← Back to list

Daeng Hasrul, Sang ASN Teladan Perajut Benang Kebangsaan

Ini masa kemarin, Juli 2012. Seorang pria berusia akhir 40-an nampak sedang berteduh sembari membasuh peluh yang ada di dahinya…

Asfar Syafar · 2025-12-06 21:59 · 0 claps · 10.5 min read
#universitas-hasanuddin #sosok-inspiratif #teladan #dunia-kerja-pns #kebangsaan
Open on Medium ↗

Daeng Hasrul, Sang ASN Teladan Perajut Benang Kebangsaan

Ini masa kemarin, Juli 2012. Seorang pria berusia akhir 40-an nampak sedang berteduh sembari membasuh peluh yang ada di dahinya, keringatnya bercucuran sebab cuaca terik pada siang itu yang sedikit lebih menyengat. Si pria tadi kemudian mengangkat sebuah koper yang berukuran hampir sama dengan badannya, memindahkan beberapa barang dari kapal perintis yang telah mengantarnya dari Pare-Pare menuju Balikpapan lalu tiba di Tarakan. Kondisi pelabuhan Malundung pada hari itu memang nampak lebih sibuk dari biasanya, segerombolan mahasiswa berbaju merah sedang dalam perjalanan menuju pulau Sebatik untuk melakukan pengabdian berupa Kuliah Kerja Nyata (KKN). Mereka adalah mahasiswa-mahasiswi Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, jumlahnya sekitar 20 orang. Mereka akan melakukan pengabdian di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia kurang lebih selama dua bulan.

Pria tadi telah selesai meletakkan kopernya pada bagasi kapal, setelah dirasa semua cukup aman dan terkendali Ia kemudian mengarahkan peserta KKN tadi untuk naik dan ikut berpindah ke kapal tersebut, kendaraan yang akan mengantar mereka dari Tarakan menuju Nunukan. Si pria juga mengoordinir mahasiswa laki-laki untuk membantu mengangkatkan barang milik teman perempuannya. Selanjutnya rombongan mahasiswa tersebut berkumpul di geladak kapal, pria tersebut lalu mengabsen memastikan kehadiran seluruh mahasiswa, memberikan arahan, semangat dan mengingatkan kembali para mahasiswa agar senantiasa berdoa karena perjalanan mereka masih cukup panjang.

Mereka memanggilnya dengan sebutan “Daeng Hasrul”. Daeng merupakan panggilan kepada seorang kakak yang lazim digunakan di Makassar. Daeng bukan makna secara biologis dan pertalian darah, tetapi karena dedikasi dan perannya yang memang sudah seperti seorang kakak bagi segerombolan mahasiswa KKN tadi. Daeng Hasrul adalah kakak yang akan membersamai mereka selama melaksanakan pengabdian di tapal batas Indonesia — Malaysia, Sebatik.

Nasionalisme di Tapal Batas Indonesia — Malaysia.

Sebuah kapal telah bersandar di Pelabuhan Tunon Taka Nunukan, perjalanan selanjutnya harus ditempuh menggunakan perahu motor tempel atau speed boat sekitar 1,5 jam untuk mencapai pusat kecamatan Sebatik. Sebatik merupakan salah satu pulau terdepan dan terluar di Indonesia yang terletak di provinsi Kalimantan Utara. Pulau ini berbatasan langsung dengan Malaysia, bahkan sebagian wilayahnya merupakan daerah negara Malaysia yang pernah memicu konflik antara kedua negara. Pulau Sebatik memiliki luas wilayah 247,47 km2 dengan jumlah penduduk sebanyak 37.992 jiwa.

