← Back to list

Apa Itu Lelaki?

Ini bukan cara menjadi lelaki. Kalian punya cara masing-masing soal itu. Ini cuma coretan receh, yang jika jatuh ke lantai tak ada orang…

Achrory23 · 2025-09-07 07:31 · 2 claps · 2.8 min read
#lelaki #mentalita #definisi
Open on Medium ↗
Wiki topics: CRY · Crypto & Web3

Apa Itu Lelaki?

Photo by Roman Skrypnyk on Unsplash

Photo by Roman Skrypnyk on Unsplash

Ini bukan cara menjadi lelaki. Kalian punya cara masing-masing soal itu. Ini cuma coretan receh, yang jika jatuh ke lantai tak ada orang mau memungutnya. Tapi mungkin mau dilirik sekilas, ya silakan melirik.

Ada banyak cara seorang lelaki mendefinisikan diri. Ada yang bilang lelaki itu yang pemberani. Lelaki adalah yang pintar. Lelaki itu yang tidak menyakiti wanita. Macam-macam. Dunia punya lelaki mulai dari yang soft hingga yang hard, semua tersedia.

Lelaki lebih dari sekedar jantan. Kata lelaki itu artinya masuk tataran konsep, jadi bukan cuma soal pembeda kelamin. Kalau lelaki cuma soal itu ya nggak ada bedanya sama kambing.

Lelaki yang kumaksud adalah kombinasi banyak aspek, mulai dari mentalitas, nilai, hingga kultur yang larut dalam satu sosok. Oleh karenanya, kedirian seorang lelaki berkaitan erat dengan corak budaya, latar geografis, dan masa lalu. Sehingga itu menghasilkan varian lelaki dengan keunikannya masing-masing. Dan ini adalah versi lelaki dalam diriku.

Menurutku, lelaki itu hanya perlu menyandang dua predikat: sebagai tulang punggung dan sebagai teman. Lalu dimulai dari dua hal ini, muncullah misi-misi dan berjuta program yang harus diselesaikan.

  1. Lelaki Itu tulang punggung.

Tulang punggung? Jelas maksudnya bukan secara literal. Itu adalah simbol tanggung jawab. Ibaratnya tubuh, tulang punggung berperan tak cuma menahan beban, tapi juga menjaga tubuh tetap tegak. Lelaki menjaga diri sendiri dan siapa pun yang berharga. Menjaga untuk tetap hidup, dan tetap terhormat di mata sosial.

Dari sini dipahami, tanggung jawab itu bermacam-macam. Mulai perkara menghidupi keluarga, menepati janji, sampai urusan sederhana: membereskan sampah sendiri, mengembalikan buku ke tempatnya, atau nggak lempar tangan setelah buat masalah.

Dan itu bukan perkara mudah, setidaknya begitu menurutku sebagai sosok yang baru pertama kali jadi lelaki.

Bertanggung jawab, dalam bayanganku itu seperti orang berjalan. Aku harus berjalan di atas kaki sendiri. Maka kaki harus kuat, harus tahan, dan sebisa mungkin harus cepat.

Anehnya, mengangkat kaki sendiri sampai kini masih sulit. Jangankan menggendong orang lain, bahkan menggeser badan sendiri, selangkah demi selangkah, masih tertatih-tatih. Ini bukan cerita anak gym. Kalau cuma angkat barbel kan tinggal hidupin musik.

Ini soal beban yang aku sebenarnya masih bingung: apakah beban pikiran atau beban negara.

Iya, tulang punggung juga berarti siap menahan beban — dan aku sadar kalau beban itu kadang nggak minta izin datangnya. Maka bukan cuma tulang yang harus kuat. Semua komponen dan fitur perlu tajam untuk mengokohkan posisi di tengah gempuran.

2. Lelaki Itu Teman.

Teman itu bukan sekedar kawan ngobrol atau partner main game. Teman berarti bisa dipercaya. Teman berarti ada saat yang lain bubar. Teman itu bukan superhero yang selalu benar, tapi sosok yang nggak ninggalin di tengah jalan. Ini versi dramatisnya.

Versi nyatanya? Teman adalah orang yang suka buat salah. Teman itu yang nggak punya malu. Teman itu anti nggak enakan. Teman itu yang kadang bikin kita pengen lempar sandal, tapi anehnya malah kita cari lagi kalau nggak ada.

Teman itu yang bisa bikin obrolan ngalor-ngidul dari teori konspirasi sampai gosip receh warung sebelah. Teman itu orang yang nggak perlu dipoles biar enak dilihat — udah belepotan juga tetap dianggap bagian dari hidup.

Teman tak harus selalu serba paham. Cukup ada, cukup nyata, cukup tahan ditertawakan bareng. Itu udah lebih berharga daripada pura-pura kuat sendirian.

Dan aku? Sejauh ini aku masih tahapan ‘berusaha’ menjadi teman. Berusaha keluar dari duniaku. Ikut turun ke tengah-tengah manusia. Berusaha tidak pintar, tapi ikutan tolol bersama-sama. Karena rasanya tolol ternyata lebih sedap daripada rasanya pintar.

Kesimpulannya?

Terjadi semacam kesenjangan antara teori dan fakta. Ini harus diteliti. Bukan untuk mengecek apakah teori atau fakta yang keliru, tapi untuk mengukur seberapa jauh jarak yang harus kutempuh agar keduanya bisa salaman.

Soalnya, di atas kertas, jadi lelaki itu tampak gagah dan mulus. Tanggung jawab? Centang. Setia kawan? Centang. Penuh prinsip? Centang. Tapi di lapangan, yang ada malah belepotan, berserakan, dan bikin malu sendiri.

Mungkin memang lelaki bukan soal selesai, tapi soal berproses. Bukan tentang jadi sempurna, melainkan cukup berani menghadapi kekonyolan dan kekurangan diri tanpa kabur.

Kalau jatuh, ya bangun. Kalau bingung, ya akui. Kalau tolol, ya ketawain.

Karena pada akhirnya, lelaki itu bukan gelar, tapi perjalanan. Dan perjalanan ini — mau cepat, lambat, atau nyasar dulu ke warung kopi — tetap saja harus ditempuh.


메타데이터
post_id
efdbc508ec12
slug
apa-itu-lelaki-efdbc508ec12
url
https://medium.com/@achrory23/apa-itu-lelaki-efdbc508ec12
canonical_url
https://medium.com/@achrory23/apa-itu-lelaki-efdbc508ec12
author_url
https://medium.com/@achrory23
status
ok
fetched_at
2026-06-26 06:47:43