Garis Finish Terakhir.
Tentang garis tato dua sentimeter dan janji setia yang patah di lampu merah.
Garis Finish Terakhir.
Tag: Romance, Tragedy, Major Character Death, Angst, Hurt No Comfort, Sad Ending.

.
.
.
.
Malam di sudut Sleman selalu punya cara untuk terasa lebih dingin dari yang seharusnya, terutama saat musim hujan sedang berada di puncaknya. Di dalam sebuah kamar kos yang terletak di lantai dua, tak jauh dari riuh Jalan Kaliurang, keheningan terasa begitu padat. William Russell Hartanto atau yang akrab dipanggil William atau Liam tengah duduk di tepi ranjang dengan kedua lutut ditekuk, merapatkan sebuah jaket jeans pudar ke dadanya. Jaket itu sudah dicuci berkali-kali, namun William selalu merasa masih bisa menghirup aroma minyak rambut sasetan dan sisa asap rokok yang dulu begitu melekat pada pemiliknya.
Di atas meja belajar yang berantakan dengan sisa-sisa kertas kalkir dan penggaris panjang, sebuah cangkir keramik hitam berdiri tanpa asap. Kopi di dalamnya sudah dingin sejak tiga jam lalu, membiarkan ampasnya mengendap di dasar, persis seperti kenangan-kenangan pahit yang menolak pergi dari kepala William.
Dia menatap layar ponselnya yang gelap. Tidak ada notifikasi yang dia tunggu. Memang tidak akan pernah ada lagi. Sudah genap satu tahun sejak hari di mana dunianya runtuh, namun bagi William, waktu seolah menolak untuk berputar maju. Setiap sudut kamar ini, setiap jengkal aspal Yogyakarta yang dia lewati, selalu memanggil kembali satu nama yang kini hanya tinggal nisan di tanah pemakaman pinggir kota, Emilian Verstappen.
Mereka bertemu tiga tahun lalu di sebuah bengkel modifikasi motor kecil di daerah Condongcatur. William, yang saat itu adalah mahasiswa arsitektur UGM semester atas yang sedang pusing mencari inspirasi tugas akhir, terpaksa mampir karena ban motor matiknya bocor tertusuk paku payung. Di sanalah dia pertama kali melihat Emilian atau kerap disapa Emil.
Emil adalah antitesis dari semua hal yang ada pada diri William. Jika William adalah tipe cowok yang selalu memakai kemeja polos rapi, rambut klimis disisir ke samping, dan berbicara dengan intonasi yang tertata layaknya anak ekspatriat berpendidikan, maka Emil adalah badai yang berjalan. Cowok keturunan Belanda-Jawa itu bekerja sebagai mekanik lepas, badannya tegap dengan beberapa bekas luka di lengan, kaus hitamnya selalu ternoda oli, dan matanya yang biru pucat selalu menatap orang lain dengan sorot menantang.
“Bocornya parah ini, Mas. Gak bisa ditambal biasa, kudu ganti ban dalam.” kata Emil siang itu, suaranya berat dan serak, bicaranya blak-blakan tanpa basa-basi ramah khas orang Jawa pada umumnya.
William yang sedang dikejar waktu hanya bisa menghela napas pasrah. “Ya sudah, Mas, ganti saja yang bagus. Kira-kira berapa lama ya?”
Emil tidak langsung menjawab. Dia mengambil sebatang rokok dari kantong celananya, menyalakannya dengan pemantik sekali ceklek, lalu menatap William dari bawah ke atas dengan senyum tipis yang terasa sedikit meremehkan. “Setengah jam. Duduk aja di sana, jangan diri terus kayak mandor proyek.”
Pertemuan pertama yang ketus itu seharusya menjadi akhir. Namun, takdir di kota ini sering kali bekerja dengan cara yang tidak tertebak. Seminggu kemudian, William kembali bertemu Emil di sebuah warung burjo dekat kampus saat tengah malam. William sedang kelaparan setelah begadang membuat maket, sementara Emil baru saja selesai balapan liar di jalanan ring road.
Di bawah lampu neon warung burjo yang berkedip-kedip dan bau mi instan yang menyengat, mereka akhirnya duduk di satu meja yang sama karena tempat yang penuh. Dari obrolan canggung soal mesin motor, melebar ke masalah kuliah William yang tidak kunjung usai, hingga akhirnya bermuara pada tawa-tawa kecil yang entah bagaimana mengikis jarak di antara mereka.