Sebatik memberikan kesan yang ramah dan hangat ketika pertama kali menginjakkan kaki di sana. Masyarakat yang didominasi oleh perantau asal Makassar serta penggunaan bahasa bugis dalam keseharian membuat mahasiswa KKN tersebut merasa betah berada di Sebatik. Setelah berkoordinasi dengan pejabat dan aparat setempat, Daeng Hasrul membagi mahasiwa tersebut ke beberapa posko penempatan, posko kecamatan Sebatik Induk, Sebatik Barat, Sebatik Tengah, Sebatik Utara dan Sebatik Timur. Ia kemudian mengantar mereka ke posko masing-masing, namun sebelumnya Ia berpesan agar mereka selalu menjaga nama baik almamater kampus, selalu berkoordinasi dan berbagi informasi baik dengan aparat desa, kecamatan maupun dirinya selaku pendamping mereka selama di Sebatik. Lagi-lagi Daeng Hasrul menunjukkan dedikasinya dengan mengantarkan setiap mahasiwa tersebut ke lokasi masing-masing untuk memastikan mereka sampai dengan selamat. Daeng Hasrul sendiri akan menginap di Desa Pancang Sebatik Utara.

Matahari mulai meninggi, waktu telah menunjukkan pukul 07.00 WITA. Daeng Hasrul yang sudah mewanti-wanti peserta KKN untuk hadir 30 menit sebelum acara dimulai sudah tiba di lokasi 45 menit sebelumnya untuk memastikan bahwa segala persiapan telah matang. Hari itu adalah Senin pertama mereka di perantauan, Daeng Hasrul yang ikut membantu mahasiswa merancang program kerja menyarankan bahwa salah satu upaya yang dapat mereka lakukan untuk memupuk jiwa nasionalisme masyarakat di Sebatik adalah dengan melaksanakan upacara bendera setiap Seninnya. Menurutnya, dengan membiasakan pengenalan lambang dan simbol negara bagi masyarakat Sebatik dapat memelihara kecintaan dan keteguhan mereka terhadap Indonesia. Apalagi beberapa waktu lalu isu Blok Ambalat menjadi salah satu sengketa berkepanjangan antara Indonesia dan Malaysia, yang tentunya membuat masyarakat jadi penasaran bagaimana dan seberapa cinta masyarakat perbatasan terhadap Indonesia serta respon mereka terhadap kondisi tersebut.

Selama berada di Sebatik, program kerja yang dijalankan oleh mahasiswa KKN Universitas Hasanuddin berfokus terhadap beberapa isu tentang bagaimana meningkatkan rasa nasionalisme dan kecintaan masyarakat perbatasan terhadap Indonesia. Berikut beberapa hal penting yang Daeng Hasrul tekankan untuk mahasiswa sisipkan di setiap kegiatan pengabdian mereka selama di Sebatik, antara lain:

1. Membangun sikap penghargaan kepada lambang negara serta kecintaan terhadap Pancasila

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 telah mengatur berbagai hal terkait bendera, bahasa, lambang negara dan lagu kebangsaan. Setiap warga negara juga memiliki kewajiban dalam hal membela dan menghargai bendera sebagai lambang negara. Hal inilah mengapa jauh hari pada masa persiapan keberangkatan, peserta KKN Unhas disibukkan dengan latihan sebagai peserta upacara sekaligus mempersiapkan bahan perlengkapan seperti bendera, naskah Pancasila, dan pembukaan UUD 1945. Kampus Universitas Hasanuddin sebagai kampus yang mempromosikan kecintaan terhadap Pancasila mewajibkan semua mahasiswa untuk melaksanakan upacara bendera setiap hari Senin pada masa pengabdian KKNnya, baik upacara di kantor desa, kelurahan maupun kantor kecamatan masing-masing posko.

Upacara sebagai salah satu bentuk rasa cinta kepada tanah air merupakan perwujudan sila ketiga pada Pancasila. Upacara bendera merupakan cerminan nilai-nilai budaya bangsa yang membedakan Indonesia dengan negara lain, di dalamnya terkandung nilai-nilai yang membiasakan masyarakat untuk bersikap disiplin dan tertib, menanamkan nilai kebersamaan dan kekompakan, meningkatkan persatuan dan kesatuan serta nasionalisme. Selain itu upacara dapat memupuk rasa kecintaan terhadap Pancasila sehingga masyarakat sadar untuk menerapkan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya dalam kehidupan sehari-hari, mengamalkan sifat positif Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

