Menemukan Jantung Persoalan
Apa yang dipersoalkan dan Mengapa itu terus dipersoalkan?
Menemukan Jantung Persoalan
Apa yang dipersoalkan dan Mengapa itu terus dipersoalkan?
Photo by Julissa Capdevilla on Unsplash
Beberapa tahun terakhir, ada satu hal yang terus mengusik pikiran saya.
Semakin banyak informasi yang tersedia, ternyata tidak selalu membuat persoalan menjadi lebih jelas.
Sebaliknya, banyak hal yang sebenarnya sederhana justru terasa semakin rumit.
Setiap hari kita membaca berita, menyaksikan perdebatan di media sosial, mendengar berbagai pendapat dari berbagai pihak.
Semua berbicara, semua memiliki alasan, tetapi sering kali kita pulang dengan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.
Barangkali persoalannya bukan karena dunia menjadi semakin rumit.
Mungkin cara kita memandang persoalanlah yang membuatnya terasa rumit.
Pemikiran ini mengingatkan saya pada rangkaian tulisan yang telah saya bagikan sebelumnya.
Kita pernah berbicara tentang perubahan yang dibawa AI, tentang pentingnya kebijaksanaan di tengah dunia yang terus berubah, tentang Spiral Kebijaksanaan, hingga tentang cerita yang sedang kita wariskan kepada generasi berikutnya.
Semakin saya merenungkannya, semakin saya menyadari bahwa kebijaksanaan bukan hanya tampak pada keputusan yang kita ambil.
Kebijaksanaan juga tampak pada cara kita memandang sebuah persoalan.
Mungkin sebelum bertanya, "Apa solusinya?", kita perlu belajar bertanya, "Apa sebenarnya persoalannya?"
Saya membayangkan sebuah pohon.
- Daunnya adalah gejala yang terlihat.
- Batangnya adalah jantung persoalan.
- Akarnya adalah penyebab mengapa persoalan itu muncul.
Sering kali perhatian kita berhenti pada daun. Kita memperdebatkan apa yang tampak di permukaan, sementara batangnya belum benar-benar dipahami, apalagi akarnya.
Ada beberapa cara sederhana yang dapat membantu kita menemukan jantung persoalan.
- Kembali kepada fungsi. Tanyakan, "Sebenarnya sesuatu ini dibuat untuk apa?" Fungsi sering kali mengembalikan kita pada inti persoalan.
- Pisahkan fakta dari opini. Fakta membantu kita melihat kenyataan, sedangkan opini sering kali memperlebar perdebatan.
- Tanyakan "Apa yang sebenarnya dipersoalkan?". Jangan langsung mencari siapa yang benar atau salah sebelum persoalannya sendiri dipahami.
- Lanjutkan dengan pertanyaan "Mengapa?". Setelah inti persoalan ditemukan, bertanyalah mengapa persoalan itu terus muncul. Di sinilah akar persoalan mulai terlihat.
Berbagai pendekatan seperti :
- First Principles Thinking,
- 5 Whys, atau
- Root Cause Analysis
pada dasarnya mengajarkan hal yang serupa: menyederhanakan persoalan dengan kembali kepada inti sebelum melompat pada kesimpulan.
Contohnya dapat kita lihat pada berbagai isu yang berkembang di ruang publik, termasuk
“perdebatan mengenai keaslian sebuah ijazah”.
Saya tidak sedang membahas “siapa yang benar ataupun siapa yang salah”.
Yang menarik perhatian saya justru adalah bagaimana sebuah persoalan dapat melebar ke mana-mana, sehingga inti persoalannya perlahan menghilang.
Bayangkan jika kita berhenti sejenak, lalu mengajukan satu pertanyaan yang sangat sederhana.
Apa sebenarnya fungsi sebuah ijazah?
Jawabannya sederhana.
Ijazah adalah bukti bahwa seseorang telah menyelesaikan suatu jenjang pendidikan sesuai ketentuan yang berlaku.
Kalau demikian, inti persoalannya pun menjadi lebih jelas.
Yang perlu dipastikan adalah apakah pendidikan tersebut benar ditempuh dan apakah dokumen yang digunakan memang diterbitkan secara sah.
Sampai di titik ini, kita sedang menemukan apa yang saya sebut sebagai “jantung persoalan”.
Menyederhanakan persoalan bukan berarti mengabaikan kenyataan.
Justru sebaliknya.
Kita sedang berusaha menyingkirkan hal-hal yang bukan inti agar perhatian kita tetap tertuju pada hal yang benar-benar perlu dipahami.
Namun perjalanan belum berhenti di sana.
Setelah jantung persoalan ditemukan, muncul pertanyaan lain yang tidak kalah penting.
- Mengapa persoalan seperti ini dapat berlangsung begitu lama?