Emil yang biasanya kasar dan bicaranya ketus, malam itu menunjukkan sisi lain yang belum pernah dilihat orang. Di balik tatonya yang melingkar di pergelangan tangan, dia adalah pendengar yang baik. Dia mendengarkan keluh kesah William tentang dosen pembimbingnya dengan perhatian penuh, sesekali menyuapkan sate usus ke mulutnya sendiri.
“Lu tuh terlalu lurus hidupnya, Liam.” ujar Emil malam itu, menatap William sambil menopang dagu dengan tangan yang masih menyisakan noda hitam di sela kuku. “Sekali-kali nakal dikit napa. Biar gak stres amat itu muka.”
William mendengus pelan, menyeduh es teh manisnya. “Nakal versi kamu itu taruhan nyawa di jalanan, Emil. Aku masih sayang nyawa, makasih.”
“Halah, kalau mati mah mati aja. Yang penting pas hidup lu gak bosen.” sahut Emil enteng, diiringi tawa renyah yang entah mengapa membuat dada William berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya.
Sejak malam di warung burjo itu, segalanya berubah. Pertemuan demi pertemuan rahasia mulai intens dilakukan. Mereka sadar, hubungan yang mulai tumbuh di antara mereka bukanlah sesuatu yang bisa dipamerkan di bawah terik matahari. Mereka hidup di sebuah lingkungan di mana cinta di antara dua orang lelaki adalah tabu yang paling besar. Sekali salah langkah, satu gosip yang menyebar di antara anak-anak kos atau teman kampus, maka habislah mereka.
Jadi, mereka sepakat untuk mencintai dalam sunyi. Mereka menciptakan dunia kecil mereka sendiri di dalam kamar kos William. Kamar berukuran tiga kali empat meter itu menjadi saksi bagaimana dua manusia yang berbeda kasta dan sifat ini saling menumpahkan seluruh perasaan yang harus mereka kunci rapat-rapat saat melangkah keluar pintu.
William mengingat dengan sangat detail malam di mana mereka pertama kali melewati batas. Saat itu Jogja sedang diguyur hujan badai yang membuat listrik padam di seluruh area kampus. William sedang duduk di lantai kamarnya, menyalakan sebatang lilin kecil untuk menerangi maket rumah tinggal yang sedang dia kerjakan.
Pintu kamarnya diketuk dengan ritme yang sangat dia kenali — tiga ketukan cepat, lalu satu ketukan pelan. Begitu pintu dibuka, Emil berdiri di sana, basah kuyup dengan jaketnya yang meneteskan air ke lantai. Bukannya langsung masuk, Emil hanya diam menatap William dengan tatapan yang sangat lelah. Malam itu, Emil baru saja bertengkar hebat dengan ayahnya yang menuntutnya untuk berhenti menjadi mekanik jalanan dan pulang ke kota asalnya untuk mengurus bisnis keluarga.
“Emil? Kamu basah semua. Masuk dulu.” kata William cemas, menarik lengan Emil agar masuk ke dalam kamar.
Emil tidak bergerak. Dia malah menarik William ke dalam pelukannya. Dekapan itu begitu erat, begitu menuntut, hingga William bisa merasakan detak jantung Emil yang berpacu cepat di dadanya. Bau air hujan, aroma tembakau, dan rasa putus asa yang pekat menguar dari tubuh Emil.
“Bentar, Liam. Gini dulu. Bentar aja.” bisik Emil di ceruk leher William. Suaranya bergetar, sesuatu yang belum pernah William dengar sebelumnya dari seorang Emilian Verstappen yang selalu tampak tak punya rasa takut.
William tidak bertanya apa-apa. Dia melingkarkan kedua lengannya ke pinggang Emil, mengusap punggung cowok itu yang basah dengan kelembutan yang dia punya. Dia menuntun Emil untuk duduk di kasur lantai mereka yang tipis, mengambil selembar handuk kering, dan mulai mengeringkan rambut pirang Emil yang lepek dengan perlahan.
“Gue capek, Liam.” kata Emil lirih, matanya menatap nyala lilin yang menari-nari ditiup angin dari celah jendela. “Bokap gue gak pernah paham. Dia cuma mau gue jadi kayak apa yang dia mau. Di dunia ini, cuma di sini gue ngerasa gak perlu pura-pura jadi orang lain.”