2. Menjunjung tinggi nilai kebinekaan (keberagaman) budaya, agama dan etnis dalam kehidupan sehari-hari

Sebatik dikenal sebagai pulau yang dibangun dan dibesarkan oleh berbagai etnis dan suku budaya. Bugis menjadi etnis mayoritas dengan jumlah mencapai 70% dari keseluruhan populasi, etnis Jawa menjadi terbesar kedua disusul etnis Tidung, Dayak, Agaba, Timor dan Lombok. Selain itu, meski sebagian besar penduduknya beragama Islam, Sebatik juga dihuni oleh masyarakat yang beragama Protestan, Katolik dan Budha. Warga negara Indonesia yang baik hendaknya menjunjung tinggi prinsip Bhinneka Tunggal Ika, dapat mencintai dan menghargai setiap perbedaan yang ada, meski dengan berbagai latar belakang asal, daerah, suku, etnis, dan agama. Harus senantiasa menghormati dan menerima setiap perbedaan yang ada, selalu mengutamakan musyawarah untuk mufakat dan mementingkan kepentingan umum di atas kepentingan kelompok atau perorangan.

3. Menanamkan kecintaan terhadap produk asli Indonesia (produk buatan dalam negeri)

Sebatik sebagai wilayah yang berbatasan secara langsung dengan Malaysia memiliki tantangan terkait memudarnya rasa nasionalisme khususnya kecintaan terhadap produk dalam negeri, kondisi tersebut diperparah dengan akses dan kesempatan yang terbatas khususnya dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi. Kondisi geografis Sebatik yang berbatasan langsung dengan Tawau Malaysia membuat masyarakat tergantung dengan pasokan kebutuhan pokok dari negara seberang, apalagi dengan keterbatasan pasokan dari dalam negeri sendiri sehingga membuat masyarakat Sebatik tidak ada pilihan lain selain memasok dari luar. Hal ini perlahan dapat mengubah pola pikir masyarakat terhadap kecintaan produk dalam negeri dan memicu memudarnya rasa nasionalisme mereka.

Menanggapi masalah tersebut maka kegiatan pengabdian yang dilakukan oleh Daeng Hasrul dan mahasiswa KKN Universitas Hasanuddin banyak melihat potensi dan sumber daya apa yang dimiliki oleh wilayah setempat, memberikan pelatihan dan pengetahuan terkait bagaimana memanfaatkan potensi kelautan dan perkebunan yang dimiliki oleh Sebatik. Meski tak sepenuhnya tersedia, namun beberapa kebutuhan dapat dipenuhi dengan melakukan diversifikasi pangan dan pengolahan bahan pangan lokal yang ada untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari.

4. Pengamalan nilai-nilai luhur Pancasila dan UUD 1945 sebagai dasar Negara Republik Indonesia

Setiap masyarakat yang telah tercatat dan telah diakui oleh negara secara resmi harus tunduk terhadap UUD 1945 dan Pancasila sebagai ideologi dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara. Pancasila merupakan pendidikan moral yang diharapkan dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya harus senantiasa dijadikan sebagai landasan moral dalam setiap kegiatan individu, kelompok, masyarakat dan juga bangsa negara. Pengamalan nilai-nilai luhur Pancasila seperti gotong-royong, persatuan dan kesatuan, demokrasi, dan toleransi harus senantiasa tergambar dalam setiap kegiatan pengabdian yang dilaksanakan oleh peserta KKN Unhas selama berada di Sebatik.

Wajah penuh semangat Daeng Hasrul nampak berubah menjadi keharuan. Setelah kurang lebih 50 hari membersamai dan hidup di tengah-tengah masyarakat Sebatik, akhirnya Ia harus mengucapkan salam perpisahan. Meski ada rasa rindu kepada keluarga di Makassar namun rasanya Ia belum sanggup untuk berpisah dan mengakhiri perjuangannya di Sebatik. Pengabdian yang dilakukan Daeng Hasrul dan mahasiswa KKN Universitas Hasanuddin di Tapal Batas Indonesia — Malaysia merupakan wujud kecintaan dan kepedulian mereka terhadap kondisi bangsa ini. Meski diakui sulit untuk mengubah pola ketergantungan masyarakat Sebatik terhadap produk negara tetangga, namun setidaknya upaya yang dilakukan dapat membangunkan jiwa nasionalisme dan kecintaan masyarakat Sebatik yang sudah mulai memudar.

