A Verdictless Life
Tidak Ada Indeks Prestasi Untuk Hidup
A Verdictless Life
Tidak Ada Indeks Prestasi Untuk Hidup
Photo by Nguyen Dang Hoang Nhu on Unsplash
Pada setiap akhir semester perkuliahan, terungkaplah sebuah angka indeks prestasi (IP) yang konon menggambarkan pencapaian kita selama satu semester itu. Meski kita somewhat sadar bahwa angka-angka tersebut adalah oversimplifikasi yang kasar sekali dari jerih payah kita, setidaknya ia mengkuantifikasi perjalanan tersebut sehingga berguna untuk memeriksa gejala.
Maksudku, dari melihat performa kita di indeks-indeks semesteran, kita bisa dapat sense ketika kelihatannya cukup baik atau sebaliknya cukup mengkhawatirkan. Setelah itu, bisa kita kalibrasi ulang segala rencana langkah agar gejala membaik — syukur-syukur agar keseluruhan membaik. Sederhana sekali.
Rupanya, kita tidak punya kemewahan ‘penanda gejala’ semacam IP tersebut dalam kehidupan yang lebih luas. Tidak ada angka yang bisa kita tengok untuk dapat feeling dari seberapa sukses diriku ini apalagi seberapa benar aku menjalani hidup ini atau pertanyaan serupa lainnya.
Nyatanya, kita andalkan campuran hal seperti intuisi, perasaan achievement sesaat, benchmark keadaan diri di masa lalu, ataupun benchmark kehidupan orang lain demi menerka-nerka sudah sejauh mana proses diri. Lalu, kita ragukan semua tolok ukur itu karena begitu berbeda-beda dan membingungkan. Kata aku begini, kata kamu begitu. Kata si anu begini, kata si onoh begitu. Kata podcast begini, kata Tiktok begitu.
Semakin dipikir dan diobservasi, daftar yang berisikan harusnya-begini dan harusnya-begitu kian memanjang, seolah-olah kita harus menjadi segalanya. Setres deh, hahahaa.
Keresahan ini digambarkan dengan begitu apa adanya oleh John Mayer dalam lagu Why Georgia:
Cuz I wonder sometimes About the outcome Of a still verdictless life Am I living it right? Am I living it right? Am I living it right? Why, Georgia, why?
Verdictless — Tanpa Dakwaan VS Rumput Tetangga
Photo by Jon Tyson on Unsplash
Verdict adalah dakwaan: kesimpulan atau keputusan akhir dari sebuah persidangan. Kesimpulan ini dibuat oleh juri atau hakim setelah mendengarkan semua bukti dan argumen dari pihak-pihak yang terlibat.
Dalam makna materialistis-duniawi semata, rupanya kehidupan memang verdictless seperti yang John Mayer keluhkan — tak ada juri yang menyimpulkan kesuksesan-kebenaran hidup ataupun indeks prestasi yang merangkum pencapaian hidup. Dengan demikian, wajar untuk selalu bertanya-tanya apakah sejauh ini sudah benar dijalani (i.e. “Am I living it right?”).
Sepertinya kehidupan memang didesain Tuhan untuk demikian. Ialah belantara berselimutkan kabut, dilengkapi labirin lembah dan gunung, sebagai ujian bagi penjelajahnya. Akan kau apakan belantaramu? Rupanya para makhluk belantara banyak sibuk menyenangkan diri dengan api dan tembikar: hal-hal yang indah, tetapi bukan arah. Kemudian, mereka terlena dengan ujian sebenarnya dan berlomba-lomba mengumpulkan debu.
Proliferasi media sosial di era kontemporer membuat keterlenaan ini semakin mudah — toh setiap orang dapat dengan instan menengok-nengok urusan orang lain via segala status, post, dan story yang dibagikan sukarela.
Rumput tetangga lebih hijau, katanya?
Sekarang, untuk pertama kalinya dalam sejarah umat manusia, hampir seluruh dunia menjadi ‘tetangga’ kita yang ‘hidup’ di genggaman sehari-hari. Bahkan, dengan begitu, tetangga digital ini secara harfiah menjadi lebih dekat dibanding tetangga asli: yang satu dalam saku, yang satu di rumah sebelah. Tidak pernah semudah itu melihat rumput tetangga sebegitu banyaknya dan sebegitu cepatnya.
Maka tak heran jika kompas kita kebingungan. Sang panah bergetar dan berputar-putar, menghabiskan energi kita ke arah yang tak benar-benar kita inginkan atau malah ke arah salah yang kita ingin tapi mencoba untuk dibenar-benarkan.