William menghentikan gerakan tangannya. Dia menatap wajah Emil dari samping. Di bawah temaram cahaya lilin, garis-garis tegas di wajah Emil terlihat begitu rapuh. William meletakkan handuknya, lalu memberanikan diri menyentuh rahang Emil, memalingkan wajah cowok itu agar menatapnya.
“Kamu gak perlu jadi orang lain kalau sama aku, Emil. Aku suka kamu yang apa adanya. Suka Emil yang berantakan, suka Emil yang galak.” ucap William jujur, matanya memancarkan ketulusan yang mendalam.
Emil menatap mata William lama sekali, seolah sedang mencari pegangan di tengah badai yang sedang menghantam hidupnya. Perlahan, Emil memajukan wajahnya. Bibir mereka bertemu dalam sebuah kecupan yang awalnya ragu, namun dengan cepat berubah menjadi lumatan yang penuh dengan rasa lapar akan kepastian.
Di malam yang gelap dan dingin itu, mereka menyerahkan diri mereka seutuhnya satu sama lain. Di atas kasur lantai yang sempit, dengan suara hujan yang menghantam atap seng sebagai latar belakang, mereka menyatu tanpa ada satu pun kata yang terucap. Setiap sentuhan tangan Emil di tubuh William, setiap kecupan yang mendarat di bahunya, terasa seperti sebuah janji bisu bahwa mereka akan saling menjaga, tidak peduli seberapa kejam dunia di luar sana menghakimi mereka.
Bulan-bulan berikutnya adalah masa-masa paling bahagia dalam hidup William, sekaligus yang paling mendebarkan. Mereka menjadi ahli dalam menyembunyikan hubungan. Di kampus atau di jalanan saat berpapasan dengan teman-teman Emil, mereka hanya akan saling melempar anggukan kepala dingin seolah-olah hanya saling kenal muka. Namun di balik itu, di bawah meja warung kopi, jemari mereka akan bertautan erat secara sembunyi-sembunyi.
Mereka bahkan sempat melakukan satu hal nekat yang paling William ingat seumur hidupnya. Saat liburan semester gasal, Emil mengajak William pergi ke Bali menggunakan motor sport hitam kesayangan Emil. Itu adalah perjalanan gila. Mereka menembus jalur darat Jawa-Bali selama hampir dua puluh empat jam, bergantian menahan kantuk dan dinginnya angin malam.
Di Bali, di sebuah pantai tersembunyi di daerah Uluwatu yang sepi dari turis, mereka merasa benar-benar bebas. Tidak ada yang kenal mereka di sana. Mereka bisa berjalan beriringan di tepi pantai, membiarkan ombak membasahi kaki mereka tanpa rasa takut akan ada mata yang mengenali.
Suatu malam, setelah meminum beberapa botol bir dingin di depan penginapan murah mereka, Emil membawa William ke sebuah studio tato kecil yang remang-remang di sudut Kuta.
“Gue mau bikin tato bareng lu.” kata Emil tiba-tiba, menunjuk ke arah seniman tato yang sedang merapikan peralatannya.
William membelalakkan matanya. “Hah? Kamu gila ya? Kalau ketahuan orang rumah gimana? Lagian aku gak suka tato yang aneh-aneh.”
“Gak usah yang gede. Garis lurus aja di sini.” Emil menyentuh pergelangan tangan bagian dalamnya sendiri, tepat di atas urat nadinya. “Sama di tempat lu juga. Jadi kalau kita lagi jauh, lu tinggal liat ini, lu bakal tahu kalau detak jantung gue masih sama kayak punya lu.”
William awalnya menolak, namun melihat binar keras kepala dan penuh cinta di mata Emil, pertahanannya runtuh lagi. Malam itu, jarum tato menusuk kulit pergelangan tangan mereka, mengukir sebuah garis hitam tipis sepanjang dua sentimeter. Sebuah tanda permanen yang mengikat mereka, sebuah rahasia kecil yang mereka bawa ke mana pun mereka pergi.
Esok harinya, mereka duduk di tebing Uluwatu menatap matahari terbenam yang mengubah langit menjadi jingga keunguan. Angin laut menerpa rambut mereka yang berantakan. Emil merangkul pundak William, menariknya mendekat hingga kepala William bersandar di bahunya yang kokoh.
