← Back to list

Melankolia Seorang Abang

Semua boleh pergi, bahkan hilang, asal jangan adik perempuan. Sebab, di sanalah jantung seorang abang tertanam. Dalam. Sejak silam.

SEPAKAN PENA · 2026-07-08 11:19 · 0 claps · 4.5 min read
#essay #football #world-cup #yan-diomande #ivory-coast
Open on Medium ↗
Wiki topics: LIT · Literature & Writing ✍️ · Writing & Creative ⚽ · Football / Soccer

Melankolia Seorang Abang

Layanan pesan singkat memang membuat komunikasi lebih efisien, tapi ia juga dapat membunuh “rasa” dari aliran kata-kata. Mungkin, itu alasan mengapa manusia masih butuh menulis surat hari ini. Bukan semata-mata sebagai sarana romantisme, melainkan sebentuk ikhtiar dalam mengurai segala yang tak terpermanai.

Dalam surat, seseorang tidak bisa melihat centang biru ganda tanda pesan terbaca, keterangan “sedang mengetik…” di bawah kontak nama, dan menyunting ataupun membatalkan pesan dengan menariknya sebelum dibaca si penerima. Surat adalah bentuk final sang pengirim kepada penerimanya. Panah yang dilepaskan dengan segala permenungan sewaktu menarik busur — menggores pena.

“Medium adalah pesan itu sendiri,” kata Marshall McLuhan dalam Understanding Media: The Extensions of Man (1964).

Wadah di mana kalimat demi kalimat tertampung turut membentuk bagaimana impresi dari pesan tersebut tersampaikan. Mungkin seperti halnya makanan. Nasi goreng yang terbungkus dalam kertas minyak yang soak dengan yang ditata apik di atas piring cantik tentu akan menimbulkan sensasi berbeda bagi penyantapnya, bahkan jika menu itu dimasak oleh orang yang sama.

Ya, kita memang bisa mengetik pesan panjang (long-text message) di WhatsApp, Telegram, atau apa pun itu platformnya. Tetapi, karena kesan fungsional platform “medium pesan instan” menempel kuat, kita dengan mudah mengecap pesan panjang itu bertele-tele, bahkan sebelum membacanya tuntas. Kesan yang mungkin jarang kita dapatkan ketika membacai surat, bahkan jika isinya kurang lebih sama sekalipun.

“Lebih daripada kecupan, surat [lebih mampu] mempertemukan jiwa-jiwa,” begitu bunyi sepetik puisi terkenal dari penyair John Donne.

Surat sering kali merupakan bentuk tulisan paling personal dari seseorang. Jika pesan instan kurang lebih ialah ejawantah percakapan lisan dalam wujud tekstual, maka surat lebih menyerupai sebuah monolog batin manusia.

Saya rasa itulah yang coba dilakukan oleh Yan Diomande, winger andalan timnas Pantai Gading.

Dalam tulisan bertajuk “Dear Roxane”, Yan menulis surat yang begitu mengharukan. Saya tidak bisa tidak menitikkan air mata ketika membacanya. Sebuah monolog batin yang ditujukan kepada adik perempuannya, Roxane Diomande, yang wafat setahun silam. Ia banyak bercerita tentang apa yang telah dilaluinya sepeninggal sang adik. Tentang mimpi-mimpi yang mewujud nyata, tentang kejayaan yang terasa sia-sia.

Surat tersebut tayang di laman The Players’ Tribune pada 17 Juni 2026. Tiga hari setelah Yan turut mengantarkan Pantai Gading meraih tiga poin atas Ekuador di pertandingan pembuka Grup E. Dan hingga disingkirkan Norwegia di babak 32 besar, Yan Diomande selalu tampil sejak menit pertama, menjadi tumpuan serangan di sisi kiri Les Éléphants.

Ini adalah Piala Dunia pertamanya dan dengan bangga ia bercerita kepada adiknya:

“Abangmu akan main dengan seragam timnas, Dik. Ya, seperti Gervinho, Toure Yaya, juga Drogba.”

Pemain yang kini masih berusia 19 tahun itu kehilangan sang adik ketika dirinya mulai meniti karier sebagai atlet profesional. Itu musim pertama Yan berseragam Leganes. Yan mengawali debutnya dengan melawan Real Madrid di lanjutan La Liga 2024/25, pada 29 Maret 2025. Melawan Kylian Mbappé, pemain yang dulu hanya mereka tonton di layar teve, kini menjadi pemain pertama yang bertukar jersei dengan dirinya.

“Mbappé? Ya, dia memang bagus. Tapi, abangku jelas lebih oke!” demikian Yan mengenang ucapan adiknya dulu.

Hanya beberapa pekan setelah laga debutnya, Yan menerima telepon dari kampung halaman yang mengabarkan bahwa Roxane telah tiada. Seseorang menaruh racun di gelasnya, lalu ia tak pernah bangun lagi. Roxane meninggal dunia dalam usia 15 tahun.

Yan tak pernah mendapat jawaban pasti mengapa tragedi itu bisa terjadi dan siapa yang mendalangi. Namun, ia terus-menerus mengutuki dirinya yang gagal melindungi adiknya.

