← Back to list

Tembok yang runtuh

Wanita itu bercerita tentang bagaimana dia meredam gemuruh seluruh dunia dalam dirinya. Tatapan matanya kosong. Mungkin suatu hari…

Yourfavoritemoluccan · 2026-03-12 01:23 · 2 claps · 4.0 min read
#perjalanan #tembok #cinta #pertemuan #pilihan
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🎵 · Music & Audio

Tembok yang runtuh

Wanita itu bercerita tentang bagaimana dia meredam gemuruh seluruh dunia dalam dirinya. Tatapan matanya kosong. Mungkin suatu hari seseorang akan mengisinya penuh sehingga bunga di seluruh dunia pun akan malu jika ingin mewarnai indah matanya. Dia ingin memulai kembali kata-katanya tapi bingung darimana.

Akhirnya, dia mulai lagi bercerita dengan tenang. Mencoba terlihat antusias dengan kata-katanya sendiri. Aku sendiri bingung kenapa aku suka sekali bercerita dengan orang random dan tidak jarang mereka adalah orang yang tidak kukenal. Kenapa juga tiba-tiba mereka bercerita padaku? Apa mereka yakin aku cukup peduli? Apa mereka yakin aku akan mengingat semuanya? Atau mungkin itu yang mereka butuhkan? Bercerita saja. Keluarkan semua sesak yang ada di kepala dan dada.

Wanita itu tersenyum padaku dan bilang kalau dia memang belum bisa melupakan pria itu. Apa kalau belum bisa melupakan itu artinya masih cinta? Atau ada sesuatu yang membekas dan belum pergi saja makanya sisa-sisa kenangan itu terus memutar kembali ingatan tentang pria itu? Entah sesuatu yang baik atau tidak. Wanita ini bilang dulu dia tidak mau memikirkan soal cinta dan pernikahan dulu. Untuk apa buru-buru? Keuangan saja masih buruk jadi dia memutuskan untuk menghapus kisah cinta dalam prioritas hidupnya. Ingat, ya, dari prioritas hidup bukan dari hidupnya. Apapun yang dia lakukan, dia tidak mengutamakan jatuh cinta. Katanya, jatuh cinta itu menguras tenaga. Dia akan sulit fokus pada impiannya jika dia harus membagi energinya dengan orang yang dia cintai. Maka, menghapus cinta-cintaan dalam hidupnya untuk sementara adalah pilihan terbaik pada saat itu. Itu menurutnya.

Jika ada yang datang mendekati, dia tidak menganggapnya serius. Dia tidak suka berharap atau berandai-andai. Dia hanya ingin fokus pada apa yang ingin diraih. Sejenak aku berpikir, cukup keras, ya, dia? Entah keras pada orang lain atau justru keras pada dirinya sendiri? Ini mengingatkanku pada seseorang yang kukenal. Lalu aku buru-buru menghapus ingatan itu dan kembali fokus pada cerita wanita ini. Lucunya, aku fokus pada cerita orang padahal setelah itu belum tentu aku mengingatnya. Belum tentu kita akan bertemu kembali. Namanya saja tidak kutanyakan. Tiba-tiba saja sudah bercerita. Dia yang bercerita, aku hanya menyimak.

Suatu hari, dengan kesibukannya yang sangat random, takdir mempertemukan dia dengan seseorang. Dengan seorang pria. Mereka bertemu karena suatu event yang diselenggarakan di kotanya. Mereka berdua terlibat dalam event tersebut. Awalnya tidak ada yang spesial, termasuk ketika melaksanakan event tersebut bersama. Namun, selang beberapa waktu, mereka lebih sering bertemu setelah event tersebut. Bertemu di tempat yang sama. Akhirnya mereka berbagi cerita. Pria itu menanyakan banyak hal dan mereka mulai berdiskusi.

Di hari lainnya, setiap bertemu, mereka selalu berdiskusi tentang apapun. Apa saja yang terlintas. Pria tersebut menanyakan tentang kekasih dari wanita ini. Apa mereka sedang melakukan hubungan jarak jauh atau seperti apa. Wanita ini menjawab yang sebenarnya. Tentang fokusnya. Tentang pandangannya saat ini tentang cinta. Pria itu semakin penasaran. Dia bertanya terus tentang hal-hal pribadi seperti itu. Wanita itu menjawabnya dengan santai saja. Pria tersebut menanyakan alasan kenapa dia tidak bersama dengan seseorang dengan semua kualitas ini? Dia dengan sabar menjawab bahwa sampai saat itu pagar dan tembok yang dia bangun untuk urusan percintaan terlalu tinggi. Pagarnya terkunci sangat rapat. Tidak ada yang bisa menembusnya karena tidak dia ijinkan. Pria tersebut heran. Dia bilang, “Buka kuncinya pelan-pelan. Coba untuk runtuhkan pelan-pelan”. Namun wanita itu tertawa pelan saja. Kenapa harus? Apa urusannya?

