← Back to list

Percakapan di Sebuah Rak (1): Huru-Hara Kencan

#25_Republish, Just a Reminder

Lilis Durrotun Nafisah · 2026-02-16 15:29 · 55 claps · 5.5 min read
#kitab #books #cerbung #santri
Open on Medium ↗

Percakapan di Sebuah Rak (1): Huru-Hara Kencan

25_Republish, Just a Reminder

sumber: pinterest

sumber: pinterest

Peringatan:

Tulisan ini dibuat hanya untuk bersenang-senang, tanpa bermaksud menyinggung pihak mana pun, kecuali diri saya sendiri.

Juga, tulisan ini di-publish ulang untuk mendesak agar Part 2-nya segera dikerjakan. Yah, hitung-hitung umpan, lah.

Dan, satu lagi, tulisan ini … buat yang tau-tau aja.

SIANG HARI yang panas dan sepi, terdengar sebuah gerutuan samar. Suara itu berasal dari arah rak di sebuah kamar asrama. Ternyata, Mas Ghayah kembali mengeluhkan nasibnya.

“Duh, Si Bos ini! Gimana, sih? Katanya mau nge-date sama gue, kok di-cancel mulu? Emangnya gue gak kesel nungguin, huh?!” sungutnya berapi-api.

“Idih, lo pikir cuma lo doang yang punya jadwal nge-date sama Si Bos? Gue juga ada kali. Sabar dikit, dong!” sahut Cak Fathmuin.

“Eh, bentar, bentar. Lo nuduh gue gak sabar?” Mas Ghayah menimpali, sedikit tersinggung. “Gue kan cuma ngeluh, kenapa nge-datenya di-cancel terus. Kok jadi lo yang sewot?”

“Udah, udah, gak usah berantem.” Bang Wahhab berusaha menengahi. “Si Bos emang belum kencan sama siapa-siapa sejak awal semester ini. Jadi, kita sama-sama nunggu giliran aja,” lanjutnya santai. Padahal, ia juga sedang merasa kecewa, sama kecewanya dengan mereka.

“Bener juga, sih.” Cak Fathmuin mengangguk-angguk, lantas bergumam, “Si Bos kok makin parah, ya, penyakit malesnya?”

Mas Ghayah turut membenarkan. “Padahal, tahun ini ada ujian kompre. Kalau jarang kencan, gimana bisa lulus ke jenjang KHS-an, coba?” Lagi-lagi, ia meluapkan kekesalannya. “Tahu sendiri, kan, naklukin gue itu susah banget. Iya, nggak, Guys?”

Nuzhah dan Thariq yang merasa ter-notice cepat-cepat mengangguk. “Iya, Tuan.” Meski keduanya berbadan besar, tetap saja nyali mereka ciut di hadapan Mas Ghayah. Bagaimanapun, mereka adalah bawahannya.

“Eh, Ghayah! Lo gak usah songong gitu, dong!” sela Cak Fathmuin tak terima. “Emangnya, cuma lo yang jadi materi ujian kompre?”

“Ya, nggak, sih. Lo juga. Tapi, kan, naklukin lo gak sesulit gue,” jawab Mas Ghayah enteng.

Cak Fathmuin mulai naik pitam. “Dapet dari mana kesimpulan kayak gitu, heh?”

“Ya, jelas, lah. Lihat aja, pengikut lo Bang Ianah doang. Yah, meski dia bisa membelah diri jadi empat, tetap aja, dia satu orang yang sama. Sementara gue, pendukung gue banyak. Ada si Nuzhah, si Thariq, bahkan Bang Wahhab pun ada di pihak gue. Bener, kan, Bang?”

Bang Wahhab hanya diam, sadar keadaan akan semakin memanas jika ia ikut menimpali. Mungkin, diam adalah pilihan terbaik. Sayang, Cak Fathmuin tidak memahami itu. Ia malah terpancing oleh kepongahan Mas Ghayah. “Aish, sombong banget lo! Justru itu artinya lo gak bisa mandiri. Hidup bergantung ke bantuan orang aja bangga.”

Sebelum Mas Ghayah sempat membalas, sebuah suara cempreng lebih dulu menyela. “Duh, berisik banget. Ganggu bobo cantik gue aja!”

