Keluarga dan Segala Problematikanya
Sebenarnya ada apa sih dengan ayah, ibu, adik, kakak, dan aku?
Kisah Keluarga #1
Keluarga dan Segala Problematikanya
Sebenarnya ada apa sih dengan ayah, ibu, adik, kakak, dan aku?

Nathan Dumlao on Unsplash
Sebenarnya sudah sejak lama aku ingin membahas soal keluarga ini, dengan segala kisah kasih,huru-hara, dan perjuangan dari masing-masing anggota keluarga yang penuh dengan pemikiran yang hampir tak pernah seirama.
Izinkanlah aku sebagai perwakilan dari anak tunggal akan membahas segala tulisan mengenai keluarga ini. Mungkin nantinya masih agak bias sehingga kritik dan saran sila disampaikan.
Oh iya, kalian bisa mengakses tulisan ini tanpa terhalang payar melalui tautan ini.⋆.˚✮🎧✮˚.⋆
Mari kita bahas dari yang biasa disebut sebagai kepala keluarga yaitu Ayah.

Isaac Quesada on Unsplash
Tulisan ini merupakan penjabaran dari prosais milik Akhyatun Nisa (Izinkan saya untuk menulis ini ya hehe).
Satu hal yang paling kusorot adalah:
Meski jarang bercerita. Ayah akan selalu sigap atas segala kesulitan kita, atau bisa dibilang sedikit bicara banyak aksinya.
Cintanya terkadang bukan lewat kata-kata ataupun ucapan yang memberikan afirmasi positif, melainkan bagaimana ia berusaha semaksimal mungkin memenuhi segala kebutuhan keluarganya.
Namun terkadang, hal ini pula yang menjadi kesalahpahaman antara Ayah dengan istrinya, ataupun dengan anak-anaknya.
Kami butuh sosok Ayah yang hadir mendengarkan kami, membantu, dan ikut berdiskusi bersama kami. Bukan segalanya ia tampung sendirian.
Dan terkadang, Ayah sendiri lupa bagaimana rasanya mendapatkan ucapan terima kasih karena mau duduk bersama, dibandingkan atas jasa-jasanya menghidupi keluarga (walau terkadang ada juga sih permasalahan soal memberi nafkah seadanya tapi menuntut kelewatan, dan aku juga tidak setuju soal itu.)
Selanjutnya adalah Ibu.

Liana Mikah on Unsplash
Tulisan yang akan saya ambil dari kisah Riza Umami (Izinkan saya untuk menulis ini ya hehe).
[embed]Menjadi Ibu #26: Renungan dari seorang ibu.medium.com
Dari tulisannya aku mengerti.
Menjadi sosok Ibu itu tidak mudah, bahkan sangat melelahkan. Sejak dia memutuskan menikah hingga anak-anaknya mampu mandiri atau akhir hayatnya.
Sosok Ibu sering dituntut untuk mempertaruhkan nyawa demi melahirkan seorang keturunan, dituntut selalu sabar menghadapi tingkah anak-anak, menghadapi *Manchild* yang terkadang masih ada dalam diri suaminya, tak jarang juga dituntut untuk merawat diri, dan selalu bersikap baik menghadapi segala omongan, baik dari orang luar, tetangga ataupun keluarganya sendiri.
Terima kasih Ibu atas segala perjuanganmu selama ini, maafkan dan ingatkan bila nanti anakmu atau suamimu nantinya sering membuatmu kesal.
(Khusus suami kecuali kalau udah keterlaluan, segera ngobrol berdua aja).
Beralih dari orang tua, mari kita berjalan ke anak-anak yang terkadang pikirannya tak mampu dipahami oleh adik, kakak, ataupun kedua orangtuanya.
Pertama, mari kita mulai membahas dari si Sulung yang sering dituntut untuk menjadi serba ada. Kali ini izinkan aku mengambil kisah dari Pudyla (Mohon izin untuk tagnya ya, maaf menganggu jika sedang hiatus).
Dan tulisan dari Isabella Chelsea Sergius (Mohon izin untuk tagnya ya, maaf menganggu jika sedang hiatus).
[embed]Untuk Para Putra dan Putri Sulung Selamat Hari Ayah untuk si Sulung.medium.com
Dari sekelumit kisah yang aku baca. Sulung selalu identik dengan seseorang yang dituntut menjadi penjaga adik-adiknya, menanggung harapan dan tanggung jawab dari orang tua untuk menjadi contoh baik bagi adik-adiknya, sekaligus menahan luka atas getirnya kehidupan yang ia jalani.
Pesanku kepada si Sulung.
Kamu berhak memiliki kebahagiaanmu sendiri, boleh membagikan rasa lelah kepada adikmu ataupun kepada siapapun.
Kamu juga tidak harus selalu berusaha terlihat baik-baik saja di depan orang-orang.
Selanjutnya untuk anak tengah yang kehadirannya sering dianggap antara ada dan tiada.
Izinkan aku mengutip tulisan dari Novela Deva PSF (Izinkan saya untuk menulis ini ya hehe).
Anak tengah, sering dianggap sebagai penenang antara si Sulung dan si Bungsu yang seringkali tak akur.
Sering dianggap pendiam, padahal jalan pikirannya sudah berlabuh ke belahan lautan pikiran yang luas.
Karena anak tengah yang sangat pendiam, bahkan kehadirannya sering dianggap samar setipis tisu. (Ada sih beberapa anomali, toh tidak semua seperti ini.)
Pesanku kepada Anak Tengah.
Kamu tidak harus berkecil hati, meski kehadiranmu sering terasa samar.
Kamu juga tidak harus selalu mengalah kepada adik ataupun kakakmu yang seringkali bertengkar itu.
Jadilah dirimu sendiri di hadapan mereka semua.
Toh tangkimu tidak akan selalu bisa menampung cerita dan keluh kesah mereka bukan?
Sekarang lanjut ke Anak Bungsu, sesosok yang selalu dianggap spesial, tapi sering mendapat perlakuan sinis dari kakak dan orang-orang sekitarnya.
Tulisan kali ini izinkan aku mengutip dari kisah R. Khoirotun (Izinkan saya untuk menulis ini ya hehe).
[embed]Menceritakan Dunia dari Kacamata si Bungsu Celoteh ringan si anak terakhir.medium.com
Anak Bungsu tumbuh dengan perlindungan dari orang tua dan kakak-kakaknya. Tidak hanya itu biasanya segala kehidupannya telah diatur sedemikian rupa untuk menjadi anak yang penurut dan tidak bermasalah.
Padahal, pikiran mereka larut dalam tuntutan emosional yang sering tak terlihat di permukaan, maka jangan heran terkadang ketika mereka bisa dibebaskan memilih sesuatu sesuai kehendaknya terkadang mereka terasa memberontak.
Itu hanyalah bagian dari diri mereka yang ingin menemukan ruang mereka sendiri, tanpa perlu dikhawatirkan oleh siapa-siapa.
Maka, pesanku kepada Anak Bungsu dan siapa pun yang menjaganya.
Biarkan si Bungsu tumbuh dengan caranya sendiri, biarkan ia melihat dunia tanpa merasa takut dikawal oleh orang-orang terdekatnya.
Dan pemberhentian terakhir akan berlabuh pada Anak Tunggal.

