← Back to list

Mengapa Sebagian Kaum Sufi Bergerak Ketika Berdzikir?

Melihat dari sudut pandang kaum sufi

Ishaq Asri · 2026-02-18 18:01 · 1 claps · 4.3 min read
#sufism #sufi #tasawuf #mistisme #islam
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🕊️ · Religion 🧘 · Spirituality

Mengapa Sebagian Kaum Sufi Bergerak Ketika Berdzikir?

Sumber: Pixabay

Sumber: Pixabay

Beberapa tahun yang lalu, dunia maya dihebohkan dengan tersebarnya video jamaah umrah yang melakukan dzikir berjamaah dengan suara keras sambil menggerak-gerakkan kepala di Madinah. Setelah saya perhatikan gerakan dan irama dzikirnya, saya menyimpulkan bahwa orang-orang yang ada dalam video tersebut adalah penganut tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN). Tarekat ini adalah salah satu tarekat muktabarah yang didirikan oleh ulama besar tanah air yang bermukim di Mekah, yakni Syeikh Ahmad Khatib Sambas (1803 - 1872).

Di kolom komentar, respon yang muncul beragam. Ada yang positif dan apresiatif, tetapi tampaknya lebih banyak yang negatif. Sebagian menghujat secara terang-terangan, sebagian lagi berkomentar halus namun bernada merendahkan, seperti “semoga mendapat hidayah.”

Masalah terbesar sebagian umat Islam saat ini adalah rendahnya tolerasi dan minimnya literasi. Padahal, jika mereka mau meluangkan waktu sedikit saja membuka buku sejarah, mereka akan mendapati bahwa Mekah dan Madinah, sebelum berada di bawah kekuasaan Dinasti Saud, dipenuhi dengan majelis dzikir kaum sufi dengan berbagai corak dan metode.

Salah satu kebiasaan mayoritas kaum sufi adalah berdzikir dengan menggerakkan badan. Mereka mendapati bahwa dzikir yang disertai gerakan mampu mengusir kantuk dan menghalau khayalan, sehingga membantu menghadirkan kekhusyukan. Diam tak bergerak justru sering mengundang lamunan. Ini pengalaman yang bisa diuji oleh siapa saja.

Jika kita mengkaji al-Qur’an, kita akan menyimpulkan bahwa tidak bergerak bukanlah syarat sah dzikir. Dzikir boleh dilakukan dalam keadaan bagaimana pun selama tidak ada niat merendahkan Allah SWT. Dzikir dapat dilakukan sambil berjalan, berkendara, berenang, memancing, duduk di kafe, berolahraga, bahkan dalam kondisi tubuh yang tidak biasa sekalipun.

Mengapa demikian? Karena kita diperintahkan berdzikir kepada Allah SWT dalam segala keadaan. Allah SWT berfirman:

فَاِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلٰوةَ فَاذْكُرُوا اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِكُمْ

Artinya: Apabila kalian telah menyelesaikan shalat maka berdzikirlah kepada Allah dalam keadaan berdiri, duduk dan berbaring. (QS. an-Nisa’ : 103)

Bunda ‘Aisyah RA juga berkata:

كَانَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ أَحْيَانِهِ

Artinya: Adalah Rasulullah SAW berdzikir kepada Allah dalam setiap aktivitasnya. (HR. Muslim)

Memang benar bahwa tidak ada riwayat yang secara eksplisit menyebut bahwa Rasulullah SAW berdzikir sambil menggerak-gerakkan kepala sebagaimana yang dilakukan oleh jamaah TQN. Namun, tidak ada juga riwayat yang menyatakan bahwa beliau berdzikir dengan tubuh diam tak bergerak sedikit pun. Meski demikian, ketika Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib RA menceritakan tatacara para sahabat berdzikir, beliau berkata:

فَإِذَا أَصْبَحُوا فَذَكَرُوا اللَّهَ مَادُوا كَمَا يَمِيدُ الشَّجَرُ فِي يَوْمِ الرِّيحِ

Artinya: Apabila mereka (para sahabat) berada di waktu subuh, mereka berdzikir kepada Allah dengan bergerak sebagaimana gerakan pohon yang diterpa angin kencang. (Imam Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wan Nihayah dan Imam Ibnul Jauzi dalam kitab Sifatush Shafwah)

Hal ini menandakan bahwa bergerak ketika berdzikir itu boleh-boleh saja. Bahkan kemungkinan besar juga dilakukan oleh Rasulullah SAW karena beliau adalah guru para sahabat.

Jika gerakan dzikir TQN, yang hanya menggerak-gerakkan kepala, masih dianggap aneh dan dicap sesat oleh sebagian orang, mungkin mereka akan terkejut ketika mengetahui bahwa ada tarekat yang bukan hanya menggerakkan kepala, melainkan seluruh tubuh. Setidaknya ada dua tarekat yang dikenal dengan teknik demikian. Pertama, dzikir dengan berputar sebagaimana yang dipraktekkan oleh penganut tarekat Maulawiyah yang didirikan oleh Maulana Jalaluddin Rumi (1207 - 1273). Kedua, dzikir dengan menepuk-nepuk bagian tubuh tertentu disertai gerakan ke berbagai arah sebagaimana yang dipraktekkan oleh penganut tarekat Khalwatiyah Samman yang didirikan oleh Syaikh Muhammad Samman al-Madani (1718 - 1775). Dzikir pada tarekat yang kedua ini umumnya dilakukan sambil duduk, meskipun pada kondisi tertentu dapat pula dilakukan sambil berdiri.

