← Back to list

Residu.

Enam purnama berlalu, kita berdiri di tebing yang rengang, dua orbit dipaksa menjauh agar semesta tak berguncang. Tak ada jejak, tak ada…

Amerta. · 2025-12-04 10:37 · 0 claps · 0.6 min read
Open on Medium ↗

Residu.

Enam purnama berlalu, kita berdiri di tebing yang rengang, dua orbit dipaksa menjauh agar semesta tak berguncang. Tak ada jejak, tak ada suara, hanya ruang yang menegang, seperti baja ditempa paksa, menanti retak atau menang.

Aku membangun rumahku dengan disiplin yang ketat dan terang, menjadi dinding bagi mereka yang harus kulindungi dari hilang. Menjahit hari dengan tulang, mengunci kompas agar tak oleng dan goyang, menundukkan badai yang menguji seberapa keras dada harus menantang.

Namun kemarin kau datang lewat pintu mimpi yang jarang, dua kali mengetuk dalam tidur siang dan malam yang panjang. Kau mencuri sunyi seperti pencuri bayang, membakar sarafku dengan bara yang pura-pura padang.

Kita adalah pelanggaran yang disegel rapat dalam ruang terlarang, nama yang tak boleh ditulis, tak boleh disuarakan lantang. Namun setelah setengah tahun padam yang kuperang, bara kecilmu masih hidup, menolak senyap, menolak hilang.

Kenapa kau tetap menyala di sudut paling bimbang, padahal seluruh logika memerintah: padam, hilang, usang?


메타데이터
post_id
eefed20bb980
slug
residu-eefed20bb980
url
https://medium.com/@amerta./residu-eefed20bb980
canonical_url
https://medium.com/@amerta./residu-eefed20bb980
author_url
https://medium.com/@amerta.
status
ok
fetched_at
2026-07-14 17:31:54