Negeri Berbuih
Di pantai, barangkali tidak ada hal lain yang lebih menenangkan (tanpa y) selain menikmati deburan ombaknya.
Negeri Berbuih
Photo by Faisal Hanafi on Unsplash
first published on 22 March 2021
Di pantai, barangkali tidak ada hal lain yang lebih menenangkan (tanpa y) selain menikmati deburan ombaknya.
Saya sendiri juga senang menikmati setiap gelombang yang datang, yang lalu menghempaskan jutaan buihnya ke bibir pantai.
Berjuta dan Tak Berguna
Buih tetaplah buih, betapa pun kita betah untuk menatapnya.
Meski sangat banyak dan seolah tidak pernah berhenti, ia tetap saja tidak bisa diambil manfaatnya, bahkan untuk sekadar diciduk.
Kendati demikian, di tengah samudra sana, bila seseorang mau menyelam lebih dalam ia akan menemukan butiran mutiara yang tak ternilai harganya.
Tak pernah menampakkan diri, tapi akan selalu dicari oleh orang-orang yang mengerti.
Kiranya, mungkin demikianlah analogi sekilas tentang keadaan di Bumi Pertiwi tercinta ini.
Ada begitu banyak orang — atau mungkin karena saking banyaknya sampai sulit untuk dikatakan banyak — yang dengan mudahnya berbicara seenak jidat.
Berceloteh dengan rasa, bukan dengan data.
Ingin diakui sebagai orang yang paling berilmu, dalam hal apa pun.
Tak terbatas pada topik atau tingkatan sosial tertentu. Hampir di setiap topik ada saja orang-orang, dari kaum elit sampai rakyat jelatanya, yang merasa paling tahu dan sangat bersemangat untuk menjadi yang paling berisik.
Parahnya, semua ini justru diwadahi oleh media sosial yang bisa diakses dengan mudahnya oleh bocah yang bahkan KTP saja belum punya, dan kemudian dibungkus dengan kemasan paling “cantik” sejagat raya: kebebasan berekspresi.
Siapa pun kamu, jika suatu hari nanti menemukan tulisan ini, marilah kita sadari bersama bahwa kebebasan berekspresi itu tidak ada (kalau tidak mau dikatakan tidak boleh), kecuali kalau kita tinggal di tengah hutan atau di puncak gunung.
Tetap ada batasan norma dan moral yang tidak boleh dilanggar, yang semua itu akan menjaga kodrat kita sebagai manusia (yang beradab).
Memang, akan selalu ada rasa bangga, sekecil apa pun itu, ketika kita diakui sebagai orang yang berilmu.
Tapi ilmu bukan untuk itu; ia tidak digunakan untuk berbangga.
Semakin seseorang berilmu, seharusnya ia akan semakin bijak dan bertanggung jawab dalam semua sikapnya.
Tidak semua yang diketahui harus diumbar ke sana kemari, pun tidak semua orang pantas diberi tahu.
Kalau benar seseorang itu mengetahui dan merasakan esensi ilmu, ia justru akan bertanggung jawab, tidak berambisi untuk tampil, dan justru akan menenggelamkan dirinya menuju dalamnya lautan. Persis seperti mutiara.
Ia akan dicari, tanpa perlu unjuk diri. Semakin berbobot, ia akan semakin tenggelam dan semakin susah dicari.
Bila ilmu yang dimiliki seseorang itu memang berharga, ia tentu tidak akan sudi menjajakannya — dengan cara yang receh — di depan khalayak.
Karena ilmu yang dimilikinya berharga, ia akan menyimpan dan menjaganya dengan baik, bukan malah menjualnya, meski dijual dengan harga setinggi langit.
Ilmu bukan barang murahan; dan tanggung jawab ketika memiliki ilmu itu terlalu berat untuk bisa dengan mudahnya dibangga-banggakan.
Ibarat Pemerintah dan Tetangga Sebelah
Sebagai seorang anak (berapa pun usia kita), kehormatan ayah adalah sesuatu yang mutlak harus dijaga.
Ketika ayah, misalnya, berbuat suatu kesalahan, bukan adab namanya kalau kita lantas membicarakan kesalahan itu kepada orang lain.
Wajarlah sang ayah marah ketika aib-aibnya bisa sampai ke telinga tetangganya.
Hari ini, semua kebobrokan itu — mengumbar aib — bisa dijumpai pada hampir semua media massa.
Dengan alasan untuk membuka mata, mencerdaskan bangsa, atau sekelumit argumen berbelit lainnya, mereka halalkan perbuatan rendahan dan pengecut itu.
Merasa berada di “posisi aman” karena adanya bullshit paling akbar bernama demokrasi, mereka bisa dengan leluasa mengkritik penguasa.
Hak bersuara, katanya.
Kebebasan berpendapat, katanya.
Kebebasan berekspresi, katanya.
Padahal, kalau mereka mau jujur, andaikata mereka yang menjadi pemerintah, saya pribadi yakin kalau mereka juga tidak akan sudi untuk “ditelanjangi” di hadapan rakyatnya sendiri.