Penganut tarekat Khalwatiyah Samman sedang berdzikir. Sumber: detiknews

Penganut tarekat Khalwatiyah Samman sedang berdzikir. Sumber: detiknews

Kini saya ingin memfokuskan bahasan pada tarekat yang kedua, karena tarekat ini memiliki banyak penganut di Indonesia, khususnya di tanah Bugis sehingga sering dianggap sebagai tarekatnya orang Bugis. Guru saya di tanah Bugis menjelaskan bahwa gerakan dzikir dalam tarekat Khalwatiyah Samman menggambarkan gerakan pohon yang diterpa angin kencang. Bukan hanya rantingnya yang bergerak, tetapi juga cabang-cabangnya, bahkan batangnya pun turut bergerak merespon hembusan angin yang begitu kuat.

Jika tubuh diibaratkan sebagai pohon, maka jari-jemari adalah rantingnya, kaki dan lengan serta kepala adalah cabangnya, sedangkan pinggul hingga pundak adalah batangnya. Seluruh tubuh ikut berdzikir, tidak hanya lisan. Gerakan itu diharapkan menjadi sebab gugurnya dosa-dosa, sebagaimana dedaunan yang berjatuhan ketika angin kencang menerpa pepohonan. Di antara dosa yang ingin digugurkan adalah kelalaian saat lisan menyebut nama Allah, sementara hati masih mengembara ke mana-mana.

Selain bersandar pada perkataan Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib RA yang telah disebutkan sebelumnya, gerakan tangan dalam dzikir ini juga didasarkan pada gerakan mengangkat kedua tangan dalam shalat. Mengangkat tangan adalah simbol pengagungan dan kepasrahan total. Ia melambangkan runtuhnya ego di hadapan kebesaran Allah SWT. Pada saat itu, kesadaran tentang diri memudar hingga yang tersisa hanyalah kesadaran akan Allah Yang Maha Tunggal.

Karena itu, gerakan tangan dalam dzikir bukanlah dimaksudkan untuk menepuk paha semata, melainkan sebagai luapan jiwa yang bergejolak dalam samudra penghambaan. Semakin dalam jiwa tenggelam dalam lautan dzikir, semakin tinggi tangan terangkat. Itu adalah bahasa tubuh dari hati yang pasrah sepenuhnya kepada kehendak dan kuasa Allah SWT.

Runtuhnya ego tergambar ketika tangan turun dengan cepat menghantam kedua paha hingga terdengar bunyi tepukan. Namun itu bukan sekadar suara fisik. Ia adalah simbol pecahnya dinding keakuan, gema dari hati yang berjuang mematahkan sisa-sisa kelalaian. Setiap hentakan adalah isyarat bahwa “aku” sedang dihancurkan, bahwa kesombongan sedang diremukkan, dan bahwa diri sedang dilatih untuk tunduk total di hadapan Allah Yang Maha Agung.

Tangan terangkat karena jiwa menyadari kebesaran Allah. Tangan terhempas karena jiwa menyadari kehinaan diri. Hingga akhirnya, yang tersisa dalam kesadaran bukan lagi bagaimana tangan bergerak, bukan pula seberapa besar bunyi hantaman, tetapi kesadaran yang bening dan hening bahwa tiada daya dan kekuatan melainkan dengan kuasa dan kehendak Allah SWT.

Pada saat itu, gerakan telah melampaui bentuknya. Suara telah melampaui bunyinya. Dzikir tidak lagi sekadar dilafalkan, melainkan juga dihayati. Dzikir tidak lagi diusahakan, tetapi mengalir begitu saja. Dan di sanalah seorang hamba mendapatkan pencerahan bahwa sebenarnya dirinya tidak benar-benar ada karena yang benar-benar ada hanyalah Dia Yang Maha Tunggal. Rasulullah SAW bersabda:

أَفْضَلُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِي: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ

Artinya: Sebaik-baik ucapan yang pernah aku ucapkan dan juga para nabi sebelumku adalah la ilaha illallah. Dia Maha Tunggal, tiada sekutu bagi-Nya (dalam dzat, sifat dan perbuatan). (HR. Malik)[]


메타데이터
post_id
f28f9dfd582a
slug
mengapa-sebagian-kaum-sufi-bergerak-ketika-berdzikir-f28f9dfd582a
url
https://medium.com/@ishaq_asri/mengapa-sebagian-kaum-sufi-bergerak-ketika-berdzikir-f28f9dfd582a
canonical_url
https://medium.com/@ishaq_asri/mengapa-sebagian-kaum-sufi-bergerak-ketika-berdzikir-f28f9dfd582a
author_url
https://medium.com/@ishaq_asri
status
ok
fetched_at
2026-08-20 16:23:28