“Liam.” panggil Emil pelan, matanya lurus menatap garis cakrawala di mana matahari mulai tenggelam.
“Hmm?”
“Ntar kalau lu udah lulus, udah jadi arsitek sukses, terus gue juga udah punya bengkel sendiri yang gede… kita pindah dari Jogja ya? Kita cari tempat yang sepi. Di pesisir Gunungkidul atau di mana lah yang dekat laut.” Emil terdiam sejenak, mengusap lengan William dengan jemarinya. “Kita bangun rumah kecil di sana. Gak usah mewah, yang penting ada halaman buat gue ngoprek motor, terus ada jendela gede buat lu ngegambar. Kita tua bareng di sana, gak usah mikirin omongan orang lagi. Cuma ada gue sama lu.”
Mendengar itu, mata William mendadak terasa panas. Dia mempererat pelukannya di pinggang Emil. “Kamu serius, Emil? Jangan cuma janji ya.”
“Gue gak pernah main-main kalau soal lu, Liam. Lu itu garis finish gue. Gak ada tempat lain yang mau gue tuju selain lu.”
Janji itu terasa begitu nyata sore itu. Begitu indah hingga William percaya bahwa cinta mereka yang sembunyi-sembunyi ini suatu hari nanti akan mendapatkan tempatnya untuk bernapas lega di bawah langit bebas. Namun, William tidak pernah tahu bahwa manusia hanya bisa merencana, sementara takdir sering kali memiliki selera humor yang sangat kejam.
Memasuki tahun ketiga hubungan mereka, kenyataan mulai menuntut bayaran. William sudah berada di semester akhir, sibuk setengah mati dengan sidang tugas akhir yang menguras seluruh energinya. Di saat yang sama, tekanan dari keluarga Emil semakin menggila. Ayah Emil datang langsung ke Yogyakarta, mendapati anaknya masih hidup luntang-lantung menjadi mekanik jalanan dan sering terlibat balapan liar.
Pertengkaran di antara Emil dan ayahnya berimbas pada hubungan mereka. Emil menjadi lebih temperamental, sumbu emosinya menjadi sangat pendek karena stres yang menumpuk. Di sisi lain, William yang juga sedang kelelahan secara mental akibat tekanan akademis menjadi lebih sensitif. Mereka yang dulu hampir tidak pernah berantem, kini mulai sering meributkan hal-hal sepele.
Puncaknya terjadi pada malam sebelum hari kelulusan William. Malam itu, William sengaja datang ke rumah kontrakan Emil di daerah Depok, Sleman, untuk mengantarkan undangan wisudanya. Dia berharap malam itu mereka bisa merayakan pencapaian kecil ini bersama sebelum orang tua William datang dari Jakarta keesokan harinya.
Namun, suasana di kontrakan Emil malam itu sangat suram. Ruang tamu berantakan dengan botol-botol minuman kosong dan puntung rokok yang berserakan. Emil sedang duduk di lantai sambil memegang sebuah kunci pas, menatap kosong ke arah dinding dengan mata yang merah akibat kurang tidur berhari-hari.
“Emil.” panggil William lembut, menutup pintu kontrakan di belakangnya. “Kamu kok belum rapi-rapi? Besok kan acara wisudaku pagi-pagi.”
Emil tidak menoleh. Dia hanya mendengus kasar. “Gue gak bisa dateng besok, Liam.”
William terpaku di tempatnya berdiri. Undangan bersampul biru tua di tangannya merosot sedikit. “Kenapa? Kita kan udah bahas ini dari bulan lalu, Emil. Kamu bilang kamu mau dateng, meskipun cuma nunggu di luar gedung penyerahan ijazah.”
“Bokap gue besok dateng ke Jogja lagi. Dia mau mastiin gue beresin barang-barang buat balik ke Surabaya minggu depan.” sahut Emil, suaranya dingin tanpa emosi, namun ada getaran frustrasi yang tertahan di sana.
“Tapi kan bisa sorenya, Emil? Atau kamu bisa izin sebentar aja. Ini hari penting buat aku, aku pengen ada satu foto bareng kamu pakai toga, walaupun cuma di parkiran yang sepi.” kata William, suaranya mulai meninggi, rasa kecewa yang besar mulai menguasai dadanya.
