Lebih dari Sekedar Menulis..
karena skripsi yang baik adalah skripsi yang selesai. Tapi…, apakah yang penting selesai atau selesai yang penting?
Lebih dari Sekedar Menulis..
Saat ini, aku sedang menulis sebuah maha karya. Disebut “maha” karya karena ini adalah tugas akhir “maha” siswa. Orang-orang mengenalnya dengan sebutan, skripsi. Kamu pasti tahu, kan?
Sebenarnya, skripsi adalah hal yang menakutkan — setidaknya bagiku. Bukan tanpa alasan ternyata. Salah dua hal yang membuatnya ditakuti adalah karena projek ini memerlukan waktu yang lama dalam pengerjaannya dan penyelesaiannya bergantung pada pribadi masing-masing mahasiswa. Ada yang pengerjaannya mudah, namun sulit saat sidang. Ada yang pengerjaannya sulit, namun sangan dimudahkan saat sidang. Adapun yang sulit atau mudah dikedua masa tersebut.
Masing-masing mahasiswa mempunyai kesulitannya sendiri. Dan masing-masing mahasiswa — mau tak mau — menjalankan masa ini dengan caranya sendiri. Menakutkan bukan?
Itulah yang kupikirkan dahulu — menakutkan dan sendirian. Namun, tak kusangkan, semua berjalan dengan sangat menyenangkan (alhamdulillah). Tetap sulit, tapi menyengkan. Aku juga menangis dalam prosesnya, tapi aku tetap bisa menikmatinya. Paham, kan? Mungkin karena aku percaya, akan selalu ada kemudahan bersama kesulitan (QS. 94:5–6). Untuk itu, semua perjuanganku selama menulis skripsi ini menjadi sangat menyenangkan. Kalau kalian gimana?
Anyway, di detik aku menulis tulisan ini, skripsiku belum sepenuhnya rampung. Tadinya, ingin kuurungkan niatku untuk menulis tentang ini. Kupikir, seharusnya aku menyelesaikannya setelah itu aku menuliskan hikmah dibalik kepenulisan itu. Tapi setelah kupikir-pikir lagi, kenapa aku harus menundanya? Padahal hikmahnya sudah kurasakan saat ini. Mungkin dari tulisan ini, ada mahasiswa lain yang membutuhkan tulisan ini? Didetik ini!? We never know.
Skripsi yang baik adalah skripsi yang selesai
Kalian pasti tidak asing dengan kalimat diatas. Benar saja. Kuulangi lagi, “skripsi yang baik adalah skripsi yang selesai.” Selesai, tidak harus sempurna. Selesai, tidak harus tanpa kelemahan. Namun, selesai, dan harus melewati prosesnya dengan maksimal atau mengusahakan yang terbaik untuk menyelesaikannya — inilah tantangannya.
Dari menulis maha karya ini aku belajar banyak hal. Wajar bila kusebut, “lebih dari sekedar menulis.” Karena aku merasa sangat diuji selama dalam masa skripsian ini. Mulai dari ketahanan membaca jurnal yang sangat membosankan, kedisiplinan untuk berprogres tiap hari, kemandirian selama mengerjakan skripsi, kesabaran menghadapi pihak eksternal, kepercayaan terhadap takdir kehidupan, dan lain sebagainya.
Aku pernah diajarkan bahwa sebaik-baik manusia yang dapat dicontoh adalah Rasulullah atau Nabi Muhammad SAW karena beliau mempunya 4 sifat yang dibutukan dalam kehidupan ini, yaitu siddiq (jujur), amanah (dapat dipercaya), tabliqh (menyebarkan kebaikan), dan fathonah (cerdas). Keempat sifat tersebut menunjukkan kualitas sosial, profesional, spriritual, dan intelektual beliau.
Menariknya, aku merasakan keempat hal tersebut di masa skripsian ini. Bayangkan saja, aku harus jujur dalam menyajikan kata dan data, amanah untuk menyelesaikannya di semester ini, bisa menyebarkan kebaikan setelah skripsi ini rampung, dan bertambah ilmunya. Indah, bukan? Jadi bertahanlah dan selesaikan skripsi mu. Karena kalau bukan kita, siapa lagi? Sekian 🙏
메타데이터
- post_id
- f04bddc2df38
- slug
- lebih-dari-sekedar-menulis-f04bddc2df38
- url
- https://medium.com/@syifikim/lebih-dari-sekedar-menulis-f04bddc2df38
- canonical_url
- https://medium.com/@syifikim/lebih-dari-sekedar-menulis-f04bddc2df38
- author_url
- https://medium.com/@syifikim
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-19 22:17:22