Kenalan dengan Manual Brew
Pengalaman pertama mengenal metode manual brew untuk menyeduh kopi
Kenalan dengan Manual Brew
Photo by Goran Ivos on Unsplash
Ini cerita sekitar tahun 2013, saat dulu mengenal kopi hanya yang biasa dijual di warung dekat rumah, baik itu kopi hitam maupun kopi susu. Dan entah mengapa setiap kali membuat minuman kopi susu selalu lebih enak kopi susu sachet daripada kopi hitam yang ditambah susu. Namun yang pasti ketika menyeduh, keduanya tidak dapat lepas dari penambahan gula, biasanya satu sendok teh.
Kandungan kopi sachet umumnya bukan hanya bubuk kopi, jika pada kemasan tidak tertulis secara jelas 100% kopi murni. Terlebih kopi susu sachet biasanya tertulis bubuk kopi sekian persen, gula sekian persen, dan kandungan bukan kopi lainnya.
Suatu ketika, terpikir kalau saja setiap hari minum kopi 1–2 cangkir tapi ditambah 1–2 sendok teh gula pasir, itu berarti setidaknya dalam satu hari saya telah mengkonsumsi 2 — 3 sendok makan gula pasir yang terlarut dalam minuman kopi.
Momen tersebut membuat saya berhitung, sepertinya cukup mengkhawatirkan bagi kesehatan apabila berlangsung dalam jangka panjang. Sebenarnya yang saya butuhkan adalah rasa manis, karena saya suka manis (ini soal preferensi). Kemudian muncul pertanyaan, adakah kopi manis tanpa gula? Mengingat umumnya kopi pasti pahit.
Mulailah Googling dengan kata kunci kopi manis tanpa gula. Hasil pencarian teratas ketika itu (jika tidak salah) adalah artikel milik Otten Coffee. Melalui artikel tersebut, saya mengetahui untuk pertama kalinya istilah kopi single origin, grind size, dan istlah — istilah perkopian lainnya. Kemudian informasi lain yang saya dapatkan adalah kopi ternyata memiliki karakteristik rasa masing — masing tergantung daerah, cara menanam, cara proses pasca panen, hingga penyangraian (roasting).
Dan untuk mendapatkan rasa — rasa tertentu ketika diseduh menjadi minuman, dilakukan dengan metode tertentu, takaran tertentu, ukuran gilingan tertentu, hingga rentang waktu tertentu. Pikir saya kala itu, ternyata untuk mendapatkan kopi “manis” banyak variabel yang harus diatur. Sejak saat itu, ketertarikan dengan cara baru menikmati kopi ini semakin besar.
Alat seduh manual pertama
Diawali dengan membeli alat seduh sesuai dengan tuntunan artikel yang saya baca. Pertama kali saya membeli Hario V60, teko leher angsa, timbangan dan kertas filter untuk V60. Kemudian dilanjutkan dengan membeli bubuk kopi di roastery lokal via marketplace.
Mulailah di rumah mempraktekkan persis apa yang tertulis dalam artikel, mulai dari membasahi filter dengan air panas, menuang 10 gram kopi, hingga menuang air dari teko dengan pola melingkar sampai angka pada timbangan menunjukkan 150 gr. Kemudian dilanjutkan dengan menyruput sedikit demi sedikit. Kesan pertama yang muncul adalah untuk pertama kalinya saya merasakan kopi yang sedikit pahit diawal, dan sisanya tidak pahit sama sekali.
Momen ini menjadi titik awal perubahan cara pandang, cara seduh, dan pola minum kopi harian saya. Setelahnya adalah keseruan mengulik berbagai hal tentang kopi hingga saat ini.
메타데이터
- post_id
- f20f84d8b032
- slug
- kesan-seduhan-pertama-f20f84d8b032
- url
- https://medium.com/ngo-brew-ol/kesan-seduhan-pertama-f20f84d8b032
- canonical_url
- https://medium.com/ngo-brew-ol/kesan-seduhan-pertama-f20f84d8b032
- author_url
- https://medium.com/@anhalfengineer
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-11 10:13:20