← Back to list

Adagio: “Sabda Pandita Ratu.”

Rahmi · 2026-01-25 05:09 · 0 claps · 3.5 min read
#adagio #adagioseries #bahasa-indonesia #cerita-pendek #rahmi
Open on Medium ↗

Adagio: “Sabda Pandita Ratu.”

Apa janji yang kamu ucapkan, kamu tepati? Seberapa banyak janji yang sudah kamu ingkari? Menurutmu, siapa yang seharusnya membatalkan janji, pembuatnya atau penyetuju?

Ada satu kalimat Jawa yang dari dulu bikin aku mikir lama: Sabda Pandita Ratu.

Satu

Aku pernah berada di fase hidup yang, kalau malam datang, kepalaku berubah jadi bioskop.

Aku susah tidur. Bukan karena kopi semata, tapi karena pikiranku punya kebiasaan buruk: berlari ketika tubuh minta berhenti.

Aku teringat satu puisi Chairil Anwar yang, entah kenapa, sering muncul di kepala ketika hidup terasa bising.

Aku tak bisa tidur Orang ngomong, anjing nggonggong Dunia jauh mengabur Kelam mendinding batu Dihantam suara bertalu-talu Di sebelahnya api dan abu

Aku hendak berbicara Suaraku hilang, tenaga terbang Sudah! Tidak jadi apa-apa Ini dunia enggan disapa, ambil perduli

Keras membeku air kali Dan hidup bukan hidup lagi

Kau ulangi yang dulu kembali

Sambil bertutup telinga, berpicing mata Menunggu reda yang mesti tiba

Pada semester ganjil dan genap waktu itu, jadwalku penuh. Ada acara perhimpunan pelajar, komunitas Jepang, Ibaraki International Ambassador, sampai forum profesional yang kelasnya kakap. Aku bersyukur, di sela-sela jam tidur di lab, aku masih bisa menulis. Menulis adalah cara paling sopan untuk menertibkan diriku sendiri.

Aku memilih sibuk. Karena kalau aku tidak sibuk, khayalanku bisa pergi terlalu jauh dan tidak selalu pulang membawa kabar baik.

Orang bilang tulisanku galau. Mungkin. Tapi jujur, aku cuma menyalurkan kebiasaan lama: menyimpan rasa dalam kata-kata. Penikmat puisi klasik. Pendengar setia musik indie yang jarang orang kenal. Anak perpustakaan, Ilmu Perpustakaan, Informasi, dan Media, yang kadang masih dipandang sebelah mata.

Lalu aku belajar satu hal yang sederhana tapi berat: bersabar dan berkomitmen itu dua saudara kandung.

Berani berkomitmen berarti siap menanggung konsekuensinya. Berani berkomitmen berarti berani mengeksekusi jadwal yang kamu buat sendiri. Dan lucunya, ketika semua terpenuhi, tetap saja akan ada yang memuji dan ada yang menghina. Dua sisi koin yang tidak pernah mau berpisah.

Aku gagal.

Aku gagal berhenti minum kopi. Aku gagal menahan emosi saat orang marah dan seharusnya aku diam saja. Aku gagal “bodo amat” ketika dinilai orang, padahal hidup harusnya bisa dinikmati tanpa meminta izin siapa pun.

Minggu itu aku banyak mundur. Aku mundur supaya damai. Aku mundur supaya semua orang merasa aman. Aku mundur sampai kadang lupa: mundur tidak selalu berarti bijak. Kadang cuma berarti aku capek berdebat.

Tapi ada hal yang selalu membuatku hangat: aku, entah bagaimana, selalu bisa mengenali orang-orang yang hatinya bersih.

Mereka tidak ramai. Tidak butuh notifikasi. Tidak sibuk membuktikan diri. Mereka memberi tanpa menagih. Mereka memegang waktu, memegang kata, dan memegang tindakan dengan ukuran yang sama.

Orang baik.

Dan aku selalu percaya, kehadiran orang baik itu punya wangi sendiri.

Dua

Oh iya. Tentang Sabda Pandita Ratu.