Setelah pertemuan itu, mereka masih cukup sering bertemu. Wanita itu menyadari kalau dia harus mengurangi intensitas perjumpaan dengan pria itu. Ini tidak baik untuk dia. Setidaknya, itu menurutnya. Menghindari pertemuan membuat mereka jadi bertemu lagi secara tidak sengaja. Sial sekali, bukan? Wanita ini bilang dia tidak ingin sering-sering bertemu dengan pria itu. Mereka sama-sama orang dewasa jadi perasaan bisa saja tumbuh. Sungguh keras dia. Aku tidak bisa menghakimi keputusannya. Aku tidak pernah tahu apa yang sudah dilaluinya selama ini.

Dia tidak mau perasaannya tumbuh. Mungkin saja sudah tumbuh tapi dia berusaha untuk mematikannya saja. Sungguh sebuah kekejaman pada diri sendiri. Itu hanya kusimpan dalam hati saja, btw. Aku juga tidak berani bilang. Sebagai bentuk menjaga perasaan lawan bicara. Lalu, wanita itu tertawa sambil menggelengkan kepalanya. Dia mungkin merasa hal tersebut lucu atau ada hal lain yang ingin disampaikan tapi dia tahan? Kenapa orang dewasa sesulit ini, ya, jalan pikirnya? Hehe.

Tapi aku juga penasaran. Apa temboknya itu sudah benar-benar runtuh? Atau masih utuh? Atau dia sudah menurunkan ketinggiannya? Atau pagarnya sudah mulai dia buka? Wanita ini tersenyum. Dia bilang sudah 2 tahun sejak pertemuan-pertemuan itu terjadi. Dan tembok itu runtuh setahun setelah pertemuan tersebut. Dia tidak ingin mencari pria itu karena dia tahu pria itu pasti sudah bahagia. Pertemuan mereka membawa keputusan baru dalam hidupnya. Ketika tembok itu runtuh karena pria itu, bukan pria tersebut yang masuk ke dalamnya. Orang lain yang akan masuk. Apa benar? Kita tidak pernah tahu sampai dia sendiri yang memutuskannya. Apa baiknya dia kembali pada pria itu? Atau bersama yang lain saja? Dimana pria itu sekarang? Kenapa juga wanita ini tidak peduli tentang pertemuan mereka lagi? Padahal tidak ada yang saling menyakiti. Atau jangan-jangan sejak awal pertemuan mereka adalah bentuk dari kesakitan?

Lamunanku dengan pertanyaan-pertanyaan itu disadarkan oleh pengumuman ABK bahwa feri akan segera sandar ke pelabuhan tujuan. Kita hampir sampai. Wanita tersebut lalu menanyakan hal-hal yang menurutku, basa-basi saja padaku. Kita akan berpisah. Dia lalu pamit karena akan kembali ke tempatnya. Dia sempat meminta maaf karena terlalu banyak bicara. Tentu saja tidak. Daripada aku bengong saja sendirian di feri ini. Dia pun berlalu.

Satu lagi interaksi dengan orang random di perjalanan. Aku pun bersiap menuju ke motorku. Menunggu feri benar-benar sandar di pelabuhan. Aku harus melanjutkan hidup. Semua orang di feri ini juga. Cerita-cerita yang lewat kadang membekas, kadang terlupakan. Kau pilih saja mana yang mau kau lakukan. Kudoakan saja semoga orang yang akan masuk dalam reruntuhan tembok wanita itu dan memegang kunci pagarnya adalah orang yang tepat untuknya. Pasti suatu hari seseorang akan mengisi hidupnya penuh dengan semua bunga indah yang ada.


메타데이터
post_id
f1d284598a3b
slug
tembok-yang-runtuh-f1d284598a3b
url
https://medium.com/@yourfavoritemoluccan1/tembok-yang-runtuh-f1d284598a3b
canonical_url
https://medium.com/@yourfavoritemoluccan1/tembok-yang-runtuh-f1d284598a3b
author_url
https://medium.com/@yourfavoritemoluccan1
status
ok
fetched_at
2026-07-14 19:34:30