← Back to list

Made in Japan

cw// kissing, explicit sexual graphic content, mdni.

OCEANEYES · 2026-06-19 05:48 · 0 claps · 10.0 min read
#fanfiction #romance
Open on Medium ↗
Wiki topics: 💑 · Relationships ✍️ · Writing & Creative

Made in Japan

cr: pinterest

cr: pinterest

cw// kissing, explicit sexual graphic content, mdni.

Ayla kembali mematut penampilannya lewat pantulan layar ponselnya. Dengan ujung jari kelingking, ia mengusap perlahan sisa perona merah muda yang sedikit luber di sudut bibirnya. Setelah memastikan alamat tujuan yang tertera sesuai dengan arahan papanya, gadis itu segera melangkah mantap memasuki sebuah aula milik hotel kelas menengah tersebut.

Masih belum ia mengerti kepentingan apa yang dikejar papanya itu sehingga merasa perlu mengirimnya sebagai perwakilan dalam sebuah forum formal dimana banyak orang-orang berkompetensi bertandang. Namun begitu dirinya berada di tengah-tengah kerumunan yang ramai, Ayla seketika merasa telah salah kostum. Padahal ia perlu menghabiskan waktu dua jam demi memilih gaun pendek paling sopan yang dimilikinya untuk menghadiri acara tersebut. Alih-alih dipenuhi kesan glamour seperti yang ia bayangkan, acara itu justru kental dengan nuansa kesederhanaan.

Pada dinding aula terpatri deretan bingkai foto yang warnanya mulai memudar dilahap usia. Foto-foto itu merekam perjalanan perusahaan sejak masa-masa awal perintisannya, sebagaimana tunas kecil yang baru tumbuh hingga menjadi sekokoh pohon beringin yang akarnya merambat luas di seluruh permukaan tanah. Di antara beberapa foto lawas yang tampaknya diambil sekitar era 90-an, Ayla mampu menemukan wajah papanya berdiri di tengah barisan orang-orang yang sama sekali tidak ia kenali. Oh, beneran temenan rupanya, gumamnya pelan.

“Non?”

Ayla nyaris terperanjat ketika sehembus udara hangat membisikan namanya tepat di muka telinga.

“Kamu?!” kerutan halus menyembul samar di antara kedua alisnya begitu mendapati Jelang berdiri rapi di hadapannya dengan setelan kemeja putih dibalut jaket kulit hitam. “Ngapain kamu disini? Kamu tuh–kita obrolin itu nanti aja, gak perlu sampai nyamperin kesini segala, tau?!” tambahnya dengan mata melotot.

Jelang tampak berpikir sesaat, “Gue gak nyamperin lu, non… Gue emang–”

“Udah. Kamu tau gak ini tempat apa? Cuma undangan yang boleh masuk kesini, Jelang. Tolong jangan berulah… Nanti aku malu.” Ayla mengangkat tas tangannya setinggi wajah, berlagak seolah benda kecil itu mampu menyembunyikan eksistensinya disana.

“Nak Ayla?” sebuah suara lain kini menarik perhatian keduanya, suara lelaki paruh baya. Dengan tergesa Ayla membetulkan posisi berdirinya.

“Ayla anaknya Ardha? Betul?” tebak si pria paruh baya berperawakan tinggi semampai itu, garis wajahnya tegas meski telah dihiasi keriput usia.

Ayla mengangguk disertai senyum canggung, “Betul Om, selamat atas perayaan 30 tahun berdirinya perusahaan Om ya… Turut berbahagia.” tangannya terulur sopan, lalu disambut jabatan hangat dari pria yang diduga sebagai tuan rumah acara tersebut.

“Hahaha… Terimakasih ya sudah mau datang jauh-jauh. Dulu terakhir ketemu, kayaknya kamu masih se…” tangannya bergerak di samping kaki, meraba-raba udara seolah sedang mengukur sesuatu yang tak kasatmata, “Segini mungkin? Masih merangkak” ujarnya disusul tawa renyah.

Sembari tetap menanggapi obrolan yang sesungguhnya tak begitu ia pahami, Ayla terus melayangkan isyarat halus kepada Jelang agar segera menepi. Memintanya agar tidak terlalu ikut campur dengan urusan privasi antarkolega, yang justru tak juga digubris oleh si empunya badan.

Dialog terus mengalir mengisi waktu. Hingga kemudian apa yang dilontarkan pria paruh baya itu sukses mengutuk Ayla menjadi manusia batu selama beberapa detik.

