← Back to list

BAGAIMANA MENGALAMI KEBAHAGIAAN? — Di Dunia Paling Buruk Di Antara Semua Dunia Yang Mungkin Ada

Ulasan Esai Arthur Schopenhauer: The Wisdom of Life

Elsandy · 2025-04-26 13:45 · 0 claps · 11.9 min read
#filsafat #schopenhauer #pesimisme #kebahagiaan #resensi-buku
Open on Medium ↗
Wiki topics: 💭 · Philosophy of Spirit

BAGAIMANA MENGALAMI KEBAHAGIAAN? — Di Dunia Paling Buruk Di Antara Semua Dunia Yang Mungkin Ada

Ulasan Esai Arthur Schopenhauer: The Wisdom of Life

“There are more things in the world productive of pain than of pleasure.”

— Schopenhauer

Dok. Pribadi

Dok. Pribadi

Ini merupakan ulasan esai dari seorang yang dijuluki sebagai “Filsuf Paling Pesimis” di dunia — Arthur Schopenhauer. Menurutnya, hidup tidak layak dijalani; filsafatnya dibangun atas gagasan bahwa hidup pada dasarnya adalah penderitaan, dan semua yang kita lakukan adalah sia-sia. Ya, memang terlihat sangat suram, pemandangan dunia dari sudut pandang Paman Scho ini. Meskipun sudut pandangnya ini tampak menyedihkan, pesimisme Schopenhauer juga dapat dilihat sebagai sumber kekuatan — bagaimana mungkin filsuf yang menyebut hidup sebagai penderitaan justru menawarkan kebahagiaan? Pertanyaan ini mengarah pada dilema yang lebih tajam: apakah pesimisme radikal Schopenhauer dapat mengantarkan kita pada kebahagiaan yang sejati atau malah membenamkan kita ke dalam keputusasaan yang hakiki? Untuk menjawab dilema ini, Schopenhauer dalam esainya The Wisdom of Life membahas eudaimonology (studi tentang kebahagiaan). Dengan pendekatan luas “filsafat sebagai cara hidup”, ia menawarkan kerangka rasional untuk meningkatkan kehidupan kita sendiri.

Schopenhauer memulai pembahasannya dengan merujuk pada pembagian tentang keberkahan atau kenikmatan hidup dari Aristoteles yaitu berkat yang datang dari luar, berkat jiwa (rohani), dan berkat tubuh (jasmani), yang kemudian ia reduksi menjadi tiga kelompok yaitu hakikat manusia, kepemilikan manusia, dan derajat manusia di mata manusia lain. Untuk keberkahan yang pertama yaitu hakikat manusia, ini merupakan anugerah yang ditetapkan atau diberikan dari alam itu sendiri kepada setiap manusia, yang kemudian menentukan jati diri mereka; di dalamnya tercakup aspek-aspek seperti kesehatan, kekuatan fisik, keindahan, watak, kecerdasan, karakter moral, hingga kapasitas intelektual yang diperoleh melalui pendidikan. Menurut Schopenhauer, unsur-unsur inilah yang menjadi fondasi utama kebahagiaan, dan sangat menentukan apakah seseorang akan hidup dalam keadaan bahagia atau justru sengsara. Kebahagiaan sejati katanya, bersumber dari dalam diri, bukan dari dunia di sekitar kita. Ia mengutip Metrodorus, murid Epicurus:

“The happiness we receive from ourselves is greater than that which we obtain from our surroundings.”

Sementara itu, berkat yang kedua dan ketiga yaitu kepemilikan manusia dan derajat manusia di mata manusia lain hanya merupakan hasil dari pengaturan atau penetapan manusia saja, bukan sesuatu yang melekat secara alamiah. Dengan kata lain, Schopenhauer ingin menegaskan bahwa kebahagiaan berasal dari dalam diri manusia itu sendiri, unsur utama kesejahteraan manusia adalah apa yang membentuk dirinya, kondisi jiwa raganya. Hal-hal eksternal tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap kebahagiaan manusia. Sebab, meskipun berada di lingkungan yang sama, setiap orang tetap hidup dalam dunianya masing-masing. Karena setiap manusia memiliki pemahaman akan gagasan, perasaan dan kemauannya sendiri; dunia luar hanya dapat memengaruhi dirinya sepanjang dunia tersebut menghidupkan itu semua.