Suara itu milik Mbak Alfi. Rupanya, keributan tadi berhasil membangunkan ia dari tidur panjangnya. Mas Ghayah dan Cak Fathmuin bersitatap, sedikit ngeri dengan sosok yang satu ini. Bagaimanapun, kekuatan dan posisinya tak bisa diremehkan. Di antara yang lain, ia gadis tercantik di rak ini. Setiap lekuk tubuhnya indah menawan. Legendaris, puitis, sekaligus sulit dirayu. Tak heran, kehadirannya sampai dijadikan tiket untuk ujian. Setidaknya, dalam lima semester berturut-turut.

Masih dengan raut kesal, ia bertanya, ”Ngapain, sih, ribut-ribut siang bolong begini?”

Kedua pihak yang adu mulut tadi hanya menunduk. Terlalu gugup. Sebab, diam-diam, mereka mengagumi Si Cantik yang satu ini.

Karena tak kunjung ada yang menjawab, Bang Wahhab pun terpaksa angkat suara. “Anu, Mbak Alfi. Mas Ghayah sama Cak Fathmuin lagi kesel gara-gara jadwal nge-date mereka di-cancel terus sama Si Bos.”

“Oh, gitu,” timpal Mbak Alfi sambil manggut-manggut. “Santai aja kali. Kan bagus, badan kalian gak bakal tambah lecet. Tahu sendiri ‘kan, konsekuensi ‘kencan’ itu gimana? Bisa-bisa kalian ringsek diajak tidur sama Si Bos!”

“Tapi, masalahnya bukan soal itu, Mbak,” Mas Ghayah memberanikan diri untuk menyela. “Kita kasihan sama Si Bos. Gimana kalau dia gak lulus di ujian kompre nanti?”

Mbak Alfi terdiam.

“Betul, tuh, Mbak,” dukung Cak Fathmuin. Kali ini, ia sependapat dengan Mas Ghayah. Padahal, dua menit lalu mereka hampir berkelahi. “Lagian, andai Si Bos beruntung pun bisa ‘lolos’ di ujian itu, tanggung jawab akademik yang harus ia pikul gak main-main. Lulusan Ma’had ‘Aly kan dituntut mampu jadi ‘kader’ ahli fikih zamanih. Kita cuma khawatir, kalau kencannya ditunda terus, Si Bos bisa-bisa kehabisan waktu,” paparnya panjang lebar.

“Dan alasan yang paling penting, kangen,” sambung Mas Ghayah. “Gue kangen masa-masa saat Si Bos mandangin gue lekat-lekat, berusaha memahami gue, menggoreskan catatan-catatannya di tubuh gue, dan-”

“Cukup!” potong Mbak Alfi. “Gak usah diterusin. Gue…” Ia berhenti sejenak, matanya mulai berkaca-kaca. “Jujur, gue juga rindu masa-masa itu,” cicitnya pelan, sendu.

“Seharusnya, kalian senang, masih punya jadwal nge-date. Si Bos punya alasan yang cukup kuat untuk gak mengabaikan kalian. Ujian kompre…” lanjutnya sambil terisak. “Sementara gue, terakhir kencan pun dua semester lalu. Setelah khataman yang sebenarnya cuma formalitas itu, gue gak pernah lagi diajak nge-date. Benar-benar menyedihkan, huhuhu…”

“Gak usah cengeng!” Sebuah suara bariton tiba-tiba muncul, menyela tangisan Mbak Alfi. “Kamu masih lebih beruntung daripada saya, Nak.”

Pak Rowai muncul, mendekat. Ini momen langka! Jarang-jarang Ketua Geng Ramadhan itu ikut nimbrung. “Saya ketemu Si Bos hanya setahun sekali, Bulan Ramadhan doang. Itu pun kalau si Bos gak males dan gak ngantuk.”

Isakan Mbak Alfi mulai mereda, “Serius, Pak Rowai?” Ia bertanya sambil mengusap sisa-sisa air matanya.

“Serius, Nak. Nasib teman-teman saya lebih parah lagi. Si Musykilah, Si Niqab, Si Qanun, dan entah siapa lagi, saya gak hafal nama-nama mereka saking banyaknya. Pertemuan mereka dengan Si Bos bisa jadi cuma sekali seumur hidup! Saya, sih, masih lumayan, diberi kesempatan tiga kali.”

“Nah, Mbak Alfi harus banyak bersyukur, tuh!” kata Bang Wahhab. “Lagipula, gue yakin, Mbak gak mungkin dilupain gitu aja. Kenangan indah bersama Mbak sangat berharga bagi Si Bos.”

