku membuka pintu, terlihat hamparan rumput yang tumbuh dengan acak. Dari bibir pintu itu, tampak sebuah pohon yang besar, berjarak sekitar 5 meter dari pekarangan rumah. Aku menunjuk pohon itu.

“Wanita itu… Dia menunjuk ke arah pohon itu.”ucapku.

“Bukan… Dia menunjuk ke arah rumah Samuel.”ujar Sammy, setelah menarik nafas panjang.

Aku menatap Sammy. Kami berjalan beriringan tanpa sepatu, mendekati pohon besar itu. Kontur tanah area itu memang sedikit aneh dan diisi oleh lembah dan bukit kecil. Setelah melewati beberapa lembah dan bukit, kami sampai pada pohon itu. Aku mengedarkan pandanganku. Sekarang, aku bisa melihat jelas sebuah rumah tua di seberangnya. Selama ini seakan terkubur oleh tanah-tanah baru. Rumah itu nampak tidak terawat. “Itu rumah Samuel”

“Aku pernah tinggal di sana”ucap Samuel, dengan mata yang berkaca-kaca.

“Hanya sebentar, ketika usiaku masih belum genap satu tahun. Kami hanya tinggal untuk beberapa minggu, sebelum akhirnya ibuku memutuskan untuk pindah ke Jakarta, lagi. Katanya aku tidak pernah berhenti menangis, aku selalu menunjuk ke arah pohon ini.”

Aku dan suamiku tidak berkutik. Kami berdiri seperti seseorang yang tidak punya kendali atas tubuhnya. Barangkali karena kelelahan setelah apa yang terjadi sepanjang hari. Angin sore pelan-pelan menerbangkan helai rambut dan ujung-ujung bajuku.

“Namaku Samudera.”Sammy mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan, seakan mengajak kami berkenalan kembali. “Sammy hanya panggilan akrab.”

“Samuel, adalah kakekku. Dia berdarah Eropa.”lanjut Sammy, sambil melipat tangannya. Ia menengadah ke langit sore yang berwarna jingga keemasan. “Terima kasih sudah menceritakan kisahnya, kisah wanita itu, aku tidak pernah tau bagaimana akhirnya, namun sekarang aku tau…”

“Oh…”

“Aku pernah mendengar cerita tentang wanita itu dulu sekali, tetapi tidak pernah tau kelanjutannya. Wanita itu bernama Rona. Kakekku mencintainya, sebelum menikahi Marianne, nenekku, dia bersama wanita itu. Suatu kali kakek pernah bercerita, tetapi ia selalu mengakhiri ceritanya sampai ketika ia harus pergi ke Jakarta. Aku tidak pernah mendengar kelanjutannya, mungkin kakek tidak tahu kabar terakhir Rona. Kasihan, sepertinya wanita itu salah mengira. Dia pasti mengira aku adalah Kakek.”

Kami berbalik badan, membelakangi rumah Sammy, menghadap ke arah rumahku. Saat itu, langit sudah mulai menggelap, cahaya temaram menyebarkan pendar cahaya berwarna keemasan. Dari jauh, kami melihat Rona, berdiri di pekarangan rumahku. Kali ini, ia terlihat cantik. Rambutnya tetap panjang dan berwarna hitam, namun ujung-ujungnya bergelantungan di balik telinganya, sehingga wajahnya terlihat dan disinari oleh sinar matahari sore. Matanya berkaca-kaca, sementara bibirnya yang masih terlihat lebar tersenyum. Tangannya menunjuk-nunjuk ke arah kami. Dan ketika cahaya mulai gelap, wanita itu menghilang, dia tidak pernah muncul lagi. Mungkin, dia sudah berhenti menunggu, atau waktunya di dunia telah habis.


메타데이터
post_id
ee56c6802f0f
slug
kalapuna-ee56c6802f0f
url
https://medium.com/@azharinepj/kalapuna-ee56c6802f0f
canonical_url
https://medium.com/@azharinepj/kalapuna-ee56c6802f0f
author_url
https://medium.com/@azharinepj
status
ok
fetched_at
2026-06-24 04:09:36