Sebelum naik ke kendaraan yang akan mengantarnya kembali ke Makassar, Daeng Hasrul bertekad dan berjanji di dalam hati “tahun-tahun yang akan datang ia akan membawa lebih banyak lagi mahasiswa-mahasiswa lainnya untuk belajar makna nasionalisme di Sebatik, mahasiswa-mahasiswa yang akan menjadikan tapal batas negara sebagai objek untuk menggali dan membumikan nilai-nilai Pancasila. Mahasiswa yang tak hanya berasal dari kampus Universitas Hasanuddin saja, namun Ia bermimpi suatu hari nanti akan ada sebuah wadah besar bagi mahasiswa seluruh Indonesia untuk saling bertemu dan bertukar pikiran terkait ideologi bangsa ini, Pancasila”.

Ini masa sekarang, Juli 2021. Puluhan mahasiswa dengan beragam warna almamater sedang memenuhi Balairung Universitas Jambi, Muarojambi, Jambi. Mereka nampak duduk berjauhan, antara satu bangku dan bangku lainnya berjarak sekitar satu meter, nampak masker menutupi mulut dan hidung, mereka nampak serius menyimak penyampaian Gubernur Jambi yang sekaligus membuka acara tersebut secara resmi. Kegiatan tersebut merupakan upacara pembukaan KKN Kebangsaan dan KKN Bersama tahun 2021. Meski masih sedang dalam kondisi pandemi COVID-19 namun kegiatan dapat berlangsung dengan protokol kesehatan yang sangat ketat, ratusan mahasiswa peserta dari 46 perguruan tinggi se-Indonesia harus melalui skrining dan tes PCR untuk memastikan bahwa mereka negatif dan dalam kondisi sehat untuk melakukan pengabdian. Program tahunan Kemenristekdikti dan Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia tersebut pada tahun ini mengangkat tema “membangkitkan nilai-nilai kebangsaan dan kebersamaan melalui pemberdayaan masyarakat berbasis agroindustri”.

Tak lama kemudian nampak Daeng Hasrul naik ke mimbar didampingi Rektor Universitas Jambi dan Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristekdikti. Pada kesempatan itu Ia didaulat sebagai salah satu narasumber pembekalan, dirinya akan membawakan topik “membangkitkan rasa kebangsaan dan kebersamaan melalui KKN”. Suasana pada hari itu membawa keharuan bagi Daeng Hasrul, seakan membawa ingatannya kembali pada beberapa tahun silam ketika melakukan pengabdian yang sama di Sebatik. Kala itu Ia bermimpi tentang sebuah wadah kebangsaan yang akan mempersatukan seluruh mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia, dari Aceh hingga Papua. Ia masih tak percaya apa yang dicita-citakannya masa itu kini telah terealisasi menjadi kenyataan.

Belajar dari Daeng Hasrul: Biografi, Keteladanan dan Refleksi sebagai Aparatur Negara

Orang-orang mengenalnya dengan sebutan Daeng Hasrul, namun nama lengkap sebenarnya adalah Dr. Hasrullah, MA. Beliau adalah seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) dengan nomor NIP 19620307 198811 1 002, merupakan staf pengajar Ilmu Komunikasi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin Makassar. Pria kelahiran Donggala 7 Maret 1962 lalu itu menyelesaikan pendidikan sarjananya di Komunikasi FISIP Unhas pada tahun 1987, Ia lalu melanjutkan pendidikan magister bidang ilmu komunikasi di Universitas Indonesia pada 1996 dan meraih gelar doktornya di kampus yang sama pada tahun 2007. Daeng Hasrul memulai karirnya sebagai staf peneliti di Pusat Studi Pasifik Unhas pada tahun 1988, Ia lalu mendapat kesempatan bergabung sebagai anggota Tim Klarifikasi KKN Unhas pada tahun 1998. Melalui SK Rektor Unhas bertanggal 4 Maret 2011 Ia mendapatkan kesempatan sebagai Kepala UPT KKN Unhas, pada masa itulah Daeng Hasrul banyak melahirkan berbagai program unggulan dalam pelaksanaan KKN di Unversitas Hasanuddin.