“For what a man is in himself, what accompanies him when he is alone, what no one can give or take away, is obviously more essential to him than everything he has in the way of possessions, or even what he may be in the eyes of the world. An intellectual man in complete solitude has excellent entertainment in his own thoughts and fancies, while no amount of diversity or social pleasure, theatres, excursions and amusements, can ward off boredom from a dullard.”

Jadi dunia tempat orang itu hidup, terbentuk dari bagaimana si manusianya itu memandang dunia tersebut. Bagi beberapa orang hidup ini terasa sangat berat, tak bermakna, buruk, serta membosankan, sementara itu bagi beberapa orang lain hidup ini menarik dan penuh makna. Faktor luar (alam, takdir, apa yang menimpa kita) akan tetap sama dan akan selalu ada, yang membedakan itu adalah penilaian pribadi (bagaimana kita merespon faktor luar yang datang pada kita). Dan karena setiap orang hidup dalam batas pemahamannya sendiri, terikat oleh cara pandangnya terhadap dunia dan dirinya, maka membangun pola pikir ini menjadi hal yang sangat penting.

“The objective half of life and reality is in the hand of fate, and accordingly takes various forms in different cases: the subjective half is ourself, and in essentials is always remains the same.”

Oleh karena itu jika dunia subjektif yakni pikiran, penilaian, dan persepsi kita memegang peranan besar dalam membentuk pengalaman hidup, maka upaya untuk mengolah batin dan membentuk pola pikir yang jernih menjadi sangat penting. Dalam pandangan Schopenhauer, kebahagiaan bukanlah tentang menaklukkan dunia luar, melainkan menaklukkan kehendak dalam diri: keinginan yang tak pernah puas, harapan yang melambung, dan kecemasan yang terus mengintai. Kesadaran akan diri sendiri menjadi tameng terhadap ketergantungan pada kondisi eksternal yang berubah-ubah. Ketika seseorang mampu hidup dalam kedalaman pikirannya sendiri, ia tidak mudah goyah oleh kekacauan dunia luar.

Maka dari itu, ukuran kebahagiaan seseorang ditentukan oleh individualitasnya — lebih khusus oleh kekuatan mentalnya untuk menikmati kesenangan batin yang lebih tinggi. Hal-hal eksternal seperti teman, hobi, dan keluarga hanya berperan sebagai pelengkap, bukan penentu. Schopenhauer menulis:

“No one can get beyond his own individuality. An animal, under whatever circumstances it is placed, remains within the narrow limits to which nature has irrevocably consigned it; so that our endeavors to make a pet happy must always keep within the compass of its nature, and be restricted to what it can feel. So it is with man; the measure of the happiness he can attain is determined beforehand by his individuality.”

Dengan kata lain, sebagaimana hewan tidak bisa menikmati kebahagiaan di luar kodratnya, manusia pun hanya bisa merasakan kebahagiaan sejauh yang memungkinkan dalam batas-batas batinnya. Maka, sebagaimana ditekankan Schopenhauer, “kesenangan tertinggi, paling beragam, dan paling bertahan lama adalah kesenangan batin; dan meskipun masa muda sering menipu kita dalam hal ini, kesenangan itu sepenuhnya bergantung pada kekuatan pikiran.”

Menariknya, Schopenhauer juga menyinggung tentang nasib atau jalan hidup sebagai elemen penting dalam kebahagiaan. Setiap manusia menurutnya, memiliki garis hidup yang unik, semacam takdir atau jalur eksistensial yang telah ditetapkan dan tidak bisa dihindari atau diubah. Kebahagiaan akan sulit tercapai jika seseorang hidup bertentangan dengan kodratnya — yakni, menjalani jalan yang tidak sesuai dengan kualitas hakikat dirinya. Jadi, yang dapat kita perbuat atau capai adalah memanfaatkan sebaik-baiknya potensi diri untuk berkembang di jalan hidup yang kita miliki itu. Schopenhauer menekankan pentingnya menyesuaikan kualitas pribadi dengan arah hidup yang dijalani; karena bila tidak, yang muncul justru penderitaan yang terus-menerus. Ia memberi contoh:

“Imagine a man endowed with herculean strength who is compelled by circumstances to follow a sedentary occupation, some minute exquisite work of the hands, for example, or to engage in study and mental labor demanding quite other powers, and just those which he has not got, — compelled, that is, to leave unused the powers in which he is pre-eminently strong; a man placed like this will never feel happy all his life through. Even more miserable will be the lot of the man with intellectual powers of a very high order, who has to leave them undeveloped and unemployed, in the pursuit of a calling which does not require them, some bodily labor, perhaps, for which his strength is insufficient. Still, in a case of this kind, it should be our care, especially in youth, to avoid the precipice of presumption, and not ascribe to ourselves a superfluity of power which is not there.”