“Jelang, tolong sambut tamu Ayah yang baru datang, langsung diarahkan aja untuk masuk.”

Sepanjang pengetahuan Ayla, satu-satunya orang yang memiliki nama Jelang sebagai identitasnya hanyalah lelaki menyebalkan dengan rambut kecokelatan yang sedang berdiri di sisinya itu. Saat ia masih belajar membaca situasi, meski terkesan gelagapan — lelaki itu tetap mengiyakan perintah ‘Ayah’-nya, lalu segera berlalu. Menyisakan tanda tanya besar yang mungkin sedang tertancap gagah di atas kepala Ayla. Ruangan sebesar dua belas bangunan dapur MBG itu mendadak terasa sesempit toilet SPBU.

Jadi… Sebentar, Ayah? Jelang dan pria itu, pengusaha yang itu, adalah keluarga? Mereka anak dan ayah? Kalau begitu, artinya Jelang bukan montir sungguhan di bengkel tua langganan Papanya?

Sisa waktu yang berjalan terasa seperti racun, perlahan merenggut kesadaran Ayla dan menyiksanya dari dalam. Maka ketika acara mulai beranjak ke penghujung, ia memilih angkat kaki lebih dulu. Tanpa banyak pertimbangan, ia memasuki sebuah taksi atau mungkin mobil jemputan milik perusahaan yang sudah terparkir di depan gedung. Lalu tanpa berlama-lama, benda hitam mengkilap itu malaju di antara gemerlap lampu Tokyo.

Dari sudut ruangan, Jelang tak ada liburnya mengawasi keberadaan Ayla yang tampak tersesat di tengah keramaian asing. Ia bisa menangkap ketidaknyamanan yang menguar jelas dari wajah polos perempuan itu. Namun, lebih dari segalanya, penampilan Ayla malam ini benar-benar menyita perhatiannya. Gaun pendek yang tetap tampak sopan, dipadukan dengan surai bergelombang yang dibiarkan terurai begitu saja, menjadi perpaduan mematikan yang melahirkan sebuah mahakarya.

Air muka Jelang mendadak gusar ketika menangkap pergerakan Ayla yang mulai menjauh dari hiruk pikuk pesta, lalu perlahan menghilang di balik tikungan. Dengan tergesa ia letakkan gelas koktail dalam genggamannya di atas meja. Setelah membisikkan sesuatu ke telinga Ayahnya, Jelang keluar aula dengan langkah lebar yang terkesan terburu-buru.

Namun begitu sampai di luar hotel, mobil yang Ayla tumpangi sudah lebih dulu beranjak meninggalkan halaman. Jelang menyisir rambutnya ke belakang dengan jemari, frustasi. Tanpa membuang waktu, ia langsung bertolak ke area basement untuk mengambil motornya dan mengejar taksi itu, berharap kesempatan itu belum benar-benar terlewatkan.

Tidak ada yang terbersit di kepala Ayla selain sesuatu yang lebih besar dari pikirannya. Maka ia memilih turun dari taksinya ketika mulai menyentuh area Odaiba. Begitu mobil kembali beranjak, ia segera menuntun langkahnya memasuki area kawasan rekreasi pantai di wilayah Teluk Tokyo itu.

Perlu disyukuri situasi malam ini tak seramai biasanya, ia bisa lebih leluasa menikmati semilir angin pantai musim semi yang membelai surainya lembut sambil menonton warna warni pantulan lampu kota yang terpancar di perairan. Dibenamkannya jemari kaki yang dibiarkan telanjang itu ke dalam hamparan pasir putih. Kapal-kapal berukuran medium dengan kerlap-kerlip lampu mengelilinginya silih berlalu lalang di kejauhan.

Tiba-tiba saja Ayla merasakan setitik air menyentuh lengannya. Kepalanya mendongak, lalu seperti dikomando serumpun hujan serentak menghujam bumi dengan buas. Ayla kelabakan, dikenakannya kembali sepatuh ber-hak tinggi itu ke kaki jenjangnya. Tergopoh-gopoh ia berusaha mencapai area pejalan kaki yang lebih datar permukaannya. Namun, serangan hujan yang datang tanpa peringatan, ditambah sepatu hak yang belum bersahabat dengan hamparan pasir, justru membuatnya tergelincir hingga membuat satu hak sepatunya patah.

