← Back to list

Manusia Berubah, Tetapi Tidak dengan Kasih Allah

Aku memerhatikan bagaimana banyak dari hidupku berubah terutama sebulanan ini. Rutinitas yang berubah selama masa sabat, cara pandang yang…

Elisabeth W. Alfanisa · 2026-05-13 00:39 · 0 claps · 6.2 min read
#mazmur #devotional #sabbatical
Open on Medium ↗
Wiki topics: CUL · Culture & Media 😂 · Humor & Satire

Manusia Berubah, Tetapi Tidak dengan Kasih Allah

Aku memerhatikan bagaimana banyak dari hidupku berubah terutama sebulanan ini. Rutinitas yang berubah selama masa sabat, cara pandang yang berubah, prinsip hidup yang ditata kembali, hingga caraku bertutur kata, mengambil keputusan, berpenampilan, dan lainnya.

Tidak hanya aku secara pribadi, aku merasakan suamiku, anakku, seisi rumahku, sedikit banyak berubah selama beberapa waktu ini. Rumahku semakin bersih, karena aku di rumah dan lebih pay attention pada kebersihannya. Hagia tidak lagi ke daycare, karena aku dan utinya bisa antar jemput dia. Suamiku yang jadi lebih penyayang dan mindful. Dia pun lebih touchy ke aku, padahal dulu dia not into physical touch.

Basically, we are changing. Humans are changing. Baik ke arah positif atau negatif, manusia itu barubah-ubah.**

Dan perubahan itu wujudnya bermacam-macam. Ada perubahan secara fisik karena usia, perubahan sikap karena sebuah kondisi, perubahan cara pandang setelah mengalami kecewa, atau sekadar perubahan kecil sehari-hari seperti mood, rencana, ucapan, dan lainnya.

Di dalam Firman Tuhan, manusia digambarkan seperti rumput oleh Nabi Yesaya.

“Ada suara yang berkata: ”Berserulah!” Jawabku: ”Apakah yang harus kuserukan?” ”Seluruh umat manusia adalah seperti rumput dan semua semaraknya seperti bunga di padang. Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, apabila Tuhan menghembusnya dengan nafas-Nya. Sesungguhnyalah bangsa itu seperti rumput.” — Yesaya‬ ‭40‬:‭6‬-‭7‬ ‭TB‬‬

Hal ini bikin aku mikir, rumput.. we are like.. grass.

Di belakang rumahku ada rerumputan yang tumbuh. Ada orang yang secara khusus ditugaskan Mamahku untuk taking care of the grass. Tapi kalo aku merenungi dan berpikir lagi, rumput itu hanya tumbuh di waktu tertentu, di musim hujan utamanya. Kalo di musim panas seperti sekarang, rumput itu mengering.

Precisely just like what Isaiah said about… grass.

Sebagaimana rumput itu tumbuh dengan cepat saat musim penghujan, ia juga cepat mengering di musim panas.

Rumput terlihat “bagus”, ketika tumbuh bersamaan di padang luas. Suatu kali aku pernah pergi Candi Ratuboko bareng sama suamiku (dulu masih pacar). Candi itu dikelilingi rumput yang bagus sekali dan indah, melengkapi estetika candinya. Tapi aku membayangkan, bagaimana jika rumput itu diinjak oleh orang-orang dalam rombongan besar? Masihkah tetap indah?

Ternyata, selain dipengaruhi musim, rumput itu juga dipengaruhi kondisi dan keadaan. How fragile it is.

Rumput mudah kering, terinjak, dan tercabut. Indah jika bertumbuh bersama, semarak dan cantik, tetapi nyatanya itu tidaklah selamanya.

Dalam perenunganku di masa sabatku, aku teringat betapa cemerlangnya hidupku beberapa tahun ke belakang.

Aku teringat betapa Alfanisa waktu SD adalah anak berprestasi yang ketika teman-teman memandangnya langsung minder. Dari kelas 1–6 SD tidak pernah sekalipun tidak dapat ranking.

Tapi, seperti layaknya anak SD pada umumnya yang merasa diri paling pintar, hal itu cuma bertahan yaah sampai tingkat SMP.

Alfanisa waktu kuliah adalah mahasiswa yang sudah bertobat, tetapi tidak berani keluar dari bubble-nya. Ia tidak punya banyak teman. Mungkin teman-teman seangkatannya pun lupa kalo ada teman mereka namanya Alfanisa.

Berlanjut di masa sekarang, Alfanisa adalah seorang istri dan ibu yang beruntung. Tidak menjalani sebuah peran karir yang mungkin orang-orang bayangkan waktu SD. Tinggal di kota Solo, menikmati waktu, sambil terus belajar hal baru.

