← Back to list

In This Economy, Kenapa Semakin Banyak Penghasilan Tetapi Tabungan Kian Menipis?

Bayangkan ini, punya penghasilan lumayan, tetapi tabungan tetap segitu saja? Jangankan tabungan, saldo di rekening tiap akhir bulan tetap…

Black Swan News · 2026-08-04 14:24 · 0 claps · 6.9 min read
#lifestyle-inflation #gen-z-finance
Open on Medium ↗
Wiki topics: MAC · Macroeconomics ✨ · Lifestyle · General 👗 · Fashion

In This Economy, Kenapa Semakin Banyak Penghasilan Tetapi Tabungan Kian Menipis?

photo by: magnific.com

photo by: magnific.com

Bayangkan ini, punya penghasilan lumayan, tetapi tabungan tetap segitu saja? Jangankan tabungan, saldo di rekening tiap akhir bulan tetap ludes tanpa terasa. Padahal, di bulan ini kamu tidak membeli barang mahal atau mengeluarkan uang untuk kejadian tak terduga. Namun, uangnya tetap pergi entah ke mana.

Kalau skenario tersebut terasa familiar, kamu tidak sendirian. Fenomena ini nyata dan biasa disebut lifestyle inflation atau inflasi gaya hidup. Tanpa disadari, standar hidup kerap ikut naik seiring bertambahnya penghasilan. Fenomena ini bekerja secara halus dan diam-diam menguras tabungan. Jika dibiarkan, maka kondisi ini bisa membuat kondisi finansial kamu jadi berantakan.

Saat Penghasilan Bertambah, Gaya Hidup Ikut Melonjak

Mengutip catatan IDN Times, lifestyle inflation atau inflasi gaya hidup terjadi ketika pengeluaran kian membengkak setiap kali penghasilan bertambah. Dampaknya, gaji tambahan ini seolah hanya menumpang lewat di rekening dan tabungan pun sulit berkembang. Fenomena ini biasanya terjadi perlahan melalui kebiasaan kecil, seperti lebih sering makan di luar atau pindah ke tempat yang lebih nyaman, hingga tanpa sadar, standar hidup ikut naik. Setiap pengeluaran yang dilakukan memang terlihat masuk akal, tetapi jika dijumlahkan, pengeluarannya bisa jauh lebih besar dari yang dibayangkan.

Fenomena ini juga terlihat jelas di kalangan Gen Z Indonesia. Survei YouGov berjudul Rising Costs, Resilient Minds: Indonesia’s Personal Finance Outlook 2025 menunjukkan bahwa meski 66% responden Gen Z menilai kondisi ekonomi 12 bulan terakhir sebagai yang paling menantang, pengeluaran mereka tetap didominasi oleh gaya hidup, seperti kecantikan dan perawatan pribadi (21%), busana (20%), dan makan di luar (14%).

Penjelasan Psikologis, Hedonic Treadmill

Lifestyle inflation bukan sekadar soal kurangnya kontrol diri. Ada faktor psikologis yang kuat di baliknya. Direktur Program Edukasi Next Gen Personal Finance, Yanely Espinal, melalui US News menyampaikan, kondisi ini disebut hedonic treadmill, yaitu keadaan ketika seseorang cepat kembali ke tingkat kebahagiaan semula sehingga sulit merasa puas. Akibatnya, orang terus menginginkan lebih.

Coba bayangkan saat pertama kali makan di restoran mahal. Rasanya terasa istimewa. Namun, setelah beberapa kali, pengalaman itu menjadi biasa saja. Untuk merasakan sensasi yang sama, kita pun cenderung mencari yang lebih mahal. Pola seperti inilah yang juga terjadi dalam keuangan. Setiap peningkatan gaya hidup terasa menyenangkan di awal, tetapi cepat menjadi kebutuhan baru yang sulit diturunkan.

Kenaikan penghasilan sering dianggap sebagai solusi atas masalah keuangan. Uang yang bertambah setiap bulan bisa dipakai untuk membeli mobil baru, berlibur, atau menikmati hiburan di tempat terbaik. Namun, jika tidak dikelola dengan baik, pengeluaran justru ikut meningkat. Akibatnya, kondisi keuangan jangka panjang bisa terganggu dan tabungan tidak bertambah seiring naiknya pendapatan.

