Kita Selesai
Langkah yang dulu berjalan beriringan, kini memilih jalan yang berbeda. Memang perasaan tidak bisa dipaksakan, pergi tiba-tiba tanpa…
Kita Selesai
Langkah yang dulu berjalan beriringan, kini memilih jalan yang berbeda. Memang perasaan tidak bisa dipaksakan, pergi tiba-tiba tanpa memberi aba-aba, sering kali memudar perlahan dan hilang seperti warna yang tersapu oleh hujan dan saat tersadar ternyata kita tinggal sendiri di tempat yang dulu ramai ditempati oleh dua insan.
Kini, aku kehilangan dirinya, tanpa pertengkaran, tanpa amarah. Kehilangan yang muncul karena jarak yang tiba-tiba hadir diantara kita berdua. Perlahan tapi pasti, aku sadar bahwa kita, sudah tidak lagi berjalan di tujuan dan jalan yang sama.
Kehilangan datang tanpa peringatan di dalam sunyi yang bahkan tidak dapat aku pahami. Kehilangan yang rasanya sulit diterima. Karena kehilangan tidak pernah menunggu kita untuk siap, dia datang kapan saja.
Sejak saat itu, aku seperti berjalan di tengah lorong yang besar, panjang, dan gelap. Langkahku tetap berjalan tetapi tanpa arah yang jelas. Aku bangun dengan perasaan hampa, tanpa ucapan-ucapan manis lagi di pagi hari. Rasanya seperti tinggal di dalam rumah yang tiba-tiba semua perabotannya dipindahkan ketika aku tertidur. Masih di tempat yang sama, tetapi dengan suasana dan rasa yang berbeda.
Aku masih ingat jelas, bagaimana cara dia tertawa bisa membuat dunia yang tadinya berat terasa menjadi ringan. Ada tawa dan percakapan malam yang masih menggema. Kini hanya tinggal gema di sudut ingatan, samar namun tetap berada disana. Entah mengapa rasa rindunya terus menemukan celah untuk menyelinap ke pikiranku. Aku belajar untuk tidak menggenggam kenangan itu terlalu kuat, aku mencoba untuk meletakkan apa yang sudah bukan milikku lagi, seperti buku yang tersimpan rapi di rak, masih ada, tetapi sudah tidak lagi aku sentuh, biarlah dia berada disana, barangkali besok aku akan membutuhkannya, biar aku simpan dia disana dengan semua kenangannya.
Hari-hari ku setelah itu berjalan seperti seseorang yang menahan napas terlalu lama, sesak. Tetapi di sela-sela rasa sesak itu, ada juga rasa lega yang samar, pelan-pelan membuka seperti jendela setelah lama hidup di ruangan yang pengap. Lega itu tidak datang meriah, tidak juga langsung membuat semua terasa baik-baik saja. Rasa itu hadir sebagai tanda bahwa aku masih bisa bernafas lega setelah perpisahan yang terjadi. Rasanya masih asing, tetapi aku seperti menghirup udara segar setelah sekian lama. Mungkin hal itu yang membuatku sadar bahwa ini adalah awal dari ruang yang lebih luas, walau aku masih harus menyesuaikan diri dengan apa yang terjadi. Dan mungkin suatu hari, setelah selesai dengan seluruh luka ini, aku akan melangkah tanpa menoleh lagi, bukan untuk melupakan tetapi akhirnya aku siap untuk melanjutkan hidup tanpa dia.
메타데이터
- post_id
- effeaf82430f
- slug
- kita-selesai-effeaf82430f
- url
- https://medium.com/@najeea/kita-selesai-effeaf82430f
- canonical_url
- https://medium.com/@najeea/kita-selesai-effeaf82430f
- author_url
- https://medium.com/@najeea
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-24 11:06:28