Berkat keteladanan dan inovasinya dalam bekerja, Daeng Hasrul banyak melahirkan beragam model KKN yang menarik minat mahasiswa, sebut saja KKN Tematik seperti Jogjakarta dan Padang, KKN Perbatasan di Pulau Sebatik dan Pulau Miangas, KKN di lokasi konflik seperti Poso, hingga KKN Internasional yang mengantarkan mahasiswa Unhas melakukan pengabdian di Jepang dan Afrika Selatan. Melalui tangan dingin Daeng Hasrul, KKN yang semula hanya dianggap sebelah mata oleh banyak mahasiswa sebagai syarat kelulusan dirancang menjadi mata kuliah yang selalu dinantikan. Mahasiswa juga ikut tertantang untuk melakukan pengabdian di wilayah-wilayah terluar dan terdepan Indonesia untuk meningkatkan rasa nasionalisme mereka, merasakan pengabdian di wilayah konflik untuk menguji keberanian dan penyelesaian masalah, dan menjadi proses pembekalan diri untuk membantu memberdayakan masyarakat.

Daeng Hasrul merupakan sosok dosen sekaligus aparatur sipil negara yang banyak dijadikan sebagai teladan oleh mahasiswa maupun masyarakat di Makassar. Ia dikenal sebagai ASN yang memiliki integritas kuat dan kepribadian unggul, nilai-nilai Pancasila selalu tergambar dalam setiap laku dan ucapannya. Kontribusi nyatanya terhadap bangsa ini dapat dilihat dengan keberadaan KKN Kebangsaan yang sudah berlangsung sejak tahun 2013. Daeng Hasrul merupakan penggagas bersatunya mahasiswa se-Indonesia dalam wadah KKN Kebangsaan. Program ini telah sukses menyatukan 46 universitas dari Sabang sampai Meurauke, dan telah menjadi program Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi yang setiap tahunnya dilaksanakan di universitas yang berbeda.

Berkat dedikasinya dalam menggelorakan semangat kebangsaan di kalangan mahasiswa Indonesia, Daeng Hasrul diganjar penghargaan oleh Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia dan Menristek Dikti sebagai pelopor KKN Kebangsaan di Universitas Halu Oleo Kendari tahun 2015 lalu. Ia juga dipercaya sebagai Tim Reviewer KKN Kebangsaan tingkat nasional sejak tahun 2013 dan aktif mendampingi serta memberikan pembekalan pada setiap pelaksanaan KKN Kebangsaan di berbagai kampus di Indonesia. Daeng Hasrul juga aktif membagikan semangat dan pandangan hidupnya terkait Pancasila dan kondisi bangsa Indonesia di berbagai media massa nasional serta telah menerbitkan beberapa buku dan berkontribusi sebagai penyunting komunikasi politik di beberapa media.

Merajut Benang Kebangsaan dan Peran ASN sebagai Pemersatu Bangsa

KKN Kebangsaan yang dihadirkan oleh Daeng Hasrul merupakan salah satu upaya dirinya untuk merajut benang kebangsaan di kalangan anak muda Indonesia. Kegiatan ini dapat menjadi wadah untuk menumbuh kembangkan rasa cinta tanah air, jiwa kebangsaan, dan patriotisme mahasiswa dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). KKN Kebangsaan menjadi wadah komunikasi, pertukaran ide serta jejaring awal bagi mahasiswa dalam mempersiapkan dan mematangkan diri sebagai calon-calon pemimpin bangsa di masa yang akan datang. KKN Kebangsaan diharapkan dapat meningkatkan wawasan kebangsaan dan mengenalkan tanah air Indonesia secara utuh kepada mahasiswa, mengaplikasikan nilai-nilai luhur Pancasila dan siap mengabdikan ilmu pengetahuan dan teknologi yang didapatnya untuk kepentingan bangsa dan negara.