Faktor Eksternal yang Tak Disadari

photo by: magnific.com

photo by: magnific.com

Selain faktor internal, lingkungan dan media sosial juga menjadi pemicu utama yang mendorong seseorang masuk ke dalam lifestyle inflation. Riset yang dipublikasikan dalam Jurnal PENG (2025) pada mahasiswa Gen Z di DKI Jakarta mengungkapkan bahwa perilaku dan interaksi sosial jauh lebih memengaruhi keputusan keuangan dibandingkan dengan pemahaman literasi finansial. Artinya, meski paham teori menabung, Gen Z kerap kalah oleh tekanan teman sebaya dan godaan belanja sehari-hari.

Di era media sosial ini, standar gaya hidup cepat berubah. Merujuk pada laman Binus, banyak orang yang merasa berhak memberikan “hadiah” pada diri sendiri dengan menaikkan standar hidup. Namun, jika tidak berhati-hati, kebiasaan ini bisa menjadi awal mula dari lifestyle inflation.

Melihat postingan teman, paparan iklan, hingga rekomendasi influencer perlahan membuat pengeluaran kecil berubah dari sekadar keinginan menjadi “kebutuhan” baru. Tekanan sosial, rasa takut tertinggal atau FOMO, perubahan cara pandang terhadap kebutuhan, dan kurangnya perencanaan keuangan membuat pengeluaran konsumtif lebih mudah meningkat daripada tabungan atau investasi.

Apakah Gaya Hidup Mewah Selalu Berdampak Buruk?

Menikmati hasil kerja keras dan membeli barang yang lebih bagus pada dasarnya adalah hal yang wajar. Setiap orang tentu ingin memiliki sesuatu yang lebih nyaman dan berkualitas, terutama jika kondisi keuangannya masih memungkinkan. Sesekali memanjakan diri pun bukan masalah.

Dalam kehidupan sehari-hari, ada pengeluaran yang bersifat sesekali pada momen tertentu, seperti ulang tahun atau perayaan pencapaian tertentu. Ada juga pengeluaran yang berlangsung terus menerus, seperti membeli membeli pakaian bermerek, mengganti sepeda motor dengan mobil, atau mulai membeli perhiasan dan aksesori yang mahal. Pengeluaran lain yang juga bersifat jangka panjang adalah cicilan rumah atau apartemen serta hobi yang membutuhkan biaya besar.

Meningkatkan standar hidup saat pendapatan bertambah adalah proses yang alami. Namun, perubahan ini harus tetap dalam kendali. Ketika pendapatan naik, pengeluaran cenderung ikut melonjak. Jika kenaikan gaya hidup ini tidak terkontrol, kamu bisa saja terjebak dalam inflasi gaya hidup. Bahayanya, alih-alih semakin sejahtera, pengeluaran yang membengkak justru akan mendatangkan berbagai masalah keuangan baru.

Misalnya, seseorang belum memiliki dana darurat untuk enam bulan atau belum mampu membiayai pendidikan anak. Dalam kondisi seperti itu, gaya hidup yang terus naik justru dapat merugikan. Peningkatan gaya hidup menjadi masalah serius ketika target keuangan masa depan justru terabaikan. Masalah muncul saat pengeluaran bertambah, tetapi jumlah tabungan tidak ikut meningkat. Gaya hidup mewah pada kondisi tersebut bisa disebut merugikan apabila membuat kamu gagal memenuhi kebutuhan keuangan di masa depan.

3 Sinyal Peringatan Gaya Hidup Mulai Ugal-ugalan

photo by: magnific.com

photo by: magnific.com

Menikmati uang hasil keringat sendiri itu sah-sah saja. Namun, ada batas tipis antara mengapresiasi diri dan terjebak dalam lifestyle inflation atau inflasi gaya hidup. Banyak orang tidak sadar bahwa gaya hidupnya melonjak terlalu cepat sampai keuangan mereka babak belur. Biar tidak kebobolan, yuk kenali tiga tanda peringatan berikut yang dikutip berdasarkan catatan dari CNBC.

