Ketika Mark Carney (PM Kanada) bicara di WEF-Davos, Saya Bertanya (dalam hati): Indonesia, Kita Ini…
Hari ini saya duduk di depan layar monitor di apartemen saya di tengah kota Jenewa, hari ini jadwal saya melakukan teleworking, dan salah…
Ketika Mark Carney (PM Kanada) bicara di WEF-Davos, Saya Bertanya (dalam hati): Indonesia, Kita Ini Mau Jadi Bangsa Besar atau Penonton?
Hari ini saya duduk di depan layar monitor di apartemen saya di tengah kota Jenewa, hari ini jadwal saya melakukan teleworking, dan salah satu pekerjaan saya adalah mengenai isu-isu dunia, jadi saya sempatkan pagi ini menonton pidato Mark Carney, Perdana Menteri Kanada, dari acara World Economic Forum di Davos-Swiss, 2026.
Di luar, hujan dan (sedikit) salju berguguran di pagi hari, tidak ada badai hari ini, cukup tenang dan mendung; tapi di dalam kepala saya, justru ada badai!. Badai pertanyaan tentang rumah saya sendiri yang sangat saya cintai: Indonesia.
Mark Carney berdiri dengan tenang, bicara tentang dunia yang pecah, dunia yang masuk fase rupture — bukan lagi perubahan kecil yang bisa kita abaikan, tetapi keretakan yang mengubah arah sejarah. Davos 2026: Special address by Mark Carney, PM of Canada | World Economic Forum
Dan entah kenapa, setiap kata yang ia ucapkan justru mengarah ke keresahan saya sebagai warga negara Indonesia.
Rupture: Ketika Dunia Retak, Indonesia Masih Sibuk Menambal dengan Plester
Mark Carney berkata bahwa tatanan dunia berbasis aturan sudah rapuh, terkikis oleh tekanan kekuatan besar yang semakin berani menggunakan ekonomi sebagai senjata. Negara-negara menengah (seperti Indonesia, walaupun hati saya berteriak, Indonesia adalah negara besar!!) tidak boleh hidup dalam ilusi, katanya. Ada kata-kata Mark Carney yang cukup dalam dan begitu mengena dalam hati saya, tidak boleh living within a lie — tidak boleh berpura-pura bahwa sistem masih baik-baik saja padahal kita semua tahu itu tidak benar.
Mendengarnya, saya langsung terpikir: Bukankah kita juga kadang hidup begitu? Kita tahu dunia berubah. Kita tahu Indonesia berada di tengah pusaran geopolitik yang makin gila. Kita tahu ketergantungan ekonomi membuat kita rentan. Tapi kita tetap berjalan seolah semuanya berlangsung normal dan “aman”.
Di Davos, Mike Carney mengajak negara-negara seperti Kanada untuk jujur melihat dunia. Saya berharap ada pemimpin Indonesia yang duduk di ruangan itu dan merasa tersentil.
Middle Power: Indonesia Punya Ukuran, Tapi Apakah Punya Keberanian?
Mark Carney bicara panjang tentang middle powers — negara yang tidak mendominasi, tapi punya cukup bobot untuk menentukan arah dunia bila mau bekerja sama.
Indonesia jelas termasuk di dalamnya (menurut keyakinan saya).
Populasi yang besar. Ekonomi yang “besar”. Sumber daya strategis yang berlimpah. Posisi geopolitik super penting.
Tapi sering kali, kita tampil seperti negara yang canggung, tidak hanya di panggung dunia, tapi juga di mata masyarakatnya:
- ingin netral, tapi ragu menentukan nilai,
- ingin memimpin kawasan, tapi takut menanggung risiko,
- ingin dihormati, tapi tidak menunjukkan arah yang tegas.
Mark Carney benar: kepatuhan demi keamanan adalah ilusi. Dunia tidak lagi memberi ruang pada negara yang ingin “selamat sendiri.”
Kemandirian Strategis: Kata yang Indah, Tapi Apakah Kita Siap dengan Konsekuensinya?
Mark Carney menyebut bahwa negara-negara menengah harus membangun strategic autonomy — kemandirian dalam energi, pangan, mineral kritis, hingga teknologi.
Indonesia punya semua modal itu. Tinggal satu yang kurang: keberanian membangun strategi yang konsisten.
Sering saya merasa kita lebih senang bereaksi daripada merencanakan. Lebih suka melakukan pragmatic deal jangka pendek ketimbang mengimplementasikan visi jangka panjang. Dunia melihat kita sebagai negara besar, tapi kita sering memperlakukan diri sendiri seperti negara kecil yang selalu was-was.
Di Antara Kekhawatiran dan Harapan: Indonesia Seharusnya Bisa Memimpin
Saat Mark Carney bicara tentang koalisi middle powers, saya merasa ini panggilan langsung untuk Indonesia.
Indonesia bisa memimpin ASEAN dengan keberanian baru. Indonesia bisa menjadi jangkar stabilitas Indo-Pasifik. Indonesia bisa menegakkan nilai -nilai baik — bukan hanya sekedar kepentingan.
Tapi untuk itu, kita harus punya sesuatu yang sering terasa makin mahal di negeri sendiri: kepercayaan.
Indonesia Hanya Akan Dihormati Jika Stabil, Andal, dan Bersih dari Kepalsuan
Pidato Mark Carney seolah memaksa saya melihat bahwa bangsa besar bukan dinilai dari ukuran, tetapi dari karakter.
Kalau Indonesia ingin dihormati sebagai negara yang stable and reliable — kunci utama dalam dunia yang retak — maka fondasinya bukan slogan, bukan pencitraan, bukan gestur diplomatik sementara.
Fondasinya adalah:
- kebersihan dalam penyelenggaraan negara,
- kejujuran dalam melihat masalah dan mengambil keputusan,
- ketulusan dalam melayani rakyat,
- transparansi yang tidak setengah hati,
- dan kompetensi yang merata dari pusat sampai desa.
Hanya bangsa yang jujur terhadap dirinya sendiri yang bisa jujur terhadap dunia.
Dan hanya bangsa yang bersih, tulus, transparan, serta kompeten yang bisa benar-benar menjadi stabil dan andal — bukan hanya berharap disebut demikian.
Saya menutup layar setelah pidato itu berakhir, tetapi keresahan saya tetap tinggal: Indonesia sudah menjadi bangsa besar sejak lama. Yang belum: bertindak seperti bangsa besar.
메타데이터
- post_id
- eeec69b4df8a
- slug
- ketika-mark-carney-pm-kanada-bicara-di-wef-davos-saya-bertanya-dalam-hati-indonesia-kita-ini-eeec69b4df8a
- url
- https://medium.com/@indrajid.nurmukti/ketika-mark-carney-pm-kanada-bicara-di-wef-davos-saya-bertanya-dalam-hati-indonesia-kita-ini-eeec69b4df8a
- canonical_url
- https://medium.com/@indrajid.nurmukti/ketika-mark-carney-pm-kanada-bicara-di-wef-davos-saya-bertanya-dalam-hati-indonesia-kita-ini-eeec69b4df8a
- author_url
- https://medium.com/@indrajid.nurmukti
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-16 19:09:56