Emil berdiri dengan hentakan kasar, melemparkan kunci pas di tangannya ke lantai hingga menimbulkan suara dentingan logam yang sangat nyaring di ruangan yang sunyi itu. “Lu bisa mikir gak sih, Liam?! Kondisi gue lagi hancur begini, bokap gue lagi ngawasin gue terus, dan lu cuma mikirin soal foto?! Lu mau hubungan kita ketahuan besok? Lu mau karir arsitek lu yang baru mau mulai itu hancur karena orang-orang tahu lu pacaran sama cowok mekanik kayak gue?!”
“Aku gak peduli soal itu, Emil! Aku cuma butuh kamu di sana besok!” bentak William, air matanya akhirnya luruh juga, membasahi pipinya yang memerah karena marah dan terluka. “Kenapa setiap kali ada masalah, kamu selalu dorong aku menjauh? Apa selama ini aku gak ada artinya buat kamu? Apa hubungan ini cuma beban yang bikin kamu capek?!”
Emil menatap William dengan tatapan mata yang sangat tajam, kemarahan yang dipicu oleh stres berhari-hari meledak begitu saja tanpa kendali. “Iya! Hubungan ini bikin gue capek! Gue capek kudu sembunyi-sembunyi kayak maling tiap kali mau meluk lu! Gue capek harus pura-pura gak kenal lu di depan temen-temen gue! Kadang gue mikir, mending dari awal kita gak usah mulai apa-apa sekalian biar hidup gue gak seribet ini!”
Kata-kata itu keluar dari mulut Emil bagai belati yang menghujam tepat di ulu hati William. Kamar itu mendadak terasa kehilangan seluruh udaranya. William mundur dua langkah, menatap Emil dengan tatapan tidak percaya. Dadanya naik turun karena napas yang memburu, sementara air matanya mengalir semakin deras.
“Jadi… selama ini kamu nyesel bareng aku, Emil?” tanya William, suaranya mendadak mengecil, bergetar hebat menahan rasa sakit yang teramat sangat.
Emil terdiam. Begitu kata-kata kasar itu lolos dari bibirnya, penyesalan langsung tercetak di wajahnya. Dia melangkah maju, mencoba meraih tangan William. “Liam, bukan gitu maksud gue… gue cuma lagi pusing — “
“Gak usah sentuh aku!” seru William, menepis tangan Emil dengan kasar. Dia menyeka air matanya dengan punggung tangan, lalu melempar undangan wisuda di tangannya ke atas meja. “Kalau emang aku cuma bikin hidup kamu ribet dan seribet itu, oke. Aku pergi. Aku gak bakal ganggu kamu lagi, Emil.”
William berbalik, membuka pintu kontrakan dengan sentakan keras, lalu berlari keluar menembus kegelapan malam Sleman tanpa menoleh ke belakang lagi. Di belakangnya, dia sempat mendengar Emil meneriakkan namanya, namun ego dan rasa terluka yang teramat besar membuat William terus memacu motornya pergi menjauh, mengabaikan firasat buruk yang mulai menggelitik hatinya.
Itu adalah malam terakhir mereka berbicara. Dan William akan mengutuk malam itu seumur hidupnya.
Keesokan harinya, prosesi wisuda berjalan bagai roda gigi yang berputar tanpa pelumas di kepala William. Dia berdiri di antara ratusan wisudawan lainnya, memakai toga hitam dengan kalung makara, namun pikirannya sama sekali tidak ada di sana. Matanya terus bergerak liar menyapu barisan kursi penonton, berharap keajaiban terjadi dan dia bisa melihat siluet tegap Emil berdiri di sudut sana dengan senyum galaknya.
Namun, sampai acara selesai dan namanya selesai dipanggil ke panggung, Emil tetap tidak ada. Orang tua William mengajaknya berfoto di depan gedung, memuji prestasinya yang lulus dengan predikat terbaik, namun senyum di wajah William terasa begitu palsu dan melelahkan. Selesai sesi foto dengan keluarga besar siang itu, langit Yogyakarta yang sejak pagi berawan mulai menumpahkan hujan deras yang luar biasa. Angin kencang bertiup, membuat dedaunan pohon beringin di halaman kampus berguguran.
