← Back to list

Medialmadul

Draft yang aku buat satu tahun yang lalu, tapi baru aku selesaikan hari ini. Ketika itu aku belum cukup percaya diri untuk membuatnya…

dway in Komunitas Blogger M · 2026-07-11 02:46 · 12 claps · 3.5 min read
#bahasa-indonesia #komunitas-blogger-medium #media-sosial
Open on Medium ↗

Medialmadul

Photo by Eamonn Wang on Unsplash

Photo by Eamonn Wang on Unsplash

Draft yang aku buat satu tahun yang lalu, tapi baru aku selesaikan hari ini. Ketika itu aku belum cukup percaya diri untuk membuatnya menjadi tulisan yang panjang, dan setelah banyak membaca, mendengarkan, dan memperhatikan, aku mulai berani menulisnya.

Aku pertama kali punya akun Facebook di tahun 2013, akun Instagram di tahun 2016, dan akun WhatsApp di tahun 2017. Bagiku, fungsi Facebook dan Instagram ketika itu adalah untuk bersosialisasi di dunia maya, ya, hanya sebagai hiburan saja. Sedangkan WhatsApp untuk berkomunikasi harian dan lebih intens dibandingkan dengan Facebook dan Instagram, karena memang fitur chatting yang lebih mudah dan simpel di WhatsApp.

Sembilan tahun menjadi user Instagram, dengan fitur yang itu-itu saja hingga sekarang yang bermacam-macam tetek bengeknya. Jujur saja, sejak munculnya berbagai macam fitur, fitur yang aku gunakan hanya fitur yang itu-itu saja, yang sudah ada sejak pertama kali Instagram release.

Instagram yang awalnya membantuku terkoneksi dengan teman-teman lamaku, ruang untuk berbagi pengalaman, dan belajar berbagai macam hal. Justru lama-lama membuatku jenuh, insecure, dan takut. Apakah karena sudah lama menjadi user, wajar saja merasa jenuh?

Pernah suatu waktu aku melihat sebuah postingan tentang tren zero post di Instagram, yang katanya si personal branding-nya Gen Z. Tren zero post yang katanya artinya berusaha menunjukkan sisi misterius, eksklusif, dan estetik. Sebenarnya, sebelum tren tersebut marak, aku sudah lebih dulu mengosongkan postingan di feed-ku. Bukan karena sok-sokan ingin misterius atau apalah itu.

Tapi menurutku, seiring berjalannya waktu dan usia, muncul rasa takut dan khawatir bahwa tidak semua yang aku posting selalu direspons dengan baik oleh semua orang.

Paham kan maksudku? Meskipun awalnya aku rasa bahwa cerita, momen, pengalaman, dan kebahagiaan itu layak-layak saja untuk diposting. Ya hingga akhirnya, aku memilih untuk hidup lebih private di dunia maya, menikmati momen secara utuh tanpa selalu merasa perlu untuk mem-posting-nya di medsos, dan sadar bahwa tidak semua hal perlu dan harus untuk di-posting. Maka jangan heran, kalau saja aku sering melewatkan momen-momen penting/seru tanpa mendokumentasikannya, karena menurutku kehidupan di dunia nyata lebih penting daripada di dunia maya.

Sadar tidak, kalau semakin hari, semakin sering kita melihat dan memperhatikan, tidak sedikit teman-teman di sekitar kita mulai kehilangan border antara apa yang boleh dan tidak boleh di-posting, misalnya seperti hal-hal private yang memang seharusnya tidak untuk di-posting atau sekadar menuruti ego saja.

Atau kalau menurut para ahli, istilah modernnya itu oversharing, yaitu sebuah perilaku yang membagikan informasi pribadi secara berlebihan di media sosial yang melampaui batas wajar. Di sini konteksnya adalah postingan untuk public ya, bukan di second account ataupun close friends, karena kalau di second account atau close friends beda cerita. Karena sebenarnya fenomena oversharing bukanlah bentuk kejujuran dan keterbukaan yang sehat, justru membahayakan diri sendiri.

Seperti kata Habib Husein Ja’far, “Media sosial menjadikan kita tahu apa yang tidak perlu kita tahu; tahu apa yang tidak ingin kita tahu; dan tahu apa yang seharusnya kita tidak tahu. That’s totally true! Kalau media sosial saja berusaha untuk menjadi semakin cerdas, tentunya user-nya harus menjadi lebih cerdas dan bijak. Meskipun terasa ribet, berat, dan repot, ya begitulah bermedia sosial di era sekarang ini.

Beberapa waktu yang lalu, secara tidak sengaja aku mendengarkan cuplikan video Reza Rahadian dan Luna Maya yang lagi QnA bareng Marco dan Marlo di YouTube Volix Media. Reza ditanyain kenapa sampai sekarang belum pakai Instagram buat bermedsos, dan apakah punya second account. Terus dia berusaha jelasin tentang definisi second account, berdasarkan apa yang dia tahu.

Menurutnya, second account adalah ruang untuk memposting sesuatu yang sifatnya lebih private dan hanya dilihat oleh orang-orang tertentu secara terbatas. Terus dia nanya apa bedanya dengan WhatsApp story kalau gitu. Jadi menurutnya, nggak ada bedanya antara second account dan WhatsApp, karena memang kalau WhatsApp itu lebih private, orang-orang yang saling save nomor kita adalah orang-orang yang emang kita kenal di dunia nyata dan biasa berkomunikasi.

Menurutku, benar juga apa kata Reza, kalau second account dan WhatsApp story itu nggak ada bedanya, karena sama-sama private. Tapi mungkin, tingkat private-nya lebih tinggi second account dibandingkan dengan WhatsApp, karena kalau di WhatsApp kita tetap perlu menjaga citra diri lewat foto/video/caption yang kita posting disana, sedangkan di second account yang kita bisa posting apapun sampai hal-hal random, kalau menurutku istilahnya itu menjadi diri sendiri.

Semenjak saat itu, aku benar-benar mantap untuk hidup lebih seru di WhatsApp, mem-posting apa pun yang sedang ingin aku posting, dan berusaha untuk sedikit lebih terbuka. Untuk apa bersenang-senang di Instagram, yang viewer-nya saja bukan orang-orang yang kenal baik dan dekat denganku. Sedangkan kalau di WhatsApp sudah tentu viewer-nya berisi keluarga dan teman-teman dekat.

Udah bahas ke sana-ke mari, aku jadi ingat kalau ternyata dua tahun terakhir ini, akun Instagram-ku tidak benar-benar hidup. Sengaja menghapus profile picture, mengosongkan feed, dan berhenti membuat story dan posting-an di sana, bahkan di second account. Selain karena takut dan khawatir, bagiku sepertinya masa-masa bersenang-senang di Instagram memang sudah habis, sehingga kehilangan ketertarikan.

Barangkali memang seperti itulah fase kehidupan. Ada hal-hal yang menyenangkan dan menarik di fase kehidupan tertentu, dan ketika fase itu selesai, rasa senang dan tertarik pun ikut selesai. Berganti fase ke fase kehidupan yang menenangkan, untuk hidup lebih bermakna.


메타데이터
post_id
f0ce76a42c3d
slug
medialmadul-f0ce76a42c3d
url
https://medium.com/komunitas-blogger-m/medialmadul-f0ce76a42c3d
canonical_url
https://medium.com/komunitas-blogger-m/medialmadul-f0ce76a42c3d
author_url
https://medium.com/@dwayy
status
ok
fetched_at
2026-07-13 06:23:13