“Saya menulis [surat] ini karena saya tak kuasa untuk membicarakannya. Saya menulis ini karena saya ingin engkau mengerti bahwa dirimu senantiasa abadi dalam diri saya.”

Membaca bagian surat ini, saya kehabisan kata-kata. Saya rasa itu adalah maklumat suara kakak sejagat. Bagi seorang kakak, sosok adik adalah nyaris segala-galanya. Wajar ketika Yan merasa hidupnya kini kosong belaka.

“Sekarang, saya seperti mati rasa. Rasa-rasanya saya bukan seorang manusia lagi. Semenjak engkau tiada, saya sepenuhnya hampa.”

Saya jadi teringat Holden Caulfied, tokoh dalam novel The Catcher in the Rye (1951) karangan J. D. Salinger. Remaja tengik yang serbasinis kepada segala isi dunia. Ia selalu merutuki dan mengumpati siapa dan apa saja yang ia temui dan alami dalam hidupnya. Meski membenci hampir seluruh semesta, Holden sangat menyayangi Phoebe, adik perempuannya.

Holden, si bocah degil yang selalu berakhir didepak dari sekolah-sekolahnya, suatu malam diam-diam menyelinap pulang demi menemui adiknya. Ia berjalan pelan menuju kamar adiknya dan dengan lembut membangunkannya untuk mengajak mengobrol sebentar.

Phoebe pun bertanya kenapa abangnya sudah pulang sebelum akhir pekan. Tolong jangan teriak-teriak, Phoebe. Aku hanya mampir sebentar. Aku kangen adikku. Phoebe tahu abangnya sedang berbohong dan dengan sendirinya gadis kecil berumur 10 tahun itu segera paham bahwa kakaknya pasti dikeluarkan lagi dari sekolah untuk kesekian kalinya.

Memahami hal itu, sang adik memberikan tabungan natalnya karena paham kondisi abangnya yang hampir tidak pegang uang sama sekali. Holden terharu dan menangis karenanya. Sambil memeluk Phoebe, ia bercerita tentang impian terbesarnya.

Bahwa ia hanya ingin menjadi penjaga anak-anak di ladang gandum. Menjadi satu-satunya “orang dewasa” di tengah anak-anak yang berlarian ke sana kemari dengan cerianya. Ia ingin menjadi yang pertama menangkap mereka saat mereka bergerak keluar zona dan nyaris jatuh ke tebing dunia. Holden ingin menjadi “sang penangkap di ladang gandum”.

Yan mungkin gagal menjadi “sang penangkap” bagi Roxane. Tetapi, ia jelas tak gagal menangkap mimpi yang pernah ia ceritakan kepada adiknya. Mimpi yang dulu mungkin hanya Roxane seorang yang percaya bahwa abangnya mampu untuk mewujudkannya. Mimpi yang kini, sialnya, hanya mampu ia ceritakan lewat guratan surat. Nyaris seperti saudade tak berkesudahan.

Surat memang hanya berisi “kata-kata”. Dan kata-kata, seperti kata Sukab kepada Alina, sering kali tidak mengubah “apa-apa”. Sukab boleh saja meremehkan kata-kata semata mubazir bahasa, tapi sejarah telah mencatat banyak “keruntuhan besar” terjadi karena kecacatan merangkai kata.

Kecerobohan cangkem Günter Schabowski tidak cuma bikin Tembok Berlin runtuh, tapi juga turut menjadi katalis bagi kiamatnya Uni Soviet. John Lennon mungkin saja bisa bernapas lebih lama andai ia tak sesumbar bahwa grup musiknya lebih populer ketimbang Yesus. Dan tentu saja, trofi keempat Italia tak akan pernah ada jika Zidane tetap membiarkan mulut kotor Materazzi terus menghina saudarinya. (Ya, itu memang menghadiahkan mereka piala, tapi saya tak segan bilang bahwa itu sejatinya adalah titik nol karma kemerosotan Italia di panggung dunia.)

Yan Diomande mungkin tak tahu ke mana harus mengalamatkan suratnya, bahkan jika koordinat surga diketahui dunia sekalipun. Tetapi, setidaknya ia paham ke mana ia ‘kan tuju sembilu.

“Saya tak mau rumah megah. Saya tak ingin mobil-mobil mewah. Saya hanya ingin memuntahkan semuanya di lapangan. Semuanya, demi tunjukkan kepada dunia bahwa [keyakinan] Roxane benar adanya.”

Bagi seorang kakak laki-laki, adik perempuan adalah orang pertama yang selalu percaya dan terus meyakini bahwa abangnya mampu untuk mewujudkan impiannya, bahkan ketika seluruh dunia mengencingi ambisi dan potensinya.

Karena semua boleh pergi, bahkan hilang, asal jangan adik perempuan. Sebab, di sanalah jantung seorang abang tertanam.

Dalam. Sejak silam.

Penulis: Lindu Ariansyah


메타데이터
post_id
f24b2cb4683a
slug
melankolia-seorang-abang-f24b2cb4683a
url
https://medium.com/@sepakanpena/melankolia-seorang-abang-f24b2cb4683a
canonical_url
https://medium.com/@sepakanpena/melankolia-seorang-abang-f24b2cb4683a
author_url
https://medium.com/@sepakanpena
status
ok
fetched_at
2026-07-13 06:23:13