Di antara kepanikannya, sebuah benda tiba-tiba terbentang di atas kepalanya, melindunginya dari tetesan hujan yang kian kasar. Sesaat kemudian, sebidang punggung ikut merendah di hadapannya. Tanpa merasa perlu memastikan siapa pemilik punggung itu, Ayla segera menjatuhkan tubuhnya ke atas punggung lelaki yang kini hanya berbalut kemeja putih. Sementara Ayla sibuk menahan jaket itu agar tidak tersingkap tertiup angin, lelaki itu menenteng sepasang sepatu patahnya dengan tangan yang lain.

Seulas senyum tertahan malu-malu timbul di wajah gadis itu.

Sudah lima belas menit mereka berteduh di bawah kanopi bangunan yang diduga adalah kantor manajemen taman laut Odaiba, menyender pada dindingnya yang dingin dan belum ada sepatah katapun yang lolos dari mulut keduanya. Tidak banyak wisatawan yang ikut melipir ke bagian Barat bangunan itu, hanya ada Ayla, Jelang dan dua pasang pasangan lanjut usia.

Ayla terus bersikukuh dengan diamnya, sementara Jelang enggan menggadaikan gengsinya untuk merayu lebih dulu seperti biasanya. Suara air menghujam paving block terdengar semakin keras seraya kebisuan kian mengental di antara mereka.

“Makasih.” lalu seuntai kata yang diucapkan lirih harus bertarung melawan derasnya suara hujan menyapa gendang telinga Jelang. Menggelitik.

Ia menoleh samar, memandangi puncak kepala Ayla yang tingginya hanya sedagunya lewat ekor matanya. Bibir perempuan itu tampak maju, kesal mungkin? Entahlah, terlalu rumit untuk sekadar menebak isi kepalanya, kamu perlu masuk dan menjelajahinya seumur hidup untuk mengerti seorang Ayla seutuhnya.

“Udah siap denger penjelasan gue belum?” tanya Jelang tanpa keraguan di dalamnya. Setelah membelah jalanan Tokyo jam delapan malam selama dua puluh menit untuk kemudian menemukan perempuan itu kesulitan di atas hak sepatunya sendiri, akhirnya Jelang memilih mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk menjelaskan banyak hal tentang dirinya.

Tentang siapa ia sebenarnya, tentang pekerjaan orang tuanya yang sudah digagas sejak tiga puluh tahun lalu di tanah matahari terbit itu. Tentang masa kecilnya yang banyak ia habiskan disana sebelum pindah ke Indonesia di usia yang cukup untuk mengenyam pendidikan sekolah dasar. Bahwa ia banyak menghabiskan waktu tumbuh kembangnya justru bersama kakak dan kakek-neneknya karena ayah ibu yang memilih menetap di Jepang untuk urusan bisnis. Lalu pembahasan yang lebih intim tentang hari dimana mereka bertemu.

“Gue sama sekali gak berniat nipu lu, non. Ngebohongin lu dengan pemalsuan identitas ‘kek, apa ‘kek. Enggak, non, sumpah. Gue cuma kehilangan momentum yang tepat aja buat menyampaikan ke lu, dan berakhir terlalu nyaman dengan hubungan kita yang begini.” tuturnya. Tatapannya tak beranjak sedikitpun dari Ayla yang tetap memilih diam menatap lurus ke arah hujan.

“Cara lu memperlakukan gue sebagai orang biasa, cara lu bicara sama gue seakan segala hal itu mudah, cara lu ngeliat gue dengan mata lu itu — semuanya bikin gue lebih nyaman dengan identitas gue sebagai montir yang lu kenal. Seakan-akan kalau gue jujur sama lu, semuanya bakal selesai. Lu bakal pergi. Atau justru, semakin dekat sama gue tapi untuk tujuan yang berbeda. Bukan lagi perasaan tulus yang manusiawi, tapi ambisi terhadap posisi dan gengsi.”

Perlahan Ayla mengangkat kepalanya, tatapannya langsung tertuju pada sepasang netra gelap Jelang.

“Bukan salah kamu. Sebaliknya, dari awal ini semua salah aku, kok, Jelang.” ujarnya lirih, “Dan aku pergi bukan karena aku benci lihat versi kamu yang sebenernya. Aku… malu. Rasanya kaya ditelanjangi di tengah kerumunan, tau? Semua yang aku ucapin dan lakuin ke kamu, tiba-tiba muter lagi di kepalaku dan bikin aku ngerasa kecil, terlalu kecil.”

Ayla menyeret kakinya mundur, merapatkannya ke dinding sebab percikan hujan yang semakin membasahi kuku-kukunya. Sementara atensinya konsisten menghadap lelaki bersurai cokelat yang juga belum bosan mengabsen setiap titik wajahnya.

