Short Story, Jack & Joker: How to Return the Ring
(DISCLAIMER!
Short Story, Jack & Joker: How to Return the Ring

(DISCLAIMER!
Cerita ini murni hanya fanfiksi yang tidak ada sangkutpautnya dengan cerita asli dari series “Jack & Joker, U Steal My Heart”. Kebijakan pembaca sangat diperlukan disini.)
Pagi menjelang kawasan pemukiman rusunawa yang dikenal sebagai sarangnya pencuri, pembegal dan segala bentuk kejahatan yang selalu diidentikkan dengan masyarakat kelas bawah, Shupanimit. Joke, seorang pria paruh baya yang tinggal seorang diri disalah satu ruangan di rusunawa tersebut menggeliat dengan iringan suara erangan cukup keras, menandakan rasa kesakitan yang telah menyebar ke seluruh badannya. Dia membuka matanya lebar-lebar, mengingat segala kejadian yang telah Ia lalui di event peragaan busana yang diikutinya kemarin. Saat Ia mulai mengingat adegan bagaimana badannya dibanting secara brutal oleh sosok pria yang lebih tinggi darinya, tiba-tiba telinganya berdering. Kepalanya sakit hingga membuatnya mengernyit, namun adegan demi adegan seakan tidak mau berhenti memutar di kepalanya sampai dirinya harus menelungkupkan kepala di antara kedua tangannya itu,
“SIALAN JACK!” Umpatnya sambil menghempaskan kedua tangannya ke udara.
Nafasnya berat, seakan menyalurkan segala emosi dan kemarahan yang bergulir di hatinya, yang tidak dapat Ia ungkapkan semalam akibat rasa kantuk yang lebih dahsyat menyerang pelupuk matanya.
“Lebih sialan lagi si Tatto dan Hoi, sih.” Gerutunya sambil bangun. Tak lama, handphonenya berbunyi,
“Ting!” Joke hanya melirik, sampai ada dentingan nada bunyi lagi sebanyak dua kali,
“Ting! Ting!” Joke mengambil handphone yang terletak di meja yang tak jauh dari jangkauannya itu. Terlihat ada notifikasi pesan dari Tatto di layarnya. Joke menyeringai,
“Panjang umur nih bocah.”
Joke kemudian membuka ponselnya itu dan membuka semua pesan dari Tatto yang mengatakan jika Paman Sompong, orang yang membuatnya terluka di bahu dan sekaligus dihantam Jack secara habis-habisan di rusun, meninggal dunia dan akan dikremasi hari ini. Joke sama sekali tidak tertarik dengan informasi yang didapatkannya ini, namun yang membuatnya tersenyum dan ingin segera bergegas pergi ke lokasi kremasi adalah, pesan dimana Tatto mengatakan jika Jack akan ikut dalam acara penghormatan terakhir! Tanpa babibu, Joke langsung pergi ke kamar mandi, mencuci muka lalu mengambil kemejanya dan juga “cincin” diatas meja. Disakuinya benda kecil tersebut di kantung kemejanya dan pergilah dia ke lokasi kremasi diadakan.
Joke mengendap-endap begitu melihat sosok yang sangat ingin Ia temui benar-benar sedang berdiri disana. Disitu juga ada sosok Tatto dan Hoy, serta orang-orang yang dipikirkannya adalah para tetangga rusun di sekitar ruangan yang Paman Sompong tempati. Ada seorang wanita paruh baya juga yang sedang menangis terisak-isak yang disampingnya terdapat seorang nenek-nenek berambut pendek terlihat menenangkannya. Joke yakin jika wanita paruh baya yang menangis adalah istri dari almarhum Sang Paman, sedangkan si nenek yang tak asing baginya itu adalah nenek yang pernah Ia lihat saat Jack dibawa oleh polisi di kediamannya, yang tak lain adalah nenek dari Jack sendiri. Joke menelan ludah. Tampak raut keraguan yang tiba-tiba menyelimuti wajahnya. Ia keluarkan kembali cincin itu dari saku kemejanya dan diperhatikannya lagi. Seperti saat akan tidur kemarin, tulisan “Jack” disana tetap menjadi sasaran dari rasa penasaran sekaligus kagumnya pada cincin emas ini. Dia kemudian bergumam, berpikir bagaimana cara agar bisa mengembalikan cincin ini kepada “pemiliknya”, tanpa menimbulkan kecurigaan atau kegaduhan yang tidak perlu. Joke, di tempat persembunyiannya, tetap mengamati gerak-gerik Jack dengan hati-hati, sampai Jack terlihat sedang “berpamitan” dan berjalan ke arahnya. Joke mengumpulkan seluruh kewaspadaannya dan bergegas untuk berancang-ancang mengambil langkah. Jack, dengan setelan jas hitam kini tengah berjalan menyusuri jalanan beraspal yang di samping kanan-kirinya ditumbuhi ilalang dan rerumputan. Dia terus berjalan menuju ke ujung, ke arah jalan besar yang ramai, namun bukan Jack jika dia tidak menyadari jika ada “tikus” yang telah mengikutinya sedari tadi. Dengan sengaja Jack berbelok ke arah ruko kosong dengan halaman luas yang tentu saja membuat Joke terkaget dengan langkah tak terprediksi dari pemuda incarannya itu!