- Mengapa sebagian orang tetap meragukan bukti yang telah disampaikan?
- Mengapa penjelasan dari berbagai pihak tidak selalu diterima?
- Mengapa rasa percaya menjadi begitu sulit dibangun?
Pertanyaan-pertanyaan ini membawa kita ke lapisan yang berbeda.
Perlahan kita mulai melihat bahwa akar persoalannya mungkin bukan lagi sekadar tentang ijazah.
Bisa jadi yang sedang kita hadapi adalah “krisis kepercayaan”.
- Kepercayaan kepada institusi.
- Kepercayaan kepada proses.
- Kepercayaan kepada informasi.
- Kepercayaan kepada sesama.
- Kepercayaan kepada si pemilik ijazah itu sendiri.
Di sinilah saya mulai memahami bahwa “jantung persoalan” dan “akar persoalan” bukanlah hal yang sama.
Jantung persoalan membantu kita menjawab:
"Apa yang sebenarnya sedang dipersoalkan?"
Sedangkan akar persoalan membantu kita menjawab:
"Mengapa persoalan itu terus muncul?"
Keduanya sama-sama penting.
Jika kita hanya menemukan jantung persoalan, kita mungkin mampu menyelesaikan satu kasus.
Namun jika kita juga menemukan akarnya, kita memiliki kesempatan membangun sesuatu yang jauh lebih berharga: “kepercayaan”.
Semakin saya mengamati kehidupan, semakin saya menyadari bahwa pola ini muncul hampir di mana-mana.
Dalam organisasi, konflik sering kali tampak sebagai perbedaan pendapat, padahal akarnya bisa berupa komunikasi yang tidak pernah benar-benar terbuka.
Dalam keluarga, pertengkaran sering kali dipicu oleh hal-hal kecil, padahal yang sesungguhnya sedang terluka adalah rasa saling percaya.
Dalam dunia kerja, sebuah proyek bisa saja gagal bukan karena orang-orangnya tidak mampu, tetapi karena persoalan mendasarnya tidak pernah benar-benar dipahami.
Saya kemudian menyadari sesuatu yang penting.
Kemampuan menyederhanakan persoalan atau menggali akar penyebab bukanlah kebijaksanaan itu sendiri.
Itu hanyalah alat untuk membantu kita melihat dengan lebih jernih.
Dua orang dapat menggunakan cara berpikir yang sama, tetapi menghasilkan keputusan yang sangat berbeda.
Yang membedakan bukan semata-mata caranya, melainkan manusia yang menggunakannya.
Karena itu, pada akhirnya kebijaksanaan bukan terutama berbicara tentang metode, melainkan tentang “karakter”.
- Tentang kerendahan hati untuk terus belajar.
- Tentang keberanian menerima fakta apa adanya.
- Tentang kesediaan mencari kebenaran, bukan sekadar memenangkan perdebatan.
- Tentang kebijaksanaan itu sendiri, yaitu menempatkan kepentingan bersama di atas keinginan untuk selalu menjadi pihak yang benar.
Mungkin inilah yang selama ini saya pelajari dari perjalanan menulis rangkaian artikel ini.

Sumber : Diolah dari HR Update — Triputra, Juli 2026
“Spiral Kebijaksanaan” ternyata bukan sekadar bertambahnya pengetahuan atau semakin canggihnya cara berpikir.
Spiral itu bertumbuh setiap kali kita membiarkan diri dibentuk menjadi pribadi yang semakin mampu melihat dengan jernih, memutuskan dengan benar, dan bertindak menghasilkan kebaikan.
Karena pada akhirnya, yang kita wariskan kepada generasi berikutnya bukan hanya keputusan-keputusan yang pernah kita ambil.
Kita juga mewariskan :
- Cara kita memandang kehidupan.
- Cara kita memahami persoalan.
- Cara kita memperlakukan sesama.
Dan mungkin, itulah warisan yang paling bertahan lama.
*Bukan karena orang mengingat semua jawaban yang pernah kita berikan, *melainkan karena mereka belajar melihat dunia dengan cara yang membuat mereka menjadi manusia yang lebih bijaksana.**
Catatan Penulis
Tulisan ini merupakan perpaduan antara refleksi manusia dan bantuan teknologi. AI membantu merangkai kata, tetapi denyut kehidupan di balik tulisan ini tetap berasal dari hati saya sebagai penulisnya.
메타데이터
- post_id
- f1fc6ee8dc70
- slug
- menemukan-jantung-persoalan-f1fc6ee8dc70
- url
- https://medium.com/berbagi-berdampak/menemukan-jantung-persoalan-f1fc6ee8dc70
- canonical_url
- https://medium.com/berbagi-berdampak/menemukan-jantung-persoalan-f1fc6ee8dc70
- author_url
- https://medium.com/@habillokadjaja56
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-14 03:27:34