Bintang ini Milik Siapa?
Bintang ini Milik Siapa?

Perasaan itu tumbuh seperti bintang di langit malam, perlahan, diam. Sayangnya, tidak semua cahayanya dianggap layak untuk bersinar.
Menurut Naren Alvaro, suara ocehan yang tak kunjung reda dari Keira Altena terdengar jauh lebih baik daripada kesunyian yang hanya menyisakan suara hewan dari kejauhan di antara mereka. Setidaknya, selama Keira masih mengomel, Naren tau sepupunya itu baik-baik saja.
“Sekarang apalagi yang dipermasalahin Tante Mira?” Pertanyaan itu memecah kesunyian yang dari tadi menggantung di antara mereka berdua.
Keira mengangkat wajah. Tatapannya kosong beberapa detik sebelum ia menghembuskan napas panjang. “Gue nafas aja salah deh di mata Tante Mira.” Saking seringnya disalahkan, Keira tak tau kesalahan apalagi yang telah ia perbuat kali ini.
Naren menarik napas panjang. Ia sudah hafal betul, kalau sang Tante sudah seperti itu, pasti ada sesuatu yang diinginkan dari Keira. Entah Keira yang memang tidak menghiraukan, atau memang terlalu tidak peka untuk menyadarinya.
Mungkin itu yang membuat sang Tante semakin marah kepada Keira. Bukan semata karena Keira menolak, tetapi karena gadis itu seolah tidak pernah benar-benar mengerti apa yang sebenarnya sedang diminta darinya.
Sebab ini bukan lah pertengkaran pertama antara Tante Mira dan Keira. Jauh sebelum dirinya dan Keira menjadi anak rantau, keduanya sudah pernah terlibat dalam pertengkaran yang jauh lebih besar.
Waktu itu, Tante Mira begitu menentang keinginan Keira untuk kuliah jauh dari rumah. Menurutnya, bila Keira pergi, tidak akan ada lagi yang akan membantunya mengurus Nenek.
Namun, bagi Keira, kalimat itu justru menjadi alasan untuk semakin memantapkan keputusan langkahnya untuk pergi.
Percuma tinggal di rumah jika setiap hati yang ia lakukan hanya merasa tidak pernah cukup.
Ia sudah membantu mengurus Nenek, menuruti banyak hal, bahkan berusaha menjadi cucu yang tidak merepotkan. Tetapi di mata Nenek, Keira tetap saja kalah. Selalu ada cucu teman Nenek yang lebih pintar, lebih penurut, lebih rajin, lebih ini dan lebih itu.
Mungkin karena itulah Keira memilih pergi. Bukan sekedar ingin merantau, tetapi ingin memiliki tempat di mana untuk sekali saja ia tidak perlu merasa sedang mengikuti perlombaan yang tidak pernah ia setujui.
Naren memindah posisinya ke bangku meja belajar Keira. “Emang Tante ada bilang apa?” Tanyanya memastikan lagi.
“Ngga tau Naren, Tante Mira tiba-tiba ngomel aja. Gue bahkan belum sempet cerna omelannya, telponnya udah dimatiin.” Keira mengerutkan dahinya keheranan.
Keira duduk di lantai kamar kosnya dengan posisi bersandar di sisi ranjang, kedua lututnya ia tekuk ke dada. Hoodie abu-abu oversize yang ia pakai menutupi hampir seluruh tangannya, menyisakan jemari yang sesekali bergerak gelisah dibalik lengan kain.
Perasaan yang campur aduk perlahan menggerogoti dirinya seperti sesuatu yang tidak bisa ia beri nama. Ada bingung, sedih, marah, juga lelah yang entah sejak kapan menumpuk begitu saja.
Keira menarik napas berat. Bahunya turun perlahan seolah ada sesuatu yang terlalu lama ia tahan sendirian. “Apa gue jadi beban ya di keluarga kita?” Tanyanya lirih.
Naren menatapnya tanpa menjawab.
Keira memang selalu begitu. Sebagai people pleaser, ia terbiasa memastikan orang-orang di sekitarnya baik-baik saja, bahkan ketika dirinya sendiri tidak. Ia akan mengalah lebih dulu, meminta maaf meski bukan salahnya, dan menyembunyikan rasa sakit hanya agar suasana tetap baik-baik saja.
Ironisnya, kebaikan itu seringkali justru membuat orang merasa punya hak untuk memperlakukannya seenaknya.