Seperti ada ungkapan pengemis yang sehat lebih bahagia daripada raja yang sakit-sakitan. Bagi Schopenhauer, hal ini mencerminkan kebenaran mendalam: bahwa kesehatan fisik, kejernihan pikiran, dan kebeningan hati nurani adalah berkah yang tidak bisa digantikan oleh kedudukan, kekayaan, maupun ketenaran. Ia menegaskan bahwa kesehatan bukan sekadar faktor pendukung, melainkan salah satu unsur utama kebahagiaan manusia. Bahkan, ia menyebut kesehatan sebagai bentuk keberkahan yang paling berharga.

“It follows from all this that the greatest of follies is to sacrifice health for any other kind of happiness, whatever it may be, for gain, advancement, learning or fame, let alone, then, for fleeting sensual pleasures. Everything else should rather be postponed to it.”

Maka lebih bijaksana jika seseorang menjaga kesehatan dan mengembangkan potensi diri, daripada mengejar kekayaan secara berlebihan. Ini bukan berarti mengabaikan kebutuhan hidup, melainkan menolak gaya hidup yang berlimpah tapi justru tidak memberi kebahagiaan sejati. Sebab menurut Schopenhauer, keberlimpahan materi sering kali hanya memberi sedikit, bahkan nyaris tidak berarti, bagi kebahagiaan manusia yang sejati.

Selanjutnya, keberkahan yang kedua: kepemilikan manusia, yaitu harta benda dan kepemilikan dalam bentuk apapun. Kenapa kekayaan lebih dihargai atau lebih dihormati? Jawabannya sederhana: karena kehidupan manusia dilandaskan pada kebutuhan, dan kekayaan materi ini tentunya dapat memenuhi kebutuhan dasar tersebut. Tetapi ini, menurut Schopenhauer, tidak akan membawa kita lebih jauh dari itu. Kekayaan tidak akan pernah benar-benar bisa memuaskan atau mengisi kurangnya kekayaan batin.

Kebahagiaan sejati datang dari dalam diri. Karena kekayaan bersifat eksternal, ia bisa hilang kapan saja. Bahkan, keberlimpahan dalam bentuk harta benda atau kepemilikan justru dapat mengganggu kebahagiaan kita, karena membawa serta kecemasan dan ketakutan akan kehilangan. Inilah alasan mengapa orang kaya, meskipun memiliki segala yang mereka butuhkan secara materi, belum tentu merasakan kebahagiaan. Serta jika kita pikirkan, tidak ada jumlah kekayaan absolut yang dapat memuaskan manusia, karena hasrat terhadap kekayaan itu sendiri tidak mengenal batas. Terikat pada keinginan ini dapat menyebabkan kita terjebak dalam pusaran hasrat yang tak pernah terpuaskan dan malah akan menuntun kita menuju keserakahan yang hanya berujung pada penderitaan.

Seperti dikatakan Schopenhauer: “Riches, one may say, are like sea-water; the more you drink the thirstier you become.”

Keberkahan terakhir dalam esainya ini yaitu: posisi atau derajat manusia di mata manusia lain yang meliputi reputasi, harga diri, kedudukan, kehormatan, dan ketenaran.

Reputasi (Reputation) Kata Schopenhauer, kelemahan kita manusia terletak pada kepedulian kita dalam memikirkan pendapat orang lain. Padahal jika direnungkan, sebenarnya pendapat orang lain itu tidak terlalu berguna dan penting untuk kebahagiaan serta sedikit sekali memberikan pengaruh positif, dan nyata dalam sebagian besar situasi dan persoalan hidup kita. Ia menulis:

“Apart from this, what goes on in other people’s consciousness is, as such, a matter of indifference to us; and in time we get really indifferent to it, when we come to see how superficial and futile are most people’s thoughts, how narrow their ideas, how mean their sentiments, how perverse their opinions, and how much of error there is in most of them … we shall understand that to lay great value upon what other people say is to pay them too much honor.”