“Sabda” itu ucapan. Dalam tradisi Jawa ada ungkapan yang kurang lebih begini: sekali diucapkan, tidak untuk dibolak-balik. Ucapan seorang pemimpin, seorang pandita, seorang yang dipercaya, seharusnya bawa laksana. Kata dan laku berjalan beriringan.

Tapi buatku, ini bukan cuma nasihat untuk raja.

Ini juga teguran untuk kita semua: sebelum bicara, timbang dulu. Karena kata-kata itu bukan sekadar suara. Kata-kata itu jejak. Dan jejak bisa jadi jalan pulang, atau bisa jadi luka.

Aku suka membayangkan betapa beratnya memegang ucapan, dari kisah-kisah wayang yang pernah aku dengar.

Ada Dasarata, yang terjebak oleh janji masa lalu, lalu harus memilih: melukai hati sendiri demi menjaga kata-katanya tetap utuh. Ada Sentanu, yang terikat oleh syarat, dan memilih diam dalam sesuatu yang mengiris. Ada Karna, yang bertahan pada kesetiaan yang mahal, meski ia paham kebenaran tidak sedang berdiri di sisi yang ia bela.

Gambar 1. Sabda Pandita Ratu

Gambar 1. Sabda Pandita Ratu

Mereka seperti satu pesan yang sama, diulang dengan baju cerita yang berbeda.

Kalau kamu memilih mengucapkan janji, kamu sedang memilih beban. Dan beban itu harus kamu bawa sendiri, tanpa menyalahkan siapa pun.

Di titik ini aku selalu ingat satu hadits yang sederhana tapi tegas:

Actions are according to intentions, and everyone will get what was intended. Bukhari

Niat menuntun tindakan. Tapi yang orang lihat, tetap tindakan.

Tiga

Jadi, kepercayaan itu sering kali bisa diukur dengan cara yang paling membosankan: konsistensi.

Apakah langkahmu sejalan dengan katamu? Apakah “aku akan” milikmu benar-benar sampai menjadi “aku sudah”?

Aku bukan malaikat. Bukan juga iblis. Aku cuma manusia, yang kadang paradoks, kadang enigma, kadang ingin benar tapi juga ingin dimengerti.

Tapi untuk satu hal ini, aku selalu berusaha: kalau aku mengucapkan janji, sebisa mungkin aku tepati.

Kalau kamu ngeh, di setiap bagian Satu, Dua, dan Tiga ini aku selalu menaruh semacam pengingat kecil. Ini “pinky promise” versiku. Jayus? Iya. Tapi niatnya serius.

“Akan aku bawa kamu ke tempat ini lagi.” Kutepati. “Kita ketemu ya di final nanti.” Sudah kutepati. “Sampai ketemu di Jerman.” Aku sambil elus-elus miniatur Brandenburger Tor di kamar. Alhamdulillah, kutepati.

Lalu ada janji-janji yang lebih sunyi: janji untuk tidak mudah terpancing, janji untuk tidak menagih balasan, janji untuk mengikhlaskan hal-hal yang tidak bisa aku kendalikan.

Aku ingat satu kalimat yang pernah kubaca. Banyak teori yang membahas kapasitas otak, tapi jarang yang membahas kapasitas hati. Seberapa banyak dan seberapa dalam emosi sanggup ditanggung hati, sampai kita meledak, atau menyerah.

“Jangan suka atau jangan benci,” kataku pada diri sendiri. Semoga kutepati.

Atau, akan diingkari terlebih dahulu. Olehmu.

Tsukuba, 22 Februari 2017


메타데이터
post_id
eecfd34a0fef
slug
adagio-sabda-pandita-ratu-eecfd34a0fef
url
https://medium.com/@rahmi.ami/adagio-sabda-pandita-ratu-eecfd34a0fef
canonical_url
https://medium.com/@rahmi.ami/adagio-sabda-pandita-ratu-eecfd34a0fef
author_url
https://medium.com/@rahmi.ami
status
ok
fetched_at
2026-07-13 06:23:13