1. Tagihan Kartu Kredit Kian Menggelembung

Menggunakan kartu kredit untuk kebutuhan pokok memang lumrah. Namun, jika terus-menerus menumpuk utang, sementara kamu tetap rutin makan di restoran mahal atau belanja sepatu baru tiap bulan, itu tanda besar bahwa pengeluaran sudah tidak terkontrol.

2. Terjebak Utang Jangka Panjang yang Berisiko

Nekat mengambil cicilan rumah super mahal atau skema pembayaran berisiko demi hunian impian bisa menjadi sinyal bahwa gaya hidup kamu sudah kelewat batas. Penulis buku Launching Financial Grownups, Bobbi Rebbel, mengingatkan bahwa memotong anggaran makan di luar jauh lebih mudah daripada melepas kontrak sewa atau cicilan rumah yang kelewat mahal. Jika pendapatan kamu mendadak terganggu, utang jangka panjang seperti ini bisa langsung mencekik keuangan jika kamu tidak memiliki tabungan yang cukup.

3. Asal Belanja Demi Menjaga Gengsi

Mengambil pinjaman besar hanya untuk membeli mobil mewah karena tidak mau kalah dari rekan kerja adalah pertanda berbahaya. Ketika kamu lebih fokus pada citra sukses daripada kemampuan finansial, di situlah masalah dimulai. Penting untuk membedakan barang yang benar-benar memberi kebahagiaan dengan barang yang hanya dibeli demi panjat sosial. Pakar keuangan dan penulis buku MoneyZen: The Secret to Finding Your Enough, Manisha Thakor, pernah membagikan pengalamannya bertemu klien yang tampil sangat glamor dari ujung kepala hingga kaki, tetapi ternyata terlilit utang parah dan saldo rekeningnya kosong. Penampilan luar yang kaya kerap kali cuma topeng.

Cara Menghindari Jebakan Lifestyle Inflation

Menahan diri untuk tidak menaikkan pengeluaran sama sekali saat gaji naik memang terdengar kurang realistis. Namun, bukan berarti kamu harus membiarkan keuangan melenceng tanpa kendali. Melansir penjelasan dari Kompas.com, berikut beberapa langkah praktis yang bisa Anda terapkan agar terhindar dari jebakan lifestyle inflation:

1. Pilah Kembali Kebutuhan dan Keinginan

Kemudahan belanja daring, gempuran promo, hingga racun influencer di media sosial kerap menjadi pemicu sifat konsumtif. Untuk mengatasinya, kamu harus lebih bijak memisahkan mana kebutuhan pokok dan mana yang sekadar pemuas gaya hidup. Jika ingin memanjakan diri sebagai bentuk self-reward, batasi alokasi anggarannya maksimal 10 persen dari total penghasilan bulanan.

2. Pertahankan Rasio Investasi

Saat pendapatan bertambah, pastikan persentase dana yang diinvestasikan tidak berkurang. Jika selama ini rutin mengalokasikan 10 hingga 20 persen gaji untuk investasi, pertahankan rasio tersebut pada nominal gaji yang baru. Pengecualian hanya berlaku jika kamu harus mengalihkan dana untuk membeli aset penunjang kerja, seperti kendaraan atau tempat tinggal.

3. Tetapkan Tujuan Keuangan Jangka Panjang

Memiliki arah yang jelas, seperti menyiapkan dana pensiun atau mengumpulkan uang muka untuk membeli rumah, akan membantu kamu menyusun anggaran bulanan dengan disiplin. Tanpa tujuan finansial yang mantap, uang kamu akan habis begitu saja untuk pengeluaran yang tidak penting.

4. Jangan Memaksakan Diri dalam Pergaulan

Hindari rasa iri terhadap penampilan atau gaya hidup orang lain. Memaksakan diri untuk menyamai standar teman hanya akan menguras dompet pribadi. Ingatlah bahwa setiap orang memiliki kapasitas finansial yang berbeda, jadi fokuslah pada kondisi keuangan sendiri.