Sekonyong-konyong, suara lain muncul. “Kadang, yang cukup sering bertemu pun tidak seberuntung yang dikira.”

Semua menoleh ke arah sumber suara. “Ang Mustashfa?”

Sosok yang baru saja nimbrung itu terkekeh. Seakan menikmati raut-raut keterkejutan mereka. Selama ini, ia memang sangat jarang bergabung dengan yang lain.

Tak bisa menahan rasa penasarannya, Mas Ghayah bertanya dengan sopan pada seniornya itu. “Kenapa Ang Mustashfa berpikiran begitu? Bukannya sampeyan punya jadwal khusus dengan Si Bos, ya? Apanya yang kurang?”

Lagi-lagi, Ang Mustashfa hanya terkekeh. “Apa menyenangkannya kalau cuma ditulisi, tanpa benar-benar dipahami? Atau paling tidak, dilengkapi? Padahal, fasilitator kami sudah taraf internasional. Tetap saja, si Bos acuh tak acuh,” ungkapnya, tak terduga.

“Setidaknya, Si Bos tidak memberimu harapan palsu!” pekik suara lain.

Kali ini, para hadirin benar-benar asing pada suara itu. Bahkan ketika sosok pemilik suara muncul, mereka masih tidak mengenalinya.

“Kau siapa?”

Sosok itu tersenyum getir. “Tempatku tersembunyi. Wajar kalian gak mengenaliku. Namaku Hikam. Kalian bisa memanggilku Aa, atau Mas, atau Cak, terserah. Yang jelas, aku lebih tua dari kalian. Aku berasal dari tempat yang jauh. Tempat pertama kali Si Bos mondok.”

“Ohhhh,” sahut hadirin, kompak.

“Lantas, kenapa kau bilang Si Bos pemberi harapan palsu?” tanya Cak Fathmuin penasaran.

“Aku, dan beberapa kawanku yang lain, dijemput jauh-jauh dari rumah Si Bos. Kami pikir, di sini kami dibutuhkan dan akan punya waktu bernostalgia dengannya.” Hikam berhenti sejenak, sebelum akhirnya bergumam pelan, “ternyata kita cuma di-PHP-in.”

“Owalah….” seru yang lain. Ternyata, ada yang lebih buruk daripada dicuekin, yaitu di-PHP-in, simpul mereka, dalam hati masing-masing.

Hikam mulai terisak. “Kalau tahu akan begini, lebih baik aku tetap tinggal di rumah bersama yang lain. Jelas-jelas di sana kita memang dimonumenkan, bukan diberi harapan pertemuan.”

Mereka tidak sadar, dari tadi ada yang menyimak pembicaraan itu. Bang Wahhab lah yang mula-mula menyadari. “Eh, kau siapa?”

“I? You bertanya ke I?” tanya sosok itu. Ia mendekat. Penampilannya bikin silau. Ia sangat cantik. Kalau Mbak Alfi itu cantik polos seorang gadis, maka sosok yang satu ini memancarkan kecantikan wanita dewasa. Warna ungunya sangat memikat.

“Kenalin, nama saya Bu Durussa’adah. Panggil saja Bu Durus.”

“Apa kau pendatang baru?” tanya Bang Wahhab lagi.

Menyadari tatapan terpesona para hadirin, Bu Durus tersenyum manis. “Ah, tidak. I sudah agak lama di sini. Cuma jarang keluar aja.”

“Kebetulan, semester ini I punya banyak jadwal kencan sama Si Bos. Delapan kali seminggu, setidaknya sebelum Geng Fikih Nisa’ datang,” lanjutnya dengan bangga.

“Hah, delapan kali?!” seru hadirin tak percaya. Jadi, sekarang, Bu Durus ini primadonanya?

.

.

.

[Bersambung…]

Sukorejo, Mei 2025


메타데이터
post_id
eeff014e519a
slug
percakapan-di-sebuah-rak-1-huru-hara-kencan-eeff014e519a
url
https://medium.com/@lilisdurotunnafisah97/percakapan-di-sebuah-rak-1-huru-hara-kencan-eeff014e519a
canonical_url
https://medium.com/@lilisdurotunnafisah97/percakapan-di-sebuah-rak-1-huru-hara-kencan-eeff014e519a
author_url
https://medium.com/@lilisdurotunnafisah97
status
ok
fetched_at
2026-07-13 06:23:13