Ruslan Zaplatin on Unsplash
Kenapa di akhir? Suka-sukaku lah (canda).
Karena aku ingin memberikan tanggapanku sendiri di akhir, tanpa harus mengaitkan pada tulisan orang lain. Mungkin ada sedikit penghormatan kepada Aulia Shifa Lestari atas tulisannya, meskipun kami berseberangan ya hehe…
[embed]Suara Hati Anak Tunggal (06): Sebuah perspektif dan fakta tentang anak tunggal.laulia.medium.com
Kenapa aku bilang berbeda? Ya karena memang dari beberapa hal kami memiliki perbedaan besar.
Dari tulisannya dia terdidik untuk mandiri dan memberikan batasan ketika menginginkan sesuatu secara tidak langsung memberikan dampak luar biasa bagi kehidupannya.
Aku sendiri bahkan terkadang membeli sesuatu masih berdasarkan keinginan, dan terkadang masih memiliki ketergantungan terhadap orang lain.
Sebenarnya tidak boleh meng-simplifikasi — tapi jika boleh dikata, dia adalah anak tunggal yang sudah jadi, sedangkan aku masih dalam tahap proses pematangan.
Tapi sebagai anak tunggal, tentunya aku juga memiliki keinginan untuk belajar lebih dari sebelumnya, terutama dalam hal berkomunikasi dengan orang lain (yah, walaupun kadang masih suka bergelung di kamar sih).
Terima kasih sudah membaca tulisanku ini.
Kalian sendiri saat ini ada di posisi mana nih?
Dan bagaimana rasanya menjalani peran tersebut?
Sampai jumpa di tulisanku berikutnya Dadah✨.…
« ✦ — ⋆ — — ― ꒰ঌ·✦·໒꒱ — — — ⋆ — ✦ »
P.S: Oh iya, aku kembali mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya pada Akhyatun Nisa, Riza Umami, Aulia Shifa Lestari, Pudyla, Isabella Chelsea Sergius, R. Khoirotun, dan Ivan Lanin atas tulisan-tulisan kalian semua sehingga terbentuklah sebuah tulisan yang teramat panjang ini.
- Sekaligus tulisan ini juga menjadi percontohan tulisan ‘review’ untuk mengikuti Kompetisi Blogwalking.
- CC: DyPa Dinara, Dewinta Bunda Sajak, Firman Malika, Denni Setyawan
Mari bergabung menjadi penulis di Saluran Keluarga dan bagikan cerita Anda.
메타데이터
- post_id
- f0ead4df6aac
- slug
- keluarga-dan-segala-problematikanya-f0ead4df6aac
- url
- https://medium.com/saluran-keluarga/keluarga-dan-segala-problematikanya-f0ead4df6aac
- canonical_url
- https://medium.com/saluran-keluarga/keluarga-dan-segala-problematikanya-f0ead4df6aac
- author_url
- https://medium.com/@imamhafis78
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-18 20:22:36