KKN Kebangsaan merupakan perwujudan dari konsep tridarma perguruan tinggi yang memadukan dharma Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian kepada Masyarakat sekaligus dalam satu kegiatan. KKN Kebangsaan lebih mengedepankan aspek kebangsaan dan rasa cinta tanah air para mahasiswa melalui pengalaman belajar di masyarakat dengan menghubungkan konsep-konsep akademis dengan realita kehidupan yang ada. Program ini merefleksikan pengetahuan teori yang disinergikan dengan pengalaman di lapangan serta mampu mematangkan kepribadian mahasiswa dan menumbuhkan rasa percaya diri dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. KKN kebangsaan digagas untuk memberi nilai manfaat kepada mahasiswa agar menjadi inspirator dalam menghadapi persoalan di masyarakat, menerapkan teori yang telah didapatkan diperkuliahan, melatih diri menghadapi realitas kehidupan bermasyarakat, membantu pemerintah melancarkan program-program pembangunan, melakukan perubahan-perubahan sosial kearah yang lebih baik, dan mempertegas kehadiran kampus ditengah-tengah kehidupan bermasyarakat.

Sosok Daeng Hasrul yang menghadirkan KKN Kebangsaan di tengah-tengah mahasiswa Indonesia merupakan salah satu upayanya untuk menjalankan peran ASN sebagai perekat dan pemersatu bangsa. Seperti yang terikat ketika Ia disumpah dan berjanji sebagai seorang ASN untuk loyal, setia dan taat kepada Pancasila dan UUD 1945. Terlebih lagi dengan laku dan ucapannya yang senantiasa sejalan dengan nilai Pancasila dan UUD 1945, Ia membuktikan bahwa seorang ASN tidak hanya bertugas melaksanakan kebijakan dan pelayanan publik namun juga dapat menjadi teladan bagi orang lain dalam bersikap dan bertingkah laku baik. Sebagai aparatur negara yang menjalankan fungsi pendidikan di kampus, Daeng Hasrul membuktikan bahwa Ia juga dapat menjadi perajut benang kebangsaan. Benang-benang yang akan menyatukan rasa kecintaan masyarakat terhadap Indonesia menjadi sebuah kain kebangsaan yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945.

Ini masa akan datang, Juli 2029. Daeng Hasrul telah melalui masa pensiunnya selama satu dekade. Ia lebih banyak mengisi hari-harinya berkumpul dengan keluarga, membaca, dan melakukan hal-hal yang menyenangkan. Sore itu Daeng Hasrul nampak membuka sebuah buku tua yang nampak mulai usang, sebuah buku yang berjudul “Teladan Pancasila Aparatur Negara” yang diterbitkan oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Republik Indonesia pada tahun 2021. Buku yang berisi tentang keteladanan sosok-sosok aparatur negara yang menjadi panutan bagi masyarakat dalam mengamalkan nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945. Daeng Hasrul nampak tersenyum, tak pernah Ia sadari hasil kerja kerasnya membesarkan KKN Kebangsaan sewaktu menjadi aparatur negara dahulu telah menjadi sebuah warisan (legacy) bagi bangsa ini. Benang rajut yang mempersatukan mahasiswa di seluruh Indonesia dalam satu kain kebangsaan, Indonesia.


메타데이터
post_id
efe238dfb797
slug
daeng-hasrul-sang-asn-teladan-perajut-benang-kebangsaan-efe238dfb797
url
https://medium.com/@asfarsyafar/daeng-hasrul-sang-asn-teladan-perajut-benang-kebangsaan-efe238dfb797
canonical_url
https://medium.com/@asfarsyafar/daeng-hasrul-sang-asn-teladan-perajut-benang-kebangsaan-efe238dfb797
author_url
https://medium.com/@asfarsyafar
status
ok
fetched_at
2026-07-12 01:19:09