Dalam hitungan detik, jarak di antara keduanya kian menipis. Menyisakan ruang yang hanya cukup untuk napas saling bertegur sapa. Jelang masih betah menikmati tatapan perempuan yang kini hanya setinggi dagunya sebab dua hak yang menopang sepatunya telah raib, tatapan bernada gugup juga lapar oleh keinginan yang nyaris tak berhasil ia sembunyikan.

Rahang Ayla bergerak samar, ada kegelisahan yang membuatnya tampak menunggu, seolah menanti sesuatu yang tak kunjung datang dari bibir Jelang. Pemandangan itu sukses membuat salah satu sudut bibir lelaki itu terangkat. Sebuah senyum kecil sebagai manifestasi kepuasaannya. Ia tahu, detik-detik yang menggantung ini jauh lebih menyiksa dari pada apa yang mungkin akan ia lakukan selanjutnya.

Lalu ketika Jelang mendekatkan wajahnya dengan milik Ayla, dan begitu saja perempuan itu membuka mulutnya pelan. Tapi lagi-lagi, lelaki itu tidak senang dengan permainan yang terlalu mudah diselesaikan. Ia justru menyapa permukaan kulit pipi Ayla yang dingin terlebih dahulu. Menghirup aroma lembut bedak tua yang menempel tipis di kulitnya pipinya. Ujung hidungnya menyapu lembut di sepanjang kulit wajah Ayla, menghadirkan perasaan meggelitik yang membuat napas keduanya sama-sama tersendat.

Tangan kiri Jelang ia tempatkan di patahan rahang Ayla, menopangnya agar tak kemana-mana. Sementara tangan yang lainnya memijat pinggul perempuan itu dari balik kain yang membalut tubuhnya. Napas Ayla terdengar berat di telinganya ketika ia mulai memberi jejak di telinga gadis yang kian menghangat itu.

“Jadi, kamu tetep mau gak sama aku yang versi ini?” Jelang sengaja berbisik pelan di hadapan daun telinga perempuan yang kini kesadarannya tinggal seperempat itu.

“He-emh,” sebuah jawaban pendek terdengar gurih di telinganya.

“He-em apa?” goda Jelang lagi.

“Hem… He’emh aku mau. Kamu yang pertama kali aku kenal, atau kamu yang sekarang. Mungkin kamu yang akan berubah lagi di masa depan. Aku tetap mau sama kamu.” jawab Ayla dengan napasnya yang berpacu tak karuan.

Senyuman jahil di bibir Jelang pelan-pelan mengendur, garis wajahnya mengeras serius. Ia menjauhkan wajahnya dari Ayla, menatap lamat-lamat gadis itu yang masih tenggelam dalam buaian dengan mata terpejam. Lalu dengan keyakinan yang tak diselimuti kepalsuan ia tambatkan bibirnya dengan ranum merah muda Ayla. Sebuah ciuman yang bertahan lama, lebih seperti janji panjang dari pada sekadar hasrat untuk memiliki.

Dan ketika tautannya terlepas, hanya untuk sekadar meraup lebih banyak. Yang punya kendali melibatkan peran lidah kali ini. Setiap kali mulutnya terbuka hanya untuk kembali melahap dengan lebih serakah. Tubuh mereka bermanuver, Jelang menyudutkan Ayla ke dinding bangunan, membiarkan tempias hujan mengenai punggungnya sendiri. Dengan sisa kewarasan yang tertinggal, ia kalungkan kedua lengan Ayla ke atas pundaknya. Hingga tak ada lagi yang mampu menghalangi tubuh mereka untuk saling bertubrukan ketika ciuman terasa semakin memabukkan.

Sesekali Jelang menggigit, menarik bibir bawah sang puan hingga si empunya mengaduh. Lalu ketika semburat merah muncul di bagian yang mulai membengkak, kembali ia cumbu manis titik itu untuk menebusnya. Terus saja begitu hingga hujan bosan menyaksikan kedua sejoli dimabuk cinta dan memilih pergi perlahan.

Ayla terus membenarkan rambutnya yang setengah kering meski tidak kunjung rapi, sebab ada Jelang yang menunggunya di luar kamar mandi.

Setelah memutuskan menghadang gerimis yang tertinggal rendah, Jelang memilih beristirahat sebentar sambil mengeringkan kemejanya di penginapan tempat Ayla dan kakaknya menetap selama di Jepang.

