Berdamai Dengan Khong Guan Isi Rengginang
Salah satu momen lebaran yang paling berkesan untuk saya adalah ngereyen sekaleng biskuit, alias menjadi orang pertama yang membebaskan…
Berdamai Dengan Khong Guan Isi Rengginang
Salah satu momen lebaran yang paling berkesan untuk saya adalah ngereyen sekaleng biskuit, alias menjadi orang pertama yang membebaskan kaleng itu dari belenggu segelnya. Kegiatan ini menjadi keharusan saat saya masih kecil dulu. Tentu ada salam tempel dan perjalanan suci ke rumah Mbah saya juga, namun perkara biskuit ini punya semacam keistimewaannya sendiri. Dalam satu kaleng biskuit, biasanya tersedia banyak variasi bentuk dan rasa yang nikmat. Lebih nikmat lagi jika kaleng itu adalah Khong Guan yang legendaris dan dianggap sebagai bintang dari para biskuit kalengan.
Sebagai orang pertama yang membukanya, saya punya privilege untuk memilah dan memilih tanpa gangguan orang lain. Wafer akan menjadi pilihan paling awal begitu kaleng itu dibuka dan bau wanginya menyeruak menembus ke sanubari. Apalagi wafer itu hanya ada dua bongkah saja, sepasang keistimewaan nan langka. Sehingga wafer akan menjadi puncak kenikmatan dan menjadi pusat perhatian utama. Lalu biskuit dengan isian cokelat akan menjadi ranking keduanya. Barulah biskuit lain saya abaikan dan saya biarkan bertumpuk sesukanya hingga masa lebaran usai. Karenanya, setiap ada sepupu datang membuka kaleng itu, mereka harus siap-siap kecewa. Mereka akan kebingungan ketika tangannya menggapai harapan semu di dalam kaleng kotak itu. Lalu tangan mereka keluar tanpa menggenggam sebuah biskuit pun, dan kaleng ditutup lagi dengan gestur pasrah. Karena sesungguhnya, apa yang menjadi incaran mereka sudah sirna sejak awal. Saya merasa selayaknya seorang penjahat, karena menjadi yang pertama dalam menggaet semua isinya yang dianggap paling istimewa, dan saya tak bilang menyesalinya.
Tapi, kekecewaan itu tak hanya dirasakan oleh orang lain, saya pun pernah. Setiap kali datang bertamu ke rumah saudara, kaleng biskuit akan menjadi incaran pertama. Entah mengapa saya tak belajar dari pengalaman sendiri. Seharusnya bisa dipastikan ada anak lain di rumah itu yang sudah ngereyen kaleng miliknya. Meski begitu, harapan memang bisa membutakan logika. Saya tetap menelisik ke dalam kaleng itu dan berakhir dengan kekecewaan yang sudah seharusnya bisa ditebak.
Namun, rasa kecewa dan sakit hati itu masih belum apa-apa jika dibandingkan anomali lain dalam perkara kaleng Khong Guan ini. Dalam hidup yang katanya hanya untuk menumpang tertawa ini, sudah dua kali saya mendapati kejutan aneh saat membuka kaleng Khong Guan. Yang pertama, kaleng itu rupanya sudah kosong tak berisi. Ini tentu sangatlah aneh. Ia adalah biskuit yang dikenal selalu awet hingga Idul Adha. Bahkan saat itu Idul Fitri saja belum ada seminggu. Dan orang macam apa yang mampu memakan serta menghabiskan varian selain wafer dan biskuit cokelat? Anomali yang kedua rupanya lebih mengejutkan lagi, harapan dan hasrat harus terkubur manakala mendapati gerombolan rengginang yang justru bernaung di dalamnya. Jangankan wafer, biskuit keras bertabur gula yang di daerah saya disebut biskuit orang mati saja sudah tak ada jejaknya.
Kekecewaan ini akhirnya hidup abadi dalam meme yang selalu rajin diunggah setiap lebaran tiba. Sejujurnya sudah sangat membosankan, namun kejadian itu memang terlalu dekat dan melekat kuat di hati banyak orang. Sehingga kemunculan meme-meme itu setiap lebaran tetap dimaafkan. Lagi pula, kekecewaan perihal rengginang dalam kaleng Khong Guan ini bisa mengajari kita banyak hal.
Satu hal yang pasti adalah menerima kekecewaan. Kadang harapan memang kerap mengaburkan realitas. Kaleng hanya menjalankan kodratnya sebagai wadah, kita yang punya ekspektasi terlalu tinggi. Karena itu, sesekali tak mengedepankan sikap optimistik juga amat sangat baik. Sehingga kita tak terlalu kecewa atau hancur saat kenyataan tak sesuai harapan. Menyiapkan diri untuk kecewa dan menerima takdir memang bukan perkara mudah. Bahkan dalam hal sekecil rengginang di dalam kaleng Khong Guan sekali pun. Dan rengginang, ia bukanlah nasib buruk. Harapan dan ekspektasi yang menyebabkan kita berani mengutuk rengginang.
Sebagaimana umumnya kaleng kosong, ia akan digunakan untuk wadah benda lain. Bagi penjual bakso atau bubur, ia akan menjadi tempat yang bagus untuk kerupuk putih kecil-kecil. Kalau di rumah nenek saya, ia dialihfungsikan sebagai wadah tepung terigu. Pernah juga saya dapati sebagai tempat obeng dan kunci milik tukang bengkel di depan rumah. Bayangkan jika kita menemukan kaleng-kaleng itu di atas meja, tentu akan menjadi kejutan yang lebih menjengkelkan dibanding Khong Guan isi rengginang. Setidaknya kaleng itu selalu bermanfaat setelah isinya tandas. Memang ia harus kosong dahulu sebelum bisa diisi lagi. Tak ada orang yang mampu menerima, jika dalam dirinya masih penuh oleh banyak hal dan saling berdesakkan.
Karena itulah, saya kira berdamai adalah pilihan terbaik. Lebaran dan persaudaraan jangan sampai dinodai sikap kecewa perihal isi Khong Guan yang tak sesuai harapan. Dalam hidup, menurunkan ekspektasi seringkali diperlukan. Lewat Khong Guan kita bisa memulai belajar semua itu, dari yang kecil-kecil saja dulu, lah. Rasanya justru akan aneh jika di dalam kaleng Khong Guan isinya wafer dan biskuit cokelat semua. Kalau hal itu terjadi, maka hidup akan hambar sekali. Kejutan, kekecewaan, hancurnya harapan, semua itu merupakan bukti bahwa hidup memang suka bercanda dan isinya senda gurau belaka.
Entahlah, mungkin saya hanya sok bijak karena pernah kecewa. Lagi pula, kalau sekedar mau wafernya, sekarang saya tinggal masuk ke pasar swalayan dan membeli sebungkus besar wafer Khong Guan yang isinya tentu lebih dari dua. Apa susahnya?
메타데이터
- post_id
- f0fe73792e32
- slug
- berdamai-dengan-khong-guan-isi-rengginang-f0fe73792e32
- url
- https://medium.com/@taibrupa/berdamai-dengan-khong-guan-isi-rengginang-f0fe73792e32
- canonical_url
- https://medium.com/@taibrupa/berdamai-dengan-khong-guan-isi-rengginang-f0fe73792e32
- author_url
- https://medium.com/@taibrupa
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-10 10:46:47