← Back to list

Business Development di Dunia Nyata: Belajar dari Proyek Akhir Bootcamp

Meningkatkan jumlah leads berkualitas dan membangun hubungan awal dengan calon klien bukanlah hal yang mudah, terutama dalam konteks B2B…

Shusmita Puspitasari · 2025-05-20 16:22 · 0 claps · 3.4 min read
#business-development #leads #b2b #b2b-lead-generation #dibimbing
Open on Medium ↗
Wiki topics: CRM · Email & CRM

Business Development di Dunia Nyata: Belajar dari Proyek Akhir Bootcamp

Meningkatkan jumlah leads berkualitas dan membangun hubungan awal dengan calon klien bukanlah hal yang mudah, terutama dalam konteks B2B. Namun, justru dari proses ini mendapatkan banyak insight tentang bagaimana menyusun strategi, memahami kebutuhan pasar, dan menjalankan pendekatan yang efektif dalam waktu yang terbatas.

Pada artikel ini saya tulis berdasarkan pengalaman selama menjalankan proyek akhir untuk Bootcamp Business Development Dibimbing.id, dengan pada perusahaan Dibimbing B2B.

Tahap 1: Analisis Situasi

Langkah pertama adalah mengenali siapa klien kita. Dalam proyek akhir ini, saya di assign untuk di Dibimbing.id B2B, platform yang membantu men-digitalisasi dan men-transformasi perusahaan dengan layanan:

  • Customized Corporate Training
  • Learning Management System (LMS)
  • Recruiting End-to-End

Tentang Dibimbing B2B

Tentang Dibimbing B2B

Untuk memahami bagaimana Dibimbing menciptakan, menyampaikan, dan menangkap nilai dari setiap layanan, saya menggunakan kerangka Business Model Canvas sebagai alat bantu visual. Ini dapat membantu dalam memetakan kekuatan dan peluang yang bisa dijadikan dasar strategi outreach.

Business Model Canvas Dibimbing B2B

Business Model Canvas Dibimbing B2B

Tahap 2: Analisis Peluang Pasar

Saya melakukan kombinasi riset primer dan sekunder untuk memahami:

  • Siapa target user potensial? (HR, L&D, Business Owner)
  • Apa kebutuhan dan tantangan yang dihadapi?
  • Siapa kompetitor yang menawarkan layanan sejenis?

Dari hasil riset, muncul tiga pain point utama:

  1. Sulit menemukan talenta yang siap kerja sesuai kebuthan industri
  2. Tidak ada platform pelatihan yang fleksibel dan terukur
  3. Program pelatihan sebelumnya tidak berdampak nyata

Analisis SWOT dan analisis kompetitor juga dilakukan untuk menilai keunggulan dan celah yang bisa dimanfaatkan Dibimbing dalam bersaing di pasar.

SWOT Analisis

SWOT Analisis

Tahap 3: Menentukan Tujuan Strategis (SMART Goals)

Setelah berdiskusi dengan tim dibimbing B2B, kemudian ditetapkan tujuan dari proyek akhir sebagai berikut:

  • Menghasilkan 22++ outbound leads
  • Menjadwalkan 1–3 demo/konsultasi
  • Mencapai open rate dan response rate yang sesuai KPI

Untuk mendukung pencapaian tersebut, indikator kinerja (KPI) yang digunakan adalah:

  • LinkedIn Open Rate ≥ 20%
  • Email Response Rate ≥ 25%
  • Jumlah meeting/demo yang berhasil

SMART Goals

SMART Goals

Tahap 4: Rencana Eksekusi

Dengan pemahaman yang lebih baik tentang target pasar dan kebutuhan mereka, rencana strategi eksekusi sebagai berikut:

  • Channel outreach: LinkedIn manual & email campaign
  • Tools yang digunakan: Google Sheets, Google docs untuk template pesan
  • Materi pesan: disesuaikan dengan jabatan & kebutuhan prospek

Setelah itu, menyusun kriteria prospek potensial berdasarkan daya beli, posisi pengambil keputusan, dan sektor industri. Pendekatan ini sebagian mengadopsi kerangka ANUM namun tetap fleksibel dan tidak membatasi.

ANUM Framework

ANUM Framework

Tahap 5: Eksekusi di Lapangan

Dalam waktu 3 minggu, yang berhasil dilakukan:

  • Mendapatkan 22++ leads
  • Mencapai 57% email response rate (Automatic & Manual )dan 25% LinkedIn open rate
  • Namun, belum berhasil mengatur demo/konsultasi (kendala: slow response dan kesulitan menjangkau PIC)

Beberapa evaluasi yang dilakukan:

  • Mengubah template menjadi pesan personal
  • Menggunakan insight dari engagement awal untuk follow-up

Execution Summary - KPI

Execution Summary - KPI

Tahap 6: Evaluasi, Rekomendasi dan Strategi After-Sales

Dari proses ini, evaluasi yang didapatkan:

  • Targeting harus langsung ke decision maker
  • Pesan yang terlalu umum jarang mendapat respons
  • CRM sangat membantu dalam tracking & follow-up
  • Materi seperti case study atau testimonial sebaiknya dikirim sebelum meeting terjadwal

Sebagai bagian dari strategi jangka panjang, saya menyarankan:

  • Pengiriman laporan performa pelatihan secara rutin
  • Konten edukatif berkelanjutan seperti webinar & newsletter
  • Garansi training: grup WhatsApp diskusi lanjutan atau kelas tambahan untuk peserta yang kesulitan

Proyek akhir ini memberi saya pengalaman nyata dalam menjalankan strategi Business Development dari awal hingga akhir. Meski belum menghasilkan meeting untuk demo/konsultasi, namun hasil seperti tingginya response rate dan validasi strategi outreach membuktikan bahwa pendekatan yang tepat bisa menciptakan pondasi yang kuat untuk kolaborasi jangka panjang.

Semoga pengalaman ini bisa menjadi referensi bagi teman-teman yang juga sedang belajar atau ingin mendalami dunia Business Development, khususnya di ranah B2B.

Tak lupa, saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada para mentor dan teman-teman dari Bootcamp Business Development Batch 01 Dibimbing.id atas bimbingan, support, dan semangat selama proses pembelajaran ini berlangsung 🥳.


메타데이터
post_id
f0d062b9f82e
slug
business-development-di-dunia-nyata-belajar-dari-proyek-akhir-bootcamp-f0d062b9f82e
url
https://medium.com/@shusmitaps/business-development-di-dunia-nyata-belajar-dari-proyek-akhir-bootcamp-f0d062b9f82e
canonical_url
https://medium.com/@shusmitaps/business-development-di-dunia-nyata-belajar-dari-proyek-akhir-bootcamp-f0d062b9f82e
author_url
https://medium.com/@shusmitaps
status
ok
fetched_at
2026-07-13 18:09:28