“Lo bukan beban, Kei.” Bantah Naren akhirnya.
Keira tetap menunduk.
“Lo cuma terlalu sering ngerasa harus bikin semua orang bahagia sampai lupa kalau lo juga manusia.” Suara Naren melunak. “Lo juga boleh capek. Boleh marah. Boleh kecewa. Dan lo nggak harus terus-terusan jadi orang yang paling ngerti perasaan semua orang.”
“Terus kenapa rasanya semua orang bakal lebih senang kalau gue nggak ada?”
Pertanyaan itu membuat Naren terdiam.
Ada beberapa detik yang terasa terlalu panjang, ia tidak tahu harus berkata apa.
Bukan karena ia tidak punya jawaban, melainkan karena ia tahu ada luka yang jauh lebih dalam di balik pertanyaan sederhana itu.
Naren takut satu kalimat yang salah justru membuat Keira semakin percaya bahwa perasaannya memang tidak pernah penting bagi siapa pun.
Sebab ada beberapa kalimat yang tidak bisa dibantah hanya dengan mengatakan, ‘lo nggak boleh mikir gitu.’ Ada luka yang sudah terlalu lama dibiarkan tumbuh sampai pemiliknya sendiri mulai percaya bahwa keberadaannya adalah masalah.
Naren menatap Keira lama.
Dan entah kenapa, melihat gadis itu berusaha keras menahan tangis membuat dadanya ikut terasa sesak.
Naren menghela nafas perlahan, lalu beranjak bangkit.
“Yaudah, gue balik ke kamar gue dulu, deh. Biar lo lebih tenang.”
Naren melangkah beberapa langkah menuju pintu, kemudian berhenti.
“Lo jangan mikir yang aneh-aneh lagi, ya. Tenangin diri lo dulu.” Naren menoleh sebentar. “Jangan terlalu dipikirin omongan Tante Mira. Nanti juga membaik sendiri dianya.”
Naren membuka pintu kamar, meninggalkan Keira yang masih duduk di lantai bersama sunyi yang perlahan kembali memenuhi ruangan.
Namun sebelum pintu itu benar-benar tertutup, Naren sempat menatapnya sekali lagi. Ia tahu, sebentar lagi Keira mungkin akan mengangguk dan mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Seperti yang selalu dilakukannya setiap kali keadaan mulai terlalu berat untuk diceritakan.
Entah kenapa, kali ini Naren berharap Keira tidak perlu berpura-pura baik-baik saja di depannya.
Pintu akhirnya tertutup.
Dan untuk beberapa detik setelah naren pergi, Keira masih duduk diam pada posisi yang sama disisi ranjang. Pada malam itu, Keira tidak punya siapa-siapa untuk disalahkan selain pikirannya sendiri.
Kalimat Naren tadi seharusnya cukup untuk menenangkannya.
Namun malam itu, Keira baru menyadari jauh dari rumah memang berarti ia tidak harus setiap hari mendengar omelan Tante Mira atau menelan perbandingan dari Neneknya. Tidak ada lagi suara yang mengomentari segala hal kecil yang dianggap kurang, memang membuatnya bisa bernafas lebih lega.
Tetapi, ternyata pergi juga berarti meninggalkan banyak hal yang diam-diam ia rindukan.
Masakan hangat Bunda yang sudah tersedia di meja menunggunya setiap pagi, suara kendaraan Ayah yang selalu terdengar sebelum berangkat kerja. Bahkan teriakan Keivan Arshaka, kakaknya sendiri, yang memenuhi rumah setiap kali kalah saat bermain game.
Hal-hal kecil yang dulu terasa sederhana dan biasa saja, kini justru menjadi bagian dari rumah yang paling ingin Keira dengar kembali.
Keira menghembuskan nafas pelan, lalu memeluk kedua lututnya lebih erat.
Setidaknya, ia masih punya Naren di sampingnya.
Satu-satunya sepupu yang saat ini berada bersamanya di perantauan. Jarak usia mereka yang tidak terlalu jauh, membuat hubungan keduanya terasa lebih seperti teman daripada sekadar sepupu. Ada seseorang yang bisa ia ajak bicara, seseorang yang bisa ia ganggu kapan saja.
Naren adalah tempat mengadu, sekaligus tameng yang selalu berdiri paling depan ketika orang-orang mulai memojokkannya. Sejak kecil, Naren memang selalu begitu.