Perasaan William semakin tidak karuan. Ada rasa sesak yang aneh di dadanya, sebuah kecemasan yang tidak bisa dia jelaskan dengan logika. Setelah mengantarkan orang tuanya kembali ke hotel di daerah Malioboro dengan alasan ada urusan mendesak dengan teman satu angkatannya, William langsung memacu motor matiknya di tengah badai hujan.
Dia tidak peduli baju wisudanya basah kuyup, dia tidak peduli jarak pandang yang buruk karena air hujan yang menghantam visor helmnya. Pikirannya hanya dipenuhi oleh satu hal, dia harus menemui Emil. Dia ingin meminta maaf atas keegoisannya semalam. Dia ingin bilang kalau dia tidak peduli tentang wisuda, tidak peduli tentang masa depan di pantai, dia hanya ingin Emil kembali memeluknya dan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja.
Namun, takdir sering kali bergerak lebih cepat daripada penyesalan manusia.
Saat motor William sampai di perempatan ring road utara dekat jalan menuju Jalan Kaliurang, lalu lintas mendadak macet total. Klakson mobil bertalu-talu di antara suara gemuruh guntur. Di depan sana, beberapa ratus meter dari posisinya, lampu rotator merah dan biru dari mobil polisi dan ambulans memantul di aspal yang basah oleh air banjir semata kaki.
Banyak pengendara motor yang menepikan kendaraan mereka, berkerumun di bawah jembatan layang sambil berbisik-bisik dengan wajah tegang. William merasakan firasat buruknya memuncak menjadi rasa takut yang luar biasa. Dia menuntun motornya ke pinggir jalan, lalu berjalan kaki menerobos kerumunan orang banyak dengan tubuh yang gemetar hebat.
“Ada kecelakaan apa ya, Pak?” tanya William pada seorang bapak-bapak berjas hujan plastik yang berdiri di dekat pembatas jalan.
“Itu Mas, truk fuso dari arah barat remnya blong pas turunan. Menghantam beberapa motor yang lagi berhenti di lampu merah. Parah banget itu, ada yang sampai masuk ke kolong truk.” jawab bapak itu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya prihatin.
Langkah kaki William mendadak terasa seringan kapas, namun sekaligus seberat timah. Dia terus berjalan mendekat, melewati garis polisi yang baru saja dipasang. Matanya menyapu area kejadian yang dipenuhi serpihan kaca dan tumpahan oli yang mengalir bersama air hujan.
Lalu, matanya menangkap sesuatu di dekat ban belakang truk fuso raksasa itu. Sebuah motor sport hitam yang sangat dia kenali. Motor yang membawanya menyusuri pantai-pantai Bali, motor yang suara mesinnya selalu dia tunggu di depan gang kosannya setiap malam minggu. Motor itu kini hancur ringsek, tangki bensinnya robek, dan roda depannya patah menjadi dua bagian.
“Gak… gak mungkin…” bisik William, suaranya hilang ditelan deru hujan.
Dia berlari menerobos barisan petugas yang sedang mencoba mengevakuasi korban. “Mas! Mas! Gak boleh masuk area rekonstruksi!” teriak seorang petugas polisi mencoba menahannya, namun William menyentakkan tubuhnya dengan kekuatan yang entah datang dari mana.
Di samping badan truk, di atas aspal yang dingin dan dialiri air hujan bercampur darah segar, seorang cowok tergeletak dengan posisi miring. Helm hitamnya pecah di bagian samping, menampakkan rambut pirang yang kini basah kuyup dan bernoda merah kental. Itu Emil.
William langsung menjatuhkan dirinya ke aspal, berlutut di samping tubuh Emil tanpa mempedulikan baju wisudanya yang kini kotor terkena lumpur dan darah. Dia menarik kepala Emil ke pangkuannya, tangannya yang bergetar hebat mencoba membersihkan sisa-sisa pecahan kaca helm dari wajah cowok itu.
“Emil… Emil… bangun, Emil! Ini aku, William! Buka mata kamu, kumohon!” teriak William histeris, suaranya parau, pecah di tengah badai hujan yang semakin menggila.
Wajah Emil yang biasanya penuh dengan warna kehidupan kini pucat pasi layaknya porselen. Kelopak matanya bergetar sangat lambat, sebelum akhirnya terbuka sedikit. Mata biru pucat yang biasanya menatap William dengan penuh binar intensitas itu kini terlihat begitu sayu, redup, dan berkabut oleh rasa sakit yang luar biasa.
