Tentang radio yang sering didengar yang menjadi teman dikala sepi
Di era yang semakin modern ini, rasanya mendengarkan radio bukanlah lagi hiburan bagi sebagian orang. Bagi penikmatnya saja yang masih…
Tentang radio yang sering didengar yang menjadi teman dikala sepi

Gambar ini hanya pemanis karena radio milik nenek saya tidak pernah saya potret (tapi kurang lebih mirip seperti ini-merk Sony)
Di era yang semakin modern ini, rasanya mendengarkan radio bukanlah lagi hiburan bagi sebagian orang. Bagi penikmatnya saja yang masih bertahan, bertahan karena ada sepenggal kebahagiaan ketika mendengar orang lain bercerita meski hanya melalui suara.
Rasanya tidak terlalu sulit menceritakan darimana diri ini mulai menyukai sebuah alat bersuara yang menggunakan frekuensi sinyal melalui gelombang elektromagnetik atau biasa disingkat radio. Sepeninggalan alm ibu saya ketika masih duduk di bangku sekolah dasar, saya ikut tinggal dengan kakek dan nenek di rumah sederhana. Kita tinggal bertiga saja, dan pekerjaan mereka berjaga warung. Di rumah ada dua alat jadul yang saya sukai, radio dan mesin ketik. Dulu sebelum rumah di renovasi, saya sempat merasakan memasak menggunakan tungku dan lampu dari minyak tanah. Sayangnya, alat itu semua termakan oleh jaman dan kini tergantikan.
Kita masuk ke topik utama, “dimana titik saya mulai menyukai sebuah radio?” Jawabannya, “waktu bulan ramadhan!”. Kok bisa?
Jadi dulu setiap kali menjelang berbuka puasa nenek saya pasti menyetel radio dimulai sehabis ashar. Jadi di sela-sela mempersiapkan hidangan untuk berbuka, kita mendengar hiburan mulai dari musik keroncong sambil menatap jalanan yang ramai hingga menjelang maghrib akan ada kultum. Puncaknya adalah suara sirine yang menandakan waktu berbuka sudah tiba!
Waktu berlalu, suara radio jadul tersebut semakin di dengar semakin saya sukai. Mulai dari pagi yang biasanya menyapa orang kerja atau salam-salam, siang musik keroncongan ditemani teriknya matahari, sore hari mendengar lagu pop, hingga malam hari dimana pendengar akan bercerita keluh kesah seharian itu. Meski tidak tau siapa orangnya, mendengar keluh kesah atau cerita lucu dari orang itu cukup menyenangkan bagi saya yang rasanya hidup terasa hampa. Tak jarang melihat orang berpesan salam sapa untuk orang yang disayangnya.
Singkat cerita saya pindah sekolah ke Sukabumi tanpa membawa radio. Saat itu saya tidak bingung karna di hp ada aplikasinya, dan itu menangkap sinyal menggunakan headset colokan. Meski frekuensi mendengarkan tidak sesering dulu saat menggunakan radio jadul, saya tetap menyukainya. Namanya NBS FM, Radio musik pop terkenal di Sukabumi. Biasanya saya mendengarkan di malam hari saja. Semasa kuliah pun sama, saya sempat mendengar beberapa radio lokal Purwokerto meski tidak terlalu ada yang cocok hingga akhirnya saya mulai berpindah ke radio digital.
Seperti yang saya bilang di awal, semakin kesini frekuensi pendengar radio semakin berkurang karena keterbatasan sinyal dan modernisasi hiburan visual, seperti podcast Youtube, Netflix, dan platform lain-lain yang sepertinya lebih tidak membosankan daripada hanya mendengar suara. Stasiun radio tidak boleh termakan jaman, oleh karena itu mereka kini banyak yang membuat stasiun radio berbasis jaringan internet.
Positifnya adalah radio masih eksis di era modern dan lebih bisa bervariasi menjangkau pasar generasi muda, minusnya kita tidak bisa lagi merasakan suara kresek-kresek karena kehilangan frekuensi. Padahal menurut saya disitu esensinya. Hehe..
Streaming radio yang yang masih saya suka dengar saat ini hanya Ardan Radio. Sebelumnya ada Trax FM, tetapi sedang rehat atau mungkin sudah berhenti mengudara. Meski waktu mendengarnya juga saat ini sudah jarang hanya sesekali ketika malam untuk menemani, tetapi tetap mendengarkan orang bercerita melalui radio ada rasa senang tersendiri. Terlebih saya merupakan orang yang senang mendengar daripada berbicara. Rasanya ada ruang yang terisi ketika ada hal-hal semacam cerita pengalaman orang, cerita lucu, ataupun sekedar request lagu, yang dibagikan secara luas tanpa saling mengenal dan kadangkala menjadi insight atau informasi pengalaman yang menarik untuk disimpan.
Mungkin sampai di usia yang akan tua nanti saya akan tetap menjadi penikmat radio, dan semoga di era itu radio masih tetap eksis.
Terima kasih sudah membaca!
메타데이터
- post_id
- f1be290954db
- slug
- tentang-radio-yang-sering-didengar-yang-menjadi-teman-dikala-sepi-f1be290954db
- url
- https://medium.com/@ghulamalh/tentang-radio-yang-sering-didengar-yang-menjadi-teman-dikala-sepi-f1be290954db
- canonical_url
- https://medium.com/@ghulamalh/tentang-radio-yang-sering-didengar-yang-menjadi-teman-dikala-sepi-f1be290954db
- author_url
- https://medium.com/@ghulamalh
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-09 15:37:30