Apakah Manusia Dapat Berumur Ratusan Tahun Bahkan Abadi?
Gagasan tentang manusia dengan usia sangat Panjang merupakan tema universal dalam berbagai tradisi agama dan literatur kuno. Narasi…
Apakah Manusia Dapat Berumur Ratusan Tahun Bahkan Abadi?

Gagasan tentang manusia dengan usia sangat Panjang merupakan tema universal dalam berbagai tradisi agama dan literatur kuno. Narasi tersebut berfungsi sebagai konstruksi kosmologis, spiritual, dan filosofis untuk menggambarkan fase awal eksistensi manusia ketika kesempurnaan moral dan harmoni kosmik masih utuh (Dkk, 2008). Narasi tentang manusia yang berumur ribuan tahun ini bisa ditemukan didalam banyak agama dan tradisi kuno. Misalnya agama Islam dengan tokoh nabi Nuh yang disebut berusia mencapai 950 tahun menurut sebagian besar sumber Islam, meskipun terdapat pendapat lain yang menyebutkan usia lebih dari seribu tahun, seperti 1050 tahun, 1057 tahun, atau bahkan lebih (Dkk, 2008). Tokoh lainnya seperti nabi Khidr yang telah hidup sejak era nabi Musa berdakwah di Mesir kuno (Rusmana, 2025). Dalam perjanjian lama ada tokoh, seperti Mathuselah berusia 969 tahun menurut Alkitab (Hendrawan & Angin, 2022). Tokoh lain seperti nabi Adam yang berusia 930 tahun (Barat, 2020), Enos berusia 905 tahun[1]. Dari banyak literatur ini menunjukkan pola usia yang ekstrem sebelum peristiwa sebelum banjir Nuh. Cerita tentang manusia yang berumur sangat panjang juga ada dalam tradisi Hindu, konsep usia ribuan diakitkan dengan pembagian kosmik dalam siklus Yuga (Satyayuga, Tretayuga, Dwaparayuga, dan Kaliyuga). Tokoh-tokoh raja dan resi mencapai usia sangat panjang, misalnya Raja Yayati dan Bhishma, yang dikisahkan hidup selama ratusan hingga ribuan tahun dalam Mahabharata (Nayar, n.d.). Selain itu, avatar dan resi seperti Vyasa diyakini masih hidup sampai sekarang sebagai bagian dari konsep Chiranjivi manusia yang diberi anugerah hidup panjang karena tugas kosmik (Nayar, n.d.). Untuk mitologi Tiongkok, tokoh seperti Peng Zu (彭祖) dikisahkan hidup selama 800 tahun dan dihormati sebagai guru kedokteran dan panjang umur (Zu et al., n.d.). Literatur Taoisme klasik seperti Chuang zhu (Martin Palmer, n.d.) dan Shenxian Zhuan menyebutkan para xian (manusia yang mencapai keabadian melalui latihan spiritual dan alkimia internal) sebagai contoh manusia yang melampaui batas umur natural (Bumbacher, 1984).
[1] Enos. (n.d.). Wikipedia bahasa Indonesia. Diakses 3 Desember 2025, dari https://id.wikipedia.org/wiki/Enos
Tidak hanya daftar tokoh dalam Alkitab yang dikatakan hidup hingga ratusan tahun, teks-teks kuno dari berbagai budaya menunjukkan rentang hidup yang bagi manusia modern tampak mustahil dipahami. Beberapa peneliti berpendapat bahwa angka-angka ini mungkin hanya simbol atau hasil kesalahan dalam menerjemahkan maksud sejarah. Sementara sejumlah sejarawan mempertanyakan apakah rentang hidup orang-orang tersebut bisa saja melebihi umur manusia saat ini. Salah satu kritik menyatakan bahwa pengukuran ”satu tahun” di Timur Dekat Kuno mungkin berbeda dengan konsep tahun modern yang kita kenal (Sangatta, 2017). Misalnya, satu tahun mungkin dihitung berdasarkan orbit bulan daripada orbit Bumi mengelili Matahari. Jika kita menyesuaikan perhitungan ini, usia Adam yang dikatakan 930 tahun akan setara 77 tahun dalam ukuran modern. Namun, hal ini menimbulkan ketidaksesuaian, yaitu: Adam menjadi ayah pada usia 11 tahun, dan Henokh menjadi ayah Metusalah pada usia 5 tahun. Hal ini menjadi tidak realistis. Carol A. Hill dalam artikelnya Making Sense of the Numbers of Genesis” (2003), menekankan bahwa usia dalam kita kejadian memiliki dua makna sekaligus, yaitu: usia actual yang mungkin literal, dan usia simbolis atau sakral yang mengandung pesan religius dan moral. Konsep serupa muncul dalam daftar raja Sumeria, dimana masa pemerintahan raja-raja kuno dicatat hingga puluhan ribu tahun sebelum air bah, dengan angka-angka yang tampak terstruktur secara matematis yaitu dari aspek kelipatan, kaudrat, atau jumlah dari periode sebelumnya. Sebagai