← Back to list

Ajining Raga : Don’t Judge a Book by It’s Cover

“Ajining raga saka busana, ajining dhiri saka lathi”. Kalimat majemuk tersebut merupakan sebuah falsafah dari Jawa yang mungkin sudah…

Maspik · 2026-04-28 00:31 · 1 claps · 3.8 min read
#tulisan #cangkeman #jawa #filosofi-jawa #esai
Open on Medium ↗
Wiki topics: RAG · RAG & Retrieval

Ajining Raga : Don’t Judge a Book by It’s Cover

“Ajining raga saka busana, ajining dhiri saka lathi”. Kalimat majemuk tersebut merupakan sebuah falsafah dari Jawa yang mungkin sudah sering terdengar di telinga kita. Namun, apakah falsafah itu masih relevan di masa sekarang?

Ajining Raga dan Ajining Dhiri

Menurut KBBI, aji berarti berharga atau bernilai. Pada kalimat “ajining raga saka busana” dapat diartikan bahwasannya berharganya fisik atau raga berasal dari busana atau pakaiannya. Kemudian pada kalimat “ajining dhiri saka lathi” dapat diartikan berharganya diri berasal dari lisan atau ucapannya. Falsafah ini secara sederhananya mengajarkan kita tentang bagaimana cara beretika atau bertata krama, baik itu dari segi ucapan maupun berpenampilan. Kita sebagai manusia yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat diajarkan untuk selalu mengedepankan tata krama untuk menjaga marwah diri kita sendiri.

Kehidupan yang kita jalani ini layaknya sedang bercermin, apa yang kita ingin dapatkan, maka harus kita lakukan terlebih dahulu. Bayangan kita pada cermin akan memberikan pantulan sesuai dengan apa yang kita lakukan. Hal tersebutlah yang menjadi cara berpikir orang Jawa ketika menjalani kehidupan, bahwasannya ketika kita ingin dihargai orang lain, maka kita harus mampu menjaga ucapan maupun penampilan kita terlebih dahulu. Tidaklah mungkin ketika kita menanam rumput maka akan memanen tebu, walaupun seringkali ketika kita menanam tebu, rumput akan ikut tumbuh di sekitarnya.

Outer Beauty dan Inner Beauty

Ternyata sejak zaman dahulu, leluhur kita orang Jawa sudah mengenal konsep “outer beauty” dan juga “inner beauty”. Konsep tersebut memiliki kesamaan dengan “ajining raga” sebagai simbol terhadap hal yang tampak dari luar, dan “ajining dhiri” sebagai simbol terhadap hal-hal yang berada di dalam. Dalam konsep falsafah Jawa, dikatakan bahwasannya outer beauty berasal dari cara berpakaian atau busana. Hal tersebut masih bisa dikembangkan lagi, tak hanya dari visual atau penampilan fisik, bisa juga dari cara kita berperilaku karena itu juga tampak dari luar. Sedangkan inner beauty berasal dari lisan atau ucapan kita, namun tak terbatas pada hal tersebut. Kecantikan yang berada di dalam diri kita juga bisa berasal dari hati, pikiran maupun karakter yang ada pada diri kita.

Pada prakteknya, seringkali outer beauty ini berfungsi sebagai pemikat, sedangkan inner beauty berfungsi sebagai pengikat. Hal tersebut didasari karena outer beauty bisa berubah seiring dengan usia dan juga tren yang ada, sedangkan inner beauty akan bertahan lebih lama karena merupakan sebuah fundamental dari setiap diri manusia. Oleh karena itu ada sebuah kutipan yang berbunyi “cantiknya wajahmu akan membuat orang lain menatap, namun cantiknya hatimu akan membuat orang lain menetap”.

Don’t Judge a Book by Its Cover

Bagaimana jika ada seseorang yang tidak pandai berpenampilan namun sebenarnya kepribadiannya baik? Juga sebaliknya, bagaimana jika ada orang yang selalu berpenampilan necis namun kepribadiannya bengis? It’s okay, everything is gonna be fine, that simple. Saya sebenarnya muak ketika ada orang lain yang mengatakan “pasti dia lagi pencitraan”, “sok-sokan manis, padahal di belakang aslinya najis”, “pasti golek rai”. Menurut saya, why not? Bisa jadi dia paham bahwa dia kurang di bagian dalam dirinya, oleh karena itu dia mencoba memperbaiki bagian luarnya, selama konteksnya dalam kebaikan. Kita tidak pernah tahu, sesulit apa usahanya untuk menerima kekurangannya, dan mulai memperbaiki walau berawal dari luarnya terlebih dahulu. Berbeda lagi jika itu adalah koruptor dengan janji-janji manisnya, maka saya akan menjadi pendukung nomor satu orang yang mengatakan hal seperti itu.

