← Back to list

Bila Tubuhku Membiru, Apakah Kau Datang, Sayang?

“Dan berlalu wajahmu temani malamku yang penuh rindu. Bisikan tenang terdengar di malam panjangku, sayang.”

Arteri · 2026-08-06 10:28 · 0 claps · 2.3 min read
#laut #sastra-indonesia
Open on Medium ↗

Bila Tubuhku Membiru, Apakah Kau Datang, Sayang?

“Dan berlalu wajahmu temani malamku yang penuh rindu.

Bisikan tenang terdengar di malam panjangku, sayang.”

— Lalu Biru

CW/TW: This work contains themes of suicide, suicidal ideation, death, depression, hopelessness, drowning as a method of suicide, postmortem imagery, and romanticization of suicide. Reader discretion is advised.

Sayang, kita rayakan semua yang pantas dirayakan malam ini. Mari kita rayakan tambahan satu hari waktu hidup yang tidak pernah kita minta, namun harus tetap dijalani. Mari rayakan semuanya, dengan lagu romantisasi muram durja bervokal lirih.

Rayakan pula kematian atma yang sarat kelabu, dengan dewi durjana yang mengutuk insan di laut biru. Dengan syahdu ku meratap layu, yang tak sepaham kerap berkata tak perlu.

Malam ini, senandung ritmis dari hujan mengiringi malamku, sayang. Kutepis semua interupsi duniawi yang masuk tak diundang. Seakan semesta memahami isi hatiku, hujan turun semakin deras. Bahkan petir pun ikut bersuara, seolah langit tak lagi sanggup menyimpan gaduhnya sendiri.

Jam dinding tetap menjalankan tugasnya dengan patuh, seolah waktu tak pernah mengenal belas kasih, tak pernah memberi kesempatan bagi insan malang sepertiku untuk bernafas dengan tenang.

Lucu rasanya, dunia begitu giat memastikan esok tetap datang, bahkan ketika sebagian dari kita telah selesai berharap pada hari ini. Bahkan ketika aku berharap hari esok tak usah datang, waktu dengan kejamnya memaksaku tetap berlari mengejar ketertinggalan. Kejam, bukan?

Maka dari itu, kupastikan hidupku berakhir malam ini.

Agar aku tak perlu lagi bertahan di tengah derasnya hujaman takdir. Agar aku tak lagi berharap kehidupan akan lebih baik jika kau mencoba lebih keras. Agar aku tak lagi mengutuk dunia dengan sumpah serapah yang bahkan tak sadar bisa keluar dari mulutku.

Bila tubuhku membiru, apakah kau datang, sayang?

Menjelang kematianku, kupastikan aku memberikan yang terbaik untukmu. Kupersembahkan warna biru ini khusus untukmu, sayang.

Kutatap permukaan air laut mulai menjauh dari netraku, bersamaaan dengan tubuhku yang tertelan jauh semakin dalam. Dinginnya menusuk hingga ke tulang. Biar begitu, kubiarkan dingin itu merasuk hingga ke relung jiwa.

Kegelapan menyelimutiku, mendekapku ke dalam pelukannya. Lembutnya air laut membelai wajahku penuh kasih, seakan mencoba memberiku ketenangan untuk yang terakhir kalinya.

Kematian akan menyapaku sesaat lagi, jiwaku akan melanglang buana ke langit yang jauh, mengejar kebebasan yang selama ini tak bisa direngkuh.

Kutatap permukaan laut semakin menjauh dari netraku. Cahaya yang semula pecah di atas ombak kini hanya tinggal seutas garis tipis. Dingin tak lagi terasa dingin. Mungkin tubuhku mulai lupa bagaimana rasanya hidup.

Suara di sekelilingku memudar, digantikan detak jantung yang terasa semakin jauh. Kesadaranku mulai kabur, hingga akhirnya semuanya menghilang dalam gelap.

Rona kebiruan dari laut dan kulitku kini tampak serasi, tak lagi kontras. Tubuh yang terbiasa menyimpan merah kini semakin pucat dan membiru. Tak ada lagi aliran darah yang memberikan sentuhan hangat di kulit.

Lihat, sayang, bukankah warna biru ini cantik?

Sayang, tolong katakan pada laut bahwa aku mempersembahkan tubuh fana ini padanya. Kukembalikan tubuh ini ke alam, untuk terakhir kalinya aku akan memberikan kontribusiku pada dunia ini.

Biarlah para hewan laut pemakan bangkai menghabiskan jasadku hingga tulang belulang yang tersisa. Lalu menetap di dasar laut, menjadi pengingat terakhir bahwa aku pernah ada di dunia ini.

Sayang, kenanglah aku dengan segenap jiwamu. Janganlah engkau bersedih atas kematianku. Hanya dengan kematian aku bisa merasakan kebebasan yang sebenarnya, sayang.

Tatkala engkau merindukanku, temui aku di neraka, sayang. Lalu kita akan bersama sekali lagi dalam kekalnya alam kematian.


메타데이터
post_id
efbc1701c638
slug
bila-tubuhku-membiru-apakah-kau-datang-sayang-efbc1701c638
url
https://medium.com/@interferensi/bila-tubuhku-membiru-apakah-kau-datang-sayang-efbc1701c638
canonical_url
https://medium.com/@interferensi/bila-tubuhku-membiru-apakah-kau-datang-sayang-efbc1701c638
author_url
https://medium.com/@interferensi
status
ok
fetched_at
2026-08-07 21:52:05