contoh, masa pemerintahan Etana selama 1.560 tahun tampak sebagai jumlah dari dua masa pemerintahan sebelumnya (Umar, n.d.). Dwight Young (1988) menegaskan bahwa pola ini menunjukkan niat simbolik dan pengaturan numerik, bukan catatan kronologis literal. Fenomena umur panjang ekstrem tidak terbatas pada Timur Dekat. Dalam tradisi Tiongkok Kuno, catatan medis menyebutkan banyak super-centenarian (sebutan untuk orang yang telah berusia 110 tahun atau lebih), misalnya: dokter Cuie Wenze dari Dinasti Qin hidup hingga 300 tahun; Gee Yule dari Dinasti Han hidup sampai 280 tahun; master Tao Hui Zhao mencapai 290 tahun. Praktik hidup sehat, nutrisi, latihan mental-spiritual, dan kesadaran hidup disebut sebagai kunci umur panjang oleh Joseph P. Hou dalam Healthy Longevity Techniques. Bahkan dalam era modern, terdapat klaim individu yang hidup lebih dari 120 tahun, seperti Lo Mingshan di Sichuan (124 tahun) atau Shisali Mislinlow di Azerbaijan/Rusia (170 tahun)[1]. Umur panjang ini sering dikaitkan dengan pola hidup sederhana, pekerjaan fisik konsisten, olahraga ringan, kedekatan dengan alam, dan kehidupan sosial yang harmonis. Puisi epik Persia Shahnameh juga mencatat raja-raja yang hidup hingga ratusan tahun, menunjukkan bahwa mitos umur panjang memiliki fungsi simbolik dan naratif dibanyak budaya (Arthur George Warner, 1905). Begitu pula dalam tradisi Barat, umur panjang sering dianggap hadiah dari Tuhan atau hasil kebajiakan, seperti dikutip Titus Flavius Yosefus mengenai masa hidup Nuh dan leluhur kuno lainnya.
[1] “Misteri Orang-orang Kuno yang Bisa Hidup Lebih Dari 200 Tahun,” Intisari, 12 Maret 2019.
Dalam perspektif Biologi, penuaan manusia merupakan hasil akumulasi kerusakan seluler, mutasi DNA, dan penurunan kemampuan regeneratif sel tubuh. Menurut hipotesis disposable soma, proses penuaan terjadi karena tubuh tidak mampu memperbaiki semua kerusakan sel secara sempurna, sehingga kemampuan fisiologis menurun seiring waktu. Studi statistik menunjukkan bahwa batas fisiologis usia manusia diperkirakan sekitar 115–125 tahun, berdasarkan analisis data mortalitas populasi lansia berusia ekstrem. Namun, sekelompok ilmuwan berpendapat bahwa batas biologis tersebut dapat diperluas melalui intervensi biomedis. Aubrey de Grey, peneliti biogerontologi dari Universitas Cambridge, berargumen bahwa melalui rekayasa perbaikan kerusakan seluler secara sistematis, proses penuaan dapat diperlambat atau bahkan dihentikan (Ii & Usia, 2002). Ia menyatakan bahwa manusia berpotensi hidup hingga 1.000 tahun, bukan melalui keajaiban biologis, tetapi melalui rekayasa medis berbasis regenerasi jaringan dan terapi sel (Sundari, n.d.). Meskipun kontroversial, gagasan tersebut merupakan salah satu rujukan signifikan dalam wacana ilmiah tentang radical life extension. Penelitian terhadap organisme seperti Turritopsis dohrnii, yang dikenal sebagai “ubur-ubur abadi”, memperkuat optimisme ilmiah terhadap kemungkinan perpanjangan usia ekstrem (Herbert, n.d.). Spesies ini mampu mengalami proses transdiferensiasi, yaitu kembali ke fase polip (stadium remaja) ketika berada dalam kondisi stress atau sekarat, sehingga proses penuaan dapat berulang tanpa batas. Meski demikian, sejumlah ilmuwan menegaskan bahwa bukti empiris terkait keabadian manusia belum tersedia. Kajian oleh Dong et al. (2016) menegaskan bahwa meskipun usia harapan hidup terus meningkat, tidak ada bukti statistik bahwa usia maksimum manusia meningkat secara signifikan. Dengan kata lain, berbagai klaim tentang keabadian manusia saat ini masih berada pada ranah futuristik dan spekulatif.
메타데이터
- post_id
- f162b4e1bd03
- slug
- apakah-manusia-dapat-berumur-ratusan-tahun-bahkan-abadi-f162b4e1bd03
- url
- https://medium.com/@kangyaqin22/apakah-manusia-dapat-berumur-ratusan-tahun-bahkan-abadi-f162b4e1bd03
- canonical_url
- https://medium.com/@kangyaqin22/apakah-manusia-dapat-berumur-ratusan-tahun-bahkan-abadi-f162b4e1bd03
- author_url
- https://medium.com/@kangyaqin22
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-24 11:06:28