Sebagaimana kutipannya menunjukkan, pendapat orang lain seringkali lahir dari pemahaman yang dangkal, prasangka, dan ketidaktahuan. Schopenhauer bahkan menyindir bahwa “memperhatikan penilaian orang kebanyakan sama seperti meminta nasihat nutrisi dari orang kelaparan”. Memang, kita manusia adalah makhluk sosial, tetapi jika kita ingin benar-benar bahagia dan menjalani kehidupan yang tenang dan gembira, ada satu hal yang harus dikesampingkan dari benak kita, yaitu pertanyaan yang sering mengganggu pikiran kita: apa pendapat orang lain tentang kita?

Kebahagiaan kita tidak berada dalam kepala orang lain.

Itulah sebabnya kita harus mengurangi memikirkan pendapat orang lain; karena jika tidak, kita hanya akan menjadi budak dari apa yang dipikirkan orang lain itu. Dalam hal ini, Schopenhauer menawarkan bagi kita gaya hidup menyendiri sebagai alternatif atas kecemasan kekhawatiran dari opini orang lain.

“It is observable that a retired mode of life has an exceedingly beneficial influence on our peace of mind, and this is mainly because we thus escape having to live constantly in the sight of others, and pay everlasting regard to their casual opinions; in a word, we are able to return upon ourselves.”

Harga diri dan Kedudukan (Pride and Rank) Terlalu memikirkan pendapat orang lain dapat menumbuhkan tiga tunas, yaitu ambisi, harga diri, dan keangkuhan. Apa perbedaan harga diri dan keangkuhan? Harga diri berasal dari dalam, yaitu keyakinan kuat tentang nilai tinggi dari diri sendiri dalam hal tertentu; sedangkan keangkuhan merupakan hasrat untuk membangkitkan keyakinan tersebut pada diri orang lain, atau berasal dari luar.

Maka, harga diri adalah kepercayaan bahwa kita layak, meskipun tak ada yang melihat. Keangkuhan, sebaliknya, adalah pertunjukan citra: usaha terus-menerus menampilkan diri agar terlihat bernilai, meskipun di baliknya, mungkin kosong.

Kemudian, tentang kedudukan, Schopenhauer hanya berkomentar singkat yaitu: kedudukan hanyalah kepura-puraan atau tipuan saja, bagaimana mendapat kedudukan? Caranya yaitu dengan menumbuhkan rasa hormat palsu. Kenapa kedudukan hanyalah kepura-puraan saja? Ini karena kedudukan memiliki nilai konvensional atau nilai yang didasarkan pada kesepakatan umum, seperti adat, kebiasaan, dan budaya — bukan oleh sesuatu yang benar-benar esensial dalam diri seseorang.

Kedudukan diraih bukan karena nilai sejati seseorang, melainkan karena kemampuan membangun citra yang dihormati oleh masyarakat. Jadi, kita menghormatinya bukan karena nilainya, tapi karena kita telah diajari untuk melakukannya.

Kehormatan (Honor) Kehormatan dapat dilihat dari dua sisi, pada sisi objektifnya (dari luar) kehormatan merupakan pendapat orang lain mengenai nilai diri kita. Selanjutnya, pada sisi subjektifnya (dari dalam) kehormatan merupakan penghargaan yang kita berikan terhadap pendapat itu. Di mana-mana kehormatan diakui sebagai sesuatu yang sangat bernilai. Karena hanya dalam masyarakatlah kekuatan seseorang dapat digunakan/dimanfaatkan sepenuhnya.

“To be a useful member of society, one must do two things: firstly, what everyone is expected to do everywhere; and, secondly, what one’s own particular position in the world demands and requires.”

Dari sini terlihat bahwa kehormatan bukan bergantung pada penilaian diri sendiri, melainkan pada sejauh mana kita dianggap berguna oleh orang lain. Inilah sebabnya banyak orang berusaha keras membentuk citra yang baik di mata publik, karena merasa bahwa nilai dirinya hanya berarti sejauh ia dikenali dan dihargai oleh masyarakat. Oleh karena itu, menjaga kehormatan sering kali bukan tentang menjadi diri sendiri, tapi tentang menjadi cerminan dari apa yang dunia ingin lihat. Maka, menurut Schopenhauer, dorongan terhadap kehormatan ini adalah bagian dari sifat manusia yang paling dasar, yaitu perasaan malu (verecundia), yang muncul ketika kita menyadari potensi penolakan atau penghakiman dari luar.