Sambil aku me-recall perjalanan hidupku, aku menyadari betapa tidak konstannya hidupku sebagai manusia. Pernah menjadi yang teratas, pernah mengalami kebingungan, pernah merasa bangga dan dibanggakan dengan pencapaian, dan saat ini pernah merasa ingin hilang saja dari dunia.

Ternyata aku adalah manusia, manusia seperti rumput, semua semaraknya seperti bunga di padang, yang mudah kering ketika musim panas tiba.

Menyadari betapa rumput-nya diriku memberikanku pengharapan tentang pencarian pribadi yang kokoh, kuat, dan tidak berubah.

Aku tau, Dia, Yesus, Allah, adalah Pribadi yang tetap dan tidak pernah berubah. Tetapi, somehow I took myself a break to learn and grasp on how steady He is. Seberapa tidak tergoncangkah Yesus itu?

“Semuanya itu akan binasa, tetapi Engkau tetap ada, dan semuanya itu akan menjadi usang seperti pakaian, seperti jubah Engkau akan mengubah mereka, dan mereka berubah; tetapi Engkau tetap sama, dan tahun-tahun-Mu tidak berkesudahan.” — Mazmur‬ ‭102‬:‭27‬-‭28‬ ‭TB‬‬

Di Alkitab ada banyak sekali cerita tentang kesetiaan dan kasih-Nya yang tidak berubah. Sampai-sampai aku bergumul cukup lama untuk menentukan mana cerita yang Roh Kudus mau untuk aku bagikan.

Tapi kemudian aku terhenti di depan tulisanku, sambil menahan air mata, merenungi how constant and steady God’s Love is.

Supaya ada gambaran tentang kasih Tuhan, mari kita imagine living like Jesus for a while.

Dari awal Ia lahir ke dunia, bertumbuh dewasa, Ia mulai memuridkan 12 murid, Ia membuat mujizat, Ia berkotbah dan mengajar, He knows where His ministry was heading: the cross.

Yesus tau benar bahwa panggilan Dia adalah untuk bearing the cross, for making Himself a living sacrifice, out of His love. Dia bisa aja buat pilihan dan cara lain agar terhindar, well He is the God anyway, tetapi Dia tetap memilih salib.

Di Yohanes 13 ada sebuah ayat yang bagus sekali,

“Sementara itu sebelum hari raya Paskah mulai, Yesus telah tahu, bahwa saat-Nya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa. Sama seperti Ia senantiasa mengasihi murid-murid-Nya demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya.” — Yohanes‬ ‭13‬:‭1‬ ‭TB‬‬

Ayat ini menjadi cue kisah penyaliban Yesus. Ia tau bahwa ini waktu-Nya diserahkan kepada bapa. Di satu sisi, Dia menyelesaikan mandat dan panggilan-Nya bagi dunia. Di sisi lain, Dia menghadapi sesuatu yang painful dan unfair setelah pelayanan dan mujizat luar biasa yang Dia lakukan.

Tetapi terlepas dari hal-hal buruk dan jahat yang Ia tau akan dihadapi dan dialaminya “…Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya.”.

Yesus tidak taat semata karena kewajiban atau komitmen kepada Bapa. Ia tidak tetap tinggal karena tidak punya pilihan lain. Di balik setiap langkah-Nya, ada kasih yang konstan; kasih ini yang membuat-Nya terus memilih berjalan ke Kalvari, bahkan ketika pilihan itu terasa menyakitkan.

Dia melakukannya karena kasih-Nya tidak berubah, dulu, sekarang, dan selamanya. Sebab, Ia sendirilah Kasih itu, dan Ia tidak mengingkari diri-Nya sendiri.

Dia taat pada tugas awalnya datang ke dunia. Dia setia bertahan sampai akhir. Dia tidak berubah dan mengubah janji-Nya akan penebusan dosa manusia yang sudah Dia sampaikan sejak dari perjanjian lama. Dia tidak sekalipun melenceng dari mandat yang Bapa tetapkan. Dia secara sukarela menjadi tawanan dan korban atas dosa manusia.

Kasih Yesus tidak dibenturkan pada hal yang mudah untuk dikasihi. Yohanes 13 bicara tentang pengkhianatan Yudas Iskariot. Di perikop terakhirnya, diungkapkan intensi Petrus, yang seorang murid paling dekat dengan Yesus, untuk menghindari-Nya. It’s not only the physical torture that God had to endure, but more of emotional scar left in His heart.