Sudah sepuluh menit kiranya perempuan itu menghuni kamar mandi setelah selesai membasuh diri dan mengganti pakaiannya menjadi piyama rumahan. Ciuman panjang tadi masih menyisakan sensasi panas yang menghangatkan wajahnya seketika. Ayla bisa melihat wajahnya yang kian memerah ketika ingatan tentang kejadian di pantai Odaiba kembali terputar. Jemarinya memijat bibirnya pelan, merasakan sensasi menggelitik yang sempat tertanam disana.

Bosan menunggu sendirian, Jelang beralih ke meja rias, mengambil pengering rambut yang ditaruh asal di atas meja. Diperhatikannya benda merah muda itu sambil mencoba memahami cara kerjanya.

“Mau aku bantu?” tanya Ayla yang sudah muncul begitu saja di belakang punggungnya.

“OH!”

“Sini, kamu nya duduk disitu.” tunjuk Ayla ke arah ranjang berukuran queen bed yang ia gunakan sendirian selama tiga hari belakangan.

Tanpa banyak bicara, Jelang menurut. Duduk menonton perempuannya, iya sekarang kan sudah miliknya, sibuk memasangkan kabel sambung untuk mengaktifkan benda mirip moncong lumba-lumba itu.

Tangannya otomatis melingkar di pinggang Ayla ketika gadis itu berdiri di depannya dengan moncong pengering rambut yang ditembakkan ke atas kepalanya. Kemudian hanya ada suara berisik pengering rambut yang mengisi ruangan selama beberapa saat, dan Jelang tidak memindahkan lengannya sama sekali dari pinggang Ayla, seolah-olah memang disitulah singgasananya berada.

Dengan telaten, Ayla merapihkan rambut Jelang yang mulai panjang. Tawanya pecah ketika Jelang menarik tubuhnya dengan sekali gerakan hingga ia terduduk di atas paha lelaki itu. Masa bodoh dengan rambut yang belum selesai dibuat. Kini hanya sepasang netra cokelat milik Jelang yang menjadi pusat perhatiannya.

Nyaris seperti lepas kendali, kepala Ayla mendongak cepat tatkala Jelang menenggelamkan wajahnya di lehernya. Sensasi yang hadir ketika lapisan kulit bibir yang kering berpapasan dengan kulitnya yang halus membuat Ayla kehilangan kendali terhadap badannya yang mulai melenting tegang.

Tak dibiarkannya menganggur, Jelang mulai menginvasi punggung Ayla di balik lapisan kain piyama merah jambunya. Tangan besar itu mengabsen setiap inci permukaan kulit Ayla tanpa terlewatkan sedikit pun. Jelang laksana drakula yang rakus meneguk habis darah mangsanya sambil meringkus tubuhnya lekat-lekat. Seakan takut miliknya direbut yang lain.

Penghangat ruangan seolah kehilangan pekerjaannya sebab mereka lebih andal dalam hal menghangatkan satu sama lain. Bulir-bulir keringat bergantian luruh di permukaan kulit mereka. Pun ketika tangan Jelang yang terus merambah tubuhnya sesekali bersinggungan dengan kulit dadanya yang menyembul dari celah bra, membuat tubuhnya semakin panas ditaklukan habis-habisan, lalu tanpa sengaja seuntai lenguhan nyaring lolos dari mulut kecil Ayla.

Ngh..”

“AY! AYLA!”

Ayla bangun ketakuan memburu dadanya. Ada Kak Ge dengan wajah paniknya yang pertama kali ia lihat. Lalu disusul Jelang yang berlari cemas dengan ponsel yang masih tertempel di telinganya.

“Gue udah manggil ambulance, kak. Tenang ya…” ujarnya.

Ayla mengedarkan pandangannya dengan mata memincing. Kamar mandi. Lalu ia mendapati posisinya yang tengah terbujur lemah di atas pangkuan kakaknya.

“Kamu tuh kenapa sih bikin panik aja loh, dek!” omel Kak Ge dengan suara bergetar, “Pake segala pingsan di kamar mandi, dikunci pula. Suruh siapa hujan-hujanan, demam kamu tinggi banget, Ayla!”

Hah… jadi, yang tadi itu cuma mimpi ya? Kayanya terakhir kali aku sadar waktu lagi membayangkan ciuman di pantai tadi. Sebal…


메타데이터
post_id
ef4c9dc731ac
slug
made-in-japan-ef4c9dc731ac
url
https://medium.com/@jeunserious/made-in-japan-ef4c9dc731ac
canonical_url
https://medium.com/@jeunserious/made-in-japan-ef4c9dc731ac
author_url
https://medium.com/@jeunserious
status
ok
fetched_at
2026-06-20 20:29:01