Selain itu saya juga muak dengan orang lain yang mengatakan “ih apa sih, norak”, “masa iya, fashionnya kaya gitu?”, “hari gini masih gabisa ootd? kampung!”. Ya terus kenapa? Don’t judge a book by it’s cover! Meski dia tidak dikategorikan sebagai seseorang yang good looking tapi kalau good attitude gimana? Ternyata dia memang tidak bisa mengekspresikan diri aja, tapi dalam setiap perbuatannya selalu disertai dengan ketulusan. Kenapa sih orang-orang ini selalu melihat orang lain dari satu sisi buruknya? Memang benar peribahasa “sebab nila setitik, rusak susu sebelanga”, tapi ayolah, kenapa sih kita hanya melihat sebuah titik berwarna hitam, padahal di belakangnya terhampar luas kertas berwarna putih. Tidak bisakah kita menilai dari berbagai macam sudut pandang?

Pergeseran Makna

Sekarang memang sedikit sulit menerapkan pikiran positif terhadap orang lain. Setidaknya, mari kita coba memahami terlebih dahulu dari berbagai macam sudut pandang, baru memberikan penilaian terhadap seseorang. Lebih parahnya, orang-orang di zaman sekarang lebih mudah terbuai dengan hal yang sifatnya semu. Contohnya, mereka yang menganggap baik orang yang memberikan manfaat pada dirinya, ketika tidak? ya sudah dibuang begitu saja. Pada masa pemilu misalkan, ada yang bagi-bagi ‘serangan fajar’, dengan mudah mereka mengatakan “wah, dia baik ya, pilih dia aja lah”. Sebaliknya, ketika ada calon yang tidak memberikan apapun, pasti akan ada yang bilang “nggak usah dipilih, dia nggak ngasih apa-apa”. Apakah familiar? tapi tenang aja, ini contoh praktek pemilu di negeri entah berantah, yang pasti bukan di Indonesia.

Akhirnya, sudut pandang kita dalam menghargai orang lain sudah mulai bergeser. Kita tidak lagi menghargai orang lain dari penampilan ataupun kepribadiannya, melainkan dari harta benda dan manfaat yang kita terima. Lama kelamaan, falsafah Jawa itu akan berubah menjadi “ajining raga saka bandha donya, ajining dhiri saka asring menehi”, bahwa dihargainya raga sebab harta bendanya, dan dihargainya diri sebab sering memberi. Menurut saya ini sangat miris, ketika rasa hormat kita terhadap orang lain, tidak didasari oleh kebaikan dari luar dan dalam yang sejati, melainkan dari luar berjas rapi dan dalam dompet yang selalu terisi. Apakah itu yang disebut dengan “aji” baik bagi orang lain, maupun diri kita sendiri?

Sinau Ngilo Githoke Dhewe

Para leluhur kita di zaman dulu, sebenarnya sudah memperingatkan kita terhadap hal yang terjadi di zaman ini. Kita terlalu banyak menilai orang lain, hingga melupakan nilai yang diberikan orang lain terhadap diri kita sendiri. Kuman di seberang lautan tampak, namun gajah di pelupuk mata malah tak tampak. Kembali ke konsep bercermin tadi, leluhur kita telah mengajarkan bahwa ketika kita ingin dihargai oleh orang lain, maka kita harus memperbaiki diri kita sendiri. Ayo kita sinau ngilo githoke dhewe, belajar untuk bercermin, melihat tengkuk kita sendiri, hal tersebut memang sulit, dan di situlah tantangannya sebelum kita melihat tengkuk orang lain. Falsafah “ajining raga saka busana, ajining dhiri saka lathi” merupakan konsep yang begitu luar biasa untuk diterapkan di zaman sekarang ini.

Surabaya, 14 April 2026


메타데이터
post_id
f19290df9869
slug
ajining-raga-dont-judge-a-book-by-it-s-cover-f19290df9869
url
https://medium.com/@maspikpik11/ajining-raga-dont-judge-a-book-by-it-s-cover-f19290df9869
canonical_url
https://medium.com/@maspikpik11/ajining-raga-dont-judge-a-book-by-it-s-cover-f19290df9869
author_url
https://medium.com/@maspikpik11
status
ok
fetched_at
2026-06-17 18:46:00