“L-Liam…” bisik Emil lirih sekali, suaranya nyaris teredam oleh suara batuk yang mengeluarkan darah dari sudut bibirnya. Dada Emil bergerak naik turun dengan sangat pendek dan patah-patah, berjuang keras untuk menghirup sisa oksigen yang ada di dunia ini.
“Iya, Emil! Ini aku! Tolong bertahan ya, ambulansnya sudah di sini. Kamu kuat kan? Kamu gak boleh pergi begini, Emil! Kita belum ke Gunungkidul, kita belum bangun rumah kita! Kamu udah janji sama aku, Emil!” William menangis sejadi-jadinya, air matanya menetes deras, bercampur dengan air hujan dan darah di wajah Emil.
William meraih tangan kanan Emil yang terkulai lemas di atas aspal, meremas pergelangan tangannya erat-erat. Di sana, di balik sisa noda oli yang samar, tato garis lurus kecil yang mereka buat bersama terlihat begitu jelas. William menempelkan pergelangan tangan Emil to pipinya yang dingin.
Emil menatap wajah William untuk yang terakhir kalinya. Di dalam sisa-sisa kesadarannya yang mulai memudar, tidak ada lagi kemarahan dari malam sebelumnya. Yang tersisa di mata biru itu hanya sebaris rasa cinta yang begitu murni, begitu dalam, dan sebuah permohonan maaf yang tidak sempat dia ucapkan dengan benar.
Jemari Emil yang kasar mencoba bergerak, memberikan remasan yang sangat lemah — hampir tidak terasa — pada jemari William, seolah ingin menyalurkan seluruh sisa kehangatan yang dia miliki di tubuhnya untuk lelaki keturunan Inggris yang sedang menangis hancur di atasnya.
“Maaf… soal… semalem.” kata Emil dengan suara yang semakin mengecil, putus-putus di setiap helaan napasnya. “Gue… sayang banget… sama lu, Liam. Lu… garis finish… gue…”
“Aku juga sayang kamu, Emil! Aku udah maafin kamu! Tolong jangan merem, Emil! Buka mata kamu! EMIL!!!” William menjerit histeris, mendekap tubuh Emil lebih erat ke dadanya.
Namun, genggaman lemah di tangan William perlahan-lahan terlepas sepenuhnya. Kepala Emil terkulai ke samping, dan dada cowok itu berhenti bergerak naik turun. Pandangan dari mata biru yang meredup itu kini kosong, menatap lurus ke arah langit Jogja yang abu-abu tanpa sisa kehidupan lagi di dalamnya. Emilian Verstappen telah pergi. Dia pergi di tengah dinginnya aspal jalanan, di bawah guyuran hujan yang menghapus semua sisa tawanya dari dunia ini.
“Emil? Gak lucu, Emil! Bangun! JANGAN TINGGALIN AKU SENDIRI DI SINI, EMIL!!!”
Raungan William sore itu membelah riuh suara sirine dan hujan di perempatan ring road. Dia memeluk jasad Emil yang mulai mendingin dengan keputusasaan yang teramat sangat, mengabaikan beberapa petugas medis yang kini memegangi pundaknya, mencoba menariknya menjauh dengan lembut. Sore itu, di bawah saksi badai Yogyakarta, William Russell Hartanto tidak hanya kehilangan kekasihnya, dia kehilangan seluruh alasan yang membuatnya ingin terus hidup di dunia ini.
Satu tahun kemudian.
William duduk diam di kursi kayu teras kosannya. Kota Yogyakarta masih sama seperti setahun lalu. Jalan Kaliurang masih macet setiap sore, warung burjo masih dipenuhi mahasiswa yang begadang, dan hujan masih sering turun membasahi bumi. Dunia terus berjalan maju tanpa peduli bahwa ada satu jiwa yang tertinggal di belakang dalam wujud cangkang yang kosong.
William memilih untuk menetap di Jogja setelah lulus. Dia menolak tawaran kerja di biro arsitektur besar di Jakarta yang ditawarkan orang tuanya. Dia memilih bekerja di sebuah studio desain kecil di dekat tempat tinggalnya dulu, hanya agar dia bisa tetap dekat dengan tempat di mana kenangan tentang Emil berada.
