← Back to list

Mokondo Sampai Termangu-Mangu

Dalam dinamika sosial hari ini, terdapat dua istilah yang kian sering muncul dalam perbincangan soal cinta, mokondo dan termangu-mangu…

Dika Fajar · 2025-05-18 17:34 · 2 claps · 1.5 min read
#love #mokondo #mangu #budaya #sosial
Open on Medium ↗
Wiki topics: 💑 · Relationships

Mokondo Sampai Termangu-Mangu

Dalam dinamika sosial hari ini, terdapat dua istilah yang kian sering muncul dalam perbincangan soal cinta, mokondo dan termangu-mangu. Keduanya mencerminkan jenis hubungan yang kerap dipandang tak lazim, bahkan dipertanyakan, namun terus dijalani oleh banyak pasangan di tengah tekanan norma masyarakat.

Mokondo adalah istilah yang disematkan pada laki-laki yang menjalin hubungan tanpa kekuatan finansial. Dalam pandangan umum, hubungan dengan mokondo sering kali dikritik sebagai tidak rasional, dianggap sebagai beban, atau dicurigai sekadar menumpang hidup. Namun dari sudut pandang filsuf Friedrich Nietzsche, cinta adalah ekspresi dari kehendak untuk berkuasa maksudnya bukan kuasa atas pasangan, melainkan kekuatan untuk menumbuhkan diri bersama. Dalam konteks ini, keberadaan mokondo dapat dimaknai sebagai bagian dari relasi cinta yang memberi semangat hidup, bukan sekadar materi.

Sementara itu, Gary Becker yaitu seorang ekonom, menyebut cinta sebagai keputusan rasional yang melibatkan pengorbanan dan investasi untuk kebahagiaan bersama. Maka keberadaan mokondo, sejatinya dapat dimaknai sebagai bentuk cinta yang bertumbuh, bukan berdasarkan apa yang dimiliki, tapi pada komitmen untuk berbagi. Karl Polanyi menambahkan bahwa cinta tak dapat direduksi menjadi transaksi ekonomi. Artinya, cinta adalah hubungan sosial yang mengandung nilai moral dan emosi yang melampaui logika pasar.

Sedangkan termangu-mangu merujuk pada kondisi hubungan beda agama. Ia kerap menjadi dilema yaitu antara cinta dan keyakinan, antara rasa dan norma. Namun seperti yang disampaikan oleh Dalai Lama, cinta adalah kasih sayang universal yang melampaui batas agama dan budaya. Dalam cinta yang termangu-mangu, terdapat upaya memahami perbedaan, membangun toleransi, dan menghargai keyakinan satu sama lain, meski arah doa tak selalu sama. seperti lirik lagu dengan Fourtwenty dengan judul Mangu :

“Kau menggenggam ku menadahnya”

Fenomena mokondo dan termangu-mangu menunjukkan bahwa cinta terus berevolusi, dari yang semula dianggap harus mapan dan seiman, menjadi lebih kompleks dan manusiawi. Ia menantang batas-batas sosial, menggugat logika konvensional, dan menyodorkan pertanyaan yang lebih dalam tentang hakikat hubungan.

Namun pada akhirnya, dalam semua bentuk cinta ini, baik bersama mokondo maupun dalam termangu-mangu mungkin terselip pertanyaan :

Benarkah ini cinta yang sebenarnya ditakdirkan tuhan? Atau cinta yang ada sekadar mengisi ruang hampa kesong nan sunyi?

sekian.

Jakarta, 19 Mei 2025


메타데이터
post_id
ef02ad6a22cb
slug
mokondo-sampai-termangu-mangu-ef02ad6a22cb
url
https://medium.com/@fajarkharisma011/mokondo-sampai-termangu-mangu-ef02ad6a22cb
canonical_url
https://medium.com/@fajarkharisma011/mokondo-sampai-termangu-mangu-ef02ad6a22cb
author_url
https://medium.com/@fajarkharisma011
status
ok
fetched_at
2026-06-26 03:39:16