Tapi memang dasar bernyali kerdil: hanya berani mengkritik, tapi enggan dikritik.
Ingin menjadi yang paling teraktual dan “informatif”, tapi justru mengabaikan dampak yang terjadi di masyarakat.
Bagaimana bangsa ini akan maju bila suguhan saban harinya adalah aib-aib pemerintahnya?
Tatkala diketahui ada aparat negara yang melakukan suatu kesalahan, seketika itu juga para pemburu berita menjadi makhluk yang bahagianya bukan main.
Menjadi anak durhaka yang amat berambisi menelanjangi ayahnya sendiri di depan umum.
Tak bisakah untuk menjadi sedikit lebih beretika?
Oleh sebab itu, seakurat apa pun data yang dimiliki dan sebagus apa pun pemaparan yang hendak disajikan, sebelum itu tolong perhatikan terlebih dahulu dampaknya.
Jangan menjadikan bangsa ini semakin bodoh. Pikirkan baik-baik akibatnya.
Jangan sampai bangsa ini menjadi pencibir andal yang berlindung di balik harumnya ketiak demokrasi.
Firasat yang Terbukti dan Bimbingan dari Nabi
Jauh sebelum semua kebobrokan di hari ini menggurita, salah seorang sahabat Nabi yang bernama Abdullah bin Mas’ud, menyampaikan firasat sekaligus nasihat kepada para muridnya,
“Hari ini kalian berada pada sebuah zaman yang masih banyak ulamanya dan amat sedikit pembicaranya.
Tapi kelak kalian akan menjumpai sebuah zaman yang ulamanya tinggal sedikit, sedangkan tukang khotbahnya justru sangat banyak.”
Dan sebelum itu, Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wa sallam telah mewanti-wanti seluruh umatnya hingga hari ini, untuk menjaga lisan mereka.
“Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya ia berbicara yang baik atau diam.”
HR. Al-Bukhari no. 6018 dan Muslim no. 47
“ … dan sungguh, ada seorang hamba yang mengucapkan sesuatu yang mendatangkan murka Allah dan dia tidak memedulikan akibatnya, lalu ucapan tersebut kelak akan menyeretnya menuju Jahanam.”
HR. Al-Bukhari no. 6478
Bahkan, untuk yang lebih spesifik dari itu, beliau juga telah memberikan bimbingannya dengan redaksi yang sangat jelas,
“Barang siapa ingin menasihati penguasa, hendaknya jangan ia lakukan secara terang-terangan.
Namun, gandeng tangannya dan ajaklah dia (penguasa) berbicara empat mata.
Jika ia menerimanya, itulah yang diinginkan. Tapi jika ia menolak, sungguh engkau telah melakukan apa yang menjadi kewajibanmu.”
hadis dari sahabat Iyadh bin Ghunm al-Asy’ari
Ya, semudah itu.
Bimbingan yang teramat luhur dan tidak akan menimbulkan kegaduhan.

Peribahasa yang Terlupa
Memang benar, semua kebobrokan itu sekarang sudah terjadi. Tapi sekarang pula waktunya untuk berbenah memperbaiki diri.
Tidak usah tunjuk jari, cukup berkaca pada diri sendiri.
Tidak ada ruginya kita dikatakan bodoh bila kenyataannya kita memang bodoh, asalkan kita mau terus berbenah.
Ukur kapasitas diri dengan banyak berintrospeksi, bukan dengan selalu melihat penilaian orang lain.
Bisa jadi, karena ada begitu banyak manusia yang gemar berkicau pada hari ini, telah membuat kita melupakan peribahasa lama yang tak hanya singkat, tapi juga mengena — bagi mereka yang mau sadar.
Tong kosong, nyaring bunyinya.
Sedari kecil sudah sangat hafal peribahasa ini, tapi sama sekali tidak membekas ketika telah beranjak dewasa (umurnya).
Lantas, kenapa hal itu bisa terjadi?
Pada titik inilah kita dituntut untuk terus bermuhasabah.
Tidak hanya menambah ilmu, tapi juga memperbaiki sikap.
Jika ilmu yang semakin bertambah justru membuat kita semakin keranjingan berkicau, berarti kita belum benar-benar berbenah.
Tidak semua hal harus diperbincangkan dan tidak semua orang harus kita layani.
Pilah dan pilih mana yang benar-benar bermanfaat. Tidak hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk seluruh anak negeri.
Sadarlah, negeri ini sudah terlalu berisik.

Suka tulisan saya? Silakan share ya, biar semakin bermanfaat buat banyak orang. 👍🏻
Traktir saya kopi 📲 di sini 😁
Mungkin kamu bakal butuh 📲 ini
메타데이터
- post_id
- f1df1cb88f80
- slug
- negeri-berbuih-f1df1cb88f80
- url
- https://medium.com/@helmisantosa/negeri-berbuih-f1df1cb88f80
- canonical_url
- https://medium.com/@helmisantosa/negeri-berbuih-f1df1cb88f80
- author_url
- https://medium.com/@helmisantosa
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-20 20:29:01