Dia menatap pergelangan tangan kirinya. Tato garis hitam tipis itu masih ada di sana, sebuah tanda permanen yang kini terasa seperti sebuah monumen kegagalan dari sebuah janji yang tidak akan pernah terpenuhi. William meraba saku celananya, mengeluarkan sebuah cincin perak sederhana yang dia beli di Kotagede beberapa hari sebelum wisudanya dulu. Cincin itu kini sudah sedikit kusam karena sering dia sentuh di malam-malam penuh air mata seperti ini.
“Kamu tahu gak, Emil?” William berbicara pelan pada angin malam yang berembus pelan, seolah-olah cowok pirang itu sedang duduk di lantai teras sambil merokok di dekat kakinya. “Aku kemarin lewat perempatan ring road. Jalannya sudah diperbaiki, gak ada lagi bekas kecelakaan itu. Orang-orang lewat sana seolah-olah gak pernah ada kejadian apa-apa di tempat itu.”
William menjeda kalimatnya, menelan ludah yang rasanya menyumbat tenggorokannya dengan rasa sakit yang akrab.
“Tapi buat aku, setiap kali aku lewat sana, aku masih bisa mencium bau oli dan darah kamu, Emil. Aku masih bisa denger suara kamu yang manggil nama aku sebelum kamu merem.”
Air mata yang William kira sudah habis terkuras selama setahun terakhir, perlahan menetes kembali, jatuh tepat di atas permukaan cincin perak di telapak tangan.
Penyesalan terbesar William bukanlah karena takdir yang merenggut Emil darinya. Penyesalan terdalam yang terus menggerogoti kewarasannya setiap hari adalah kenyataan bahwa kalimat terakhir yang dia lontarkan pada Emil malam itu adalah kalimat penuh ego dan amarah, bukan sebuah ucapan sayang yang seharusnya layak Emil dapatkan sebelum dia pergi selamanya.
“Kalau saja malam itu aku gak egois… kalau saja aku gak pergi dari kontrakan kamu dan milih buat nemenin kamu yang lagi pusing… sore itu kamu pasti gak akan lewat jalan itu, Emil. Kamu pasti masih ada di sini, lagi protes karena aku masakin mi instan yang kematangan.” bisik William parau, menyembunyikan wajahnya di antara kedua telapak tangannya yang gemetar.
Namun hidup tidak memiliki tombol kembali. Takdir adalah garis lurus yang sangat kejam, yang telah memutuskan bahwa Emilian Verstappen harus pergi di usia mudanya sebagai sebuah cerita yang tragis, sementara William Russell Hartanto harus mengutuk umurnya yang panjang, hidup dalam bayang-bayang penyesalan yang tidak akan pernah menemukan jalan keluar.
Rumah kecil di tepi pantai Gunungkidul itu kini hanya tinggal gambar sketsa usang di dalam buku gambar William yang tidak akan pernah diwujudkan oleh tangan siapa pun.
William mendongak, menatap langit malam Sleman yang gelap gulita tanpa ada satu pun bintang yang meneranginya. “Kamu beneran orang yang paling tepat buat aku, Emil.” ucap William dengan suara yang nyaris hilang ditiup angin malam. “Tapi kita ada di waktu yang salah. Selamat tidur, garis finish-ku. Tunggu aku di sana ya, di tempat di mana kita gak perlu sembunyi-sembunyi lagi buat saling cinta.”
Malam terus bergulir di sudut kota Yogyakarta, dingin, sunyi, dan acuh tak acuh, meninggalkan William Russell Hartanto dalam kesendiriannya yang abadi, meratapi satu-satunya jiwa yang pernah memilikinya seutuhnya, yang kini telah pergi terlalu jauh ke tempat yang tidak akan pernah bisa dia jangkau lagi dengan pelukan.
Ternyata soal ikhlas William masih sosok manusia yang amatir.
.
.
.
.
written with love, jemi.
메타데이터
- post_id
- f04aeb43b877
- slug
- garis-finish-terakhir-f04aeb43b877
- url
- https://medium.com/@calebxiaa/garis-finish-terakhir-f04aeb43b877
- canonical_url
- https://medium.com/@calebxiaa/garis-finish-terakhir-f04aeb43b877
- author_url
- https://medium.com/@calebxiaa
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-01 19:45:52