← Back to list

Awal dari Semuanya

tw // grief berat, deteriorasi mental, halusinasi, self-neglect

ciaa☆ミ · 2026-05-24 14:22 · 0 claps · 2.4 min read
#alternative-universe #fiction #fiction-writing
Open on Medium ↗
Wiki topics: LIT · Literature & Writing 🔭 · Astronomy & Space 🧠 · Mental Wellness ✍️ · Writing & Creative

Awal dari Semuanya

tw // grief berat, deteriorasi mental, halusinasi, self-neglect

Setelah malam kehilangan itu, dia tetap hidup–setidaknya tubuhnya masih berfungsi seperti biasanya.

Rutinitas yang sebelumnya terjadwal, perlahan runtuh begitu aja. Geovan semakin sering tidur di studio, bahkan ia memindahkan semua barang yang dibutuhkan ke studio.

Kaos yang dia pakai kusut–entah sudah berapa hari dia kenakan. Lingkaran hitam mengendap di bawah matanya, rambutnya yang kusut tanpa disentuh sisir. Botol minum di sudut ruangan tetap penuh sampai malam. Di wajahnya, khusus bagian tulang pipinya mulai menonjol. Siapa pun yang melihatnya saat ini mungkin akan menatapnya berkali-kali–seolah ragu apakah orang yang dihadapannya ini masih bisa bertahan hidup.

Tapi, ada hal yang lebih buruk dari itu semua.

Sesuatu yang perlahan mulai mengisi ruang kosongnya.

Awalnya, hanya suara. Humming pelan itu mulai terdengar–lagu yang sangat dia kenali, yaitu Perfect oleh Ed Sheeran. Kadang, pintu studio berderit terbuka–padahal saat dia menoleh, tak ada siapa pun yang ada di sana.

Sampai suatu saat, dia mulai melihatnya duduk di sofa mereka, atau berdiri di sudut ruangan dengan tangan menyilang ketika sedang berkomentar tentang dance yang dibawakan oleh Geovan.

Dia tahu itu tidak nyata. Tapi dia selalu menoleh tiap kali mendengar suara itu. Dia juga tak pernah mengusir bayangan itu setiap kali muncul di hadapannya.

Dia memilih untuk membiarkannya–karena hanya dengan cara inilah dia masih bisa melihatnya.

Hingga suatu malam, dia spontan bergumam tanpa sadar, “Kamu jangan pergi dulu, aku lagi nari nih.”

Padahal studio nya kosong, hanya ada dirinya seorang.

Saat itulah dia sadar bahwa ada yang salah dengan keadaannya.

Dia terdiam. Jemarinya gemetar sehingga ponsel di dalam sakunya tak pernah dia keluarkan. Lebih tepatnya, dia tak berani untuk meminta pertolongan. Dia tahu bahwa jika semuanya hilang, maka bayangan itu juga akan hilang dan akhirnya dia kehilangan lagi–padahal sejak awal dia memang sudah kehilangan.

Rupanya, perasaan shabat dekat memang jarang meleset. Tak lama kemudian mereka menemui Geovan di studio. Mereka melihat ada gelagat yang aneh dari Geovan–sungguh feeling mereka tak meleset untuk kali ini.

Mereka berhenti di tengah studio. Langkah mereka lambat begitu melihat Geovan. Mata mereka tak lepas darinya.

Tatapan mereka berhenti lama pada Geovan–seolah mencoba mengenali seseorang yang sama, namun rasanya kali ini berbeda. Tak ada yang menyebut namanya, tapi mereka tahu siapa yang masih ada di pikiran Geovan saat ini.

“Lu kenapa, van?” tanya Gilang dengan raut wajah yang khawatir.

“Gua gapapa kok, lang,” jawab Geovan.

“Lo bohong, van. Ga mungkin lo gapapa. Sekarang, coba lo menghadap ke cermin dan lihat gimana penampilan lo saat ini.” ucap Ananta yang kemudian dituruti oleh Geovan.

Dia terdiam. Tak tahu harus bereaksi seperti apa.

Tapi kemudian, dia kembali bertingkah aneh, dan mereka tak ada yang langsung bicara.

Tiba-tiba Geovan menarik tangan Satya dan berkata, “Sini deh gua mau nunjukin sesuatu,” katanya sambil berjalan ke arah sofa yang kosong, “Dia nyuruh gua istirahat disini katanya, katanya karena gua udah capek nge-dance seharian.”

Tidak ada yang langsung merespons apa yang dilakukan oleh Geovan– mereka berusaha tetap terlihat tenang.

Mereka tetap disana–tidak mendekat tapi juga tidak pergi.

Ananta yang tak kuasa menahan air matanya jatuh pada akhirnya menangis juga. Satya hanya bisa merangkul dan mengusap pundak Ananta, mereka berusaha saling menenangkan satu sama lain.

Gilang yang sejak tadi mengamati sahabatnya itu akhirnya bersuara, “Evan, lu sahabat kita. Gua tau lu lebih dari sekedar sedih karena ditinggal dia selamanya. Tapi untuk kali ini, gua rasa lu butuh pertolongan van. Kita gamau lu begini van, jadi kita cari solusinya bareng-bareng ya.”

Geovan tau apa yang dimaksud oleh Gilang — lebih tepatnya “butuh pertolongan” yang dimaksud. Dia paham bahwa sahabatnya tak bisa membendung rasa sedihnya karena keadaannya saat ini.

Dia merasa bahwa dadanya sangat sakit melihat ini semua, seperti dihantam oleh batu besar. Rasanya dia ingin mengucap maaf, tapi tak ada suara yang keluar dari mulutnya.

Di antara semua kekacauan yang terjadi, tak ada satu pun dari mereka yang pergi meninggalkannya–justru dari sinilah semuanya berubah.


메타데이터
post_id
f2fb1144b64a
slug
awal-dari-semuanya-f2fb1144b64a
url
https://medium.com/@azalevia/awal-dari-semuanya-f2fb1144b64a
canonical_url
https://medium.com/@azalevia/awal-dari-semuanya-f2fb1144b64a
author_url
https://medium.com/@azalevia
status
ok
fetched_at
2026-06-17 10:21:25