Ketenaran (Fame) Apa perbedaan kehormatan dan ketenaran? Bedanya adalah kehormatan itu hanya sesaat saja dan semua orang berhak atas kehormatan, sedangkan ketenaran itu abadi dan hanya sedikit orang yang layak mencapainya. Karena jalan menuju ketenaran hanya dapat diperoleh dengan pencapaian yang luar biasa.

Schopenhauer membedakan dua bentuk pencapaian yang dapat menghasilkan ketenaran: perbuatan dan karya; kedua-duanya memiliki kekurangan dan kelebihan tersendiri. Perbuatan memiliki dampak yang kuat namun sering kali cepat memudar; ia hidup dalam ingatan, namun kenangan bisa luntur seiring waktu — kecuali sejarah mencatatnya. Karya, di sisi lain, mengandung daya tahan yang lebih lama. Begitu ditulis atau diwujudkan, ia memiliki kemungkinan untuk hidup jauh melampaui penciptanya, menembus generasi, bermanfaat sepanjang masa. Maka, jika perbuatan adalah momen, karya adalah warisan.

Kehormatan tidak harus dimenangkan, hanya tidak boleh hilang atau dengan kata lain: hanya perlu dijaga. Dan disinilah letak kesulitannya; karena dengan satu saja perbuatan hina, kehormatan tak bisa diperoleh kembali. Tetapi ketenaran tidak akan pernah bisa lenyap, sebab perbuatan atau karya yang dengannya ketenaran itu diraih tidak pernah bisa dibatalkan, karena ketenaran melekat kepada pemiliknya. Ketenaran yang cepat hilang, atau yang dibangun dari hal-hal remeh, tak lain hanyalah ketenaran palsu — fatamorgana pengakuan yang tak memiliki fondasi sejati.

“That fame shuns those who seek it, and seeks those who shun it.”

Namun, dalam sudut pandang kebahagiaan manusia, ketenaran bukanlah sumber dari kebahagiaan itu sendiri, melainkan siapakah diri seseorang dibandingkan orang lain atau apa yang membuat seseorang itu pantas dikenang. Manusia tidak dibuat bahagia oleh ketenaran, melainkan oleh apa yang memberinya ketenaran.

“Some people obtain fame, and others deserve it.”

HIDUP — Antara Penderitaan dan Kebosanan

“The two foes of human happiness are pain and boredom.” — Schopenhauer

Dalam pesimisme Schopenhauer, ia percaya bahwa semua masalah dan kemalangan (akar penderitaan) seseorang berasal dari kehendak (will). Orang menderita karena keinginannya tidak terpenuhi atau karena bosan ketika keinginannya terpenuhi; inilah kehendak — hasrat tanpa kepuasan, korban sekaligus pelaku yang ditakdirkan untuk menyakiti dirinya sendiri.

Di era digital yang serba cepat dan penuh distraksi ini, pemikiran Schopenhauer tentang hidup manusia yang terombang-ambing cukup keras di antara penderitaan dan kebosanan menemukan bentuk barunya yang sangat relevan. Dapat kita lihat, media sosial telah menjadi panggung modern tempat “kehendak (will)” manusia yang tak terpuaskan itu terus bermain tanpa henti. Banyak orang mengejar “like”, komentar, dan validasi virtual lainnya — semua demi mendapatkan sensasi bahwa kita diakui, dicintai, atau dianggap “berarti”; menderita ketika postingan mendapat sedikit like, tetapi juga cepat bosan ketika sudah mendapat validasi yang diinginkan.