“Ngapain Si Jack kesitu?” Ucapnya. Diikutinya Jack tanpa ragu hingga dia masuk ke area ruko dengan pagar teralis yang terbuka lebar tersebut dan tanpa disangka, ada sebuah tangan besar yang dengan sigap menelikung tubuhnya dari belakang.
“AHHHH!! AHH! BERHENTI! BERHENTIII!!”
“Kamu ini memang kurang kerjaan apa bagaimana? Suka sekali, ya ngikutin orang?”
“Aduh sakit Jack! Lepasin nggak, hey!” Ronta Joke dengan sekuat tenaga. Tapi semakin kuat Joke meronta, semakin kuat pula Jack mengunci kuncian tangannya itu.
“Ampuuunn!! Ampun, ampun! Aku Cuma mau balikin cincin! CINCIIIN!” Tapi Jack tetap tidak bergeming, dia malah menendang lutut Joke hingga pemuda itu jatuh terduduk.
“CINCIN WOI! CIINCIIIN! AKU MAU BALIKIN CINCIN, BABI! SIALAN!!”
Jack pun akhirnya melepaskan Joke dengan mendorongnya dengan keras, yang otomatis membuat Joke terjerembab tanpa ampun. Joke yang kesal, langsung berbalik badan dan memaki-maki Jack melalui matanya tanpa bersuara. Dimata Jack, dia hanya terlihat sebagai seseorang yang memelototinya sambil mendengus keras kearahnya.
“Kalau mau ngomong, ngomong aja, nggak usah ditahan-”
“Eh babi ya kamu!” Joke menutup mulutnya. Dia menyesali kespontanitasannya yang secara reflex langsung memaki Jack tanpa ragu. Tapi yang dimaki Cuma tersenyum dangkal. Masih dengan ekspresi kesalnya, Joke berjalan mendekat kearah Jack dan meraih tangan Jack tanpa babibu dan menaruh cincin yang sejak awal telah digenggamnya itu dengan kasar.
“Nih! Aku balikin!”
Jack dengan ekspresi datarnya, melihat ada sebuah cincin di telapak tangannya dan hanya diam, tak bereaksi apapun. Namun Joke yang mengharapkan adanya secercah reaksi mulai kehilangan senyumannya.
“Ck! Kalo nggak mau, balikin deh sini.” Pinta Joke dengan ekspresi kesal bercampur malas sambil menengadahkan tangan kanannya. Dan tak disangka-sangka, Jack benar-benar memberikan cincin itu kembali ke Joke yang membuat pria itu kelabakan.
“Aku nitip ya!” Kata Jack sambil berlalu melewati Joke.
“Hey! Yang bener aja ini, hey! Jack!” Teriak Joke sambil melambai-lambaikan tangan yang sedang memegang cincin yang diberikan Jack tadi,
“Aku mau kerja dulu! Jangan berisik!” Teriak Jack yang sudah semakin menjauh karena terus berjalan. Joke pun menyerah. Dia seakan kehabisan akal kenapa Jack sampai mau “menitipkan” barang yang Tatto bilang sangat berharga baginya itu kepada dirinya. Berbagai pertanyaan sekarang menyelimuti kepalanya seiring dengan menghilangnya tubuh Jack dari pandangan matanya. Tanpa pikir panjang, Joke memakaikan cincin itu ke tangannya sendiri lalu mengangkatnya tinggi-tinggi ke udara.
“Haruskah aku ganti nama jadi Jessie lagi? Terus jadi istrinya seseorang~?” Celetuknya dengan bergaya centil seperti saat Dia berpura-pura menjadi seorang wanita untuk berperan sebagai seorang pe-make up artis di acara pemotretan Aran waktu itu.
“AISH! Sialan Jack emang…” Kata Joke tiba-tiba sambil menendang jalanan beraspal dengan kesal.
THE END.
메타데이터
- post_id
- f0d2f44c624f
- slug
- short-story-jack-joker-how-to-return-the-ring-f0d2f44c624f
- url
- https://medium.com/@ekayuuki/short-story-jack-joker-how-to-return-the-ring-f0d2f44c624f
- canonical_url
- https://medium.com/@ekayuuki/short-story-jack-joker-how-to-return-the-ring-f0d2f44c624f
- author_url
- https://medium.com/@ekayuuki
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-21 14:54:35