Kasih Yesus diperhadapkan dengan perubahan sikap dan karakter manusia, kondisi yang tidak adil, serta tidak adanya jaminan untuk dikasihi balik. Tetapi, kasih-Nya tetap konstan. Ia tidak berubah. Ia tidak ingkar janji. Ia tidak mengutuki. God embraces every scars and sins with His love.

Aduh, jadi mau nangis….

Berada di kondisi dan musim ini sangatlah berat bagiku. Aku harus bergumul dengan dosa, kesalahan, kelemahan, dan prinsip hidup yang luput. Belum lagi ketika hati kecil ini diperhadapkan dengan konsekuensi bagi diri sendiri dan orang lain tanggung atas segala salahku.

Bergelut dengan diri sendiri jauh lebih mudah. Tapi jadi sulit ketika pukulan itu juga mengenai orang-orang sekelilingku. Mereka ikut terluka, berdarah, dan berjuang.

Pilihan paling coward yang bisa kuambil adalah dengan bertahan dalam rasa bersalah. Menghukum diri dengan penyesalan yang berlarut-larut. Berusaha keras kepala agar terhindar dari segala tuduhan yang sebetulnya cuma direka-rekakan pikiranku sendiri.

Tetapi saat aku terus mengurung diri dan tenggelam dalam pikiranku, aku merasakan dalam hatiku seperti ada Tangan yang meraihku.

Mungkin itu yang ditulis Mazmur 37 “…apabila ia jatuh, tak sampai tergeletak, sebab Tuhan menopang tangannya.”.

Dalam kelemahanku yang terdalam, situasi hati yang berubah, musim yang berganti, serta kekuatan yang rapuh, ternyata masih ada kasih Tuhan yang tidak berubah. Ia merengkuhku bahkan dalam keberdosaanku dan ketidakmampuanku untuk mengampuni diriku sendiri.

Aku, yang seperti rumput, pernah berada dalam kondisi yang kecukupan, punya banyak teman, prestasi yang segudang, hingga ada di titik paling hina di hidupku, kehilangan banyak orang, mengecewakan, dan tidak ada pencapaian duniawi yang berarti.

Tetapi, terlepas dari kondisi atau musim apapun yang sedang aku alami, kasih Allah itu konstan. Ia merangkulku di segala kondisi hidupku. Saat kemenangan maupun di kekalahan. Saat ada di gunung maupun di lembah.

Aku, manusia yang berubah, tetapi Allah dan kasih-Nya tidak pernah setitikpun berubah. Sama sekali.

Di titik ini aku memiliki harapan. Harapan yang timbul dari kasih Allah ini memberiku semangat untuk berubah dan senantiasa tinggal di dalam kasih-Nya. Sekalipun hari-hari kulalui dengan sangat berat dan sesak, tetapi aku berdoa agar hati dan hidupku tidak sampai menyentuh tanah.

Pada akhirnya, bukankah sebaiknya manusia yang berubah-ubah ini punya pegangan yang pasti? Mampukah ia berjalan dalam hati, situasi, dan musim yang terus berganti?

Jawabannya; tidak mampu. Pada dasarnya kita diciptakan untuk bertumpu dan berpegang pada sesuatu. Hanya saja, siapa dan pegangan kita, itulah yang menjadi seberapa tetap kita akan terus berjalan.

Adapun manusia, hari-harinya seperti rumput, seperti bunga di padang demikianlah ia berbunga; apabila angin melintasinya, maka tidak ada lagi ia, dan tempatnya tidak mengenalnya lagi. Tetapi kasih setia TUHAN dari selama-lamanya sampai selama-lamanya atas orang-orang yang takut akan Dia…” — Mazmur 103:15–17

Ayat terakhir yang aku tuliskan ini menjadi pengharapan sekaligus jaminan aku berjalan di tengah kerapuhan dan kelemahanku. Kasih-Nya nyata menghapus dosa-dosa dan rasa maluku. Kasih-Nya menguatkan aku dalam setiap proses dan kelelahan hati yang menggerogoti.

Aku berdoa, kiranya kasih dan perkenanan Tuhan senantiasa memampukan aku bertahan… bahkan berjalan. Kembali. Menuju ke arah yang seturut mau-Nya.


메타데이터
post_id
eea563c3eef3
slug
manusia-berubah-tetapi-tidak-dengan-kasih-allah-eea563c3eef3
url
https://medium.com/@ewindaalfanisa/manusia-berubah-tetapi-tidak-dengan-kasih-allah-eea563c3eef3
canonical_url
https://medium.com/@ewindaalfanisa/manusia-berubah-tetapi-tidak-dengan-kasih-allah-eea563c3eef3
author_url
https://medium.com/@ewindaalfanisa
status
ok
fetched_at
2026-06-09 15:37:30