Siklus ini persis seperti yang digambarkan Schopenhauer: kehidupan yang berayun antara rasa sakit karena keinginan tak terpenuhi dan kebosanan ketika keinginan itu terpuaskan. Fenomena FOMO (Fear of Missing Out) dan doomscrolling adalah contoh perwujudan sempurna dari kehendak yang tak pernah puas ini, di mana kita terus-menerus mencari stimulasi baru tetapi justru terjebak dalam kecemasan dan ketidakpuasan. Budaya seperti konsumerisme dan hustle culture, serta bahaya laten seperti burnout, semakin memperparah keadaan: orang-orang bekerja mati-matian untuk membeli barang-barang yang sebenarnya tidak mereka butuhkan, hanya untuk kemudian merasa hampa setelah memilikinya. Di zaman konsumtif seperti sekarang ini, orang-orang tidak dapat memuaskan semua keinginan atau menolaknya; oleh karena itu, orang-orang terpaksa menderita. Sampah konsumerisme tak hanya menjadikan kita budak pasar, tapi juga budak kehendak kita sendiri.

Solusi yang diberikan Schopenhauer adalah dengan berpegang pada kebahagiaan dari dalam (kebahagiaan subjektif), seperti yang ditekankan dari awal esainya yakni hakikat diri kita — jati diri (karena hanya inilah satu-satunya yang kita miliki seutuhnya, yang dapat kita genggam) yang dibangun dari fondasi utama yaitu kesehatan, individualitas (karakter, kekuatan mental) dan kecerdasan. Selanjutnya, ia menyarankan melakukan pengembangan diri yang menekan hasrat dan ketergantungan eksternal seperti seni, filsafat, meditasi, dan hal-hal yang nonmaterial. Hidup sederhana dan mandiri, mengurangi obsesi pada validasi eksternal, dan menerima realitas hidup (takdir) dengan tetap mengembangkan potensi diri yang ada.

Jika akar dari semua penderitaan terletak pada keinginan manusia, dan penderitaan itu sendiri adalah konsekuensi dari kenyataan bahwa seseorang terus-menerus menginginkan lebih — maka dengan mengurangi ketergantungan pada media sosial, belajar puas dengan apa yang dimiliki, dan fokus pada pengembangan diri, kita bisa keluar dari siklus penderitaan dan kebosanan ini. Gerakan-gerakan seperti digital detox, minimalisme, dan slow living sebenarnya dapat dilihat sebagai penerapan modern dari filosofinya. Contoh lain: praktik mindfulness dan meditasi (yang hanya dapat dicapai dengan menoleh ke dalam dan mencapai tingkat keterpisahan dari dunia luar) juga mencerminkan ajarannya tentang pentingnya mengendalikan kehendak dan menemukan kedamaian batin dalam keheningan.

Kita tidak bisa menghindari penderitaan sepenuhnya, tapi kita bisa mengubah cara kita menyikapi penderitaan itu. Dengan memahami pemikirannya ini, kita bisa lebih bijak menghadapi tuntutan zaman modern, dengan menoleh ke dalam kita dapat hidup lebih bijak dan dengan memahami bahwa kebahagiaan tidak terletak pada keduniawian — kita dapat fokus pada hal-hal yang betul-betul esensial dalam hidup kita. Dalam dunia yang “paling buruk di antara semua dunia yang mungkin ada” kebahagiaan tetap mungkin dicapai — bukan dengan mengejar kesenangan semu, tapi dengan menguasai diri dan menemukan makna di tengah absurditas kehidupan.

Dapat disimpulkan bahwa pesimisme Schopenhauer bukan sekadar gerutu atau keluhan terhadap penderitaan hidup, melainkan sebagai panduan untuk bertahan hidup dan sebagai jalan praktis untuk mencapai kedamaian batin — kebahagiaan sejati; dengan ini pesimisme Schopenhauer justru merupakan pesimisme yang membebaskan.

Referensi Project Gutenberg: The Essays of Arthur Schopenhauer: the Wisdom of Life


메타데이터
post_id
f2ee74c987a4
slug
bagaimana-mengalami-kebahagiaan-di-dunia-paling-buruk-di-antara-semua-dunia-yang-mungkin-ada-f2ee74c987a4
url
https://medium.com/@elsandyl/bagaimana-mengalami-kebahagiaan-di-dunia-paling-buruk-di-antara-semua-dunia-yang-mungkin-ada-f2ee74c987a4
canonical_url
https://medium.com/@elsandyl/bagaimana-mengalami-kebahagiaan-di-dunia-paling-buruk-di-antara-semua-dunia-yang-mungkin-ada-f2ee74c987a4
author_url
https://medium.com/@elsandyl
status
ok
fetched_at
2026-07-25 02:41:11