← Back to list

Mati Rasa

Setiap kali menghapus percakapan-percakapan lama, aku selalu sadar — waktu benar-benar berjalan, dan banyak hal diam-diam berubah…

ZelinaYou · 2026-05-09 15:30 · 0 claps · 1.4 min read
#mati #rasa #ubur-ubur #bunga-matahari
Open on Medium ↗

Mati Rasa

Setiap kali menghapus percakapan-percakapan lama, aku selalu sadar — waktu benar-benar berjalan, dan banyak hal diam-diam berubah. Nama-nama yang dulu terasa dekat kini tinggal jejak, kalimat-kalimat yang dulu menahan malam kini lenyap hanya dengan satu sentuhan. Semua bergerak. Semua beralih tempat. Hanya aku yang rasanya tetap di sini, merambat pelan seperti siput, nyaris tak membawa apa-apa selain sisa-sisa diri yang tak juga selesai menjadi bentuk.

Aku tidak tahu akhirnya akan seperti apa. Mungkin karena sejak awal aku tak pernah benar-benar tahu seperti apa rupa manusia yang dianggap cukup. Seperti apa ukuran yang membuat seseorang layak disebut berhasil hidup. Seperti apa wajah yang tak lagi dipelototi cermin.

Kalau memang ada hidup lain setelah ini, semoga aku lahir sebagai ubur-ubur di laut, atau bunga matahari di sebuah taman.

Dunia ini terlalu membingungkan bagi sesuatu yang tak pernah berhenti berpikir. Terlalu ramai oleh jawaban-jawaban yang ingin dipamerkan, terlalu sibuk menilai agar bisa memuji. Padahal tidak semua pertanyaan harus menjadi artikel, tidak semua kebingungan harus dijadikan berita.

Semoga kamu dipanggil cantik walau tanpa otak seperti ubur-ubur. Disebut dengan pujian walau hanya menghadap satu arah yang sama seperti bunga matahari. Hiduplah tanpa terus-menerus bertanya. Hiduplah karena kau hidup — bukan untuk mencapai apa pun, bukan pula untuk mengejar tempat yang mereka sebut-sebut sebagai surga.

Matilah tanpa banyak pertimbangan. Tanpa seremoni. Tanpa harus dihakimi sekarang dan nanti. Mati begitu saja, lalu selesai. Bahagialah, walau hanya tinggal seonggok bangkai.

Orang bilang kata-kata bisa menyelamatkan. Tapi jika memang semudah itu, apakah para penyair akan tetap bertahan hanya karena kalimat-kalimat indah yang mereka susun sendiri?

Bukan hidup atau mati yang kupersoalkan. Aku hanya tak mengerti mengapa aku terus dibiarkan hidup tanpa makna. Mengapa aku dibiarkan berjalan hanya untuk mengumpulkan rekaman dosa. Mengapa aku dibuat tetap bernapas hanya untuk meratapi napas itu setiap hari.

Kalau dilihat dari mata manusia, semua ini terasa tidak adil.

Tapi celakanya, aku memang manusia.

Maka Tuhan, bagaimana aku bisa berbaik sangka pada segala sesuatu yang mencekik di tengah jalan? Bagaimana aku bisa menyebut ini sebagai rahmat ketika dadaku terasa penuh oleh pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah benar-benar ingin dijawab?


메타데이터
post_id
efee020e5579
slug
mati-rasa-efee020e5579
url
https://medium.com/@azmyzakia/mati-rasa-efee020e5579
canonical_url
https://medium.com/@azmyzakia/mati-rasa-efee020e5579
author_url
https://medium.com/@azmyzakia
status
ok
fetched_at
2026-06-20 20:29:01