5. Rayakan Kenaikan Gaji secara Bertahap

Merayakan pencapaian karier tentu boleh, tetapi lakukan secara bijak dan tidak mendadak konsumtif. Misalnya, jika berniat membeli mobil, pastikan kamu tidak hanya sanggup membayar uang muka. Siapkan juga dana cadangan untuk mengamankan cicilan hingga enam bulan ke depan guna mengantisipasi hal-hal yang tak terduga.

Menata Ulang Sudut Pandang

Kunci untuk bertahan sebenarnya ada pada cara kita menyikapi kegagalan. Orang yang sukses tidak berarti tidak pernah merasa sakit saat ditolak. Mereka hanya memilih untuk terus melangkah maju meski rasa sakit itu ada. Bakat memang penting, tetapi kemampuan untuk bangkit setelah terjatuh jauh lebih menentukan.

Satu hal yang perlu kita akui dengan jujur, media sosial seperti LinkedIn sering kali membuat kita merasa tertinggal. Kita melihat pencapaian orang lain setiap hari, tanpa pernah tahu berapa banyak penolakan yang mereka sembunyikan.

Ingatlah bahwa ditolak oleh satu perusahaan bukan berarti karier Anda selesai. Itu hanya berarti perusahaan tersebut, pada saat itu, sedang membutuhkan orang lain. Sederhananya, ini hanyalah satu bab kecil dari perjalanan panjang kamu, tidak lebih.

IDN Times. (2026). Mengenal Lifestyle Inflation, Musuh Keuangan yang Bekerja dalam Senyap. https://www.idntimes.com/business/economy/mengenal-lifestyle-inflation-musuh-keuangan-yang-bekerja-dalam-senyap-00-brqf5-s5nrz1

YouGov / Campaign Indonesia. (2025). Gen Z Indonesia Prioritaskan Identitas dan Gaya Hidup di Tengah Ekonomi Lesu. https://www.campaignindonesia.id/article/gen-z-indonesia-prioritaskan-identitas-dan-gaya-hidup-di-tengah-ekonomi-lesu/1927729

US News. (2026). What Is ‘Lifestyle Creep’ and Should You Try to Avoid It?. https://money.usnews.com/money/personal-finance/spending/articles/what-is-lifestyle-creep-and-should-you-try-to-avoid-it

Aula Afif Kurniawan, Karuniana Dianta A. & Siti Fatimah Zahra. (2025) Pengaruh Literasi Ekonomi Digital, Perilaku Shopaholic dan Lingkungan Sebaya Terhadap Gaya Hidup Finansial Gen Z: Studi Kasus Mahasiswa Gen Z DKI Jakarta. PENG: Jurnal Ekonomi dan Manajemen. https://teewanjournal.com/index.php/peng/article/view/2111

Binus University. (2025). Gaji vs. Gaya Hidup: Waspadai Lifestyle Inflation. https://binus.ac.id/bekasi/2025/03/gaji-vs-gaya-hidup-waspadai-lifestyle-inflation/

CNBC. (2026). What is lifestyle creep?. https://www.cnbc.com/select/what-is-lifestyle-inflation/#warning-signs-of-lifestyle-creep

Kompas.com. (2022). 5 Tips untuk Menghadapi Inflasi Gaya Hidup. https://money.kompas.com/read/2022/09/02/161000626/5-tips-untuk-menghadapi-inflasi-gaya-hidup-saat-gaji-naik?page=all

Penulis: @haurahamidah

Editor: @ga.lingg

Reviewer: @ga.lingg


메타데이터
post_id
ee7852cd5a15
slug
in-this-economy-kenapa-semakin-banyak-penghasilan-tetapi-tabungan-kian-menipis-ee7852cd5a15
url
https://medium.com/@hongdam.team/in-this-economy-kenapa-semakin-banyak-penghasilan-tetapi-tabungan-kian-menipis-ee7852cd5a15
canonical_url
https://medium.com/@hongdam.team/in-this-economy-kenapa-semakin-banyak-penghasilan-tetapi-tabungan-kian-menipis-ee7852cd5a15
author_url
https://medium.com/@hongdam.team
status
ok
fetched_at
2026-08-15 13:53:06