Inspirasi dan Kemerdekaan (Episode 1 dari 7)
Saya membiarkan laman Medium ini kosong. Kalau laman Medium ini ibarat kotak pos, pastilah isinya bukan cuma surat yang tidak dibuka dan…
Inspirasi dan Kemerdekaan (Episode 1 dari 7)
Saya membiarkan laman Medium ini kosong. Kalau laman Medium ini ibarat kotak pos, pastilah isinya bukan cuma surat yang tidak dibuka dan menguning, tapi juga ada sarang laba-laba dan debu.
Saya kira, enggak ada saat yang tepat dalam mengisi Medium kecuali saat ini. Kemarin sudah lewat. Besok belum datang. Saat ini masih berjalan. Selagi dunia masih berjalan, di saat itulah waktu yang tepat untuk mengisi Medium.
Apa yang saya tulis diatas barangkali bisa menjadi ngeles terbaik tahun ini. Ia lengkap dengan metafora ala-ala yang membuat penulis terlihat cerdas, seolah baru membaca teks filsafat mengenai waktu.
Padahal, alasan kenapa saya menulis sederhana bin simpel: ada teman yang menulis dan tulisannya bagus dan saya juga pengen nulis kayak dia.
Dikala saya duduk di sebuah cafe, lengkap dengan kawan-kawan yang menemani, ada keadaan dimana kami semua diam dan tidak tahu mau ngapain.
Sebagai orang yang pikirannya gak bisa diem (ya, saya mulai mikir kalau otak saya kayak bocil lima tahun yang senang lari kesana kemari), ada hal yang harus dilakukan supaya pikiran tersampaikan. Kegiatan tulis menulis saya yakini sebagai upaya terbaik untuk menyampaikan pikiran. Jadi, ya, saya menulis sesuatu. Sesuatu yang nyaris tidak mungkin terjadi.
Kata “nyaris tidak mungkin terjadi” layak diberikan kepada semua tulisan yang masih bersembunyi di dalam file Google docs. Sepanjang pengalaman menulis saat ini, saya meyakini tulisan terbaik adalah tulisan yang sudah disiapkan sejak lama: memiliki tema, struktur, bentuk, dan gaya yang sudah ditetapkan.
Maka dari itu, saya menulis sesuatu dengan persiapan-persiapan itu (yang nyatanya lebih berkutat pada tema dan struktur). Setelah kelar, saya endapkan, alias saya sembunyikan di file pribadi untuk disunting nanti.
Tapi, memulai masa penyuntingan adalah masa yang memalukan, setidaknya buat saya sendiri. Perasaan malu itu yang menahan diri ini untuk menyunting. Sialnya, itu yang membuat tulisan saya tak kunjung dikirim atau di-posting di Medium ini.
Tulisan itu akan menemukan bentuk terbaiknya ketika sudah disunting. Tulisan saya nyaris tidak disentuh untuk disunting. Mereka hampir jadi, tapi belum menyentuh “jadi” yang diinginkan. Itulah alasan mengapa tulisan saya nyaris tidak mungkin terjadi. Karena yang nyaris terjadi itu tidak pernah benar-benar “jadi”.
Hasilnya adalah bulan-bulan (bahkan mungkin tahunan) tanpa ada tulisan apa-apa disini.
Tapi itu berubah saat saya sedang gak tahu mau ngapain. Biasanya saya akan membaca, atau minimal membuka halaman, sebuah buku. Dan beberapa menit sebelum tulisan ini dimulai, saya menemukan tulisan dari kawan satu SMA.
Ada tulisan dari Muhammad Akmal Fauzan yang menarik perhatian. Ia membahas dr. Tirta dengan bahasa yang begitu menghibur tanpa meninggalkan sifat informatif sebuah tulisan.
Ia menulis sub-bab tulisannya dengan jokes khas dr. Tirta: wluwluwluwluwluwlu. Ia juga meminta agar Liverpool, klub bola yang dibanggakan oleh dr. Tirta, agar tidak menang supaya bisa melihat dokter itu marah-marah. Bagi si penulis, lucu bisa melihat dokter itu dalam emosi yang tinggi kortisol.
Seketika, ada rasa yang tumbuh di dada, dan kemudian membatin, “Saya juga pengen nulis kayak gini.” Singkat cerita, hanya dengan handphone, saya mulai mengetikkan apa yang terlintas di kepala. Hasilnya adalah empat paragraf pertama di atas.
Perasaan “pengen nulis kayak gini” terlintas bukan hanya karena kehebatannya yang sudah disebutkan sebelumnya, melainkan karena caranya memecah jarak antara dirinya dan pembaca. Ia menerapkan apa yang diajarkan secara klise di kelas-kelas menulis: menulislah seperti kamu sedang bicara dengan orang lain.
Ketika menjalani kehidupan sebagai seorang mahasiswa, menulis seperti itu sulit sekali rasanya untuk diterapkan. Proses untuk mengkomunikasikan sebuah pesan seringkali tertutup oleh bahasa-bahasa teknis yang diperlukan untuk menjelaskan sesuatu. Walhasil, apa yang ditulis memang hanya disajikan pada orang-orang tertentu saja. Sederhananya, saya menulis dengan kaku dan memang tertuju pada orang-orang yang memang sudah memiliki pengetahuan di atas orang umum.
Apa yang Akmal tulis, bikin saya mikir kalo nulis itu gak harus kaku kayak paper atau makalah yang saya buat. Dia bisa membicarakan hal serius, namun dijelaskan dengan bahasa yang sederhana, bahkan dikasih humor. Buat sebagai orang yang terjebak dalam penulisan yang kaku dan yang merasa perlu persiapan ini dan itu sebelum memulai menulis, ini jelas memerdekakan.
Sebaik-baiknya kemerdekaan adalah kemerdekaan yang dipertahankan. Cara saya mempertahankan kemerdekaan itu adalah dengan menulis setiap hari sepanjang seminggu. Yang saya harapkan adalah kemampuan menulis meningkat, tidak hanya terpatok pada gaya penulisan kaku, namun mengarah pada penulisan yang sifatnya lebih bebas. Seperti catatan pengalaman atau refleksi pribadi penulis akan sesuatu.
Salah kalau pembaca yang ganteng dan cantik berharap tulisan ini akan menjadi seperti Catatan Pinggir ala Goenawan Mohamad. Akan lebih tepat kalau melihat tulisan selama beberapa hari kedepan ini sebagai tulisan pelajaran dari pengalaman atau pengetahuan yang ingin dibagikan namun dalam bahasa yang (mudah-mudahan) sederhana untuk dipahami.
Apakah nantinya tulisan-tulisan itu akan memiliki bahasa yang tetap gampang dipahami sekalipun menyampaikan hal-hal, yang bisa saja, rumit. Ya, kita lihat nanti.
Sampai jumpa di tulisan berikutnya!
(Ini merupakan tulisan pertama dari tujuh tulisan yang akan dirilis setiap hari sampai dengan Rabu, 3/6/2026)
메타데이터
- post_id
- eeea78ec8289
- slug
- inspirasi-dan-kemerdekaan-episode-1-dari-7-eeea78ec8289
- url
- https://medium.com/@nabeelfayyaz/inspirasi-dan-kemerdekaan-episode-1-dari-7-eeea78ec8289
- canonical_url
- https://medium.com/@nabeelfayyaz/inspirasi-dan-kemerdekaan-episode-1-dari-7-eeea78ec8289
- author_url
- https://medium.com/@nabeelfayyaz
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-08 06:39:37