← Back to list

Menunda Kehancuran dengan Cara yang Paling Sopan

Kala manusia merasa berjumpa dengan tumpuan yang paling kokoh, kepercayaan berhembus dengan pikiran bahwa dunia seakan bisa dijinakkan…

migynous · 2026-02-08 17:12 · 20 claps · 2.8 min read
#capitalisme #takwa
Open on Medium ↗

Menunda Kehancuran dengan Cara yang Paling Sopan

Kala manusia merasa berjumpa dengan tumpuan yang paling kokoh, kepercayaan berhembus dengan pikiran bahwa dunia seakan bisa dijinakkan. Hitungan, garis-garis angka, dan proyeksi masa depan menjadi hembusan yang mengunci keyakinan. Udara menjelma menjadi sebuah komoditas, hutan ditukar dalam nilai untung dan rugi, dan bencana disihir dari sebuah duka menjadi aliran grafik kerugian. Di saat itu lah manusia berdiri tegak di atas angka-angka itu, dengan keyakinan yang nyaris khidmat, seolah bilangan lebih setia menopang langkah daripada tanah yang pelan-pelan retak. Benarkah ini yang disebut rasionalitas untuk kemajuan di era modern?

Hembusan percaya tak mampu menemukan ketenangan, karena walaupun segalanya diatur angka, rasa aman hanya akan muncul di permukaan. Dunia disesaki jutaan aroma ilmiah, namun terkadang jiwa manusia selalu ada yang kehilangan rumah. Ketika nilai diukur dengan guna dan laba, semua menjadi kehilangan makna. Alam yang memberikan ketenangan, dirusak demi sebuah ongkos pembangunan. Karena itu manusia dijejali realitas berbalut rasionalitas, namun selalu melampaui daya tampung emosionalnya. Akhirnya, hidup hanya berlari mengejar stabilitas semu yang menjauh dari kesembuhan. Sampai kehancuran tertunda, lalu datang dengan cara yang paling sopan.

***“Give me a lever long enough, and a place to stand, and I will move the earth.” *— **Archimedes

Buaian mimpi Archimedes menyelimuti harapan manusia dalam sebuah keteraturan, namun menidurkan kesadaran tentang sebuah kesembuhan total. Titik tumpu yang menjadi penawar berakhir pada sebuah pasar dengan harga yang menjadi sebuah ukuran tunggal. Tuas berupa teknologi dan data menjadi amunisi yang dapat diperhitungkan, lalu pada akhirnya akan menghasilkan kemenangan melalui pengendalian. Padahal pengendalian terhadap angka dan harga tak pernah sama kesuksesan, karena bisakah semuanya hanya terukur dengan angka?

Lalu, katanya pasar bertahta di luar kepentingan yang dianggap netral, namun nyatanya semua kepentingan hanya menyamar dalam legitimasi undang-undang, sementara pemenang yang diuntungkan sudah ditentukan sejak awal. Pertumbuhan menjadi nafas pasar itu sendiri karena penurunan angka adalah sebuah kehancuran. Jika nafas pasar dihembuskan padaalam semesta, maka kehancuran menjadi sebuah keniscayaan. Sebab alam dan manusia mengenal batas, sementara nafsu dan keinginan seringkali tak pernah berjumpa pada sebuah kata cukup.

Di negeri ini, kita dipertemukan dengan pelajaran yang membosankan bahkan memuakkan. Sumatra di Tahun 2025 telah kehilangan hamparan ekosistem tropisnya. Hantu sawit sudah lama menjadi sebuah virus yang sulit untuk dijinakkan. Hingga Banjir bandang pun ikut menyusul menjadi hantu menakutkan, menghantui tanah yang sulit sekali untuk dipulihkan, bahkan menandai panen kehancuran dari sebuah penundaan. Ketika dorongan air bersama lumpur menarik banyak kayu gelondongan, bukankah itu sebuah pertanda bahwa alam memuntahkan kelelahan dan kemarahan yang selama ini ditahannya?

Sementara itu, panggung global terus-menerus menggelar pesta dengan data dan teknologi untuk misi penyelamatan bumi. Ditambah dengan target-target setinggi langit yang terasa sangat meyakinkan. Rumusan kompas untuk bumi dan manusia agar berkelanjutan, diyakini akan mencapai puncak masa depan yang cemerlang. Namun, apakah manusia mampu menunduk dan mengakui hakikat dirinya yang bersemayam dalam sebuah keterbatasan?

Di sudut lain, kepakaran selalu berbicara dengan data dan angka yang bersifat teknis tanpa mau ambil pusing dengan hal yang berbau etis. Suatu waktu, pakar finansial bersabda bahwa produksi dan efisiensi teknis berhasil menciptakan nafas pasar kenaikan angka produksi. Namun, tenokrasi hanya menjadi legitimasi bagi kebohongan menyakitkan tentang realitas alam yang terjadi. Pertumbuhan grafik bukan lagi sebuah kemajuan yang perlu diperjuangkan, jika pada akhirnya hanya menimbulkan kehancuran.

Jeda tak pernah menghampiri manusia yang tak kenal sebuah kata puas. Bumi pun semakin tua, menanggung ambisi manusia seakan hanya menghitung waktu sebelum semuanya retak. Mencapai batas adalah sebuah keniscayaan, grafik menanjak suatu saat akan menjadi omong kosong belaka. Pilihan-pilihan yang katanya strategis disertai terbitnya lembaran kepentingan grafik angka, namun berbalut bencana kemanusiaan, pada akhirnya menjelma menjadi sebuah percepatan menuju benturan yang tak terelakan.

Upaya manusia dengan segala temuan sains dan kebijakan global yang dibawanya, hanya menjadi kerja keras untuk memperlambat laju kehancuran. Di sinilah kita harus menarik nafas, bahwa manusia penuh dengan keterbatasan. Manusia bukan seorang penguasa mutlak, hanya mahluk yang sesekali lupa tentang hakikat penghambaan dirinya. Menjelang akhir benturan, semua usaha penyelamatan yang dilakukan tak akan pernah berarti tanpa ketakwaan. Dunia pasti akan runtuh, namun ketakwaanlah yang akan menjadi katalis pada sebuah kepulangan dengan hati yang utuh.

©By Migynous-Feb 8th, 2026.


메타데이터
post_id
ee8e1e85052c
slug
menunda-kehancuran-dengan-cara-yang-paling-sopan-ee8e1e85052c
url
https://medium.com/@gynousm/menunda-kehancuran-dengan-cara-yang-paling-sopan-ee8e1e85052c
canonical_url
https://medium.com/@gynousm/menunda-kehancuran-dengan-cara-yang-paling-sopan-ee8e1e85052c
author_url
https://medium.com/@gynousm
status
ok
fetched_at
2026-07-13 06:23:13