Setiap postingan LinkedIn yang membuat berpikir kok gacor-gacor ya orang-orang atau story Instagram yang membuat terlintas mantep-mantep lu pada secara sadar-tak sadar menggoyahkan arah kompas dan mengaburkan pandangan. Si teman SMP yang tiba-tiba di luar negeri dalam rangka menjalani program kepemimpinan bisnis prestisius membuat kita ingin begitu. Si kakak tingkat satu program beasiswa yang pamer portofolio dan earnings luar biasa membuat kita ingin begitu. Si kawan kuliah yang bercerita di status WhatsApp tentang segala effort yang dijaban demi akhirnya menikahi kekasihnya membuat kita ingin begitu. Segala informasi yang mengisyaratkan value dari diri orang lain membuat diri mempertanyakan, “Ngapain aja deh aku selama ini?” karena kita ingin begitu tapi kok belum begitu?
Lama-kelamaan, ‘ingin-begitu’ berubah menjadi ‘begitulah-arah-yang-benar’ — kita secara tak sadar mengadopsi ‘rumput tetangga digital’ sebagai indeks prestasi kehidupan. Berbeda dengan IP semesteran semasa berkuliah, jika kita selalu mengadopsi ‘IP kehidupan’ dari kacamata orang lain, kita tidak akan pernah merasa baik atau puas dengan proses dan progres diri. Layaknya email kita yang semakin penuh dengan entah apa, persepsi diri jua semakin dipenuhi dengan… entah apa.
Lalu?
Photo by Jamie Street on Unsplash
Aku sebenarnya ingin mengakhiri tulisan ini dengan segala petuah optimis klise yang tak jauh-jauh dari menghargai proses, menerima ketidakpastian, mengambil hikmahnya, berlomba hanya dengan diri sendiri, mengurangi stimulus media sosial, dan hal-hal lemah-lembut serupa. Dan di titik ini, biasanya tulisan-tulisan seperti ini mulai memberikan solusi.
Akan tetapi, I need to be real with y’all dan bilang kalau kayaknya kita semua cukup khatam dan cukup lelah untuk diberitahu hal yang sama terus-menerus hahaha.
Toh kita udah tau kok kalo jawabannya begitu~
Si John sih bilangnya begini:
“Everything happens for a reason” Is no reason not to ask myself if I am living it right? Am I living it right?
Aku senang dengan lirik ini karena iya kita tahu ada hikmahnya dan iya kita udah khatam segi normatifnya, tapi itu bukan alasan untuk tetap bertanya — “Am I living it right?”
Aku pikir kita sangat berhak untuk mempertanyakan hal tersebut. Sebagai makhluk media sosial, malah mungkin kita adalah generasi yang paling berhak dalam sejarah untuk mempertanyakan hal tersebut. Dan kalau begitu adanya, mungkin the act of overthinking dan the act of menerka-nerka tidak perlu kita judge berlebihan: toh memang begitu adanya, bukan?
Bagiku, mencoba untuk menghindari kelelahan dari pertanyaan tersebut melalui memaksa diri menelan petuah optimis klise atau meyakini dengan buta segala bayangan idealistis kupasti bisa begini dan begitu, lalu menghardik proses iteratif redefinisi diri menurutku bukan hal yang produktif. Itu toh bagian dari usaha kita getting it right.
Impossibility dari pertanyaan John tersebut memang menyingkap tabiat kita sebagai manusia: terbatas, tergesa-gesa, terluntang-lantung. Dengan begitu, memang pada akhirnya fitrah kita senantiasa meminta agar ditunjukkan jalan yang benar, juga dijauhkan dari jalan yang salah maupun yang sesat — seperti yang umat Islam doakan dalam Surah Al-Fatihah setiap kali salat.
“Am I living it right?” sejatinya memang tak bisa kita nilai — memang harus dengan suatu pandangan komprehensif yang Maha Adil. Dan hanya Ia yang akan mampu memberikan verdict, setelah segala urusan kita di belantara ini selesai. Skor akhir kita benar-benar akhir agar kita tak berpuaskan diri di tengah jalan dan terus ada insentif untuk living it right dengan penuh takut, harap, dan usaha.
Dan, yaa… Kalau memang hidup duniawi ini tidak memberi IP di tengah jalan, yaudah aja. Yang penting kita gak pernah DO dari proses menjadi manusia yang baik :)
Terinspirasi dari curhatan berbagai insecure overachievers yang relate hahaha, terutama obrolan semalam dengan Arvind Vazza yang bikin mikir.
메타데이터
- post_id
- f2bafe08ceeb
- slug
- a-verdictless-life-f2bafe08ceeb
- url
- https://medium.com/@rakeanradya/a-verdictless-life-f2bafe08ceeb
- canonical_url
- https://medium.com/@rakeanradya/a-verdictless-life-f2bafe08ceeb
- author_url
- https://medium.com/@rakeanradya
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-08 13:16:21