Ketika Keira kecil menangis, Naren yang pertama menenangkannya. Ketika dirinya dimarahi, Naren jugalah yang akan membelanya dengan serius, kadang hanya dengan celetukan menyebalkan yang berhasil membuat suasana sedikit lebih ringan. Dan ketika semua orang membuatnya merasa sendirian, Naren selalu menjadi orang yang memastikan dirinya tidak benar-benar sendirian.
Dan sampai sekarang pun, rupanya tidak banyak yang berubah dari Naren.
Keira bahkan sering berpikir bahwa Naren sengaja memilih kuliah di luar kota dan masuk ke kampus yang sama dengannya hanya untuk menemaninya merantau, hanya agar ia tidak perlu menghadapi kehidupan sebagai anak rantau sendirian.
Terasa seperti salah satu bentuk perlindungan paling besar yang pernah ia terima.
Padahal Keira tahu betul, kampus mereka saat ini bukan lah kampus incaran Naren. Naren akan selalu mengatakan bahwa keputusan yang diperbuat tidak ada hubungannya dengan dirinya.
Keira tidak pernah benar-benar percaya.
Namun ia juga tidak pernah memaksa Naren untuk mengaku.
Untungnya, Bunda Karina tidak pernah mempermasalahkan keputusan putranya. Ketika mengetahui putranya memilih kuliah di luar kota bersama Keira, perempuan itu justru memastikan Keira tidak merasa sendirian.
Bunda Karina bahkan ikut memilih tempat tinggal mereka, memastikan tempat tinggal mereka berdua masih berada di atap yang sama agar mudah saling mengunjungi dan saling memastikan keadaan satu sama lain, tetapi tetap memberi mereka ruang masing-masing.
Meski begitu, Bunda Naren dan Bunda Keira sama-sama tahu bahwa merantau bukan perkara mudah. Karena itu, ada satu hal yang selalu mereka tekankan, memastikan mereka berdua memahami batasan diantara mereka.
Bagaimanapun, mereka tetap dua orang manusia yang tumbuh bersama, bisa salah memahami sesuatu, bisa memiliki perasaan yang tidak seharusnya, dan bisa saja suatu hari melakukan kesalahan. Para sang bunda hanya ingin keduanya mengerti bahwa dekat bukan berarti tanpa batas.
Keira memahami itu.
Mungkin karena itulah keberadaan Naren terasa begitu berarti.
Di tengah kota yang masih asing, jauh dari orang tua dan rumah yang sudah ia kenal seumur hidup, Naren menjadi satu-satunya sosok yang membuat semuanya terasa sedikit lebih ringan.
Sedikit lebih aman.
Sedikit lebih seperti rumah.
Keira mengangkat wajah dan menatap jendela.
Di luar sana, langit malam masih dipenuhi bintang.
Ia menatapnya cukup lama.
Entah berapa banyak orang yang malam ini sedang melihat langit yang sama. Entah berapa banyak dari mereka yang sedang berharap pada bintang yang sama.
Keira tidak tahu.
Ia hanya tahu, sejak kecil dirinya selalu merasa seperti seseorang yang datang terlambat ke tempat yang salah. Selalu ada orang lain yang lebih pantas. Lebih baik. Lebih disukai.
Mungkin itu sebabnya ia tidak pernah benar-benar percaya bahwa dirinya juga berhak mendapatkan sesuatu yang baik.
Namun, ia berharap satu hal sederhana.
Semoga suatu hari nanti, ia juga bisa percaya bahwa dirinya pantas mendapatkan tempat untuk bersinar.
Tanpa harus meminta izin kepada siapa pun. Seperti bintang-bintang yang bersinar yang berada di tempatnya. Tidak ada yang berubah, tetap dilangit indah.
Malam ini, Keira tidak lagi bertanya bintang itu milik siapa.
Sebab mungkin, bintang memang tidak perlu dimiliki untuk bisa memberikan cahaya.
Dan mungkin, kali ini, Keira ingin mencoba menjadi salah satunya.
Tidak harus paling terang.
Tidak harus paling indah.
Cukup tetap menyala.
메타데이터
- post_id
- ef574fed6a42
- slug
- bintang-ini-milik-siapa-ef574fed6a42
- url
- https://medium.com/@strwbrry0matcha/bintang-ini-milik-siapa-ef574fed6a42
- canonical_url
- https://medium.com/@strwbrry0matcha/bintang-ini-milik-siapa-ef574fed6a42
- author_url
- https://medium.com/@strwbrry0matcha
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-29 04:17:53